TEKNIK PENGENDALIAN PENYAKIT PADA SAPI BALI DI KELOMPOK
TANI SUMBER JAYA KECAMATAN KOTA BARU KOTA JAMBI
LAPORAN
FARM EXPERIENCE
OLEH
NAMA……
NIM………….

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
PRAKATA
Alhamdulillah penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat serta hidayahnya kepada penulis dalam menyelesaikan laporan Farm
Experience dengan judul “Teknik Pengendalian Penyakit Pada Ternak Sapi Bali Di
Kelompok Tani Sumber Jaya Kecamatan Kota Baru Kota Jambi ”. Laporan ini disusun
untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Fakultas
Peternakan Universitas Jambi.
Dalam penulisan laporan ini penulis banyak mendapatkan bimbingan dan
bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada DR.Ir.H.M.Afdal,M.Sc.,M.Phil sebagai pembimbing lapangan
yang telah banyak memberikan bimbingan, koreksi, petunjuk, masukan dan arahan serta motivasi untuk penulis
selama penulisan laporan ini. Selanjutnya penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada Bapak Rahman sebagai ketua kelompok Tani sumber jaya yang telah
mengizinkan dan membantu penulis dalam melaksanakan Farm Experience ini.
Semoga Allah senantiasa membalas dan melipat gandakan
segala kebaikan yang telah diberikan, amin. Penulis menyadari, bahwa laporan
ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis harapkan segala masukan
yang membangun dari pembaca. Penulis harapkan laporan ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan semua pihak.
Jambi, April
2014
Devy
Isra Rahman
DAFTAR ISI
PRAKATA.............................................................................................. ......... i
DAFTAR ISI........................................................................................... ........ ii
DAFTAR TABEL................................................................................... ....... iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................. ....... iv
DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... v
BAB I. PENDAHULUAN...................................................................... ................................................................................................................ 1
............. 1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
............. 1.2 Tujuan.......................................................................................... 2
............. 1.3
Manfaat........................................................................................ 2
BAB II. MATERI DAN METODE................................................................. 3
2.1 Waktu dan Tempat...................................................................... 3
2.2 Materi.......................................................................................... 3
2.3 Metoda........................................................................................ 3
2.4 Analisis data................................................................................ 3
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................... 5
............. 3.1 Gambaran Umum......................................................................... 5
............. 3.2 Bangsa Sapi................................................................................. 6
............. 3.3 Sistem
pemeliharaan.................................................................... 9
............. 3.4 Jenis pakan................................................................................. 10
............. 3.5 Perkandangan............................................................................. 11
............. 3.6 Usaha Pengendalian Penyakit................................................... 13
............. 3.7 Sistim
Perkawinan..................................................................... 15
............. 3.8 penanganan
limbah.................................................................... 16
............. 3.9 Pengalaman
farm....................................................................... 17
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 18
.. 4.1 Kesimpulan................................................................................ 18
............. 4.2 Saran.......................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 18
LAMPIRAN................................................................................................... 21
DAFTAR TABEL
Tabel
1. .................................................................................................. Kegiatan
pelaksanaan aktivitas di Kelompok Tani Sumber Jaya 4
Tabel
2. Rincian pemanfaatan
lahan Kelompok Tani Sumber Jaya.... ........ 6
DAFTAR GAMBAR
Gambar. 1. Struktur
Organisasi Kelompok Tani Panca Karya ............. ........ 5
Gambar. 2.
Ternak
Sapi Sedang Makan Di Kandang...................................... 9
Gambar. 3. Jenis
Rumput .............................................................................. 10
Gambar. 4. Kandang Sapi ............................................................................. 12
Gambar. 5. Pengolahan Limbah
Ternak....................................................... 17
...........
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengendalian penyakit
merupakan salah satu bagian penting dalam sistim produksi di suatu usaha
peternakan. Salah satu tujuan penting dalam pengendalian penyakit diantaranya
adalah untuk meningkatkan efesiensi produk sehingga proses produksi berlangsung
optimal dan akhirnya keuntungan dapat dimaksimalkan.
Dalam
pemeliharaan
ternak,salah satu penghambat yang sering dihadapi adalah penyakit tidak jarang
peternak mengalami kerugian dan bahkan tak dapat lagi beternak akibat kematian
ternaknya. Upanya pengendalian penyakit dapat dilakukan melalui usaha
pencegahan penyakit dan atau pengobatan pada ternak yang sakit. Namun demikian
usaha pencegahan dinilai lebih penting dibandingkan pengobatan.
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam upaya pengendalian penyakit antara lain (a) Menjaga
kesehatan ternak, (b) Mempertahankan penampilan ternak agar tetap baik, (c) Mempertahan
komposisi bahan pakan dan (d) Ketersedian zat nutrisi yang baik dan seimbang.
Peternakan sapi bali di
kelompok tani Sumber Jaya merupakan salah satu peternakan rakyat yang tergabung
ke dalam kelompok tani Sumber Jaya. Sistim pemeliharaan ternak sapi di kelompok
tani Sumber Jaya man adalah sistim intensif atau ternak di kandangkan,
Atas ulasan tersebut
maka dalakukan Farm Experience untuk melihat Teknik Pengendalian Penyakit Pada
Ternak Sapi Di kelompok tani Sumber Jaya Dengan Judul Pengendalian Penyakit
Pada Ternak Sapi Di Kelompok Tani Sumber Jaya Kecamatan Kota Baru Kota Jambi
1.2
Tujuan
Tujuan
yang ingin dicapai dalam kegiatan Farm Experance
ini adalah mengetahui teknik dan cara pengendalian penyakit pada kelompok tani
Sumber Jaya, dan bisa mengetahui penyakit yang diderita ternak sapi di
peternakan tersebut dan mengetahui cara pengobatan atau pengendaliannya,
sehingga dapat diterapkan di masa mendatang.
1.3
Manfaat
Manfaat
yang ingin di capai dalam kegiatan Farm Experience
adalah memberi pengalaman serta pengetahuan tentang upanya dalam pencegahan dan
pengendalian penyakit pada ternak sapi, sehingga mahasiswa dapat bekal ilmu
dalam pemeliharaan ternak sapi tersebut.
BAB II
PROSEDUR KEGIATAN
2.1.
Waktu
dan Tempat
Farm experience
ini dilaksanakan di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Jaya , Desa Kecamatan. Kota baru. Kota Jambi selama 1
Bulan yang di mulai pada tanggal 08 Maret 2014 – 08 April 2014.
2.2. Materi
Materi
yang digunakan pada Farm Experience
ini adalah 22 ekor ternak sapi, sapi Bali berjumlah 4 ekor, 15 ekor sapi Simenthal
dan 3 ekor sapi PO .perlengkapan pembersih kandang (lori, sekop, cangkul, sapu
lidi, selang air, mesin air, ember, meteran
dan sikat pembersih ).
2.3.Metoda
Prosedur
kerja yang dilakukan dalam Farm Experience
adalah terlibat langsung dalam usaha pemeliharaan ternak yang meliputi
pemberian pakan hijauan dan pakan konsentrat serta melakukan pembersihan
kelengkapan kandang seperti tempat makan dan minum. Data yang diambil meliputi
jenis hijauan yang diberikan, jumlah hijauan dan konsentrat serta cara
pemberian pakan baik hijauan maupun konsentrat. Sedangkan data penunjangnya
yaitu keadaan peternak, jumlah ternak, bangsa, jenis kelamin dan umur ternak
serta sistem pemeliharaan. Untuk mempermudah mendapatkan informasi dan
keterangan-keterangan yang dibutuhkan maka dilakukan wawan cara dengan dibantu
daftar pertanyaan (kuisioner).
2.2.
Analisis
Data
Cara pengambilan data
yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
1. Pengamatan (observasi)
Pengamatan dilakukan secara langsung terhadap kegiatan yang berhubungan dengan
pelaksanaan operasional kelompok tani Sumber Jaya yang berhubungan dengan
pelaksanaan kegiatan Farm Experience guna memperoleh informasi dan pengalaman
langsung.
Kegiatan Farm
Experience ini merupakan
keikutsertaan mahasiswa dalam
pelaksanaan aktivitas seperti yang tercantum pada Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1. Kegiatan pelaksanaan aktivitas di Kelompok
Tani Sumber Jaya.
|
No
|
Kegiatan
|
Waktu
|
|
1
|
Penimbangan sisa pakan
|
7.00 - 8.00 WIB
|
|
2
|
Pembersihan tempat pakan
|
8.00 - 8.30 WIB
|
|
3
|
Pemberian hijauan
|
8.30 - 10.00 WIB
|
|
4
|
Pengamatan tentang keadaan ternak
|
10.00 - 11.00 WIB
|
|
5
|
Pembuatan konsentrat
|
14.00 - 15.00 WIB
|
|
6
|
Pemberian konsentrat
|
15.00 -16.00 WIB
|
|
7
|
Pemberian hijauan
|
17.00 - 17.30 WIB
|
2.
Wawancara
Wawancara dilakukan dengan mengadakan Tanya
jawab secara langsung dengan peternak.
Peternak yang dimaksud dalam kegiatan Farm Experience kelompok tani sumber jaya ini adalah pemilik peternakan
dan karyawan kandang.
BAB III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1.
Gambaran
Umum Peternakan
Peternakan
sapi di Kelompok Tani Sumber Jaya berdiri pada Tahun 1994, bergabung kedalam
kelompok tani sumber jaya dan terletak di daerah Bagan Pete kecamatan kota
baru, kota jambi. Letak kandang sapi ini berada di belakang rumah. Kelompok
Tani Sumber Jaya terdiri dari 25 orang anggota. Struktur organisasi Kelompok
Tani Sumber Jaya dapat dilihat pada gambar 1.
Kelurahan Bagan Pete
KecamatanKota Baru Kota Jambi memiliki luas wilayah ± 1.749 Ha dengan jumlah
penduduk 7.660 jiwa Dengan batas – batas wilayah
1. Sebelah
utara berbatasan dengan Muara Jambi
2. Sebelah
selatan berbatasan dengan Kelurahan Beliung
3. Sebelah
barat berbatasan dengan Kelurahan Kenali Besar
4. Sebelah
timur berbatasan dengan Kelurahan Mayang
Sedangkan
Kelompok Tani Sumber Jaya memiliki lokasi seluas 1 Ha 30 tumbuk, dengan rincian
pemanfaatan lahan sebagai mana yang tercantum pada tabel 2 dibawah ini:
Tabel 2. Rincian
pemanfaatan lahan Kelompok Tani Sumber Jaya.
|
No
|
Penggunaan lahan
|
Unit
|
Luas (ha)
|
|
1
|
Kandang Penggemukkan
|
1
|
0,04
|
|
2
|
Kandang Indukan
|
1
|
0,02
|
|
3
|
Gudang Pakan
|
1
|
0,02
|
|
4
|
Rumah Pemilik
|
1
|
0,40
|
|
5
|
Kebun Sawit
|
1
|
0,80
|
|
6
|
Kandang Induk menyusui
|
1
|
0,02
|
|
|
Jumlah
|
6
|
1,30
|
3.2.Bangsa Sapi
Sapi yang
dipelihara dan dikembangbiakan di tempat kegiatan Kegiatan Farm experience adalah sapi Bali (Bos
sondaicus), sapi PO, peranakan Limousin dan peranakan Simenthal.Adapun
ciri-ciri ternak sapi adalah sebagai berikut
1. Sapi
Bali
Ciri-ciri ternak sapi bali yang dimiliki adalah pada
ternak sapi Bali umur muda baik jantan maupun betina bulunya berwarna merah
bata, pada ternak sapi Bali jantan setelah
mencapai dewasa tubuh berubah warna bulunya dari warna merah bata ke warna
coklat kehitaman. Selain itu pada ke empat kaki bagian bawah berwarna putih
serta ada pembatas seperti kaos kaki,
pada bagian pantat terdapat warna putih melingkar dan adanya garis hitam
memanjang diatas punggung. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak
sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir
atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir
atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih,
terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada
jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu
jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok
ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina
bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya
pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung
ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini
berwarna hitam.
2. Sapi PO
Sapi putih atau Peranakan Ongole (PO) merupakan salah
satu jenis sapi yang paling banyak dicari di pasaran. Harganya yang relatif
murah, mudah perawatannya sekaligus mudah untuk dijual kembali. Bobot hidup
bervariasi mulai 200 kg hingga mencapai sekitar 450 kg. Sapi PO adalah bangsa sapi hasil persilangan antara
pejantan sapi Sumba Ongole (SO) dengan sapi betina lo-kal di Jawa yang berwarna
putih (Anonim, 2004).
Saat ini sapi PO yang murni mulai sulit ditemukan,
karena telah banyak di silangkan dengan sapi Brahman, sehingga sapi POdiartikan
sebagai sapi lokal berwarna putih (keabu-abuan), berkelasa dan gelambir. Sapi
PO terkenal sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, mempunyai kemampuan
adaptasi yang tinggi terhadap perbedaan kondisi lingkungan, memiliki tena ga
yang kuat dan aktivitas reproduksi induknya cepat kembali normal setelah
ber-anak, jantannya memiliki kualitas semen yang baik. Cirinya berwarna putih
dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya
adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut cirinya
sama dengan sapi Ongole
tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.
3. Sapi Peranakan Limousin
Sapi Limousin merupakan sapi yang ditemukan di Haute-Vienne,
Prancis dimana awal mula ditemukan sapi ini dibuktikan dengan lukisan
dinding di Gua Lascaux pada abad ke 18. Selama berabad-abad, sapi ini telah
didomestikasikan (diternakkan). Sapi Limousine diternakkan untuk diambil
dagingnya dan juga dijadikan sebagai sapi pekerja untuk pertanian karena
kekuatan dan kecepatannya dalam pengolahan tanah, Secara genetik, sapi
Limousin adalah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin,
merupakan sapi tipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, voluntary intake
(kemampuan menambah konsumsi diluar kebutuhan yang sebenarnya) yang tinggi dan
metabolic rate yang cepat, sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang
lebih teratur. Di Indnesia sapi limousin disilangkan dengan berbagai jenis sapi
lain, seperti misalnya dengan sapi
peranakan ongole, sapi brahman atau sapi hereford.
Ciri – ciri sapi peranakan limousin
- Tinggi sapi bisa mencapai 1,5 meter.
- Mempunyai bulu yang sangat tebal dan kompak
menutupi seluruh tubuhnya.
- Bangsa sapi Limousin memiliki warna mulai dari
kuning sampai merah keemasan.
- Bertanduk dan bergelambir .
- Bobot lahir tergolong kecil sampai medium, Sapi
Betina dewasa dapat mencapai 575 kg sedangkan pejantan dewasa mencapai
berat 1100 kg.
- Fertilitasnya cukup tinggi, mudah melahirkan,
mampu menyusi dan mengasuh anak dengan baik serta pertumbuhannya capat
(Blakely dan Bade, 1998).
4. Sapi Peranakan Simental
Sapi Simmental adalah
bangsa Bos taurus (Talib dan Siregar, 1999), berasal dari daerah Simme
di negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua Eropa dan
Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat kemerahan
(merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor berwarna putih, sapi jantan
dewasa mampu mencapai berat badan 1150 kg sedang betina dewasa 800 kg.
Ciri-ciri sapi Simental bentuk tubuhnya kekar dan berotot, sapi jenis ini
sangat cocok dipelihara di tempat yang iklimnya sedang Persentase karkas sapi
jenis ini tinggi, mengandung sedikit lemak. Dapat difungsikan sebagai sapi
perah
3.3
Sistim Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi pada peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya adalah secara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan
oleh peternak. Produktivitas sapi yang dipelihara secara intensif dapat
ditunjang dengan pemberian pakan hijauan maupun konsentrat yang baik dengan
komposisi yang sesuai, penanggulangan penyakit, penanganan pasca panen dan
pemasaran serta jenis bangsa sapi dan umurnya. Keuntungan penggemukan secara intensif yaitu
sapi yang dipelihara cepat gemuk, pertumbuhannya pesat karena mereka
banyak mendapatkan unsur karbohidrat dan lemak, sehingga usaha penggemukan
semacam ini bisa dilakukan dalam kurun waktu lebih pendek. Kelemahan
pemeliharaan secara intensif yaitu modal yang digunakan lebih banyak, adanya
permasalahan penyakit serta limbah ternaknya.
Gambar 2:Ternak sapi sedang makan d kandang
Jenis rumput sebagai pakan ternak sapi Bali, Sapi Po , sapi Simental dan
sapi limousin di kelompok tani Sumber Jaya adalah jenis rumput Kumpe , legum, pala, dan
lapangan dimana rumput ini dicari didaerah Pal 10 dari jam 09.00-17.00 dengan
menggunakan mobil oleh karyawan pak Rohmat sebanyak 4 orang karyawan dan alasan
menggunakan pakan ini karena hijauan ini mudah didapatkannnya.
Selama pelaksaanaan Farm Experience bahkan selama pemeliharaan
ternak sapi di kelompok tani Sumber Jaya sama sekali tidak pernah melakukan
penimbangan bobot badan baik dengan cara menimbang bobot badan secara langsung
atau dengan cara mengukur bagian tubuh ternak sapi yang dapat digunakan untuk menduga bobot
badan. Alasannya tidak melakukan penimbangan bobot badan itu karena timbangannya
sendiri tidak ada, dan ukuran tubuh pada sapi pada peternakan sumber jaya hanya dilakukan dengan cara mengukur lingkar
dada dan panjang badan. Menurut Pane (1991), pemeliharaan ternak yang baik
seharusnya dilakukan penimbangan agar di ketahui pertambahan bobot badan
ternak, pertambahan bobot badan akan maksimal jika pakan yang di berikan berupa
hijauan dan konsentrat.
3.4. Jenis Pakan
Jenis rumput sebagai pakan ternak sapi Bali, Sapi PO , peranakan Simental dan peranakan limousin di peternakan
Sumber Jaya adalah jenis rumput Kumpe,
legum, pala, dan lapangan,karena hijauan ini mudah didapatkannnya.
Gambar 3 : Jenis
Rumput
Pemberian
pakan pada penggemukan sapi Bali Sapi Po , sapi Simental
dan sapi limousin
yang ada di peternakan Sumber Jaya yaitu
dengan memberikan pakan yang berupa hijauan sebanyak 20 Kg/ekor pagi hari dan
20 Kg/ekor di sore harinya, dengan cara hijauan tersebut langsung di berikan ke
ternak. Jenis hijauan tersebut meliputi rumput potong, rumput lapangan, dan
jenis leguminosa. Pemberian konsentrat dengan cara mencampur beberapa bahan
(dedak 3 kg,ampas tahu 30 kg,garam 1kg dan air secukupnya )
Ditinjau
dari pemberian pakan dan air minum di peternakan Sumber Jaya secara kuantitas sudah sesuai dengan standar
untuk penggemukan sapi, karena pakan yang di berikan berupa rumput alami yang
dalam kondisi segar dan pemeberian kosentrat , untuk menunjang pertambahan
bobot badan ternak . Menurut Ninik (1990), pakan hijauan diberikan pada sapi
Bali yang digemukan sesuai dengan bobot badan sapi, untuk sapi ternak biasanya hijaan yang di berikan sebanyak 10 –
12 % dan pakan konsentrat 1 – 2 % dari bobot badan ternak. Pemberian hijauan
dilakukan 2 kali sehari yakni pada pukul 08.00 pagi, dan pukul 17.00 sore hari,
sedangkan pakan konsentrat diberikan pagi hari sebelum pemberian hijauan. Saka
(1990), menambahkan Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang
tidak kalah penting diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 –
40 liter/ekor/hari, namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak
terbatas).
3.5
Perkandangan
Model kandang sapi potong di kelompok
tani Sumber Jaya adalah
model kandang ganda yaitu tipe head to head dan tail to tail terbuka dibangun dengan tujuan agar
sirkulasi udara dalam kandang dapat berjalan dengan baik dan dengan tipe face
to face dimana sapi saling berhadapan. Abidin (2002), menyatakan bahwa
fungsi ventilasi adalah sebagai tempat aliran udara yang berguna memberikan
suplai oksigen untuk kebutuhan pernapasan ternak sekaligus mengusir karbon
dioksida dan ammonia keluar kandang. Konstruksi kandang harus kuat dan tahan
lama, penataan dan perlengkapan kandang hendaknya dapat memberikan kenyamanan
kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti memberi pakan, kebersihan,
pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan. Ukuran kandang sapi potong di peternakan
pak Rohmat yaitu 5,10 X 16.90 meter² dengan kapasitas 20 ekor per
Unit, bentuk kandang yang ada di peternakan pak Rohmat yaitu setiap sekat
terdapat 1 ekor sapi . Ukuran sekat kandang yaitu lebar 1 meter dan panjang 3
meter.

Gambar 4 : kandang sapi kelompok tani sumber jaya
Dangan ukuran kandang dan kapasitas kandang yang ada di peternakan
Kelompok Tani Sumber Jaya tersebut, maka hal ini terlalu luas untuk sapi
penggemukan secara Kreman. Menurut Syafrial, dkk (2007), luas kandang individu
untuk penggemukan di sesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu sekitar
panjang 2,5 meter dan lebar 1,5 meter tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m
atau setinggi badan sapi. Sapi di kandangkan secara individu guna
menghindari perkelahian sesamanya, dan mengurangi ruang gerak sapi. Sarwono
(2003), menyatakan beberapa model kandang penggemukan dengan sistem kreman
dibuat lebih tertutup rapat dan sedikit gerak untuk mengurangi kehilangan
energi dan mempercepat proses penggemukan.
Atap kandang sapi potong di peternakan pak Rohmad terbuat
dari seng yang berfungsi melindungi sapi dari air hujan dan terik matahari
serta menyerap panas, sedangkan sistem atapnya adalah sistem atap monitor yang
berfungsi menjaga agar keadaan udara di dalam kandang tetap stabil. Hal ini
sesuai dengan pendapat Whendrato (2004), bahwa atap monitor berfungsi untuk
mengatur sirkulasi udara di dalam kandang. Kandang diperlukan untuk melindungi
ternak dari perubahan cuaca dan iklim yang ekstrim, mencegah dan melindungi
ternak dari penyakit, menjaga keamanan ternak dari pencurian, memudahkan
pengelolaan ternak, serta meningkatkan efisiensi penggunaan tenaga kerja.
Lantai
kandang di peternakan pak Rohmad terbuat dari semen dan posisinya dibuat
agak miring agar lantai tidak becek akibat kotoran. Menurut Siregar (1996),
bahwa lantai kandang yang terbuat dari semen berfungsi untuk memudahkan
peternak dalam membersihkan dan membuang kotoran. Lantai kandang harus kuat,
tahan lama, tidak licin dan tidak terlalu kasar, mudah dibersihkan dan mampu
menopang beban yang ada diatasnya.
Sanitasi
kandang yang di lakukan di peternakan kelompok tani Sumber
Jaya yaitu dimulai dari membersihkan
lantai kandang dengan cara mengumpulkan feses, dan menyiram lantai hingga
bersih setiap pagi dan sore hari,
memandikan ternak sapi setiap hari, dan membersihkan tempat pakan dan
tempat minum setiap hari. Kusnadi (1996), menyatakan bahwa untuk program
sanitasi pada pemeliharaan intensif sapi-sapi harus dikandangkan sehingga
memudahkan dalam pengawasannya. Usaha kebersihan lingkungan kandang, seperti
lantai yang bersih dan kering, drainase sekitar bangunan kandang yang baik. Kesehatan
sapi bisa dicapai dengan tindakan hygiene, sanitasi lingkungan, vaksinasi,
pemberian pakan dan teknis yang tepat.
3.6
Usaha Pengendalian Penyakit
Kesehatan hewan merupakan syarat mutlak bagi produktivitas
optimumnya. Pertambahan berat badan harian pada sapi potong yang maksimum hanya akan diperoleh bila status
kesehatan ternak optimum pula. Status kesehatan yang kurang baik akan
berakibat minimumnya, karena status kesehatan sapi potong sangat mempengaruhi berat badan. Sehingga jelas, bahwa kesehatan sapi potong
sangat mempengaruhi produktivitas sapi potong bakalan maupun sapi potong bibit.
Upaya yang telah dilakukan di Kelompok Tani Sumber Jaya untuk pencegahan
penyakit antara lainnya yaitu ;
3.6.1. Kebersihan Kandang
Di peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya dilakukan
pembersihan kandang yang meliputi pemberisihan tempat makan, tempat minum, dinding
kandang, lantai dan sekitar kandang.
- Tempat makan dan tempat minum
selalu dalam kondisi bersih, pembersihan tempat makan dan minum dilakukan
setiap hari disaat ternak sapi sedang digembalakan.
- Tubuh ternak sapi selalu dalam
kondisi bersih, pembersihan tubuh ternak sapi dengan cara memandikan
ternak sapi minimal 2 kali dalam seminggu.
- Pengontrolan kebersihan tubuh dan
kesehatan ternak sapi dilakukan setiap hari saat ternak sapi hendak
digembalakan pagi hari dan saat hendak dikandangkan sore hari.
3.6.2. Kebersihan Peralatan
Di
peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya dilakukan pembersihan peralatan untuk
membersihkan kandang dengan menggunakan dengan menjemur pada cahaya
matahari,menggunakan air panas atau air mendidih. Sebagaimana pendapat.
(Anonim, 2012) dalam kegiatan pemeliharaan ternak, dibutuhkan peralatan untuk
keperluan di dalam kandang. Peralatan hendaknya selalu dalam keadaan bersih,
adapun peralatan kandang yang diperlukan antara lain sebagai: Ember, digunakan
untuk mengangkut air, pakan penguat, dan memandikan ternak. Sebaiknya ember
terbuat dari bahan antikarat, seperti ember plastik.
3.6.3.
Kebersihan Ternak
Di
peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya dilakukan pembersihan ternak dengan cara
memandikan ternak setiap hari agar ternak kelihataan tetap bersih dan terhindar
dari penyakit. Sesuai dengan peryataan. (Wello,2001) dalam menjaga kesehatan
ternak harus dijaga kebersihan ternak dengan tujuan agar ternak tetap terlihat
sehat.
3.6.4. kebersihan
sekitar kandang
Lingkungan
disekitar kandang selalu dalam suasana bersih dan kering, karena kandang
dikelilingi oleh parit (selokan) serta adanya bak penampung kotoran, parit (selokan) yang berfungsi untuk menyalurkan kotoran dan
urine sapi ke penampungan.sebagai mana pendapat. ( Herfan,2006) kebersihan di
sekitar sangat lah penting untuk kesehatan ternak,jika tidak bersih ternak
tersebut sanga mudah terserang penyakit.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan
selama melakukan kegiatan farm
experience tidak dijumpai adanya ternak sapi yang sakit (100 %), begitu
juga dari hasil wawancara baik terhadap anggota kelompok maupun pada Pak Rohmad,
dimana ternak sapi potong yang dipelihara belum pernah terjangkit penyakit. Hal
ini akibat adanya manajemen pemeliharaan ternak sapi yang baik dan tepat,
khususnya tentang kebersihan dan kesehatan. Sebagaimana pernyataan Anonim
(2004), Keberhasilan usaha sapi potong, baik penghasil bibit (breeding)
maupun penggemukan (fattening), sangat tergantung dari kesehatan ternak.
Sehingga penanganan, pengendalian dan pencegahan penyakit harus menjadi
prioritas utama. Kesehatan hewan merupakan faktor utama dalam usaha peternakan
sapi potong, baik dalam skala kecil maupun skala besar. Penanganan,
pengendalian dan pencegahan penyakit sapi potong memerlukan pertimbangan dari
berbagai segi, baik dari segi penyakit maupun segi ekonomis.
3.7 Sistem Perkawinan
Di
peternakan Kelompok Tani Sumber Jaya tidak melakukan perkawinan alam, melainkan
dengan perkawinan buatan atau sering disebut dengan istilah Inseminasi Buatan
(IB).
Penerapan
bioteknologi IB pada ternak ditentukan oleh empat faktor utama, yaitu semen
beku, ternak betina sebagai akseptor IB, keterampilan tenaga pelaksana
(inseminator) dan pengetahuan zooteknis peternak. Keempat faktor ini
berhubungan satu dengan yang lain dan bila salah satu nilainya rendah akan
menyebabkan hasil IB juga akan rendah, dalam pengertian efisiensi produksi dan
reproduksi tidak optimal (Toelihere, 1997).Oleh sebab itu, peternak dan petugas
lapangan harus mutlak mengetahui dan memahami kapan gejala birahi ternak
terjadi sehingga tidak ada keterlambatan IB. Kegagalan IB menjadi penyebab
membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan peternak. Apabila semua faktor di atas diperhatikan
diharapkan bahwa hasil IB akan lebih tinggi atau hasilnya lebih baik
dibandingkan dengan perkawinan alam. Hal ini berarti dengan tingginya hasil IB
diharapkan efisiensi produktivitas akan tinggi pula, yang ditandai dengan
meningkatnya populasi ternak dan disertai dengan terjadinya perbaikan kualitas
genetik ternak, karena semen yang dipakai berasal dari pejantan unggul yang
terseleksi. Dengan demikian peranan bioteknologi IB terhadap pembinaan produksi
peternakan akan tercapai.
Manfaat
penerapan bioteknologi IB pada ternak (Hafez, 1993) adalah sebagai berikut :
a)
Menghemat biaya
pemeliharaan ternak jantan;
b)
Dapat mengatur jarak
kelahiran ternak dengan baik;
c)
Mencegah terjadinya
kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
d)
Dengan peralatan dan
teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
e)
Semen beku masih dapat
dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
f)
Menghindari kecelakaan
yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu
besar;
g)
Menghindari ternak dari
penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
3.8 Penanganan Limbah
Limbah
ternak merupakan sisa hasil pencernaan dan metabolisme pakan yang berupa limbah
padat berupa feses dan limbah cairnya berupa urine.Limbah padat yang berupa
feses diolah menjadi pupuk organik yang kemudian digunakan sendiri untuk
perkebunan sendiri dan sebagian ada yang dipsarakan atau dijual. Sedangkan
untuk limbah cairnya yang berupa urine belum diolah dan hanya dialirkan ke
lahan perkebunan sendiri, tetapi tetap akan dijual jika ada yang berminat
membeli urine tersebut.

Gambar 5: pengolahan
limbah
3.9.
Pengalaman farm
Farm experience
merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh setiap Mahasiswa Peternakan
Universitas Jambi sebelum menyelesaikan studinya. Farm experience bertujuan
untuk memberikan pengalaman kepada Mahasiswa Fakultas Peternakan agar memiliki
keterampilan guna menunjang keahliannya sebagai seorang serjana peternakan.
Diharapkan dari kegiatan ini seorang mahasiswa Fakultas Peternakan menjadi
lebih menguasai dan memiliki kesiapan untuk terjun langsung dilapangan.
Kegiatan
Farm experience ini dilaksanakan selama 1 bulan mulai dari tanggal 8 Maret 2013
sampai dengan tanggal 8 April 2014 yang berlokasi di Peternakan Rakyat,
Kelompok Tani Sumber Jaya , Desa Kecamatan. Kota baru. Kota Jambi. Dengan jadwal kerja setiap harinya dimulai pada pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai. Rangkaian
kegiatan yang dilakukan selama di peternakan pak rohmat yaitu teknik dalam upaya mengatasi dan
pengendalian penyakit, diantara kegiatannya adalah pembersihan kandang
(pembersihan lantai dan got), pengembalaan ternak , pengiringan ternak saat
kekandang, serta pengikatan ternak didalam kandang dan pemberian garam jilat.
BAB
IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan
pengamatan dan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa peternak sapi potong di
Kelompok tani sumber Jaya sudah
melakukan upaya pengendalian penyakit dengan
memperhatikan kebersihan dan kesehatan ternak sapi potong.
4.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan di temat
peternakan kelompok Tani Sumber Jaya adalah dalam penanganan penyakit ternak ruminansia untuk kedepannya harus di
tingkatkan terutama masalah kebersihan ternak.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2002. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis
Penggemukan Sapi Potong. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Anonim. 2004. Pokok-pokok Pemikiran
Pembangunan Perternakan dan
Kesehatan Hewan 2004–2009. Departemen
Pertanian Republik Indonesia. http://www.google.com/F
digilib.litban. Diakses 6 Juni 2013.
Anonim 2012. Pedoman Budidaya Sapi Potong, Ditjenak,
Jakarta
Blakely,
J. & D. H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan.
Ed. Terjemahan Bambang
Srihandono. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Hardjosubroto,1994.
Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di
Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Herfan,2006. Teknik
kebersihan sekitar Perkandangan Sapi Potong.Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan.Badan Penelitianan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. http://duniasapi.com/id/budidaya/88-sanitasi-peternakan-sapi.html. (di akses tanggal 8 april 2014)
Hafez, 1993. Artificial insemination. In: HAFEZ,
E.S.E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6 Th Ed. Lea & Febiger,
Philadelphia. Hal 424-439.
Kusnadi.1996 Hasil Penelitian
Usahatani Ternak Terpadu di Dataran Tinggi Jawa Tengah. Balai Penelitian
Ternak, Bogor.
Niniek
. 1990. Respon Sapi Bali Terhadap Usaha Perbaikan Pakan dengan Suplementasi.
Proceeding Seminar Nasional Sapi Bali. Fakultas Peternakan Universitas
Udayana. Denpasar.
Pane,
I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Pros. Seminar Nasional Sapi
Bali. 2-3 September 1991. Fakultas Peternakan
Universitas Hasanudin.
Ujung Pandang.
Saka, 1990. Pemberian
pakan dan pemeliharaan ternak kerja. Makalah dalam pertemuan Aplikasi Paket
Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1990.
Sarwono, B. & H. B. Arianto. 2003. Penggemukan Sapi
Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Siregar, 1996. Pedoman Usaha
Sapi bakalan Dalam Sistem Usaha Pertanian Berwawasan komponen
Ternak Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan.
Bogor.
Syafrial, dkk. 2007. Sistem Usahatani Penggemukan
Sapi
Potong. Laporan Hasil Pengkajian Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian Jambi.
TALIB, C. dan A.R. SIREGAR. 1999. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan sapi simental dalam pemeliharaan tradisional
Toelihere 1997. Pedoman lntensifikasi Kawin
IB . Direktorat Jenderak Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan, Jakarta.
Whendarto, 2004. Review hasil penelitian model low-external
input di Loka Penelitian Sapi Potong th 2002-2004. Pros. Seminar Nasional
Teknologi Peternakan dan Veteriner. Buku I. Puslitbang, Bogor
wello,2001.Pangudiluhur,Krisna.2010.http://krisnapangudiluhur.blogspot.com/2010/12
/manajemen-pemeliharaan-dan-perawatan.html.(di akses tanggal 8 april 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar