LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI POTONG
DI KOPERASI
SUKA MAJU DESA KOTA BARU
KECAMATAN GERAGAI
OLEH
NAMA…………….
NIM………………
LOGO
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu
sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis
tinggi dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak
sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan
berupa daging, Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa
protein hewani. disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit,
tulang dan lain sebagainya. Sebagaimana pernyataan Abidin Z
(2002) sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang
dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan
kebutuhan manusia lainnya.
Ternak sapi
menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan
kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu. Sapi potong
adalah salah satu genus dari famili Bovidae. Ternak atau hewan – hewan lainnya
yang termasuk famili ini adalah bison, banteng (bibos), kerbau (babalus),
kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Ternak sapi potong dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru
dunia dengan berbagai macam pemeliharaan, tergantung pada kondisi setempat. Di
Indonesia, penyebaran ternak sapi potong belum merata. Ada beberapa daerah yang
sangat padat, ada yang sedang, tetapi ada yang sangat jarang dan terbatas
populasinya. Tentu saja hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain faktor
pertanian atau lahan, kepadatan penduduk, iklim, dan daya aklimatisasi, serta
adat istiadat dan agama. Produktifitas ternak sapi potong di
Indonesia dapat dilihat dari jumlah produksi daging yang dihasilkan setiap ekor
sapi, dan juga bisa dilihat dari jumlah peningkatan populasi dari anakan. Namun
hingga saat ini produktifitas ternak sapi potong ini belum mampu mengimbangi
permintaan masyarakat terhadap daging asal ternak sapi, hal ini ditandai dengan
masih tinggi harga daging sapi dan masih banyak daging-daging sapi import yang
dipasarkan di dalam Negeri. Rendahnya populasi
ternak sapi antara lain disebabkan
sebagian besar ternak yang dipelihara oleh peternak masih berskala kecil dengan
lahan dan modal terbatas, usaha ternak sapi masih merupakan usaha sambilan dan
masyarakat cenderung berfikir jika mempunyai ternak orang tersebut yang
mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, atau orang yang terpandang, namun
masyarakat sendiri masih banyak yang belum mengetahui tentang proses pemeliharaan
yang baik dalam beternak. Di Indonesia sendiri masih tinggi pemotongan betina
produktif dalam upaya memenuhi kebutuhan akan daging untuk masyarakat. Usaha
peternakan sapi khususnya sapi bali banyak sumber yang dapat di manfaatkan
selaku pelaku usaha maupun peternak antara lain memanfaatkan fesesnya, kotoran
sapi ini di peroleh dari masa pemeliharaan yang dapat di manfaatkan sebagai
biogas dan pupuk kandang, karena fases sapi selain volumenya yang cukup besar
juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan mikroorganisme yang dapat
digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah.
Petro China
International Jabung Ltd (PetroChina) ikut serta mensukseskan program Pemerintah dalam
Pencapaian Swasembada Daging. Salah satu program dari Petro China yaitu
memanfaatkan potensi masyarakat pedesaan dalam upaya Pencapaian Swasembada
Daging, yaitu memberdayakan tenaga kerja
keluarga masyarakat pedesaan, memanfaatkan waktu luang dan lahan yang belum
digunakan serta kemampuan dan ketrampilan yang ada pada masyarakat pedesaan.
Oleh karena itu Petro China bersama masyarakat Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
mendirikan “Koperasi Suka Maju”.
Koperasi Suka Maju merupakan usaha bersama masyarakat Desa
Kota Baru dimana usaha yang dilakukan adalah pemeliharaan sapi potong.
Keberhasilan usaha sapi potong ini ada
beberapa faktor yang harus mendapatkan perhatian, seperti bibit sapi potong
yang digunakan, pakan sapi potong yang diberikan dan sistem pemeliharaan yang
diterapkan. Atas dasar ulasan diatas maka dilakukan Farm Experience untuk melihat
pemeliharaan ternak sapi potong di Koperasi
Suka Maju dengan judul “Sistem
Pemeliharaan Ternak Sapi Potong di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai”.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Farm Experience yang saya lakukan adalah untuk
menambah wawasan dan pengalaman ilmu di lapangan bersama peternak dan
mempelajari sistem pemeliharaan sapi potong di Koperasi Suka maju Desa Kota
Baru Kecamatan Geragai.
1.3
Manfaat
Adapun manfaat dari Farm Experience yang telah di lakukan
yaitu mahasiswa dapat mengerti permasalahan yang di alami peternak, dan
mengetahui cara-cara tradisional yang merupakan salah satu cara untuk
memelihara kesehatan ternak, dan mahasiswa dapat mempelajari sistem
pemeliharaan sapi potong serta dengan Farm Experience dapat menumbuh kan rasa
percaya diri dan mengajarkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa Fakultas
Peternakan Universitas Jambi.
BAB 11
MATERI DAN METODA
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Farm Experience ini
dilaksanakan di Kopresai Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten
Tanjung Jabung Timur mulai tanggal 14 Maret sampai dengan 11 April 2015.
2.2 Materi
Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah 23 ekor sapi Bali, terdiri dari 17 ekor sapi Bali
betina dan 3 ekor sapi Bali jantan dan 3 ekor sapi pedet. 2 buah sekop, 2 buah sapu lidi, 1 buah sorong dan 2 ember sebagai tempat air untuk menyiram kandang
dan untuk pemberian minum.
2.3 Metoda
Metode
yang digunakan saat melaksanakan Farm Experience adalah terlibat langsung dalam
pemeliharaan dan mengamati ternak sapi potong khususnya sapi bali, di
koperasi suka maju yang meliputi
:
a.
Pengamatan bibit (bangsa) sapi potong
yang digunakan.
b.
Jenis pakan yang diberikan.
c.
Frekuensi dan jumlah pakan yang
diberikan.
d.
Perkandangan.
e.
Kesehatan ternak.
Sedangkan data penunjangnya yaitu keadaan Koperasi
Suka Maju dengan melakukan
wawancara dengan Ketua dan anggota Koperasi Suka Maju.
2.4.
Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola
ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan
dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi,
tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode
deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang
diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi
magang.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Wilayah
Koperasi Suka Maju berada di desa Kota
Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan
Geragai adalah :
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau
Karya.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Parit
Culum II.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo.
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju
Koperasi Suka Maju
didirikan pada tanggal 17 Oktober 2013, beranggota 19 orang dengan latar
belakang pendidikan sebagaimana tercantum pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Latar Belakang Anggota Koperasi
Suka Maju
No
|
Pendidikan
|
Jumlah (orang)
|
1.
|
Sekolah
Dasar (SD)
|
5
|
2.
|
Sekolah
Menengah Pertama (SMP)
|
10
|
3.
|
Sekolah
Menengah Atas (SMA)
|
3
|
4.
|
Sarjana
|
1
|
Anggota Koperasi Suka Maju umumnya memiliki mata pencaharian utama adalah sebagai petani,
tentu hal ini merupakan potensi yang
dimiliki oleh anggota koperasi untuk pengembangan dalam usaha bidang peternakan. Selain itu juga desa Geragai memiliki lahan
perkebunan dan pertanian, tentu ketersediaan pakan ternak sapi dari limbah
perkebunan dan pertanian selalu tersedia. Sebagaimana pernyataan Djaenudin
dkk., (1996), usaha peternakan yang berorientasi agribisnis harus diusahakan
pada lahan-lahan yang sesuai dengan kehidupan ternak, terutama penyediaan
pakannya. Beberapa upaya penyediaan
pakan hijauan untuk ternak terutama sapi potong telah banyak dilakukan
diantaranya melalui upaya pemanfaatan limbah pertanian, penggunaan limbah
pertanian sebagai sumber serat disertai dengan supplementasi diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi yang diperlukan ternak (Tillman dkk., 1998).
Koperasi Suka Maju melakukan pemeliharaan pembibitan ternak sapi potong, yang arah dan
tujuan dari usaha ini untuk penyediaan bibit dan sapi bakalan di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur, sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan daging asal ternak
sapi potong. Penguatan sarana dan prasarana pendukung berupa lahan padang
penggembalaan, peralatan pengolahan pakan, sarana satuan pelayanan IB serta
sarana lain yang diperlukan.
Gambar 1. Nama Koperasi
Keberhasilan usaha
pembibitan ternak sapi potong yang dilakukan olek Koperasi Suka Maju, akan
ditentukan oleh beberapa factor seperti ; 1).
Bibit (bangsa) ternak sapi potong yang digunakan, karena setiap bangsa
ternak sapi potong memiliki potensi yang berbeda-beda,2). Pakan untuk ternak
sapi potong, karena kualitas dan kuantitas pakan sangat mempengaruhi tumbuh
kembang ternak. Sebagaimana pernyataan Mubyarto (1995) mengemukakan
Pengembangan manajemen usaha tani ini adalah merupakan suatu proses mengkombinasikan
faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja dan modal untuk menghasilkan
produk pertanian dan peternakan. Keberhasilan kebijakan dan manajemen
pengembangan usaha tani ini tergantung pada tiga unsur yaitu bibit (breeding),
pakan (feeding) dan pengelolaan (management).
3.2. Tata Laksana Pemeliharaan
Sistem kereman adalah
system yang dilakukan dengan cara mengandangkan sapi-sapi selama beberapa
bulan, diberi hijauan dan konsentrat serta minum. Bila hijaun tersedia cukup
banyak dan berkesinambungan maka hijuannya diberikan lebih banyak. Jika
konsentratnya lebih murah dan tersedia banyak maka konsentratlah yang lebih
dominan pemberiannya namun biasanya hanya satu atau dua jenis konsentrat saja
yang diberikan bagi ternak sapi, misalnya :dedak padi dan atau ampas tahu,
bungkil kelapa dan hasil ikutan industry pertanian lainnya.
Gambar
2. Bentuk Kandang Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di
peternakan Koperasi Suka Maju adalah secara intensif. Semua aktivitas sapi
dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem
pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi
seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan
produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008)
yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain
sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif
semua aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama.Sistem semi
intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan
pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan
intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh
pakan disediakan oleh peternak.
3.3. Bibit (Bangsa) Ternak
Usaha peternakan
pembibitan ternak sapi potong di Koperasi Suka Maju menggunakan bibit
(bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali. Jumlah bangsa sapi Bali yang
dipelihara adalah 23 ekor, yang terdiri dari 17 ekor sapi Bali betina, 3 ekor
sapi Bali jantan dan 3 ekor sapi pedet. Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di
Koperasi Suka Maju adalah pada ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat
kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian
punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kea rah
leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian
Tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) bahwa karakteristik lain
yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian
belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan
carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada
bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas
punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak
congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit
keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit
keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul
gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke
belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke
bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.
Gambar 3. Jenis Sapi
Alasan Koperasi Suka Maju memilih ternak
sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1). Sapi Bali memiliki pertambahan bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang
kondisi pakannya kurang, 3). Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam
pemeliharaannya. Pada berbagai lingkungan pemeliharaan di
Indonesia, sapi Bali memperlihatkan kemampuannya untuk berkembang biak dengan
baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki sapi Bali. Keunggulan
sapi Bali dibandingkan sapi lain yaitu memiliki daya adaptasi sangat tinggi
terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana, 1990), seperti dapat
memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Sastradipradja, 1990), mempunyai
persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan Rollinson, 1973),
memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah yaitu kurang lebih
4% (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit internal dan eksternal
(National Research Council, 1983).
3.4. Jenis
Pakan
Pakan
merupakan suatu bahan yang dimakan oleh ternak yang mengandung energi dan zat
gizi lainnya yang dapat digunakan sebagai campuran ransum.Ransum merupakan
campuran pakan yang mengandung dua buah atau lebih bahan pakan (Hartadi,
1993). Pakan sapi potong terdiri dari
hijauan yang berupa rumput gajah, rumput kumpe, rumput setaria, dan rumput
raja.
Pemberian sedikit hijauan digunakan untuk merangsang
keluarnya saliva yang bertujuan untuk menjaga pH rumen saat pemberian
konsentrat. Setelah dilakukan pemberian
sedikit hijauan kemudian konsentrat diberikan dengan selang dua jam hijauan
diberikan lagi (Rianto dan Purbowati, 2009).
Hijauan pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk segar, silase atau
berupa hay yaitu hijauan yang dikeringkan atau jerami kering (Akoso, 2000).
Gambar
4. Jenis Pakan yang diberikan
Hijauan adalah pakan yang penting bagi
ternak ruminansia. Hijauan ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu hijauan liar
(tidak sengaja ditanam dan tumbuh dengan sendirinya) dan hijauan yang
dibudidayakan (sengaja ditanam dan dipupuk. Hijauan liar terdiri dari berbagai
jenis rumput, leguminosa dan tanaman lainnya. Sedangkan hijauan yang
dibudidayakan hanya merupakan satu spesies rumput atau bercampur dengan
spesies rumput lain. Menurut Sutardi (1991),
Rumput liar atau di kenal dengan rumput alam umumnya mengandung bahan kering
sekitar 20%, sehingga rumput lapangan belum bisa memberikan pertambahan bobot
badan yang optimal.
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di peternakan Koperasi
Suka Maju adalah berupa hijauan,
hijauan ini diperoleh dari
lahan perkebunan dan pertanian, daerah pematang sawah
dan lapangan rumput. Alasan Koperasi Suka
Maju memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan
pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar,
selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat,
sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat
penting untuk diperhatikan karena pakan
sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan
diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging.
Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi (
Tillman,1998 ). Penggemukan ternak sapi Bali dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu
penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan
kombinasi cara pertama dan kedua (Anonim, 2010) . Untuk memenuhi permintaan daging perlu
diupayakan penyediaan dan
pemberian
pakan yang memadai agar produktivitas sapi potong dapat ditingkatkan. Sapi potong
dapat mengubah pakan berserat
menjadi sumber pangan yang
berkualitas
(Mathius, 2008).
Jenis
pakan berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hijauan dan
konsentrat sedangkan berdasarkan asalnya dibagi menjadi nabati dan hewani
(Prabowo dkk., 2008). Kualitas masing masing jenis pakan berbeda, pakan hijauan
mengandung serat kasar tinggi sedangkan protein kasarnya kurang sehingga harus
diimbangi dengan pemberian pakan konsentrat yang memiliki protein kasar tinggi.
Pemberian pakan konsentrat dapat memenuhi kebutuhan protein kasar yang
digunakan untuk pembentukan daging dalam program penggemukan dan menghasilkan
asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu
dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa
terfermentasi di rumen, mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih
banyak (Ermawati dkk., 2010)
3.5 Pemberian Zat Mineral dan Air
Minum.
Pemberian zat mineral berupa garam dapat di lakukan 2 hari
sekali, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang diletakkan di dalam
ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan ternak dan berupa
penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan tulang ternak.
Gambar 5. Pemberian Air Minum
Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan
salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan.
Sedangkan menurut pendapat Suharno dan Nazarudin (1994), yang menyatakan
bahwa Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat
penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam
proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga
air harus tetap tersedia.
3.6.
Pengalaman Farm.
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh
Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar
memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Pengalaman yang di peroleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis
banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara
pemeliharaan ternak dengan cara penggembalaan di peternakan tempat melaksanakan
Farm Experience dan dapat membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan
lain.
BAB
IV
PENUTUP
4.1Kesimpulan
Sistem
pemeliharaan ternak sapi Bali di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur cukup baik, karena faktor-faktor
produksi dalam usaha pembibitan sapi Bali sudah diperhatikan seperti Bangsa
sapi, perkandangan, kualitas dan kuantitas pakan dan management pemeliharaan
telah dilakukan secara professional dan maksimal.
4.2.
Saran
Untuk perkembangan dan
kemajuan usaha pembibitan ternak sapi Bali di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru
Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebaiknya dilakukan penyuluhan
dan pelatihan-pelatihan secara intensif.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Akoso, B. T. 2000. Kesehatan Sapi.
Cetakan ke-10. Kanisius, Yogyakarta.
Anonimous,
2010, Sapi-Sapi Potong Indonesia,http://www.fmp.sinarindo.co.id, dikutip 24
Maret 2012.
Ditjend
Peternakan. 1997. Pedoman Teknis Penyiapan Induk Sapi Penghasil Bakalan
Lokal (Balok) melalui Perbaikan Pakan. Buku Panduan Praktis.
Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta.
Djaenudin, D., H. Subagio Dan
Suprifuddin. 1996. Kesesuaian Lahan untuk pengembangan peternakan di beberapa
propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner
Puslitbang Peternakan. Departemen Pertanian. Bogor.
Diwyanto, K. 2002. Pemanfaatan
sumber daya lokal dan inovasi Teknologi Dalam mendukung Pengembangan sapi
Potong di Indonesia. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian. Bogor.
Ermawati, Nuschati U, Subiharta,
Yuni E, Rini N. 2010. Pedoman Teknis Budidaya Sapi Potong. Balai Pengkajian
Teknologi Pertanian, Ungaran.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi
Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Mubyarto.
1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES
National Research Council. 1983. Little-Known Asian
Animals with a Promising Economic Future.
Washington, D.C.: National Academic Press.
Payne, W.J.A. and D.H.L. Rollinson.
1973. Bali cattle. World Anim. Rev. 7: 13- 21.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah
Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Rianto
E., dan Purbowati E., 2008, Panduan Lengkap Sapi Potong.
Penebar Swadaya, Jakarta
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar
Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar