LAPORAN
FARM EXPERIENCE
PENGELOLAAN
TERNAK SAPI POTONG DI USAHA
G
RAHAYU JAYA MULIA DESA KOTA BARU
KECAMATAN
GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG
JABUNG TIMUR
OLEH :
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Sapi potong merupakan jenis ternak yang tujuan
pemeliharaannya untuk menghasilkan daging dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang merupakan
bahan pangan bagi masyarakat, oleh karena itu untuk mengimbangi permintaan
daging asal sapi potong oleh masyarakat sebagai bahan pangan, maka harus cukup tersedia
secara kontinyu. Ketersediaan daging asal sapi potong ini dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan produksi daging sapi potong. Hal ini merupakan suatu peluang besar bagi peternak sapi potong,
terutama bagi sarjana peternakan untuk mengembangkan dan juga membuka usaha
peternakan sapi potong.
Ternak sapi potong merupakan salah
satu ternak penghasil daging di Indonesia, dimana daging merupakan bahan pangan
yang mempunyai nilai gizi yang cukup baik seperti kandungan protein. Oleh
karena itu permintaan daging asal ternak sapi potong setiap tahunnya selalu meningkat,
seiring dengan peningkatan pertambahan penduduk, kualitas pendidikan masyarakat
dan meningkatnya sadar gizi untuk
masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sebagaimana pernyataan Abidin
Z (2002) Sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak
yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan
kebutuhan manusia glainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan
daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan
kulit untuk sepatu.
Sapi Bali adalah sapi lokal yang memiliki kemampuan
beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan tersebut merupakan faktor pendukung
keberhasilan budidaya sapi Bali. Populasi sapi Bali yang meningkat akan
membantu mensukseskan program pemerintah untuk swasembada daging di Indonesia.
Sapi Bali merupakan salah satu sapi asli Indonesia yang memiliki postur tubuh
dari yang kurus sampai yang sangat gemuk. Darmaja (1980) menyatakan bahwa
perfomans sapi Bali mempunyai adaptasi yang baik terhadap pengaruh lingkungan
yang panas dan cukup toleran terhadap lingkungan dingin serta sangat efisien
dalam penggunaan pakan dengan kualitas rendah. Demikian pula Williamson dan
Payne (1993) menyatakan bahwa lingkungan biotik mempengaruhi performans sapi
potong melalui tingkat efisiensi penggunaan pakannya dan mampu menampilkan
performans secara maksimal.
Usaha pemeliharaan ternak sapi dapat dilakukan
secara perseorangan maupun secara perusahaan dalam skala besar. Namun ada pula
yang mengusahakan secara kelompok. Seiring semakin berkembangnya perusahaan
peternakan dan juga kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi demi kesehatan yang
diimbangi dengan daya beli masyarakat yang meningkat, permintaan akan daging
sapi untuk konsumsi pun juga meningkat dari tahun ke tahun.
Usaha G.
Rahayu Jaya Mulia merupakan salah satu usaha penjualan ternak. Berdasarkan pengamatan tersebut, penulis melakukan Farm Experience dengan
judul “Pengelolaan
Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur”
1.2.
Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Farm
Experience ini adalah untuk mengetahui Pengelolaan
Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1.3. Manfaat
Manfaat
dari Farm Experience ini adalah untuk menambah wawasan, pengalaman serta dapat
mengetahui bagaimana Pengelolaan
Ternak Sapi Potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
Farm Experience ini dilaksanakan pada tanggal 14 Maret 2015 sampai
dengan 12 April 2015 yang bertempat di Usaha G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2.2. Prosedur Kerja
Prosedur kerja yang
digunakan dalam pelaksanaan farm experience yaitu berpartisifasi langsung pada
bagian sanitasi kandang setiap pagi dan sore hari, pembersihan kotoran sapi
dilakukan setiap kotoran sudah menumpuk, pemberian pakan dan air. Pemberian
pakan dilakukan setelah tempat pakan dibersihkan untuk pagi hari dan dilakukan
penambahan pakan untuk sore hari, lalu untuk pemberian air minum dilakukan 1
hari 1 kali menggunakan air yang telah dicampur dengan garam mineral. Kegiatan-kegiatan
tersebut dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu sampai waktu kegiatan farm
experience selesai.
Ternak sapi yang baru
didatangkan dari Lampung diselesksi sesuai dengan keteria yang laku untuk
dipasarkan, setelah itu dilakukan penentuan harga dengan metode tafsir, untuk
ternak jantan dan betina pedaging dilakukan pemisahan dari ternak yang memenuh
kreteria untuk dijual dan dipotong.
Selama melaksanakan
kegiatan farm experience penulis berusaha
mendapatkan data untuk kelengkapan laporan akhir dengan cara melakukan
serangkaian wawancara kepada pemilik usaha yaitu Bapak Lamikun.
2.3. Analisis
Data
Data
yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan
melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau
pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan dan jumlah air
minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder
diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi, tahun
berdiri dan luas kandang.
Data
yang diperoleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu
mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga
dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi
magang. Terkumpulnya data-data seperti jumlah ternak potong yang dijual, harga
ternak potong, harga daging, biaya yang dikeluarkan dan margin pemasaran dari
hasil penelitian disederhanakan dalam bentuk tabulasi. Untuk memudahkan
analisis, perhitungan dan data dianalisis secara deskriptif.
Analisis
marjin dihitung berdasarkan selisih antara harga penjualan dengan harga
pembelian pada setiap saluran pemasaran, secara matematis dapat ditulis
rumusnya sebagai berikut :
Mi = Hji – Hbi
Keterangan :
Mi = Marjin
pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
Hji = Harga
penjualan pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
Hbi = Harga
pembelian pada lembaga tataniaga di tingkat ke-i
πi = Keuntungan
lembaga tataniaga di tingkat ke-i
MT = Marjin
tataniaga
i = Bilangan asli (1,2,3......n).
BAB
III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum Peternakan
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia berada
di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan Geragai
adalah sebelah Barat berbatasan
dengan Desa Rantau Karya, sebelah
timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II, sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo dan sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju.
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia didirikan pada tahun
2004 oleh pak Lamikun dan mempunyai 7 orang pegawai seperti pada Tabel 1
dibawah ini :
Tabel 1. Pegawai Usaha G.
Rahayu Jaya Mulia
|
No
|
Nama
|
Pekerjaaan
|
|
1.
|
Trimo
|
Tukang
potong rumput
|
|
2.
|
Bani
|
Tukang
Penggiling Daging
|
|
3.
|
Wahono
dan Jarkasih
|
Tukang
Sembelih Sapi
|
|
4.
|
Sulastri,
Mbok Mi, Ida
|
Pembuat
Bakso dan Pengemasan
|
|
5.
|
Wahono
|
Transportasi
atau Sopir
|
Sumber : Usaha G. Rahayu Jaya Mulia 2015
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia melakukan
pemeliharaan ternak sapi potong
khususnya sapi bali, yang arah dan tujuan dari usaha ini untuk penyediaan sapi
dan daging serta sebagai
produsen bakso di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1). Sapi Bali memiliki pertambahan bobot badan yang cepat, 2).
Dapat hidup dilingkungan yang kondisi pakannya kurang, 3).Tahan terhadap
penyakit. 4). Mudah dalam pemeliharaannya.
3.2 Kondisi Umum Ternak Sapi
Sapi
di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini berasal dari Lampung, Pasar Ternak Bulian dan
Tanjung Jabung Timur. Usaha G.
Rahayu Jaya Mulia menggunakan bibit (bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali.
Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia adalah pada
ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat kehitaman sedangkan ternak
betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian punggung terdapat garis
hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kearah leher, bagian pantat
belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian tarsal dan tarsus
berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana
pernyataan Hardjosubroto,
(1994) bahwa karakteristik lain yang harus
dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang
paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus
sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian
dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung,
bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak
congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit
keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit
keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul
gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke
belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke
bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.
Gambar 1. Jenis Ternak
3.3 Pengalaman
Farm Experience
Farm
Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh Mahasiswa
Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini
adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki
keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Kegiatan Farm Experience
dilakukan dalam waktu satu bulan yakni hari Sabtu dan Minggu yang bertempat di Usaha
G Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung
Timur. Kegiatan Farm Experience ini dilakukan pada pagi hari mulai pukul 07.30
– 09.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB serta jadwal
pemotongan ternak dilakukan pada setiap hari Sabtu pukul 03.00 - 06.00 WIB. Kegiatan
yang dilakukan adalah pembersihan kotoran sapi dilakukan
setiap kotoran sudah menumpuk, pemberian pakan dan air. Pemberian pakan
dilakukan setelah tempat pakan dibersihkan untuk pagi hari dan dilakukan
penambahan pakan untuk sore hari, lalu untuk pemberian air minum dilakukan 1
hari 1 kali menggunakan air yang telah dicampur dengan garam mineral.
Selama melaksanakan kegiatan Farm Experinence di
Usaha G Rahayu Jaya Mulia terdapat beberapa pelajaran yang diperoleh oleh
penulis di dalam mengembangkan ilmu baik dalam pengalaman mengenai bagaimana
kondisi dunia kerja yang sesungguhnya terutama dalam usaha penjualan ternak
maupun pengalaman dalam bentuk penambahan wawasan. Pengalaman tersebut antara
lain pengetahuan mengenai dunia kerja secara langsung khususnya pada tempat
penulis melaksanakan kegiatan Farm Experience, penulis dapat mengetahui
bagaimana cara mengatur ataupun menentukan harga dengan metode tafsir dan penulis
dapat mengetahui perbandingan antara materi yang telah diperoleh di dalam kelas
(teori) dengan pelaksanaannya di lapangan serta menambah wawasan bagaimana kita
harus menghadapi masalah-masalah yang belum dijelaskan selama proses
pembelajaran di dalam kelas.
3.4 Pemberian
Pakan
Pemberian pakan merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam usaha perdagangan ternak sapi potong oleh karena itu
pemberian pakan harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang
berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk
batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah bentuk
campuran bahan pakan
yang kaya akan
sumber protein maupun sumber energi pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan
kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan
sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat
saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan
utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993).
Jenis-jenis
pakan yang diberikan kepada ternak sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia adalah berupa hijauan, rumput kumpai (heminacne
amplexsichaules). yang diperoleh dari pinggir
parit, daerah
pematang sawah dan lapangan rumput. Hijauan diberikan pada pagi dan sore hari. Alasan
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan
merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan
kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat,
protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan
pendapat Reksohadiprojo
(1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi
sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan
karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan
sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan, reproduksi, dan produksi
daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi.
Gambar
2. Pemberian Pakan
3.5 Pemberian
Zat Mineral dan Air Minum
Pemberian zat mineral berupa garam dapat dilakukan 1 kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang
diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu
makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk
pertumbuhan tulang ternak. Hal ini sesuai dengan
pendapat Reksohadiprojo
(1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang
berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Sedangkan menurut pendapat yang menyatakan bahwa pemberian air minum
sebaiknya dilakukan secara Ad libitum
untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk
hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di
dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap
tersedia..
Gambar 3. Pemberian Garam Mineral
3.6 Perkandangan
Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang
menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak
terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan.
Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi
dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan serta mempermudah
pengawasan ternak (Amonimous,
1993).
Perkandangan
di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia sudah cukup baik dimana bangunan kandang terbuat dari semen dan papan dengan atap seng dengan lantai kandang terbuat dari semen.
Sedangkan ukuran kandang panjang 10 m, lebar 6 m, dan tinggi 4 m. Menurut
Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang
akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.
Gambar 4. Model Kandang
3.7 Pencegahan
dan Pengobatan Penyakit
Salah
satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak
merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan Usaha G. Rahayu Jaya
Mulia menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari yaitu pagi dan sore
akan tetapi ternaknya tidak dimandikan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Viviani
dan Nazarudin (1988), yang menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan
penyakit adalah melalui sanitasi lingkungan. Ini dilakukan supaya lingkungan
dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya
penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.
Penyakit yang biasa menyerang ternak di Usaha G. Rahayu
Jaya Mulia ini yaitu diare/mencret, biasanya disebabkan karena rumput yang diberikan
pada ternak terkena air hujan dan terlalu muda. Peternak biasanya memanggil
dokter hewan sekitar jika ternak sakit.
3.8
Pemotongan Ternak Sapi
Pada
data yang diambil dari tekhnik pemotongan ternak sapi yang dilakukan di Usaha
G. Rahayu Jaya Mulia ini sangat mudah dan praktis hal ini dikarenakan orang
yang melakukan pemotongan berpengalaman, sehingga proses pemotongan ternak
berlangsung sangat cepat walaupun hanya menggunakan alat – alat sederhana
berupa pisau, parang dan timbangan. Pemotongan ternak sapi dilakukan pada hari
sabtu dan minggu dengan jumlah yang dipotong sebanyak 2 sampai 3 ekor, namun
pada hari tertentu seperti hari raya Idul Adha pemotongan bisa mencapai 65
ekor. Proses pemotongan dilakukan pada pagi hari yaitu pukul 03.00 WIB sampai
06.00 WIB.
Gambar
5. Proses Pemotongan Sapi
Setelah diotong dan dipastikan mati,
dilakukan pemotongan bagian kepala dan bagian kaki depan dan kaki belakang. Selannjutnya
ternak digantung dengan menggunakan besi yang berbentuk huruf S dengan kaki
belakang dan kedua kaki tersebut direntangkan. Setelah itu dilakukan pengulitan
yang dimulai dari perut bagian belakang atau pada bagian ambing yang disayat
lurus ke depan, kemudian pengulitan mengarah pada bagian punggung melalui
samping kanan dan samping kiri tubuh sapi tersebut.
3.9
Pemasaran Ternak Sapi
Jalur tataniaga yang
berlangsung di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia
dapat dilihat pada gambar 1.
Jalur
Tataniaga
- PeternakPenggumpulPeternakan LamikunDaging (Bakso)Ternak HidupKonsumen
Gambar 6. Jalur Tataniaga Usaha G. Rahayu Jaya Mulia
Ternak sapi yang ditampung
dan dipelihara di Usaha G. Rahayu Jaya
Mulia didatangkan dari daerah
diluar Provinsi Jambi yaitu Lampung.
Penjualan
ternak sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini tidak
dipengaruhi oleh jenis sapi tetapi
dipengaruhi oleh Bobot Badan (BB) ternak sapi.
Semakin berat Bobot sapi semakin
tinggi harga penjualan sapi
tersebut. Pemasaran sapi
dilakukan secara langsung dipeternakan ini baik
berupa daging maupun dalam bentuk olahan seperti bakso.
3.9.1
Pengeluaran
dan Penerimaan Usaha G Rahayu Jaya
Mulia
a. Pengeluaran.
Pengeluaran oleh Usaha G. Rahayu Jaya Mulia ini
tercantum pada Tabel 2,
dijumpai adanya perbedaan besarnya biaya yang dikeluarkan, pada ternak sapi jantan sebesar Rp.5.250.000,- dan pada ternak betina Rp.19.058.000,-. Sedangkan jenis kegiatan yang dikeluarkan
pada ternak sapi jantan yaitu uang
retribusi desa sebesar Rp.30.000,-/ekor sedangkan pada ternak
sapi betina tidak adanya uang retribusi desa, namun pengeluarannya lebih besar
karena ternak sapi betina dijual dalam bentuk daging (bakso) maka adanya
pengeluaran untuk upah tukang giling daging, tukang sembelih sapi, pembuatan
bakso dan pengemasan. Keadaan ini sesuai dengan pernyataan Soekartawi (1993) menyatakan bahwa biaya pemasaran
adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran, besarnya biaya
pemasaran berbeda satu sama lain
disebabkan karena, macam komoditas, lokasi pemasaran, dan efektivitas pemasaran
yang dilakukan.
Tabel 2. Pengeluaran di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia selama Magang
|
No
|
A. Sapi Jantan
|
Pengeluaran (Rp)
|
||
|
1.
|
Transportasi
|
2125000
|
||
|
2.
|
Gaji
|
2500000
|
||
|
3.
|
Garam untuk Minum sapi
|
25000
|
||
|
4.
|
Retribusi Desa
|
600000
|
||
|
Jumlah
|
5.250.000,-
|
|||
|
No
|
B. Sapi Betina
|
Pengeluaran (Rp)
|
||
|
1.
|
Transportasi
|
2125000
|
||
|
2.
|
Gaji
|
6880000
|
||
|
3.
|
Garam untuk Minum sapi
|
12500
|
||
|
4.
|
Tukang Penggiling Daging
|
2000000
|
||
|
5.
|
Plastik
|
20000
|
||
|
6.
|
Batu ES
|
60000
|
||
|
7.
|
Bumbu Bakso
|
5880500
|
||
|
8.
|
Minyak Diesel
|
200000
|
||
|
9.
|
Tukang Sembelih Sapi (2 orang)
|
1600000
|
||
|
10.
|
Pembuat Bakso dan Pengemasan
|
280000
|
||
|
Jumlah
|
19.058.000,-
|
|||
Pada Tabel 2, dijumpai adanya perbedaan penyediaan produk
oleh Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia, yaitu penyediaan ternak sapi jantan
untuk dijual hidup dan penyediaan ternak
sapi betina untuk dipotong sebegai
penyediaan daging (bakso). Hal ini disebabkan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia dalam
upaya memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat (konsumen) yang ada di Kecamatan
Geragai, namun harga yang dipatok oleh Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia masih dalam
kisaran kemampuan masyarakat (konsumen) di Kecamatan Geragai. Sesuai dengan
pernytaan Nicholson (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan
akan suatu komoditi, diantaranya adalah harga komoditi itu sendiri, harga
komoditi lain yang berhubungan dengan komoditi tersebut baik yang bersifat
substitusi maupun komplementer terhadap barang itu sendiri, pendapatan rumah
tangga, distribusi pendapatan dalam masyarakat, selera, jumlah penduduk, dan
ramalan keadaan di masa yang akan datang.
b.
Penerimaan.
Usaha G. Rahayu Jaya Mulia dalam menjual ternak sapi kepada konsumennya ada dua (2) cara dimana
ternak sapi jantan
dijual hidup dengan penentuan harganya berdasarkan bobot hidup. Hasil
pengamatan dan wawancara dengan pak
Lamikun, ternak
sapi jantan dijual hidup karena ternak sapi jantan selalu digunakan untuk kegiatan
keagamaan dan harus memenuhi beberapa
kriteria seperti ; Kondisi ternak sapi jantan harus sehat dan tidak cacat, dan umur ternak sapi harus cukup.
Menurut Kotler (2004), bahwa harga merupakan salah satu penentu keberhasilan
suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan
diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.
Tabel 3. Penerimaan di Usaha G Rahayu Jaya Mulia.
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Penerimaan
|
|
1.
|
Jual Sapi Jantan
(hidup)
|
Rp. 1.650.000,-
|
|
2.
|
Jual Sapi Betina
(Daging Bakso)
|
Rp. 9.962.000,-
|
|
|
Jumlah
|
Rp. 11.612.000,-
|
Pada Tabel 2 diatas, ternak sapi betina dijual dalam bentuk
daging (bakso), 1 kg daging ternak sapi segar dapat menghasilkan 2 kg daging bakso, akibatnya penerimaan
pada ternak sapi betina lebih tinggi dari penerimaan hasil penjualan ternak
sapi jantan. Hal ini akan mempengaruhi pendapatan dan keuntungan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia , tujuan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia meningkatkan peneriamaan, selain untuk
mendapatkan keuntungan dari usaha ini juga untuk mempertahankan kelangsungan
usahanya.
c. Margin
Usaha G. Rahayu Jaya
Mulia dalam menentukan harga jual
ternak sapi potong berdasarkan performans
(tampilan tubuh), penentuan harga jual pada sapi jantan berdasarkan bobot tubuh
(ramalan) dan dijual dalam bentuk hidup, sedangkan pada ternak betina dijual dalam bentuk daging dan bobot daging
diperoleh dengan cara ditimbang. Keadaan ini tentu dapat menyebabkan
terdapatnya perbedaan margin pemasaran. Menurut Yusuf dan Nulik (2008)
menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang diterima peternak
dengan pedagang dalam pemasaran ternak potong, keuntungan yang diterima oleh
masing-masing pedagang berbeda-beda tergantung dari tingkat usahanya. Sedangkan
menurut Saliem (2004), analisis margin pemasaran bertujuan untuk melihat
efisiensi pemasaran semakin tinggi harga yang diterima produsen, semakin
efisien pemasaran tersebut.
Tabel 4. Margin di Usaha G Rahayu Jaya Mulia.
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Jumlah
|
|
1.
|
Penerimaan Dari
Penjualan Sapi Betina (daging bakso)
|
Rp. 9.962.000,-
|
|
2.
|
Penerimaan Dari
Penjualan Sapi Jantan (hidup)
|
Rp. 1.650.000,-
|
|
|
Margin
|
Rp. 8.312.000,-
|
Pada Tabel 4, terlihat penerimaan pada penjualan daging bakso itu
lebih tinggi (Rp.9.962.000,-) bila
dibandingkan dengan penerimaan pada penjualan sapi hidup (Rp.1.650.000,-), keadaan
ini menggambarkan bahwa penerimaan pada
daging olahan (bakso) lebih memberikan keuntungan, hal ini tercermin dari
margin yang diperoleh Rp.8.312.000,- tinggi (besar). Hal ini
sesuai dengan pernyataan Yusuf dan Nulik (2008), yang menyatakan bahwa besarnya
margin pemasaran untuk pedagang
dan perantara dipengaruhi oleh unsur-unsur biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran sebagai imbalan atas jasa pedagang dan perantara dalam memasarkan
ternak. Tinggi rendahnya margin pemasaran dan bagian yang diterima peternak
merupakan indicator dari efisiensi pemasaran, semakin rendah margin pemasaran
dan semakin besar bagian yang diterima peternak, maka sistem pemasaran tersebut
dikatakan efisien (Mubyarto, 1995).
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa Pengelolaan Ternak Sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia kurang
baik, karena sistem pemberian pakan masih belum mencukupi kebutuhan sapi, tidak
pernah dilakukan vaksinasi dan pemberian vitamin serta sapi tidak pernah
dimandikan. Namun system perkandangan dipeternakan tersebut sudah baik dan
memadai. Pola saluran tataniaga ternak sapi potong di Usaha G Rahayu Jaya Mulia, dimulai dari peternak kemudian ke
pengumpul, selanjutnya ke Usaha G.
Rahayu Jaya Mulia dan sampai
ketangan pedagang dan konsumen baik dalam bentuk hidup maupun dalam bentuk
potong. Margin pada ternak sapi betina lebih besar dari pada ternak sapi jantan
yaitu Rp.8.312.000,-.
4.2 Saran
Dari manajemen kesehatan dan lingkungan
sebaiknya sapi dimandikan supaya berkurangnya kotoran yang menempel pada badan
sapi dan dilakukan vaksinasi serta pemberian vitamin untuk mencegah timbulnya
penyakit dan menjaga kekebalan tubuh ternak tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,
Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai
Informasi Pertanian. Jambi.
Darmaja,
S.G.N.D.1980. setengah abad peternakan sapi tradisional dalam ekosistim
pertanian di Bali. Thesis UNPAD
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia. Jakarta.
Kotler,P. 2004 Manajemen
Pemasaran, Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. Penerbit Erlangga: Jakarta.
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian.
Lembaga Penelitian Pendidikan dan
Pengembangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.
Nazaruddin
dan K. Tj Viviani 1998. Petunjuk praktis usaha peternakan (suatu rangkuman).
Jakarta. Mahkota.
Nicholson, W. 2002. Mikroekonomi
Intermediate dan Aplikasinya. Edisi Ke delapan. Jakarta : Erlangga.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan
di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Saefuddin. 2002. Harga
dan Marjin Pemasaran. Penerbit Universitas Indonesia, Ibnu Khaldun, Bogor.
Soekartawi.
1993. Analisis Usaha Tani. Penerbit Universitas Indonesia Pers, Jakarta.
Saliem, HP. 2004. Analisis
Margin Pemasaran Salah Satu Pendekatan dalam Sistem Distribusi Pangan . Dalam
Prosiding : Prospek Usaha dan Pemasaran Beberapa Komoditas Pertanian. Monograph
Series No. 24. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Bogor.
Siregar.
2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan
Peternakan. Jakarta.
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993.
Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
Yusuf
dan J. Nulik. 2008. Kelembagan pemasaran ternak sapi potong di Timor Barat,
Nusa Tenggara Timur. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian.
Vol. 11, No.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar