LAPORAN
FARM EXPERIENCE
TATA KELOLA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI
DI PETERNAKAN G. RAHAYU JAYA MULYA
DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI
KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR
OLEH
NAMA
NIM

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Ternak sapi Bali merupakan salah satu ternak penghasil daging di
Indonesia, dimana daging merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang
cukup baik seperti kandungan protein. Oleh karena itu permintaan daging asal ternak
sapi potong setiap tahunnya selalu meningkat, seiring dengan peningkatan
pertambahan penduduk, kualitas pendidikan masyarakat dan meningkatnya
sadar gizi untuk masyarakat baik di
perkotaan maupun di pedesaan. Sebagaimana pernyataan Abidin (2002) sapi adalah
hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang dipelihara manusia
sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia
lainnya.
Sapi Bali adalah sapi lokal yang memiliki kemampuan
beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan tersebut merupakan faktor pendukung
keberhasilan budidaya sapi Bali. Populasi sapi Bali yang meningkat akan
membantu mensukseskan program pemerintah untuk swasembada daging di Indonesia.
Sapi Bali merupakan salah satu sapi asli Indonesia yang memiliki postur tubuh
dari yang kurus sampai yang sangat gemuk. Darmaja (1980) menyatakan bahwa
perfomans sapi Bali mempunyai adaptasi yang baik terhadap pengaruh lingkungan
yang panas dan cukup toleran terhadap lingkungan dingin serta sangat efisien
dalam penggunaan pakan dengan kualitas rendah. Demikian pula Williamson dan
Payne (1993) menyatakan bahwa lingkungan biotik mempengaruhi performans sapi
potong melalui tingkat efisiensi penggunaan pakannya dan mampu menampilkan
performans secara maksimal.
Potensi
sapi potong lokal sebagai penghasil daging belum dimanfaatkan secara optimal
melalui perbaikan manajemen pemeliharan. Sapi bali meiliki beberapa kelebihan,
yaitu daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan setempat, mampu memanfaatkan
kualitas pakan berkualitas rendah dan mempunyai daya reproduksi yang baik
(Suryana, 2009).
Mengingat
pentingnya memperhatikan sistem pemeliharaan maka berdasarkan hal tersebutlah
yang menjadikan alasan penulis melakukan magang dengan judul “Tata kelola Pemeliharaan Ternak Sapi Bali di Peternakan G.
Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru
Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur ”.
1.2.Tujuan
Tujuan yang ingin
diperoleh dari Magang ini
adalah untuk
mengetahui Tatakelola Pemeliharaan Ternak Sapi Bali di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1.3.Manfaat
Manfaat dari Magang ini adalah untuk menambah wawasan,
pengalaman serta dapat mengetahui bagaimana Tata kelola pemeliharaan sapi bali
yang diterapkan di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten
Tanjung Jabung Timur.
BAB
II
PROSEDUR
KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
Magang ini dilaksanakan di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur dari tanggal 14 Maret sampai dengan tanggal 11 April 2015.
2.2. Prosedur Kerja
Materi yang digunakan pada Magang adalah,
16 ekor sapi Bali yang berasal dari lampung, terdiri dari 11 ekor sapi Bali betina
dan 5 ekor sapi Bali jantan, 1 buah sekop, 1 buah sorong, 3 buah ember, 1 buah drum sebagai tempat air minum. Bahan pakan yang digunakan adalah rumput kumpai dan
sebagai tambahan mineral di berikan larutan air garam.
Metode
yang digunakan dalam Magang adalah terlibat langsung dalam usaha pemeliharaan ternak
yang meliputi Pemeliharaan
ternak sapi, pembersihan
kandang di pagi hari dengan menggunakan sekop. Pemberian pakan hijauan
dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Sedangkan pemberian air minum
dilakukan satu kali sehari pada sore hari.
2.3. Analisis
Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola
ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan
dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi,
tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode
deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang
diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi
magang.
BAB
III
PENGALAMAN
MAGANG
Magang merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan
oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan
dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar
memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Kegiatan Magang dilakukan
selama satu bulan yang bertempat di peternakan milik pak Lamikun di Desa Kota
Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kegiatan Magang ini
dilakukan setiap hari sabtu dan minggu, pada pagi hari mulai pukul 07.00 –
09.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB. Kegiatan yang
dilakukan adalah memberikan pakan, minum, membersihkan kandang yaitu
membersihkan tempat pakan dan membuang feses sapi.
Tabel 2. Jadwal rutin magang
|
No |
Pukul
(WIB) |
Jenis
kegiatan |
|
1 |
07.00 - 08.30 |
Membersihkan
Kandang |
|
2 |
08.30 – 09.30 |
Memberi
Pakan dan Minum |
|
3 |
09.30 – 16.30 |
Istirahat |
|
4 |
16.30 – 17.00 |
Membersihkan
Kandang |
|
5 |
17.00 – 17.30 |
Memberi
Pakan dan Minum |
Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Magang ini adalah penulis banyak sekali
mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara pemeliharaan
ternak dengan cara dikandangkan di peternakan tempat melaksanakan Magang dan dapat membedakan dengan sistem
pemeliharaan di peternakan lain serta menambah wawasan cara berbisnis dalam
bidang peternakan sehingga sukses.
BAB
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Keadaan Umum
Peternakan
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia berada di desa Kota
Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan
Geragai adalah :
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau
Karya.
- Sebelah timur berbatasan dengan Desa Parit
Culum II.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo.
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
didirikan pada tahun 2007 oleh pak Lamikun dan mempunyai 5 orang pegawai
seperti pada Tabel 1 dibawah ini ;
Tabel
1. Pegawai Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
|
No |
Nama |
Pekerjaaan |
|
1. |
Sarwono,
Bowo, Trimo |
Tukang
potong rumput |
|
2. |
Bani |
Tukang
Penggiling Daging |
|
3. |
Sulastri,
Mbok Mi, Ida |
Pembuat
Bakso dan Pengemasan |
|
4. |
Slamet |
Tukang
Sembelih Sapi |
Sumber : Data Primer 2015
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia melakukan pemeliharaan ternak sapi potong khususnya sapi Bali, yang arah dan tujuan dari
usaha ini untuk penyediaan sapi dan daging serta sebagai produsen bakso di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Menurut pernyataan Lubis
(2010), Upaya percepatan swasembada daging sapi 2014 ditempuh melalui dua strategi
yaitu strategi bersifat eknis dan nonteknis. Strategi teknis meliputi: 1)pengembangan
sentra pembibitan dan penggemukan dengan menggunakan teknologi reproduksi
(inseminasi buatan dan kawin alam dengan pejantan unggul) pada daerah pengembangan sapi potong; 2)revitalisasi kelembagaan
dan sumberdaya manusia dilapangan dengan mengaktifkan kembali PosIB, Poskeswan,
melengkapi peralatan dan infra struktur yang diperlukan; dan 3) penguatan
sarana dan prasarana pendukung berupa lahan padang penggembalaan, pembuatan
embung, peralatan pengolahan pakan, sarana satuan pelayanan IB serta sarana
lain yang diperlukan. Adapun strategi non-teknis berupa dukungan finansial
melalui APBN, APBD, swasta dan masyarakat yang didukung oleh pemerintah pusat
dan daerah serta DPR/DPRD, serta pengembangan wilayah yang difokuskan pada
daerah sentra sapi potong.


Gambar
1. Nama Peternakan

Gambar 2. kondisi Kandang di G. Rahayu
Jaya Mulia

Gambar
3. Kediaman Pemilik Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
4.2. Manajemen Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di
peternakan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia adalah secara intensif. Semua
aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum.
Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan
ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan
produksi dan produktifitas ternak sapi. Keuntungan sistem ini adalah penggunaan
bahan pakan hasil ikutan dari beberapa industri lebih intensif dibanding dengan
sistem ekstensif. Kelemahan terletak pada modal yang dipergunakan lebih tinggi,
masalah penyakit dan limbah peternakan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi
3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan
dipadang penggembalaan yang sama. Sistem
semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan
dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan
intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh
pakan disediakan oleh peternak.
4.2.1 Sapi Bali
Usaha peternakan
pembibitan ternak sapi Bali di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia menggunakan
bibit (bangsa) sapi Bali yaitu bangsa sapi Bali. Ciri-ciri sapi Bali yang
dipelihara di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia adalah pada ternak sapi Bali
jantan dewasa berwarna coklat kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda
berwarna kuning, pada bagian punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari
pangkal ekor sampai kearah leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih
dan ke empat kaki bagian Tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana
pernyataan Hardjosubroto, (1994) bahwa karakteristik lain yang harus
dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang
paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus
sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian
dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung,
bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak
congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit
keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit
keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul
gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke
belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke
bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.
Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2002), menyatakan
sapi Bali jantan dan betina dilahirkan dengan warna bulu merah bata dengan
garis hitam di sepanjang punggung yang disebut dengan garis belut. Setelah
dewasa warna sapi Bali jantan berubah menjadi hitam, sedangkan sapi Bali betina
tetap.

Gambar 4. Jenis Sapi yang dipelihara di G. Rahayu Jaya Mulia
Alasan Peternakan
G. Rahayu Jaya Mulia memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1). Sapi Bali memiliki pertambahan
bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang kondisi pakannya
kurang baik, 3). Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam pemeliharaannya. Pada
berbagai lingkungan pemeliharaan di Indonesia, sapi Bali memperlihatkan
kemampuannya untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa
keunggulan yang dimiliki sapi Bali.
4.2.2
Perkandangan
Perkandangan di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
sudah cukup baik dimana bangunan kandang terbuat dari semen dengan atap seng dengan lantai kandang terbuat dari semen.
Sedangkan ukuran kandang panjang 10 m, lebar 6 m, dan tinggi 4 m. Ukuran
kandang ternak 3,75 m2/ekor sapi. Menurut Syafrial, dkk (2007), luas kandang individu untuk
penggemukan di sesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu sekitar panjang
2,5 meter dan lebar 1,5 meter tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m atau
setinggi badan sapi. Sapi di kandangkan secara individu guna menghindari
perkelahian sesamanya, dan mengurangi ruang gerak sapi.
Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang
menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak
terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang
menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan
hujan, melindungi dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan
serta mempermudah pengawasan ternak (Anonimous, 1993)

Gambar
5. Bentuk Kandang di G. Rahayu Jaya Mulia
4.2.3. Pemberian
Pakan
Pakan merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh
karena itu pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang
dibutuhkan. Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat
menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah
semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa
daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat
adalah bentuk campuran
bahan pakan yang
kaya akan sumber protein. Pakan kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat
kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak
saat muda dan pakan berserat saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang
mengandung komponen makanan utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne,
1993).
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di peternakan Peternakan
G. Rahayu Jaya Mulia adalah berupa hijauan
rumput kumpai, yang diperoleh dari
pinggir parit, daerah pematang sawah dan lapangan
rumput. Hijauan diberikanpada sore hari sebanyak 12 kg/ekor/hari. Alasan
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan
merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan
kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat,
protein dan mineral. Hal ini
sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat,
sumber energi,mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan karena pakan sangat besar pengaruhnya
terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok,
pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan
sapi potong adalah protein dan energi.

Gambar 6.
Pemberian Pakan di G. Rahayu Jaya Mulia
Tingkat konsumsi ternak ruminansia umumnya didasarkan pada
konsumsi bahan kering pakan, baik dalam bentuk hijauan maupun konsentrat,
persentase konsumsi bahan kering memiliki grafik meningkat sejalan dengan
pertambahan berat badan sampai tingkat tertentu, kemudian mengalami penurunan.
Ratarata kemampuan konsumsi bahan kering bagi ruminansia adalah 2 - 3 % dari
berat badan (Mc.Cullough, 1973). Atau 2,5 – 3,2 % menurut (Sugeng, 2002).
4.2.4 Pemberian Zat Mineral dan Air Minum
Pemberian zat mineral berupa garam dapat di lakukan 1
kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang
diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu
makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk
pertumbuhan tulang ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan
salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan.
Sedangkan menurut pendapat yang menyatakan bahwa Pemberian air minum
sebaiknya dilakukan secara Ad libitum
untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk
hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di
dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap
tersedia..
Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan
salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Saka (1990), menambahkan
Ketersediaan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting
diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20 – 40 liter/ekor/hari,
namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak terbatas).
4.2.5
Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan
ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha
peternakan. Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia menerapkan pelaksanaan sanitasi
kandang setiap hari yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan.
Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih
selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak
maupun peternak. Viviani dan Nazarudin (1988), menyatakan bahwa salah satu
usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi lingkungan.
Penyakit yang biasa menyerang ternak di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia ini
yaitu diare/mencret, biasanya disebabkan karena rumput yang di berikan pada
ternak terkena air hujan dan terlalu muda. Peternak biasanya memanggil dokter
hewan sekitar jika ternak sakit. Sastroamidjojo
(1985), menyatakan bahwa pembersihan kandang dan
lingkungan sekitarnya adalah salah satu usaha sanitasi dalam usaha peternakan
agar ternak selalu dalam keadaan sehat. Kesehatan ternak salah satu faktor
penentu keberhasilan pemeliharaan ternak. Penyakit yang menyerang ternak
biasanya disebabkan oleh kandang yang kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan
yang kurang baik.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil kegiatan Magang
di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia dapat disimpulkan bahwa tata kelola sapi
Bali di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia pemeliharaannya belum baik, karena
system pemberian pakan masih belum mencukupi kebutuhan sapi, sapi tidak
diberikan kosentrat, tidak pernah dilakukan vaksinasi dan pemberian vitamin
serta sapi tidak pernah dimandikan.
5.2.Saran
Dari manajemen
kesehatan dan lingkungan sebaiknya sapi dimandikan supaya berkurangnya kotoran
yang menempel pada badan sapi dan dilakukan vaksinasi serta pemberian vitamin
untuk mencegah timbulnya penyakit dan menjaga kekebalan tubuh ternak tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin,
Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Darmaja,
S.G.N.D.1980. setengah abad peternakan sapi tradisional dalam ekosistim
pertanian di Bali. Thesis UNPAD
Guntoro,
S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius. Yogyakarta
Lubis,
A.R. 2010. Prospek Pengembangan Ternak
Sapi Dalam Rangka Mendukung Program Swasembada Daging Sapi Di Provinsi Sumatera
Utara, Fakultas Pertanian
Universitas Pembangunan Panca Budi, Jl. Jend. Gatot Subroto Km 4,5, Medan.
http://www.google.com. Diakses 2 Mei 2014
Me Cullough, M. E. 1973. Optimum Feeding
of Dairy Animal for Meat and Milk (Athens: The University of Georgia
Press).
Nazaruddin dan K. Tj Viviani. 1998. Petunjuk
praktis usaha peternakan (suatu rangkuman). Jakarta. Mahkota.
Reksohadiprijo. 1985.
Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Rianto,
E. dan Purbowati E. 2009. Panduan
Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta
Sastroamidjojo,
S.M 1985. Ternak potong dan kerja. CV Yasaguna, jakarta
Sugeng, Y.
B. 2002. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Susilorini, 2008. Budi daya 22 ternak.
Penabar swadaya, jakarta
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar
Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar