Kamis, 28 Mei 2020

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI (LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE)


LAPORAN
FARM EXPERIENCE

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI POTONG
DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA BARU
KECAMATAN GERAGAI



OLEH
NAMA…………….
NIM………………



LOGO


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani. disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya. Sebagaimana pernyataan Abidin Z (2002) sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia lainnya.
Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu. Sapi potong adalah salah satu genus dari famili Bovidae. Ternak atau hewan – hewan lainnya yang termasuk famili ini adalah bison, banteng (bibos), kerbau (babalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Ternak sapi potong dapat ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam pemeliharaan, tergantung pada kondisi setempat. Di Indonesia, penyebaran ternak sapi potong belum merata. Ada beberapa daerah yang sangat padat, ada yang sedang, tetapi ada yang sangat jarang dan terbatas populasinya. Tentu saja hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain faktor pertanian atau lahan, kepadatan penduduk, iklim, dan daya aklimatisasi, serta adat istiadat dan agama. Produktifitas ternak sapi potong di Indonesia dapat dilihat dari jumlah produksi daging yang dihasilkan setiap ekor sapi, dan juga bisa dilihat dari jumlah peningkatan populasi dari anakan. Namun hingga saat ini produktifitas ternak sapi potong ini belum mampu mengimbangi permintaan masyarakat terhadap daging asal ternak sapi, hal ini ditandai dengan masih tinggi harga daging sapi dan masih banyak daging-daging sapi import yang dipasarkan di dalam Negeri.  Rendahnya populasi ternak sapi antara lain disebabkan sebagian besar ternak yang dipelihara oleh peternak masih berskala kecil dengan lahan dan modal terbatas, usaha ternak sapi masih merupakan usaha sambilan dan masyarakat cenderung berfikir jika mempunyai ternak orang tersebut yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, atau orang yang terpandang, namun masyarakat sendiri masih banyak yang belum mengetahui tentang proses pemeliharaan yang baik dalam beternak. Di Indonesia sendiri masih tinggi pemotongan betina produktif dalam upaya memenuhi kebutuhan akan daging untuk masyarakat. Usaha peternakan sapi khususnya sapi bali banyak sumber yang dapat di manfaatkan selaku pelaku usaha maupun peternak antara lain memanfaatkan fesesnya, kotoran sapi ini di peroleh dari masa pemeliharaan yang dapat di manfaatkan sebagai biogas dan pupuk kandang, karena fases sapi selain volumenya yang cukup besar juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan mikroorganisme  yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan kesuburan tanah.
Petro China International Jabung Ltd (PetroChina) ikut serta  mensukseskan program Pemerintah dalam Pencapaian Swasembada Daging. Salah satu program dari Petro China yaitu memanfaatkan potensi masyarakat pedesaan dalam upaya Pencapaian Swasembada Daging, yaitu  memberdayakan tenaga kerja keluarga masyarakat pedesaan, memanfaatkan waktu luang dan lahan yang belum digunakan serta kemampuan dan ketrampilan yang ada pada masyarakat pedesaan. Oleh karena itu Petro China bersama masyarakat Desa Kota Baru Kecamatan Geragai mendirikan “Koperasi Suka Maju”.
Koperasi Suka Maju merupakan usaha bersama masyarakat Desa Kota Baru dimana usaha yang dilakukan adalah pemeliharaan sapi potong. Keberhasilan usaha  sapi potong ini ada beberapa faktor yang harus mendapatkan perhatian, seperti bibit sapi potong yang digunakan, pakan sapi potong yang diberikan dan sistem pemeliharaan yang diterapkan.  Atas dasar ulasan diatas maka dilakukan Farm Experience untuk melihat pemeliharaan ternak sapi potong di Koperasi Suka Maju dengan judul “Sistem Pemeliharaan  Ternak Sapi Potong  di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai”.

1.2 Tujuan
 Tujuan dari Farm Experience yang saya lakukan adalah untuk menambah wawasan dan pengalaman ilmu di lapangan bersama peternak dan mempelajari sistem pemeliharaan sapi potong di Koperasi Suka maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai.
1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari Farm Experience yang telah di lakukan yaitu mahasiswa dapat mengerti permasalahan yang di alami peternak, dan mengetahui cara-cara tradisional yang merupakan salah satu cara untuk memelihara kesehatan ternak, dan mahasiswa dapat mempelajari sistem pemeliharaan sapi potong serta dengan Farm Experience dapat menumbuh kan rasa percaya diri dan mengajarkan jiwa kewirausahaan kepada mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Jambi.



BAB 11
MATERI DAN METODA
2.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan Farm Experience ini dilaksanakan di Kopresai Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai tanggal 14 Maret sampai dengan 11 April 2015.
2.2 Materi
Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah 23 ekor sapi Bali, terdiri dari 17 ekor sapi Bali betina dan 3 ekor sapi Bali jantan dan 3 ekor sapi pedet. 2 buah sekop, 2 buah sapu lidi, 1 buah sorong dan 2 ember sebagai tempat air untuk menyiram kandang dan untuk pemberian minum.
2.3 Metoda
Metode yang digunakan saat melaksanakan Farm Experience adalah terlibat langsung dalam pemeliharaan dan mengamati ternak sapi potong khususnya sapi bali, di koperasi suka maju yang meliputi :
a.     Pengamatan bibit (bangsa) sapi potong yang digunakan.
b.     Jenis pakan yang diberikan.
c.     Frekuensi dan jumlah pakan yang diberikan.
d.     Perkandangan.
e.     Kesehatan ternak.
 Sedangkan data penunjangnya yaitu keadaan Koperasi Suka Maju dengan melakukan wawancara dengan Ketua dan anggota Koperasi Suka Maju.
2.4. Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi, tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi magang.



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Wilayah
Koperasi Suka Maju berada di desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan Geragai adalah :
  1. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau Karya.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo.
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju
Koperasi Suka Maju didirikan pada tanggal 17 Oktober 2013, beranggota 19 orang dengan latar belakang pendidikan sebagaimana tercantum pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Latar Belakang Anggota Koperasi Suka Maju
No
Pendidikan
Jumlah (orang)
1.
Sekolah Dasar (SD)
5
2.
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
10
3.
Sekolah Menengah Atas (SMA)
3
4.
Sarjana
1

Anggota Koperasi Suka Maju umumnya memiliki mata pencaharian utama adalah sebagai petani, tentu hal ini merupakan potensi yang dimiliki oleh anggota koperasi untuk pengembangan dalam usaha bidang peternakan. Selain itu juga desa Geragai memiliki lahan perkebunan dan pertanian, tentu ketersediaan pakan ternak sapi dari limbah perkebunan dan pertanian selalu tersedia. Sebagaimana pernyataan Djaenudin dkk., (1996), usaha peternakan yang berorientasi agribisnis harus diusahakan pada lahan-lahan yang sesuai dengan kehidupan ternak, terutama penyediaan pakannya.  Beberapa upaya penyediaan pakan hijauan untuk ternak terutama sapi potong telah banyak dilakukan diantaranya melalui upaya pemanfaatan limbah pertanian, penggunaan limbah pertanian sebagai sumber serat disertai dengan supplementasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi yang diperlukan ternak (Tillman dkk., 1998).
Koperasi Suka Maju melakukan pemeliharaan pembibitan ternak sapi potong, yang arah dan tujuan dari usaha ini untuk penyediaan bibit dan sapi bakalan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan daging asal ternak sapi potong. Penguatan sarana dan prasarana pendukung berupa lahan padang penggembalaan, peralatan pengolahan pakan, sarana satuan pelayanan IB serta sarana lain yang diperlukan.
Gambar 1. Nama Koperasi
Keberhasilan usaha pembibitan ternak sapi potong yang dilakukan olek Koperasi Suka Maju, akan ditentukan oleh beberapa factor seperti ; 1).  Bibit (bangsa) ternak sapi potong yang digunakan, karena setiap bangsa ternak sapi potong memiliki potensi yang berbeda-beda,2). Pakan untuk ternak sapi potong, karena kualitas dan kuantitas pakan sangat mempengaruhi tumbuh kembang ternak. Sebagaimana pernyataan Mubyarto (1995) mengemukakan Pengembangan manajemen usaha tani ini adalah merupakan suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja dan modal untuk menghasilkan produk pertanian dan peternakan. Keberhasilan kebijakan dan manajemen pengembangan usaha tani ini tergantung pada tiga unsur yaitu bibit (breeding), pakan (feeding) dan pengelolaan (management).
3.2. Tata Laksana Pemeliharaan
Sistem kereman adalah system yang dilakukan dengan cara mengandangkan sapi-sapi selama beberapa bulan, diberi hijauan dan konsentrat serta minum. Bila hijaun tersedia cukup banyak dan berkesinambungan maka hijuannya diberikan lebih banyak. Jika konsentratnya lebih murah dan tersedia banyak maka konsentratlah yang lebih dominan pemberiannya namun biasanya hanya satu atau dua jenis konsentrat saja yang diberikan bagi ternak sapi, misalnya :dedak padi dan atau ampas tahu, bungkil kelapa dan hasil ikutan industry pertanian lainnya.
Gambar 2. Bentuk Kandang Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Koperasi Suka Maju adalah secara intensif. Semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama.Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak.  
3.3. Bibit (Bangsa) Ternak
Usaha peternakan pembibitan ternak sapi potong  di Koperasi Suka Maju menggunakan bibit (bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali.  Jumlah bangsa sapi Bali yang dipelihara adalah 23 ekor, yang terdiri dari 17 ekor sapi Bali betina, 3 ekor sapi Bali jantan dan 3 ekor sapi pedet. Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di Koperasi Suka Maju adalah pada ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kea rah leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian Tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) bahwa karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.
Gambar 3. Jenis Sapi
Alasan Koperasi Suka Maju memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1).  Sapi Bali memiliki pertambahan  bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang kondisi pakannya kurang, 3). Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam pemeliharaannya. Pada berbagai lingkungan pemeliharaan di Indonesia, sapi Bali memperlihatkan kemampuannya untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki sapi Bali. Keunggulan sapi Bali dibandingkan sapi lain yaitu memiliki daya adaptasi sangat tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana, 1990), seperti dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Sastradipradja, 1990), mempunyai persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan Rollinson, 1973), memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah yaitu kurang lebih 4% (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit internal dan eksternal (National Research Council, 1983).
3.4. Jenis Pakan
Pakan merupakan suatu bahan yang dimakan oleh ternak yang mengandung energi dan zat gizi lainnya yang dapat digunakan sebagai campuran ransum.Ransum merupakan campuran pakan yang mengandung dua buah atau lebih bahan pakan (Hartadi, 1993). Pakan sapi potong terdiri dari hijauan yang berupa rumput gajah, rumput kumpe, rumput setaria, dan rumput raja.
Pemberian sedikit hijauan digunakan untuk merangsang keluarnya saliva yang bertujuan untuk menjaga pH rumen saat pemberian konsentrat.  Setelah dilakukan pemberian sedikit hijauan kemudian konsentrat diberikan dengan selang dua jam hijauan diberikan lagi (Rianto dan Purbowati, 2009).  Hijauan pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk segar, silase atau berupa hay yaitu hijauan yang dikeringkan atau jerami kering (Akoso, 2000).
Gambar 4. Jenis Pakan yang diberikan
Hijauan adalah pakan yang penting bagi ternak ruminansia.  Hijauan ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu hijauan liar (tidak sengaja ditanam dan tumbuh dengan sendirinya) dan hijauan yang dibudidayakan (sengaja ditanam dan dipupuk. Hijauan liar terdiri dari berbagai jenis rumput, leguminosa dan tanaman lainnya.  Sedangkan hijauan yang dibudidayakan hanya merupakan satu spesies rumput atau bercampur dengan spesies rumput lain. Menurut Sutardi (1991), Rumput liar atau di kenal dengan rumput alam umumnya mengandung bahan kering sekitar 20%, sehingga rumput lapangan belum bisa memberikan pertambahan bobot badan yang optimal.
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di peternakan Koperasi Suka Maju adalah berupa hijauan, hijauan ini diperoleh dari lahan perkebunan dan pertanian, daerah pematang sawah dan lapangan rumput.  Alasan Koperasi Suka Maju memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan  karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi ( Tillman,1998 ). Penggemukan ternak sapi Bali  dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua (Anonim, 2010) . Untuk memenuhi permintaan daging perlu diupayakan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai agar produktivitas sapi potong dapat ditingkatkan. Sapi potong dapat mengubah pakan berserat menjadi sumber pangan yang berkualitas (Mathius, 2008).
Jenis pakan berdasarkan sifatnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hijauan dan konsentrat sedangkan berdasarkan asalnya dibagi menjadi nabati dan hewani (Prabowo dkk., 2008). Kualitas masing masing jenis pakan berbeda, pakan hijauan mengandung serat kasar tinggi sedangkan protein kasarnya kurang sehingga harus diimbangi dengan pemberian pakan konsentrat yang memiliki protein kasar tinggi. Pemberian pakan konsentrat dapat memenuhi kebutuhan protein kasar yang digunakan untuk pembentukan daging dalam program penggemukan dan menghasilkan asam amino essensial yang dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu dapat juga bertujuan agar zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di rumen, mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih banyak (Ermawati dkk.,  2010)
3.5 Pemberian Zat Mineral dan Air Minum.
Pemberian zat mineral berupa garam dapat di lakukan 2 hari sekali, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan tulang ternak.
Gambar 5. Pemberian Air Minum
Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Sedangkan menurut pendapat Suharno dan Nazarudin (1994), yang menyatakan bahwa Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap tersedia.
3.6. Pengalaman Farm.
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Pengalaman yang di peroleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara pemeliharaan ternak dengan cara penggembalaan di peternakan tempat melaksanakan Farm Experience dan dapat membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan lain.























BAB IV
PENUTUP
 4.1Kesimpulan
Sistem pemeliharaan ternak sapi Bali di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur cukup baik, karena faktor-faktor produksi dalam usaha pembibitan sapi Bali sudah diperhatikan seperti Bangsa sapi, perkandangan, kualitas dan kuantitas pakan dan management pemeliharaan telah dilakukan secara professional dan maksimal.
4.2. Saran
Untuk perkembangan dan kemajuan usaha pembibitan ternak sapi Bali di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur sebaiknya dilakukan penyuluhan dan pelatihan-pelatihan secara intensif.














DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Akoso, B. T. 2000. Kesehatan Sapi. Cetakan ke-10. Kanisius, Yogyakarta.
Anonimous, 2010, Sapi-Sapi Potong Indonesia,http://www.fmp.sinarindo.co.id, dikutip 24 Maret 2012.
Ditjend Peternakan. 1997. Pedoman Teknis Penyiapan Induk Sapi Penghasil Bakalan Lokal (Balok) melalui Perbaikan Pakan. Buku Panduan Praktis. Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta.
Djaenudin, D., H. Subagio Dan Suprifuddin. 1996. Kesesuaian Lahan untuk pengembangan peternakan di beberapa propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner Puslitbang Peternakan. Departemen Pertanian. Bogor.
Diwyanto, K. 2002. Pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi Teknologi Dalam mendukung Pengembangan sapi Potong di Indonesia. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.
Ermawati, Nuschati U, Subiharta, Yuni E, Rini N. 2010. Pedoman Teknis Budidaya Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Ungaran.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES
National  Research Council. 1983. Little-Known Asian Animals with a Promising  Economic Future. Washington, D.C.: National Academic Press.
Payne, W.J.A. and D.H.L. Rollinson. 1973. Bali cattle. World Anim. Rev. 7: 13- 21.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE.     Yogyakarta.

Rianto E., dan Purbowati E.,  2008, Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta











                                                                                                         







Tidak ada komentar:

Posting Komentar