Kamis, 28 Mei 2020

PENGELOLAAN TERNAK SAPI POTONG DI USAHA G RAHAYU JAYA MULIA DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )


LAPORAN
FARM EXPERIENCE

PENGELOLAAN TERNAK SAPI POTONG DI USAHA
G RAHAYU JAYA MULIA DESA KOTA BARU
KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG TIMUR


OLEH :
NAMA
NIM


 








FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sapi potong merupakan jenis ternak yang tujuan pemeliharaannya untuk menghasilkan daging dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang merupakan bahan pangan bagi masyarakat, oleh karena itu untuk mengimbangi permintaan daging asal sapi potong oleh masyarakat sebagai bahan pangan, maka harus cukup tersedia secara kontinyu. Ketersediaan daging asal sapi potong ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produksi daging sapi potong. Hal ini merupakan suatu peluang besar bagi peternak sapi potong, terutama bagi sarjana peternakan untuk mengembangkan dan juga membuka usaha peternakan sapi potong.
Ternak sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia, dimana daging merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang cukup baik seperti kandungan protein. Oleh karena itu permintaan daging asal ternak sapi potong setiap tahunnya selalu meningkat, seiring dengan peningkatan pertambahan penduduk, kualitas pendidikan masyarakat dan meningkatnya sadar  gizi untuk masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sebagaimana pernyataan Abidin Z (2002) Sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia glainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu.
Sapi Bali adalah sapi lokal yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan tersebut merupakan faktor pendukung keberhasilan budidaya sapi Bali. Populasi sapi Bali yang meningkat akan membantu mensukseskan program pemerintah untuk swasembada daging di Indonesia. Sapi Bali merupakan salah satu sapi asli Indonesia yang memiliki postur tubuh dari yang kurus sampai yang sangat gemuk. Darmaja (1980) menyatakan bahwa perfomans sapi Bali mempunyai adaptasi yang baik terhadap pengaruh lingkungan yang panas dan cukup toleran terhadap lingkungan dingin serta sangat efisien dalam penggunaan pakan dengan kualitas rendah. Demikian pula Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa lingkungan biotik mempengaruhi performans sapi potong melalui tingkat efisiensi penggunaan pakannya dan mampu menampilkan performans secara maksimal.
Usaha pemeliharaan ternak sapi dapat dilakukan secara perseorangan maupun secara perusahaan dalam skala besar. Namun ada pula yang mengusahakan secara kelompok. Seiring semakin berkembangnya perusahaan peternakan dan juga kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi demi kesehatan yang diimbangi dengan daya beli masyarakat yang meningkat, permintaan akan daging sapi untuk konsumsi pun juga meningkat dari tahun ke tahun.
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia merupakan salah satu usaha penjualan ternak. Berdasarkan pengamatan tersebut, penulis melakukan Farm Experience dengan judulPengelolaan Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur”
1.2.   Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience ini adalah untuk mengetahui Pengelolaan Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1.3.  Manfaat
     Manfaat dari Farm Experience ini adalah untuk menambah wawasan, pengalaman serta dapat mengetahui bagaimana Pengelolaan Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.







BAB II
PROSEDUR KERJA

2.1. Tempat dan Waktu
Farm Experience ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2015 sampai dengan 12 April 2015 yang bertempat di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

2.2. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang digunakan dalam pelaksanaan farm experience yaitu berpartisifasi langsung pada bagian sanitasi kandang setiap pagi dan sore hari, pembersihan kotoran sapi dilakukan setiap kotoran sudah menumpuk, pemberian pakan dan air. Pemberian pakan dilakukan setelah tempat pakan dibersihkan untuk pagi hari dan dilakukan penambahan pakan untuk sore hari, lalu untuk pemberian air minum dilakukan 1 hari 1 kali menggunakan air yang telah dicampur dengan garam mineral. Kegiatan-kegiatan tersebut dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu sampai waktu kegiatan farm experience selesai.
Ternak sapi yang baru didatangkan dari Lampung diselesksi sesuai dengan keteria yang laku untuk dipasarkan, setelah itu dilakukan penentuan harga dengan metode tafsir, untuk ternak jantan dan betina pedaging dilakukan pemisahan dari ternak yang memenuh kreteria untuk dijual dan dipotong.
Selama melaksanakan kegiatan farm experience penulis berusaha  mendapatkan data untuk kelengkapan laporan akhir dengan cara melakukan serangkaian wawancara kepada pemilik usaha yaitu Bapak Lamikun.

2.3. Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi, tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi magang. Terkumpulnya data-data seperti jumlah ternak potong yang dijual, harga ternak potong, harga daging, biaya yang dikeluarkan dan margin pemasaran dari hasil penelitian disederhanakan dalam bentuk tabulasi. Untuk memudahkan analisis, perhitungan dan data dianalisis secara deskriptif.
Analisis marjin dihitung berdasarkan selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian pada setiap saluran pemasaran, secara matematis dapat ditulis rumusnya sebagai berikut :
                                                   Mi = Hji – Hbi

Keterangan :
Mi       = Marjin pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
Hji       = Harga penjualan pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
Hbi      = Harga pembelian pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
πi         = Keuntungan lembaga tataniaga di tingkat ke-i
MT      = Marjin tataniaga
i           = Bilangan asli (1,2,3......n).














BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum Peternakan
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia berada di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan Geragai adalah sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau Karya, sebelah timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II, sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo dan sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju.
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia didirikan pada tahun 2004 oleh pak Lamikun dan mempunyai 7 orang pegawai seperti pada Tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1. Pegawai Usaha G. Rahayu Jaya Mulia
No
Nama
Pekerjaaan
1.
Trimo
Tukang potong rumput
2.
Bani
Tukang Penggiling Daging
3.
Wahono dan Jarkasih
Tukang Sembelih Sapi
4.
Sulastri, Mbok Mi, Ida
Pembuat Bakso dan Pengemasan
5.
Wahono
Transportasi atau Sopir
Sumber : Usaha G. Rahayu Jaya Mulia 2015
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia melakukan pemeliharaan ternak sapi potong khususnya sapi bali, yang arah dan tujuan dari usaha ini untuk penyediaan sapi dan daging serta sebagai produsen bakso di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1). Sapi Bali memiliki pertambahan bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang kondisi pakannya kurang, 3).Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam pemeliharaannya.
3.2 Kondisi Umum Ternak Sapi
            Sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini berasal dari Lampung, Pasar Ternak Bulian dan Tanjung Jabung Timur. Usaha G. Rahayu Jaya Mulia menggunakan bibit (bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali. Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia adalah pada ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kearah leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) bahwa karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.

Gambar 1. Jenis Ternak
3.3 Pengalaman Farm Experience
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Kegiatan Farm Experience dilakukan dalam waktu satu bulan yakni hari Sabtu dan Minggu yang bertempat di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kegiatan Farm Experience ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 07.30 – 09.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB serta jadwal pemotongan ternak dilakukan pada setiap hari Sabtu pukul 03.00 - 06.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan adalah pembersihan kotoran sapi dilakukan setiap kotoran sudah menumpuk, pemberian pakan dan air. Pemberian pakan dilakukan setelah tempat pakan dibersihkan untuk pagi hari dan dilakukan penambahan pakan untuk sore hari, lalu untuk pemberian air minum dilakukan 1 hari 1 kali menggunakan air yang telah dicampur dengan garam mineral.
Selama melaksanakan kegiatan Farm Experinence di Usaha G Rahayu Jaya Mulia terdapat beberapa pelajaran yang diperoleh oleh penulis di dalam mengembangkan ilmu baik dalam pengalaman mengenai bagaimana kondisi dunia kerja yang sesungguhnya terutama dalam usaha penjualan ternak maupun pengalaman dalam bentuk penambahan wawasan. Pengalaman tersebut antara lain pengetahuan mengenai dunia kerja secara langsung khususnya pada tempat penulis melaksanakan kegiatan Farm Experience, penulis dapat mengetahui bagaimana cara mengatur ataupun menentukan harga dengan metode tafsir dan penulis dapat mengetahui perbandingan antara materi yang telah diperoleh di dalam kelas (teori) dengan pelaksanaannya di lapangan serta menambah wawasan bagaimana kita harus menghadapi masalah-masalah yang belum dijelaskan selama proses pembelajaran di dalam kelas.
           
3.4 Pemberian Pakan
Pemberian pakan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam usaha perdagangan ternak sapi potong oleh karena itu pemberian pakan harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah  bentuk  campuran  bahan  pakan  yang  kaya  akan  sumber protein  maupun  sumber energi pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993).
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia adalah berupa hijauan, rumput kumpai (heminacne amplexsichaules). yang diperoleh dari pinggir parit, daerah pematang sawah dan lapangan rumput. Hijauan diberikan pada pagi dan sore hari. Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan  karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi.
 










Gambar 2. Pemberian Pakan



3.5 Pemberian Zat Mineral dan Air Minum
Pemberian zat mineral berupa garam dapat dilakukan 1 kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan tulang ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Sedangkan menurut pendapat yang menyatakan bahwa pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap tersedia..
 










Gambar 3. Pemberian Garam Mineral
3.6 Perkandangan
Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan serta mempermudah pengawasan ternak (Amonimous, 1993).
Perkandangan di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia sudah cukup baik dimana bangunan kandang terbuat dari semen dan papan dengan atap seng dengan lantai kandang terbuat dari semen. Sedangkan ukuran kandang panjang 10 m, lebar 6 m, dan tinggi 4 m. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.

 








Gambar 4. Model Kandang
3.7 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Usaha G. Rahayu Jaya Mulia menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Viviani dan Nazarudin (1988), yang menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi lingkungan. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.
Penyakit yang biasa menyerang ternak di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini yaitu diare/mencret, biasanya disebabkan karena rumput yang diberikan pada ternak terkena air hujan dan terlalu muda. Peternak biasanya memanggil dokter hewan sekitar jika ternak sakit.
3.8 Pemotongan Ternak Sapi
            Pada data yang diambil dari tekhnik pemotongan ternak sapi yang dilakukan di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini sangat mudah dan praktis hal ini dikarenakan orang yang melakukan pemotongan berpengalaman, sehingga proses pemotongan ternak berlangsung sangat cepat walaupun hanya menggunakan alat – alat sederhana berupa pisau, parang dan timbangan. Pemotongan ternak sapi dilakukan pada hari sabtu dan minggu dengan jumlah yang dipotong sebanyak 2 sampai 3 ekor, namun pada hari tertentu seperti hari raya Idul Adha pemotongan bisa mencapai 65 ekor. Proses pemotongan dilakukan pada pagi hari yaitu pukul 03.00 WIB sampai 06.00 WIB.
Gambar 5.  Proses Pemotongan Sapi
            Setelah diotong dan dipastikan mati, dilakukan pemotongan bagian kepala dan bagian kaki depan dan kaki belakang. Selannjutnya ternak digantung dengan menggunakan besi yang berbentuk huruf S dengan kaki belakang dan kedua kaki tersebut direntangkan. Setelah itu dilakukan pengulitan yang dimulai dari perut bagian belakang atau pada bagian ambing yang disayat lurus ke depan, kemudian pengulitan mengarah pada bagian punggung melalui samping kanan dan samping kiri tubuh sapi tersebut.




3.9 Pemasaran Ternak Sapi
Jalur tataniaga yang berlangsung di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dapat dilihat pada gambar 1.
Jalur Tataniaga
  1. Peternak
    Penggumpul
    Peternakan Lamikun
    Daging (Bakso)
    Ternak Hidup
    Konsumen
     

  1.  

  1.  





Gambar 6. Jalur Tataniaga Usaha G. Rahayu Jaya Mulia
Ternak sapi yang ditampung dan dipelihara di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  didatangkan dari daerah diluar Provinsi Jambi yaitu Lampung. Penjualan ternak sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  ini tidak dipengaruhi oleh jenis sapi tetapi dipengaruhi oleh Bobot Badan (BB) ternak sapi. Semakin berat Bobot sapi semakin tinggi harga penjualan sapi tersebut. Pemasaran sapi dilakukan secara langsung dipeternakan ini baik berupa daging maupun dalam bentuk olahan seperti bakso.

3.9.1   Pengeluaran dan Penerimaan Usaha G Rahayu Jaya Mulia
a. Pengeluaran.
Pengeluaran oleh Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  ini tercantum pada Tabel 2, dijumpai adanya perbedaan besarnya biaya yang dikeluarkan, pada ternak sapi jantan sebesar Rp.5.250.000,- dan pada ternak betina Rp.19.058.000,-. Sedangkan jenis kegiatan yang dikeluarkan pada ternak sapi jantan yaitu uang retribusi desa sebesar Rp.30.000,-/ekor sedangkan pada ternak sapi betina tidak adanya uang retribusi desa, namun pengeluarannya lebih besar karena ternak sapi betina dijual dalam bentuk daging (bakso) maka adanya pengeluaran untuk upah tukang giling daging, tukang sembelih sapi, pembuatan bakso dan pengemasan. Keadaan ini sesuai dengan pernyataan  Soekartawi (1993) menyatakan bahwa biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran, besarnya biaya pemasaran berbeda satu sama lain disebabkan karena, macam komoditas, lokasi pemasaran, dan efektivitas pemasaran yang dilakukan.
Tabel 2. Pengeluaran di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia selama Magang
No
A.    Sapi Jantan
Pengeluaran (Rp)
1.
Transportasi
2125000

2.
Gaji
2500000

3.
Garam untuk Minum sapi
25000

4.
Retribusi Desa
600000

Jumlah
5.250.000,-

No
B.    Sapi Betina
Pengeluaran (Rp)

1.
Transportasi
2125000

2.
Gaji
6880000

3.
Garam untuk Minum sapi
12500

4.
Tukang Penggiling Daging
2000000

5.
Plastik
20000

6.
Batu ES
60000

7.
Bumbu Bakso
5880500

8.
Minyak Diesel
200000

9.
Tukang Sembelih Sapi (2 orang)
1600000

10.
Pembuat Bakso dan Pengemasan
280000

Jumlah
19.058.000,-


Pada Tabel 2, dijumpai adanya perbedaan penyediaan produk oleh  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia, yaitu penyediaan ternak sapi jantan untuk dijual hidup  dan penyediaan ternak sapi betina untuk  dipotong sebegai penyediaan daging (bakso).  Hal ini disebabkan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  dalam upaya memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat (konsumen) yang ada di Kecamatan Geragai, namun harga yang dipatok oleh  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  masih dalam kisaran kemampuan masyarakat (konsumen) di Kecamatan Geragai. Sesuai dengan pernytaan Nicholson (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan akan suatu komoditi, diantaranya adalah harga komoditi itu sendiri, harga komoditi lain yang berhubungan dengan komoditi tersebut baik yang bersifat substitusi maupun komplementer terhadap barang itu sendiri, pendapatan rumah tangga, distribusi pendapatan dalam masyarakat, selera, jumlah penduduk, dan ramalan keadaan di masa yang akan datang.
b.     Penerimaan.
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dalam menjual ternak sapi kepada konsumennya ada dua (2) cara dimana ternak sapi jantan dijual hidup dengan penentuan harganya berdasarkan bobot hidup. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pak Lamikun, ternak sapi jantan dijual hidup karena ternak sapi jantan selalu digunakan untuk kegiatan keagamaan dan  harus memenuhi beberapa kriteria seperti ;  Kondisi ternak sapi jantan harus sehat dan tidak cacat, dan umur ternak sapi harus cukup.  Menurut Kotler (2004), bahwa harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.
Tabel 3. Penerimaan di Usaha G Rahayu Jaya Mulia.
No
Jenis Kegiatan
Penerimaan
1.
Jual Sapi Jantan (hidup)
Rp.  1.650.000,-
2.
Jual Sapi Betina (Daging Bakso)
Rp.  9.962.000,-

Jumlah
Rp.  11.612.000,-
Pada Tabel 2 diatas, ternak sapi betina dijual dalam bentuk daging (bakso), 1 kg daging ternak sapi segar dapat menghasilkan 2 kg daging bakso, akibatnya penerimaan pada ternak sapi betina lebih tinggi dari penerimaan hasil penjualan ternak sapi jantan. Hal ini akan mempengaruhi pendapatan dan keuntungan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia , tujuan  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  meningkatkan peneriamaan, selain untuk mendapatkan keuntungan dari usaha ini juga untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

c.   Margin
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dalam menentukan harga jual ternak sapi potong berdasarkan performans (tampilan tubuh), penentuan harga jual pada sapi jantan berdasarkan bobot tubuh (ramalan) dan dijual dalam bentuk hidup, sedangkan pada ternak betina  dijual dalam bentuk daging dan bobot daging diperoleh dengan cara ditimbang. Keadaan ini tentu dapat menyebabkan terdapatnya perbedaan margin pemasaran. Menurut Yusuf dan Nulik (2008) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang diterima peternak dengan pedagang dalam pemasaran ternak potong, keuntungan yang diterima oleh masing-masing pedagang berbeda-beda tergantung dari tingkat usahanya. Sedangkan menurut Saliem (2004), analisis margin pemasaran bertujuan untuk melihat efisiensi pemasaran semakin tinggi harga yang diterima produsen, semakin efisien pemasaran tersebut.
Tabel 4. Margin di Usaha G Rahayu Jaya Mulia.
No
Jenis Kegiatan
Jumlah
1.
Penerimaan Dari Penjualan Sapi Betina (daging bakso)
Rp. 9.962.000,-
2.
Penerimaan Dari Penjualan Sapi Jantan (hidup)
Rp. 1.650.000,-

Margin
Rp. 8.312.000,-

Pada Tabel 4, terlihat penerimaan pada penjualan daging bakso itu lebih tinggi (Rp.9.962.000,-) bila dibandingkan dengan penerimaan pada penjualan sapi hidup (Rp.1.650.000,-), keadaan ini menggambarkan  bahwa penerimaan pada daging olahan (bakso) lebih memberikan keuntungan, hal ini tercermin dari margin yang diperoleh Rp.8.312.000,- tinggi (besar). Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusuf dan Nulik (2008), yang menyatakan bahwa besarnya margin pemasaran untuk pedagang dan perantara dipengaruhi oleh unsur-unsur biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran sebagai imbalan atas jasa pedagang dan perantara dalam memasarkan ternak. Tinggi rendahnya margin pemasaran dan bagian yang diterima peternak merupakan indicator dari efisiensi pemasaran, semakin rendah margin pemasaran dan semakin besar bagian yang diterima peternak, maka sistem pemasaran tersebut dikatakan efisien (Mubyarto, 1995).









BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan Ternak Sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia kurang baik, karena sistem pemberian pakan masih belum mencukupi kebutuhan sapi, tidak pernah dilakukan vaksinasi dan pemberian vitamin serta sapi tidak pernah dimandikan. Namun system perkandangan dipeternakan tersebut sudah baik dan memadai. Pola saluran tataniaga ternak sapi potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia, dimulai dari peternak kemudian ke pengumpul, selanjutnya ke Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dan sampai ketangan pedagang dan konsumen baik dalam bentuk hidup maupun dalam bentuk potong. Margin pada ternak sapi betina lebih besar dari pada ternak sapi jantan yaitu Rp.8.312.000,-.
4.2 Saran
            Dari manajemen kesehatan dan lingkungan sebaiknya sapi dimandikan supaya berkurangnya kotoran yang menempel pada badan sapi dan dilakukan vaksinasi serta pemberian vitamin untuk mencegah timbulnya penyakit dan menjaga kekebalan tubuh ternak tersebut.








DAFTAR PUSTAKA



Abidin, Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.
Darmaja, S.G.N.D.1980. setengah abad peternakan sapi tradisional dalam ekosistim pertanian di Bali. Thesis UNPAD
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Kotler,P. 2004 Manajemen Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Lembaga Penelitian Pendidikan  dan Pengembangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.

Nazaruddin dan K. Tj Viviani 1998. Petunjuk praktis usaha peternakan (suatu rangkuman). Jakarta. Mahkota.
Nicholson, W. 2002. Mikroekonomi Intermediate dan Aplikasinya. Edisi Ke delapan. Jakarta : Erlangga.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE.     Yogyakarta.
Saefuddin. 2002. Harga dan Marjin Pemasaran. Penerbit Universitas Indonesia, Ibnu Khaldun, Bogor. 
Soekartawi. 1993. Analisis Usaha Tani. Penerbit Universitas Indonesia Pers, Jakarta.                                                                                                                                                                   
Saliem, HP. 2004. Analisis Margin Pemasaran Salah Satu Pendekatan dalam Sistem Distribusi Pangan . Dalam Prosiding : Prospek Usaha dan Pemasaran Beberapa Komoditas Pertanian. Monograph Series  No. 24. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Siregar. 2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan Peternakan. Jakarta.
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Yusuf dan J. Nulik. 2008. Kelembagan pemasaran ternak sapi potong di Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Vol. 11, No.2





Tidak ada komentar:

Posting Komentar