Kamis, 28 Mei 2020

TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT PADA SAPI BALI DI KELOMPOK TANI SUMBER JAYA KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE )


TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT PADA SAPI BALI DI KELOMPOK TANI SUMBER JAYA KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI


LAPORAN
FARM EXPERIENCE


OLEH
NAMA……
NIM………….

Description: D:\fotoku n lainnya\LAMBANG\0007.jpg


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014

PRAKATA

Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada penulis dalam menyelesaikan laporan Farm Experience dengan judul “Teknik Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi Bali Di Kelompok Tani Sumber Jaya Kecamatan Kota Baru Kota Jambi ”. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Fakultas Peternakan Universitas Jambi.
Dalam penulisan laporan ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada        DR.Ir.H.M.Afdal,M.Sc.,M.Phil sebagai pembimbing lapangan yang telah banyak memberikan bimbingan, koreksi, petunjuk, masukan dan arahan serta motivasi untuk penulis selama penulisan laporan ini. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rahman sebagai ketua kelompok Tani sumber jaya yang telah mengizinkan dan membantu penulis dalam melaksanakan Farm Experience ini.
Semoga Allah senantiasa membalas dan melipat gandakan segala kebaikan yang telah diberikan, amin. Penulis menyadari, bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis harapkan segala masukan yang membangun dari pembaca. Penulis harapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak.

                                                                                                                                                                                                                  Jambi,          April   2014

                                                                                                 Devy Isra Rahman
 

DAFTAR ISI
PRAKATA.............................................................................................. ......... i
DAFTAR ISI........................................................................................... ........ ii
DAFTAR TABEL................................................................................... ....... iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. ....... iv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... v
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................... ................................................................................................................ 1
............. 1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
............. 1.2 Tujuan.......................................................................................... 2
............. 1.3 Manfaat........................................................................................ 2

BAB II. MATERI DAN METODE................................................................. 3
   2.1 Waktu dan Tempat...................................................................... 3
   2.2 Materi.......................................................................................... 3
   2.3 Metoda........................................................................................ 3
   2.4 Analisis data................................................................................ 3

BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 5
............. 3.1 Gambaran Umum......................................................................... 5
............. 3.2 Bangsa Sapi................................................................................. 6
............. 3.3 Sistem pemeliharaan.................................................................... 9
............. 3.4 Jenis pakan................................................................................. 10
............. 3.5 Perkandangan............................................................................. 11
............. 3.6 Usaha Pengendalian Penyakit................................................... 13
............. 3.7 Sistim Perkawinan..................................................................... 15
............. 3.8 penanganan limbah.................................................................... 16
............. 3.9 Pengalaman farm....................................................................... 17

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 18
           .. 4.1 Kesimpulan................................................................................ 18
............. 4.2 Saran.......................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 18

LAMPIRAN................................................................................................... 21


DAFTAR TABEL
Tabel 1. ..................................................................................................   Kegiatan pelaksanaan aktivitas di Kelompok Tani Sumber Jaya        4
Tabel 2.   Rincian pemanfaatan lahan Kelompok Tani Sumber Jaya.... ........ 6


DAFTAR GAMBAR
Gambar. 1. Struktur Organisasi Kelompok Tani Panca Karya ............. ........ 5
Gambar. 2. Ternak Sapi Sedang Makan Di Kandang...................................... 9
Gambar. 3. Jenis Rumput .............................................................................. 10
Gambar. 4. Kandang Sapi ............................................................................. 12
Gambar. 5. Pengolahan  Limbah Ternak....................................................... 17














...........










BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Pengendalian penyakit merupakan salah satu bagian penting dalam sistim produksi di suatu usaha peternakan. Salah satu tujuan penting dalam pengendalian penyakit diantaranya adalah untuk meningkatkan efesiensi produk sehingga proses produksi berlangsung optimal dan akhirnya keuntungan dapat dimaksimalkan.
Dalam pemeliharaan ternak,salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit tidak jarang peternak mengalami kerugian dan bahkan tak dapat lagi beternak akibat kematian ternaknya. Upanya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam upaya pengendalian penyakit antara lain (a) Menjaga kesehatan ternak, (b) Mempertahankan penampilan ternak agar tetap baik, (c) Mempertahan komposisi bahan pakan dan (d) Ketersedian zat nutrisi yang baik dan seimbang.
Peternakan sapi bali di kelompok tani Sumber Jaya merupakan salah satu peternakan rakyat yang tergabung ke dalam kelompok tani Sumber Jaya. Sistim pemeliharaan ternak sapi di kelompok tani Sumber Jaya man adalah sistim intensif atau ternak di kandangkan,
Atas ulasan tersebut maka dalakukan Farm Experience untuk melihat Teknik Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi Di kelompok tani Sumber Jaya Dengan Judul Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi Di Kelompok Tani Sumber Jaya Kecamatan Kota Baru Kota Jambi




1.2   Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan Farm Experance ini adalah mengetahui teknik dan cara pengendalian penyakit pada kelompok tani Sumber Jaya, dan bisa mengetahui penyakit yang diderita ternak sapi di peternakan tersebut dan mengetahui cara pengobatan atau pengendaliannya, sehingga dapat diterapkan di masa mendatang.
1.3   Manfaat
Manfaat yang ingin di capai dalam kegiatan Farm Experience adalah memberi pengalaman serta pengetahuan tentang upanya dalam pencegahan dan pengendalian penyakit pada ternak sapi, sehingga mahasiswa dapat bekal ilmu dalam pemeliharaan ternak sapi tersebut.




















BAB II
PROSEDUR KEGIATAN

2.1.  Waktu dan Tempat
Farm experience ini dilaksanakan di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Jaya ,  Desa  Kecamatan. Kota baru. Kota Jambi selama 1 Bulan yang di mulai pada tanggal 08 Maret  2014 – 08 April 2014.
2.2. Materi
Materi yang digunakan pada Farm Experience ini adalah 22 ekor ternak sapi, sapi Bali berjumlah 4 ekor, 15 ekor sapi Simenthal dan 3 ekor sapi PO .perlengkapan pembersih kandang (lori, sekop, cangkul, sapu lidi, selang air, mesin air, ember, meteran dan sikat pembersih ).
2.3.Metoda
Prosedur kerja yang dilakukan dalam Farm Experience adalah terlibat langsung dalam usaha pemeliharaan ternak yang meliputi pemberian pakan hijauan dan pakan konsentrat serta melakukan pembersihan kelengkapan kandang seperti tempat makan dan minum. Data yang diambil meliputi jenis hijauan yang diberikan, jumlah hijauan dan konsentrat serta cara pemberian pakan baik hijauan maupun konsentrat. Sedangkan data penunjangnya yaitu keadaan peternak, jumlah ternak, bangsa, jenis kelamin dan umur ternak serta sistem pemeliharaan. Untuk mempermudah mendapatkan informasi dan keterangan-keterangan yang dibutuhkan maka dilakukan wawan cara dengan dibantu daftar pertanyaan (kuisioner).
2.2.  Analisis Data
Cara pengambilan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
1.   Pengamatan (observasi)
Pengamatan dilakukan secara langsung terhadap kegiatan yang berhubungan dengan pelaksanaan operasional kelompok tani Sumber Jaya yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan Farm Experience guna memperoleh informasi dan pengalaman langsung.
Kegiatan Farm Experience ini merupakan keikutsertaan mahasiswa dalam  pelaksanaan aktivitas seperti yang tercantum pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Kegiatan pelaksanaan aktivitas di Kelompok Tani Sumber Jaya.
No
Kegiatan
Waktu
1
Penimbangan sisa pakan
7.00 - 8.00 WIB
2
Pembersihan tempat pakan
8.00 - 8.30 WIB
3
Pemberian hijauan
8.30 - 10.00 WIB
4
Pengamatan tentang keadaan ternak
10.00 - 11.00 WIB
5
Pembuatan konsentrat
14.00 - 15.00 WIB
6
Pemberian konsentrat
15.00 -16.00 WIB
7
Pemberian hijauan
17.00 - 17.30 WIB

2. Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mengadakan Tanya jawab secara langsung dengan peternak.  Peternak yang dimaksud dalam kegiatan Farm Experience kelompok tani sumber jaya ini adalah pemilik peternakan dan karyawan kandang.




BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.  Gambaran Umum Peternakan
Peternakan sapi di Kelompok Tani Sumber Jaya berdiri pada Tahun 1994, bergabung kedalam kelompok tani sumber jaya dan terletak di daerah Bagan Pete kecamatan kota baru, kota jambi. Letak kandang sapi ini berada di belakang rumah. Kelompok Tani Sumber Jaya terdiri dari 25 orang anggota. Struktur organisasi Kelompok Tani Sumber Jaya dapat dilihat pada gambar 1.
















Kelurahan Bagan Pete KecamatanKota Baru Kota Jambi memiliki luas wilayah ± 1.749 Ha dengan jumlah penduduk 7.660 jiwa Dengan batas – batas wilayah
1.     Sebelah utara berbatasan dengan Muara Jambi
2.     Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Beliung
3.     Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Kenali Besar
4.     Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Mayang

Sedangkan Kelompok Tani Sumber Jaya memiliki lokasi seluas 1 Ha 30 tumbuk, dengan rincian pemanfaatan lahan sebagai mana yang tercantum pada tabel 2 dibawah ini:
Tabel 2. Rincian pemanfaatan lahan Kelompok Tani Sumber Jaya.
No
Penggunaan lahan
Unit
Luas (ha)
1
Kandang Penggemukkan
1
0,04
2
Kandang Indukan
1
0,02
3
Gudang Pakan
1
0,02
4
Rumah Pemilik
1
0,40
5
Kebun Sawit
1
0,80
6
Kandang Induk menyusui
1
0,02

Jumlah
6
1,30

3.2.Bangsa Sapi
Sapi yang dipelihara dan dikembangbiakan di tempat kegiatan Kegiatan Farm experience adalah sapi Bali (Bos sondaicus), sapi PO, peranakan Limousin dan peranakan Simenthal.Adapun ciri-ciri ternak sapi adalah sebagai berikut
1.     Sapi Bali
Ciri-ciri  ternak sapi bali yang dimiliki adalah pada ternak sapi Bali umur muda baik jantan maupun betina bulunya berwarna merah bata, pada ternak sapi Bali jantan setelah  mencapai dewasa tubuh berubah warna bulunya dari warna merah bata ke warna coklat kehitaman. Selain itu pada ke empat kaki bagian bawah berwarna putih serta ada pembatas seperti kaos  kaki, pada bagian pantat terdapat warna putih melingkar dan adanya garis hitam memanjang diatas punggung. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam.
2.     Sapi PO
Sapi putih atau Peranakan Ongole (PO) merupakan salah satu jenis sapi yang paling banyak dicari di pasaran. Harganya yang relatif murah, mudah perawatannya sekaligus mudah untuk dijual kembali. Bobot hidup bervariasi mulai 200 kg hingga mencapai sekitar 450 kg. Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina lo-kal di Jawa yang berwarna putih (Anonim, 2004).
Saat ini sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan, karena telah banyak di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi POdiartikan sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik. Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
3.     Sapi  Peranakan Limousin
Sapi Limousin merupakan sapi yang ditemukan di Haute-Vienne, Prancis  dimana awal mula ditemukan sapi ini dibuktikan dengan lukisan dinding di Gua Lascaux pada abad ke 18. Selama berabad-abad, sapi ini telah didomestikasikan (diternakkan). Sapi Limousine diternakkan untuk diambil dagingnya dan juga dijadikan sebagai sapi pekerja untuk pertanian karena kekuatan dan kecepatannya dalam pengolahan tanah, Secara genetik, sapi Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake (kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi lain, seperti misalnya dengan sapi peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford.

Ciri – ciri sapi peranakan  limousin
  1. Tinggi sapi bisa mencapai 1,5 meter. 
  2. Mempunyai bulu yang sangat tebal dan kompak menutupi seluruh tubuhnya. 
  3. Bangsa sapi Limousin memiliki warna mulai dari kuning sampai merah keemasan.
  4. Bertanduk dan bergelambir .
  5. Bobot lahir tergolong kecil sampai medium, Sapi Betina dewasa dapat mencapai 575 kg sedangkan pejantan dewasa mencapai berat 1100 kg.
  6. Fertilitasnya cukup tinggi, mudah melahirkan, mampu menyusi dan mengasuh anak dengan baik serta pertumbuhannya capat (Blakely dan Bade, 1998).
4.     Sapi Peranakan Simental
Sapi Simmental adalah bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor berwarna putih, sapi jantan dewasa mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasa 800 kg. Ciri-ciri sapi Simental bentuk tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini sangat cocok dipelihara di tempat yang iklimnya sedang Persentase karkas sapi jenis ini tinggi, mengandung sedikit lemak. Dapat difungsikan sebagai sapi perah

3.3  Sistim  Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi pada peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya  adalah secara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak. Produktivitas sapi yang dipelihara secara intensif dapat ditunjang dengan pemberian pakan hijauan maupun konsentrat yang baik dengan komposisi yang sesuai, penanggulangan penyakit, penanganan pasca panen dan pemasaran serta jenis bangsa sapi dan umurnya. Keuntungan penggemukan secara intensif  yaitu  sapi yang dipelihara cepat gemuk, pertumbuhannya pesat karena mereka banyak mendapatkan unsur karbohidrat dan lemak, sehingga usaha penggemukan semacam ini bisa dilakukan dalam kurun waktu lebih pendek. Kelemahan pemeliharaan secara intensif yaitu modal yang digunakan lebih banyak, adanya permasalahan penyakit serta limbah ternaknya.
Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_0876.JPG 
Gambar 2:Ternak sapi sedang makan d kandang
Jenis rumput sebagai pakan ternak sapi Bali, Sapi Po , sapi Simental dan sapi limousin di kelompok tani Sumber Jaya adalah jenis rumput Kumpe , legum, pala, dan lapangan dimana rumput ini dicari didaerah Pal 10 dari jam 09.00-17.00 dengan menggunakan mobil oleh karyawan pak Rohmat sebanyak 4 orang karyawan dan alasan menggunakan pakan ini karena hijauan ini mudah didapatkannnya.
Selama pelaksaanaan Farm Experience bahkan selama pemeliharaan ternak sapi di kelompok tani Sumber Jaya sama sekali tidak pernah melakukan penimbangan bobot badan baik dengan cara menimbang bobot badan secara langsung atau dengan cara mengukur bagian tubuh ternak sapi  yang dapat digunakan untuk menduga bobot badan. Alasannya tidak melakukan penimbangan bobot badan itu karena timbangannya sendiri tidak ada, dan ukuran tubuh pada sapi pada peternakan sumber jaya  hanya dilakukan dengan cara mengukur lingkar dada dan panjang badan. Menurut Pane (1991), pemeliharaan ternak yang baik seharusnya dilakukan penimbangan agar di ketahui pertambahan bobot badan ternak, pertambahan bobot badan akan maksimal jika pakan yang di berikan berupa hijauan dan konsentrat.

3.4. Jenis Pakan
Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_1147.JPGJenis rumput sebagai pakan ternak sapi Bali, Sapi PO , peranakan  Simental dan peranakan limousin di peternakan Sumber Jaya  adalah jenis rumput Kumpe, legum, pala, dan lapangan,karena hijauan ini mudah didapatkannnya.
Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_1145.JPG 
                             Gambar 3 : Jenis Rumput
Pemberian pakan pada penggemukan sapi Bali Sapi Po , sapi Simental dan sapi limousin yang ada di peternakan Sumber Jaya  yaitu dengan memberikan pakan yang berupa hijauan sebanyak 20 Kg/ekor pagi hari dan 20 Kg/ekor di sore harinya, dengan cara hijauan tersebut langsung di berikan ke ternak. Jenis hijauan tersebut meliputi rumput potong, rumput lapangan, dan jenis leguminosa. Pemberian konsentrat dengan cara mencampur beberapa bahan (dedak 3 kg,ampas tahu 30 kg,garam 1kg dan air secukupnya  )
Ditinjau dari pemberian pakan dan air minum di peternakan Sumber Jaya  secara kuantitas sudah sesuai dengan standar untuk penggemukan sapi, karena pakan yang di berikan berupa rumput alami yang dalam kondisi segar dan pemeberian kosentrat , untuk menunjang pertambahan bobot badan ternak . Menurut Ninik (1990), pakan hijauan diberikan pada sapi Bali yang digemukan sesuai dengan bobot badan sapi, untuk sapi ternak  biasanya hijaan yang di berikan sebanyak 10 – 12 % dan pakan konsentrat 1 – 2 % dari bobot badan ternak. Pemberian hijauan dilakukan 2 kali sehari yakni pada pukul 08.00 pagi, dan pukul 17.00 sore hari, sedangkan pakan konsentrat diberikan pagi hari sebelum pemberian hijauan. Saka (1990), menambahkan Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 – 40 liter/ekor/hari, namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak terbatas).  

3.5  Perkandangan
Model kandang sapi potong di kelompok tani Sumber Jaya adalah model kandang ganda yaitu tipe head to head dan tail to tail terbuka dibangun dengan tujuan agar sirkulasi udara dalam kandang dapat berjalan dengan baik dan dengan tipe face to face dimana sapi saling berhadapan. Abidin (2002), menyatakan bahwa fungsi ventilasi adalah sebagai tempat aliran udara yang berguna memberikan suplai oksigen untuk kebutuhan pernapasan ternak sekaligus mengusir karbon dioksida dan ammonia keluar kandang. Konstruksi kandang harus kuat dan tahan lama, penataan dan perlengkapan kandang hendaknya dapat memberikan kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti memberi pakan, kebersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan. Ukuran kandang sapi potong di peternakan pak Rohmat yaitu  5,10 X 16.90 meter²  dengan kapasitas 20 ekor per Unit, bentuk kandang yang ada di peternakan pak Rohmat yaitu setiap sekat terdapat 1 ekor sapi . Ukuran sekat kandang yaitu lebar 1 meter dan panjang 3 meter. 
Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_0833.JPG
Gambar 4 : kandang sapi kelompok tani sumber jaya
Dangan ukuran kandang dan kapasitas kandang yang ada di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya tersebut, maka hal ini terlalu luas untuk sapi penggemukan secara Kreman. Menurut Syafrial, dkk (2007), luas kandang individu untuk penggemukan di sesuaikan dengan ukuran tubuh sapi  yaitu sekitar panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m atau setinggi badan sapi. Sapi di kandangkan secara  individu guna menghindari perkelahian sesamanya, dan mengurangi ruang gerak sapi. Sarwono (2003), menyatakan beberapa model kandang penggemukan dengan sistem kreman dibuat lebih tertutup rapat dan sedikit gerak untuk mengurangi kehilangan energi dan mempercepat proses penggemukan.
Atap kandang sapi potong di peternakan pak Rohmad terbuat dari seng yang berfungsi melindungi sapi dari air hujan dan terik matahari serta menyerap panas, sedangkan sistem atapnya adalah sistem atap monitor yang berfungsi menjaga agar keadaan udara di dalam kandang tetap stabil. Hal ini sesuai dengan pendapat Whendrato (2004), bahwa atap monitor berfungsi untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kandang. Kandang diperlukan untuk melindungi ternak dari perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim, mencegah dan melindungi ternak dari penyakit, menjaga keamanan ternak dari pencurian, memudahkan pengelolaan ternak, serta meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja.  
Lantai kandang  di peternakan pak Rohmad terbuat dari semen dan posisinya dibuat agak miring agar lantai tidak becek akibat kotoran. Menurut Siregar (1996), bahwa lantai kandang yang terbuat dari semen berfungsi untuk memudahkan peternak dalam membersihkan dan membuang kotoran. Lantai kandang harus kuat, tahan lama, tidak licin dan tidak terlalu kasar, mudah dibersihkan dan mampu menopang beban yang ada diatasnya.
Sanitasi kandang yang di lakukan di peternakan kelompok tani Sumber Jaya yaitu dimulai dari membersihkan lantai kandang dengan cara mengumpulkan feses, dan menyiram lantai hingga bersih setiap pagi dan sore hari,  memandikan ternak sapi setiap hari, dan membersihkan tempat pakan dan tempat minum setiap hari. Kusnadi (1996), menyatakan bahwa untuk program sanitasi pada pemeliharaan intensif sapi-sapi harus dikandangkan sehingga memudahkan dalam pengawasannya. Usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik. Kesehatan sapi bisa dicapai dengan tindakan hygiene, sanitasi lingkungan, vaksinasi, pemberian pakan dan teknis yang tepat.

3.6   Usaha Pengendalian Penyakit                                                                  
Kesehatan hewan  merupakan syarat mutlak bagi produktivitas optimumnya.  Pertambahan berat badan  harian  pada sapi potong  yang maksimum hanya akan diperoleh bila status kesehatan  ternak optimum pula.  Status kesehatan yang kurang baik akan berakibat minimumnya, karena status kesehatan  sapi  potong  sangat mempengaruhi berat badan.  Sehingga jelas, bahwa kesehatan sapi potong sangat mempengaruhi produktivitas sapi potong bakalan maupun sapi potong bibit.
           Upaya yang telah dilakukan di Kelompok Tani Sumber Jaya untuk pencegahan penyakit antara lainnya yaitu ;

3.6.1. Kebersihan Kandang
Di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya  dilakukan pembersihan kandang yang meliputi pemberisihan tempat makan, tempat minum, dinding kandang, lantai dan sekitar kandang.
  1. Tempat makan dan tempat minum selalu dalam kondisi bersih, pembersihan tempat makan dan minum dilakukan setiap hari disaat ternak sapi sedang digembalakan.
  2. Tubuh ternak sapi selalu dalam kondisi bersih, pembersihan tubuh ternak sapi dengan cara memandikan ternak sapi minimal 2 kali dalam seminggu.
  3. Pengontrolan kebersihan tubuh dan kesehatan ternak sapi dilakukan setiap hari saat ternak sapi hendak digembalakan pagi hari dan saat hendak dikandangkan sore hari.
3.6.2. Kebersihan Peralatan
Di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya  dilakukan pembersihan peralatan untuk membersihkan kandang dengan menggunakan dengan menjemur pada cahaya matahari,menggunakan air panas atau air mendidih. Sebagaimana pendapat. (Anonim, 2012) dalam kegiatan pemeliharaan ternak, dibutuhkan peralatan untuk keperluan di dalam kandang. Peralatan hendaknya selalu dalam keadaan bersih, adapun peralatan kandang yang diperlukan antara lain sebagai: Ember, digunakan untuk mengangkut air, pakan penguat, dan memandikan ternak. Sebaiknya ember terbuat dari bahan antikarat, seperti ember plastik.
3.6.3. Kebersihan Ternak
Di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya dilakukan pembersihan ternak dengan cara memandikan ternak setiap hari agar ternak kelihataan tetap bersih dan terhindar dari penyakit. Sesuai dengan peryataan. (Wello,2001) dalam menjaga kesehatan ternak harus dijaga kebersihan ternak dengan tujuan agar ternak tetap terlihat sehat.
3.6.4. kebersihan sekitar kandang
Lingkungan disekitar kandang selalu dalam suasana bersih dan kering, karena kandang dikelilingi oleh parit (selokan) serta adanya bak penampung kotoran, parit (selokan)   yang berfungsi untuk menyalurkan kotoran dan urine sapi ke penampungan.sebagai mana pendapat. ( Herfan,2006) kebersihan di sekitar sangat lah penting untuk kesehatan ternak,jika tidak bersih ternak tersebut sanga mudah terserang penyakit.
 Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan selama  melakukan  kegiatan farm experience tidak dijumpai adanya ternak sapi yang sakit (100 %), begitu juga dari hasil wawancara baik terhadap anggota kelompok maupun pada Pak Rohmad, dimana ternak sapi potong yang dipelihara belum pernah terjangkit penyakit. Hal ini akibat adanya manajemen pemeliharaan ternak sapi yang baik dan tepat, khususnya tentang kebersihan dan kesehatan. Sebagaimana pernyataan Anonim (2004), Keberhasilan usaha sapi potong, baik penghasil bibit (breeding) maupun penggemukan (fattening), sangat tergantung dari kesehatan ternak. Sehingga penanganan, pengendalian dan pencegahan penyakit harus menjadi prioritas utama. Kesehatan hewan merupakan faktor utama dalam usaha peternakan sapi potong, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Penanganan, pengendalian dan pencegahan penyakit sapi potong memerlukan pertimbangan dari berbagai segi, baik dari segi penyakit maupun segi ekonomis.

3.7  Sistem Perkawinan
Di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya tidak melakukan perkawinan alam, melainkan dengan perkawinan buatan atau sering disebut dengan istilah Inseminasi Buatan (IB).
Penerapan bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana (inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).Oleh sebab itu, peternak dan petugas lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak terjadi sehingga tidak ada keterlambatan IB. Kegagalan IB menjadi penyebab membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak.  Apabila semua faktor di atas diperhatikan diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik dibandingkan dengan perkawinan alam. Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi peternakan akan tercapai. 
Manfaat penerapan bioteknologi IB pada ternak (Hafez, 1993) adalah sebagai berikut :
a)     Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; 
b)    Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; 
c)     Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); 
d)    Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
e)     Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; 
f)     Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; 
g)    Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.

3.8    Penanganan Limbah
Limbah ternak merupakan sisa hasil pencernaan dan metabolisme pakan yang berupa limbah padat berupa feses dan limbah cairnya berupa urine.Limbah padat yang berupa feses diolah menjadi pupuk organik yang kemudian digunakan sendiri untuk perkebunan sendiri dan sebagian ada yang dipsarakan atau dijual. Sedangkan untuk limbah cairnya yang berupa urine belum diolah dan hanya dialirkan ke lahan perkebunan sendiri, tetapi tetap akan dijual jika ada yang berminat membeli urine tersebut.
Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_0842.JPG Description: D:\Libraries\Documents\Data Supratman\data kulyh\foto_magang\IMG_0843.JPG
                        Gambar 5: pengolahan limbah

3.9. Pengalaman farm
Farm experience merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh setiap Mahasiswa Peternakan Universitas Jambi sebelum menyelesaikan studinya. Farm experience bertujuan untuk memberikan pengalaman kepada Mahasiswa Fakultas Peternakan agar memiliki keterampilan guna menunjang keahliannya sebagai seorang serjana peternakan. Diharapkan dari kegiatan ini seorang mahasiswa Fakultas Peternakan menjadi lebih menguasai dan memiliki kesiapan untuk terjun langsung dilapangan.
Kegiatan Farm experience ini dilaksanakan selama 1 bulan mulai dari tanggal 8 Maret 2013 sampai dengan tanggal 8 April 2014 yang berlokasi di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Jaya ,  Desa  Kecamatan. Kota baru. Kota Jambi. Dengan jadwal kerja setiap harinya dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai. Rangkaian kegiatan yang dilakukan selama di peternakan pak rohmat  yaitu teknik dalam upaya mengatasi dan pengendalian penyakit, diantara kegiatannya adalah pembersihan kandang (pembersihan lantai dan got), pengembalaan ternak , pengiringan ternak saat kekandang, serta pengikatan ternak didalam kandang  dan pemberian garam jilat.





BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pengamatan dan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa peternak sapi potong di Kelompok tani sumber Jaya  sudah melakukan upaya pengendalian penyakit dengan  memperhatikan kebersihan dan kesehatan ternak sapi potong.

4.2 Saran
            Adapun saran yang dapat penulis sampaikan di temat peternakan kelompok Tani Sumber Jaya adalah dalam penanganan penyakit  ternak ruminansia untuk kedepannya harus di tingkatkan terutama masalah kebersihan ternak.
           
           
















DAFTAR PUSTAKA


Abidin, Z. 2002. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Penggemukan Sapi    Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta. 
Anonim. 2004. Pokok-pokok Pemikiran Pembangunan Perternakan  dan
  Kesehatan Hewan 2004–2009. Departemen Pertanian Republik Indonesia.   http://www.google.com/F digilib.litban. Diakses 6 Juni 2013.

Anonim 2012. Pedoman Budidaya Sapi Potong, Ditjenak, Jakarta

Blakely, J. & D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan.  Ed. Terjemahan Bambang
             Srihandono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hardjosubroto,1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Herfan,2006. Teknik kebersihan sekitar Perkandangan Sapi Potong.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Badan Penelitianan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian.  http://duniasapi.com/id/budidaya/88-sanitasi-peternakan-sapi.html. (di akses tanggal 8 april 2014)
Hafez,  1993. Artificial insemination. In: HAFEZ, E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 Th Ed. Lea & Febiger, Philadelphia. Hal 424-439.
Kusnadi.1996 Hasil Penelitian Usahatani Ternak Terpadu di Dataran Tinggi Jawa Tengah. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Niniek . 1990. Respon Sapi Bali Terhadap Usaha Perbaikan Pakan dengan Suplementasi. Proceeding Seminar Nasional Sapi Bali. Fakultas Peternakan  Universitas Udayana. Denpasar.
Pane, I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Pros. Seminar Nasional Sapi
             Bali. 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan Universitas Hasanudin.
             Ujung Pandang.

Saka,  1990. Pemberian pakan dan pemeliharaan ternak kerja. Makalah dalam pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1990.
Sarwono, B. & H. B. Arianto. 2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat.        Penebar  Swadaya, Jakarta.
Siregar, 1996. Pedoman Usaha       Sapi bakalan Dalam Sistem Usaha Pertanian Berwawasan komponen      Ternak Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Syafrial, dkk. 2007. Sistem Usahatani Penggemukan             Sapi     Potong. Laporan Hasil Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi              Pertanian Jambi.
TALIB, C. dan A.R. SIREGAR. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan sapi simental dalam pemeliharaan tradisional

Toelihere 1997. Pedoman lntensifikasi Kawin IB . Direktorat Jenderak Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Jakarta.
Whendarto, 2004. Review hasil penelitian model low-external input di Loka Penelitian Sapi Potong th 2002-2004. Pros. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Buku I. Puslitbang, Bogor

wello,2001.Pangudiluhur,Krisna.2010.http://krisnapangudiluhur.blogspot.com/2010/12 /manajemen-pemeliharaan-dan-perawatan.html.(di akses tanggal 8 april 2014)












Tidak ada komentar:

Posting Komentar