LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
SISTEM
PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN
BAGAN
PETE KECAMATAN
KOTA
BARU JAMBI
OLEH :
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak sapi merupakan ternak ruminansia besar yang
dapat diambil manfaatnya bagi masyarakat yaitu sebagai bahan pangan sumber
protein hewani seperti penghasil daging dan susu, serta sering dimanfaatkan tenaga
kerjanya bagi para petani terutama di Indonesia. Disamping itu hasil ikutannya
seperti kulit dapat dibuat ketrampilan, tulang diolah lebih lanjut untuk campuran ransum pakan ternak, serta
kotoran ternak sapi dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi
(biogas). Hal tersebut bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan sampingan bagi
para peternak. Akan tetapi, produksi daging sapi dalam negeri belum mampu
memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat produktivitas ternak rendah,
meningkatnya jumlah penduduk atau rata-rata kualitas hidup masyarakat, serta
semakin tingginya kesadaran dari masyarakat untuk mengkonsumsi pangan hewani dengan
kualitas baik dan kuantitas yang cukup.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas ternak sapi diantaranya yaitu sistem pemeliharaan,
ketersediaan pakan, kesehatan ternak, lingkungan tempat pemeliharaan, kondisi
iklim, dan bibit ternak. Faktor-faktor ini harus direncanakan dan dilakukan secara baik dan teratur
sehingga produksi yang akan
dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa sarana penunjang sangat penting dalam
tatalaksana dalam pemeliharaan
ternak sapi. Sarana penunjang tersebut meliputi bangunan, peralatan maupun perlengkapan lainya (Santosa,
1995). Saat
ini dikenal tiga sistem pemeliharaan ternak sapi, yaitu sistem pemeliharaan
secara intensif, ekstensif, dan semi intensif. Sistem pemeliharaan intensif
merupakan jenis pemeliharaan ternak yang seluruh kegiatannya dilakukan di
kandang, sedangkan sistem pemeliharaan ekstensif sebagian besar aktivitas
pemeliharaannya dilakukan di padang penggembalaan. Adapun pemeliharaan semi intensif adalah gabungan
antara system pemeliharaan ternak sapi secara intensif dan ekstensif.
Dalam usaha peningkatan
ternak sapi, selain bibit dan pakan yang baik, sistem pemeliharaan merupakan
salah satu faktor yang mendapat perhatian. Pada umumnya peternakan sapi di kota
Jambi menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dimana ternak selalu
dikandangkan yang bertujuan agar ternak mendapat pengontrolan
yang baik dari segi pemberian pakan, air minum maupun kebersihan kandang.
Selain itu terbatasnya lahan penggembalaan menyebabkan peternak menerapkan pola
pemeliharaan seperti ini.
Akan tetapi informasi tentang
sistem pemeliharaan ternak pada peternakan Bapak Marsono ini belum diketahui. Oleh
karena itu penulis
mencoba untuk meninjau sistem pemeliharaan ternak sapi yang ada di peternakan
Bapak Marsono.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Farm Experience ini
adalah untuk mengetahui Sistem Pemeliharaan Ternak Sapi yang ada
di Peternakan Bapak Marsono sebagai pembekalan dan melatih diri penulis agar
terampil, serta mengaplikasikan
teori yang telah diperoleh dalam perkuliahan, sehingga dapat
diterapkan secara langsung dimasa yang akan datang.
1.3 Manfaat
Manfaat
dari Farm Experience ini
adalah dapat
menambah pengetahuan atau wawasan dan
pengalaman mahasiswa dalam system pemeliharaan ternak sapi, serta
menumbuhkan motivasi kewirausahaan dalam usaha peternakan terutama ternak sapi.
BAB
II
MATERI
DAN METODA
2.1 Tempat dan Waktu
Farm Experience ini dilaksanakan di
Peternakan Bapak Marsono, Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Kota Baru, Jambi, pada tanggal 22
Maret 2014 sampai dengan 22 April 2014.
2.2 Prosedur
Kerja
Sebelum melaksanakan Farm Experience dilakukan
survei lokasi peternakan. Kegiatan yang dilakukan yaitu membantu
peternak memberikan pakan, membersihkan kandang ternak, membersihkan kotoran
ternak, memberikan air minum, menaburkan sekam atau serbuk gergaji di lantai
kandang, dan membantu peternak mengumpulkan feses ternak dan dimasukkan ke
dalam karung beras untuk dijual. Pada awal dan akhir kegiatan dilakukan
pengukuran lingkar dada dan panjang badan ternak untuk menduga bobot badan
ternak sapi tersebut dengan menggunakan alat ukur meteran dan tali rapiah.
2.3 Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer
dan data sekunder. Data primer diperoleh
melalui pengamatan dan wawancara langsung di lapangan dengan
peternak, antara lain meliputi jenis dan
cara pemberian pakan pada ternak sapi, pemberian air minum, sistem
perkandangan, sistem perkawinan ternak sapi, dan penaksiran bobot badan ternak
sapi dengan pengukuran lingkar dada, jumlah ternak sapi, jumlah pakan yang dikonsumsi setiap
hari selama pemeliharaan. Data sekunder diperoleh melalui recording atau catatan yang ada di peternakan Bapak Marsono, yaitu tahun
berdirinya
usaha peternakan
tersebut, struktur organisasi, keadaan lokasi
kandang, asal ternak, luas lahan peternakan, luas kandang, dan petugas atau karyawan yang
bekerja di peternakan tersebut.
Rumus yang digunakan
untuk menduga bobot badan berpedoman pada rumus Schoorl (1952) yang dikutip oleh Rudiono (1991), adalah
sebagai berikut :
Bobot
badan (Kg) = (LD cm + 22)2
100
Keterangan : LD : Lingkar Dada (Sapi)
22 dan 100 : Ketetapan
Rumus Schoorl
|
PBB
(kg) = Bobot Badan Akhir (kg) – Bobot Badan Awal (kg)
|
|
PBBH (kg) =
|
PBB Selama Dipelihara
|
|
Lama Pemeliharaan
|
Keterangan
:
PBB :
Pertambahan Bobot Badan
PBBH :
Pertambahan Bobot Badan/Hari (Kg)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Keadaan Umum Peternakan
Awal mula peternakan Bapak Marsono
ini berdiri pada tahun 1991 dengan jumlah 1 ekor sapi, dari tahun ke tahun
ternaknya terus bertambah hingga 17 ekor. Akan tetapi, pada tahun 2005
sapi-sapi tersebut dijual hingga akhirnya jumlahnya tinggal 7 ekor. Peternakan
ini berlokasi di Kelurahan
Bagan Pete, Kecamatan Kota Baru, Jambi. Pada
tahun 2009 Bapak Marsono bergabung
dengan kelompok tani ternak yang bernama Sumber Rezeki sebagai anggota, kemudian bergabung dengan kelompok tani ternak lainnya
yaitu Sumber Jaya pada tahun 2010 sebagai wakil ketua, dan pada tahun 2012 Bapak Marsono keluar dari kelompok tani ternak karena
alasan ingin memelihara ternak sapi sendiri. Pekerjaan
bapak Marsono ini ialah petani karet dimana beternak sapi ini merupakan
pekerjaan sampingan. Sapi di peternakan ini dijual
apabila pembeli sudah sesuai dengan harga yang ditentukan oleh peternak.
Apabila harga yang ditawarkan oleh pembeli tidak sesuai maka sapi tersebut
tidak dijual sampai menemukan harga yang sesuai.
Luas area peternakan
Bapak Marsono ± 30 m2, kemudian
ditambah dengan luas padang rumput ± 20 m2 dan kandang
yang tak jauh dari lokasi peternakan dan rumahnya. Lokasi peternakan kurang strategis karena berada di
dekat pemukiman penduduk, yang mungkin terganggu dengan adanya peternakan
tersebut. Tetapi di area sekitar peternakan ini banyak pepohonan yang tumbuh,
sehingga ternak merasa lebih nyaman.
3.2. Keadaan Umum Ternak
Ternak sapi di peternakan Bapak
Marsono berjumlah 7 ekor sapi Bali, yang
terdiri dari 6 ekor sapi betina, 1 ekor sapi
jantan, dengan jenis kelamin dan status yang dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Jenis Kelamin dan Status Ternak Sapi
|
No
|
Jenis kelamin
|
Status
|
Umur (tahun)
|
Jumlah (ekor)
|
|
1
|
Jantan
|
Dewasa
|
6
|
1
|
|
2
|
Betina
|
Dara
|
1,5
|
2
|
|
3
|
Betina
|
Dara
|
1
|
1
|
|
4
|
Betina
|
Induk
|
9
|
1
|
|
5
|
Betina
|
Induk
|
7
|
1
|
|
6
|
Betina
|
Induk
|
7,5
|
1
|
Dari
tabel diatas terlihat bahwa umur sapi sudah diatas 7 tahun, ini dikarenakan
sapi tersebut dipelihara dari pedet sampai sekarang tanpa adanya penjualan.
Sapi induk yang berumur 9 tahun merupakan sapi tertua karena di pelihara dari
sejak lahir yaitu pada tahun 2006, begitu juga dengan sapi umur 7 dan 7,5 tahun
dipelihara pada tahun 2008. Selain itu, terdapat sapi jantan umur 6 tahun
dimana sapi ini dibeli pada tahun 2011 pada umur 3 tahun. Sapi betina dara umur
1,5 tahun merupakan anakan dari sapi umur 7 tahun, dan sapi dara 1,5 tahun lagi
adalah anakan yang baru dibeli sedangkan sapi dara umur 1,5 tahun merupakan
anakan dari induk dengan umur 7,5 tahun. Menurut Sukria (2011) umur maksimal seekor sapi bali ialah sekitar umur 10
– 12 tahun, umur produktif 3 – 5 tahun, dan selama hidupnya sapi yang sehat bisa
melahirkan sampai 5 – 6 kali.
Sapi berusia 0 – 8
bulan disebut dengan anak (pedet), sapi berusia 8 bulan –
2 tahun disebut sapi dara (remaja), sedangkan sapi berusia lebih dari
2 tahun dan laktasi disebut dengan sapi dewasa (induk)
(Anonimous,
2010).
Jenis sapi yang
dipelihara adalah sapi Bali. Menurut Hardjosubroto (1994), sapi Bali
merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari
Banteng (bibos banteng). Sapi Bali yang ada di peternakan Bapak Marsono memiliki
performans tubuh berwarna coklat kehitaman atau merah bata dengan bulu halus
mengkilat, serta terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai
ke arah leher atau kepala, sesuai dengan pendapat Murtidjo
(1990), menyatakan bahwa karakteristik sapi Bali yaitu sapi Bali usia pedet,
memiliki bulu sawo matang, sapi Bali betina dewasa berbulu merah bata dan
tanduknya agak ke dalam dari kepala, sedangkan Sapi Bali jantan dewasa
mempunyai warna bulu hitam dan tanduknya agak di bagian luar kepala. Didukung
oleh pendapat Hardjosubroto (1994), menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus
yang harus dipenuhi sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang
paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus
sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada
bagian dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada
bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut
bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula
dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya
membengkok sedikit keluar.
Untuk meningkatkan
produktivitas ternak sapi Bali haruslah didukung dengan sistem pemeliharaan
yang baik, seperti pemberian pakan yang berkualitas dengan kuantitas yang
sesuai terhadap ternak sapi tersebut.
3.3 Sistem Pemeliharaan
Sistem
pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam
keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar.
Sistem pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang,
serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Rasyaf, 1995). Sistem pemeliharaan
ternak sapi di peternakan Bapak Marsono yaitu sistem pemeliharaan secara
intensif, dimana ternak sapi di kandangkan secara terus menerus dari pagi
sampai sore, hijauan
diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke lokasi peternakan.
Sistem pemeliharaan
dengan cara intensif atau dikandangkan sangat baik sehingga ternak sapi dapat
terkontrol terus menerus, sesuai dengan pendapat Sugeng (1994), menyatakan bahwa pemeliharaan ternak sapi
yang baik adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi lebih
mudah dan ternak diberi makan dan minum didalam kandang. Hal ini dikarenakan juga lahan penggembalaan
yang tidak memadai disekitar area peternakan.
Selama
pemeliharaan tidak dilakukan penimbangan bobot badan ternak sapi karena tidak
tersedianya timbangan. Pada saat pelaksanaan magang dilakukan pengukuran
bagian-bagian tubuh ternak sapi untuk pendugaan bobot badan ternak sapi
tersebut. Menurut Pane (1996), pemeliharaan ternak yang baik
seharusnya dilakukan penimbangan agar diketahui pertambahan bobot badan ternak.
Pertambahan bobot badan akan maksimal jika pakan yang diberikan berupa hijauan
yang masih segar dan berkualitas tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan ternak.
Sedangkan menurut pernyataan Kadarsih (2003), ukuran-ukuran tubuh ternak sangat
berperan dalam pendugaan bobot badan. Bobot badan sapi dapat diperoleh dengan
cara mengukur lingkar dada dan panjang badan ternak sapi tersebut dan mempunyai
hubungan yang linear, antara besar lingkar dada dengan bobot badan ternak sapi
terdapat korelasi yang positif, serta penentuan bobot fisik tubuh ternak sapi
juga dapat digunakan untuk mengkalkulasi berat karkas pada ternak sapi (Sosroamidjoyo
dan Soeradji, 1978).
3.4 Perkandangan
Kandang bagi ternak
sapi tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal selama dalam proses
pemeliharaan, tetapi juga berfungsi sebagai perlindungan ternak terhadap
berbagai aspek yang mengganggu sapi, seperti cuaca yang tidak menimbulkan
kenyamanan, kehujanan, dan angin kencang.
Kandang di peternakan
Bapak Marsono berlokasi dibelakang rumah dengan jarak ± 10 meter, yang berarti
sudah memenuhi syarat letak kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumoprastowo
(1980), yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari
perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan
tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak di
beri minum. Saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak
tercemar. Anonimous (1988), menyatakan bahwa kandang yang memenuhi syarat
kesehatan bagi pemiliknya adalah kandang yang letaknya tidak terlalu dekat
dengan pemukiman penduduk. Hal ini didukung pula oleh pendapat Deptan (2001),
yang menyatakan bahwa kandang ternak yang baik harus berjarak 10 - 20 meter
dari rumah atau sumber air.
Kandang merupakan
tempat bernaung, berlindung dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, dan
sebagai tempat melakukan perkawinan. Kandang juga berpengaruh terhadap rasa
nyaman dan tenteram bagi ternak, sebab kenyamanan kandang menunjang proses
biologis ternak yang dipelihara (Anonimous, 1993). Pernyataan ini didukung oleh
pendapat Sarwono (2002), yang menyatakan bahwa kandang bukan hanya tempat
berteduh, melainkan sebagai tempat berlindung dan tempat istirahat yang nyaman.
AAK (1991), menyatakan bahwa konstruksi kandang yang dibangun dengan perencanaan dan teknis yang benar akan
menjamin kenyaman hidup ternak. Ternak akan terlindungi dari gangguan yang
tidak diinginkan jika kandang mampu menahan masuknya berbagai macam gangguan,
seperti gangguan alama yang ekstrim (di luar kemampuan ternak untuk
beradaptasi), binatang buas, pencuri, dan sebagainya. Kemudahan pengelolaan
akan tercapai jika kandang dibuat sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan pola
manajemen yang akan diterapkan (efektif) tanpa meninggalkan prinsip efisiensi.
Untuk itu kandang harus direncanakan secara menyeluruh mulai dari penentuan
lokasi, pembuatan lay out (tata letak), sampai dengan pembuatan kandang itu
sendiri.
Menurut Siregar (2003),
pembuatan kandang sapi untuk memerlukan beberapa syarat yaitu :
a. Memberikan
kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukkan dan bagi pemelihara ataupun pekerja
kandang.
b. Memenuhi
persyaratan bagi kesehatan sapi.
c. Mempunyai
ventilasi.
d. Mudah
dibersihkan dan terjamin kebersihannya.
e. Memberi
kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan
kerjanya, sehingga efisiensi kerja dapat tercapai.
f. Bahan-bahan
kandang yang dipergunakan dapat tahan lama, tidak mudah lapuk, dan sedapat
mungkin memerlukan biaya yang relatif murah dan terjangkau oleh peternak pada
umumnya.
g. Tidak
ada genangan air di luar ataupun di dalam kandang.
Kandang di
peternakan Bapak Marsono ini memiliki ukuran 14 x 4,5 m dengan ketinggian ± 3,5
m, lantai kandang disemen miring dari lahan sekitarnya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Santoso (1997), menyatakan bahwa kontruksi lantai
kandang harus diperhatikan kemiringannya. Kemiringan ini penting untuk membuang limbah
cair dan kotoran.
Dinding
kandang pada kedua sisinya terbuat dari kayu yang dipasang bersela, dan atap
kandang terbuat dari seng. Tempat pakan terbuat dari kayu dengan panjang 3 m
dan lebar 1 m, serta tempat minum terbuat dari drum plastik yang dibelah
menjadi dua bagian. Kandang dialasi
atau ditaburi dengan serbuk gergaji agar tidak terlalu becek dan kotor.
Dalam pembuatan kandang
ternak sapi, bahan-bahan kandang sebaiknya dipilih yang tahan lama, tidak mudah
lapuk, mudah diperoleh dan murah, serta tidak menimbulkan refleksi panas
terhadap sapi yang ada di dalam kandang (Siregar, 2003).
Tipe kandang
yang ada di peternakan Bapak Marsono adalah kandang tipe tunggal, yaitu sapi
berada dalam satu tempat yang sama. Menurut Siregar (2003),
tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan di
gemukkan, selera si peternak itu sendiri dan keadaan iklim. Kandang ternak terbuka dan memiliki
ventilasi udara yang baik,
sesuai dengan pendapat Santosa (2002), menyatakan bahwa ventilasi udara
berfungsi untuk mengurangi kelembaban dalam kandang, mengurangi organisme
penyebab penyakit, mengurangi debu atau udara kotor, mengurangi gas yang
terbentuk terutama yang berasal dari kotoran dan urin ternak seperti amonia,
Hidrogen, CO2, dan gas methan.
3.5
Pemberian Pakan
Pemberian
pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi pukul 08.00 WIB dan sore hari
pukul 17.00 WIB dengan
cara memberikan pakan 16 ikat dalam sehari, diperkirakan dalam 1 ikat pakan
ternak beratnya ± 12 kg. Jadi total pakan yang diberikan per hari untuk 7 ekor
ternak sapi yaitu 192 kg, berarti per ekor mendapatkan 27,4 kg. Menurut
Rudiah (2008), untuk meningkatkan bobot badan pada ternak, pemberian pakan
sebaiknya dimulai pada pagi hari yaitu mulai pukul 08:00 – 14:00, hal ini
dilakuk an karena pada pagi hari ternak mendapat
kesempatan yang lebih banyak untuk mengkonsumsi pakan dan memiliki kesempatan
yang banyak pula untuk mengunyah makanan tersebut, semakin banyak waktu yang
diberikan kepada ternak sapi untuk mengkonsumsi pakan, maka akan menghasilkan
bobot badan yang lebih optimal.
Pakan merupakan
salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh karena itu pemberian
pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan.
Sesuai dengan pendapat Sugeng
(1994) jumlah pemberian pakan dalam usaha
peningkatan produksi ternak merupakan salah satu faktor yang harus mendapat
perhatian. Oleh karena itu pemberian pakan bagi ternak harus sesuai dengan
kualitas dan kuantitas pakan yang dibutuhkan, guna mendapat hasil yang
diharapkan. Pakan bagi ternak dapat berfungsi untuk hidup pokok, pertumbuhan
dan reproduksi.
Natasasmita dan
Koeswardhono (1980), menyatakan bahwa secara garis besar, kandungan nutrisi
pakan yang diperlukan ternak sapi meliputi air, karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral. Cahyono (1998), menyatakan bahwa pemberian pakan yang
tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat menyebabkan defisiensi zat
makanan sehingga ternak mudah terserang penyakit. Penyediaan pakan harus
diupayakan secara terus-menerus dan sesuai dengan standar gizi menurut status
ternak yang dipelihara.
Bila dihitung berdasarkan 10% bobot badan, maka konsumsi pakan ternak sapi
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Konsumsi Pakan Ternak Sapi berdasarkan 10% Bobot Badan(Kg/Ekor/Hari)
|
No
|
Status ternak
|
Bobot Badan
|
Hijauan yg
diberikan
|
Jumlah konsumsi
|
|
1
|
Dara
|
121
|
12
|
10
|
|
2
|
Dara
|
262,44
|
26
|
22
|
|
3
|
Dara
|
262,44
|
26
|
22
|
|
4
|
Induk
|
353,44
|
35
|
31
|
|
5
|
Induk
|
368,64
|
36
|
32
|
|
6
|
Induk
|
432,64
|
43
|
40
|
|
7
|
Dewasa
/jantan
|
515,29
|
51
|
48
|
|
|
Total
|
2315,89
|
229
|
205
|
|
|
Rata-rata
|
330,84
|
32,71
|
29,28
|
Dari tabel di atas
diketahui bahwa konsumsi rata-rata per ekor 29,28 kg/ekor/hari, sedangkan
rataan pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan yaitu 27,43 kg/ekor/hari. Hal
ini menunjukkan bahwa pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan lebih rendah
dari kebutuhan ternak berdasarkan bobot badan. Tetapi hal ini
didapat dari pendugaan, karena tidak tersedianya timbangan untuk mengetahui
pasti jumlah pakan ternak per harinya. Siregar (2003), menyatakan bahwa
pemberian hijauan adalah 10% dari bobot badan, apabila diberikan dalam bentuk
segar.
Jenis pakan yang
diberikan kepada ternak sapi tersebut berupa hijauan 100%, tanpa
adanya pakan tambahan seperti konsentrat kawrena
faktor biaya. Hijauan yang diberikan berupa rumput segar yang terdiri dari
rumput lapang, rumput cabe-cabean, rumput gajah. Reksohadiprojo
(1985), menyatakan bahwa hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat,
energi, mineral, dan vitamin.
3.6 Pemberian Air Minum
Pemberian air minum
pada
ternak sapi diberikan dua kali sehari, yang disediakan pada saat-saat tertentu, yang diambil dari sumur peternak.
Menurut Saka (1990), dengan menambahkan air minum untuk
ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Kebutuhan
air minum bagi sapi sebanyak 20-40 litter/hari/ekor, namun sebaiknya diberikan
secara ad libitum (tidak terbatas). Menurut
Suparman dan Azis (2003), air minum diberikan secara ad-libitum dan kualitas airnya harus dijaga agar tidak
terkontaminasi oleh bibit-bibit penyakit.
Air minum berperan penting untuk ternak, karena dalam proses pencernaan,
air sangat berperan aktif untuk melancarkan pencernaan. Sutardi (1980), menyatakan bahwa air
dalam tubuh berfungsi untuk memperlancarkan pencernaan dan metabolism zat-zat
makanan. Anggorodi (1979),
menyatakan bahwa air minum sangat dibutuhkan untuk kesehatan ternak, fungsi air
minum dalam tubuh sapi adalah mengangkut zat-zat dari bagian satu kebagian lainnya dan pengaturan suhu tubuh.
Konsumsi air
minum yang diberikan kepada ternak sapi adalah ± 15 liter/ekor/hari diberikan pada
pagi dan sore, dicampur
dengan garam sekitar 0,5 kg atau 2 genggam tangan peternak setiap satu kali
pemberian air minum. Tujuan
pemberian garam dalam air minum sapi yaitu untuk meningkatkan palatabilitas ternak sapi, sehingga nafsu nmakan akan meningkat, juga sebagai
sumber mineral bagi ternak sapi. Reksohadiprojo (1985),
menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi meningkatkan nafsu makan sapi.
Ternak
yang mengalami kekurangan air hingga 20% dari keadaan normal akan mengalami dehidrasi (Sugeng,
2007). Kebutuhan rata-rata air pada sapi potong untuk tumbuh dengan suhu 21°C -
27°C adalah 4,7 liter air setiap kg bahan kering yang dikonsumsi (Tillman. et
al., 1991).
3.7 Pertambahan Bobot Badan
Laju pertumbuhan seekor sapi dapat diukur dengan melihat pertambahan bobot
badannya. Salah satu cara untuk mengetahui pertambahan bobot badan adalah
dengan penimbangan untuk mencari dan membandingkan data ternak (Dinas
Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Pertambahan bobot
badan diperoleh dengan cara mengurangi bobot badan akhir dengan bobot badan
awal (Yusuf, 2010).
Pertambahan bobot badan sapi dapat diketahui secara pasti
dengan melakukan penimbangan. Akan tetapi, karena timbangan ternak tidak
tersedia di peternakan Bapak Marsono, maka penaksiran/pendugaan dilaksanakan
dengan menghitung lingkar dada dari
masing-masing sapi, dengan mengggunakan rumus Schoorl (Sariubang
et al., 2004). Pertambahan
bobot badan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Pertambahan Bobot Badan Ternak Sapi
|
No
|
Status Ternak
|
BB Awal
(Kg)
|
BB Akhir
(Kg)
|
PBB/Bln
(Kg)
|
PBB/Hari
(Kg)
|
|
1
|
Dara
|
121
|
134,56
|
13,56
|
0,452
|
|
2
|
Dara
|
262,44
|
275,56
|
13,12
|
0,437
|
|
3
|
Dara
|
262,44
|
275,56
|
13,12
|
0,437
|
|
4
|
Induk
|
353,44
|
357,21
|
3,77
|
0,126
|
|
5
|
Induk
|
368,64
|
372,49
|
3,85
|
0,128
|
|
6
|
Induk
|
432,64
|
436,81
|
4,17
|
0,139
|
|
7
|
Dewasa/
jantan
|
515,29
|
524,41
|
9,12
|
0,304
|
|
|
Total
|
2315,89
|
2376,6
|
60,71
|
2.023
|
|
|
Rata-rata
|
330,84
|
339,51
|
8,673
|
0,289
|
Dari tabel
diatas dapat dilihat hasil penaksiran/pendugaan bobot badan sapi rata-rata PBB (pertambahan bobot badan) selama 1 bulan yaitu 8,673 kg/ekor/bulan, sementara PBBH (pertambahan bobot badan harian) yaitu 0,289
kg/ekor/hari. Menurut Setiadi (1992), untuk
mendapatkan pertambahan bobot badan ternak selama pemeliharaan dilakukan dengan
menghitung selisih antara bobot akhir dengan bobot awal ternak.
Pertambahan bobot badan tergolong rendah bila
dibandingkan dengan pendapat Frandson
(1996), yang menyatakan
bahwa rata-rata pertambahan bobot badan harian sapi bali yaitu > 0,8
kg/ekor/hari. Hal
ini diduga karena jumlah pakan yang diberikan lebih rendah dari kebutuhan
ternak dan ternak sapi tidak diberikan konsentrat, sehingga pertambahan bobot
badan sapi tidak sesuai dengan rataan normal. Menurut Parulian
(2009), pertambahan
bobot hidup sapi Bali dipengaruhi oleh umur, bobot badan, kualitas pakan dan
jumlah konsumsi pakan. Pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya merupakan
salah satu penyebab utama pertambahan bobot badan sapi kurang maksimal. Pertambahan
bobot badan yang tidak maksimal disebabkan pada waktu pelaksanaaan magang pakan
yang diberikan kurang nutrisi (konsentrat). Selanjutnya
Tillman et al. (1993), menyatakan
pengurangan pakan akan memperlambat kecepatan pertumbuhan dan bila pengurangan
pakan yang nyata akan menyebabkan ternak kehilangan berat badannya.
3.8 Kesehatan Ternak
Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan usaha peternakan termasuk pemeliharaan ternak sapi. Penyakit
yang menyerang ternak sapi biasanya disebabkan oleh kandang yang kotor,
pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan yang kurang baik, sehingga
terjadi penurunan bobot badan sapi dan tentunya sangat merugikan
peternak. Berdasarkan pengamatan selama magang sapi-sapi yang
dipelihara di peternakan Bapak Marsono sehat,
walaupun sebagian ada sedikit luka/lecet, yang biasanya diakibatkan oleh goresan dari lantai, serta
dinding kandang.
Di peternakan ini tidak disediakan obat-obatan atau
vaksinasi, karena jika ternak sakit serius, maka peternak akan mendatangkan
atau bekerja sama dengan dokter atau mantri hewan, sehingga lebih memudahkan
dalam mengetahui penyakitnya dan mengobati ternak, apabila peternak tidak
mengetahui penyakit pada ternak sapinya tersebut.
Kebersihan
kandang dan kesehatan ternak sapi kurang diperhatikan, dan jarang sekali
memandikan sapi, sehingga peluang timbulnya penyakit besar. Tetapi ternak sapi
tersebut terlihat sehat dan tidak ada penyakit yang serius selama pengamatan
dalam magang. Viviani dan Nazarudin (1998), menyatakan bahwa salah satu usaha
pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi kandang dan lingkungan sekitar.
3.9 Penanganan Limbah Ternak
Umumnya kotoran ternak dapat dijadikan produk (hasil)
sampingan yang berasal dari ternak yang dapat diolah menjadi pupuk kandang,
kompos, atau sebagai sumber energi berupa biogas. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk
kandang yang dapat menghasilkan keuntungan
ekonomis bagi peternak. Pupuk kandang ini dijual
dengan cara konsumen mengambil sendiri kotoran tersebut ke peternakan dengan
harga 8.000 ribu/karung beras, atau memesan sesuai dengan jumlah pesanan konsumen per
karungnya. Kadang kala kotoran ternak sapi ini diberikan kepada para tetangga
yang menginginkannya.
Menurut pendapat Sugeng
(2010), kotoran sapi merupakan salah satu jenis limbah yang cukup banyak akan
tetapi masih banyak para pemilik sapi yang menghasilkan banyak kotoran sapi
kurang jeli dalam memanfaatkannya, sehingga banyak kotoran limbah kotoran sapi
yang tidak dapat menghasilkan keuntungan bahkan menjadi hal yang merugikan baik
untuk pemilik sapi ataupun untuk lingkungan. Hal ini dikarenakan jika limbah
kotoran sapi hanya dibuang tanpa diolah untuk dimanfaatkan maka dapat berdampak pada kerusakan
lingkungan, misalnya saja pencemaran yang berdampak pada kebersihan sungai atau
lingkungan.
BAB
IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil
Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan ternak
sapi di peternakan Bapak Marsono sudah cukup
baik, dimana dalam sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak selalu dikandangkan.
Akan tetapi, kekurangannya ialah tidak diberikan konsentrat.
4.2 Saran
Kualitas
dan kuantitas pakan yang diberikan ke ternak sapi harus ditingkatkan, salah
satunya yaitu dengan pemberian pakan tambahan seperti konsentrat dan perlu
disediakan lahan untuk hijauan unggul, sehingga kebutuhan nutrisi ternak sapi
tersebut dapat terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
AAK.
1991. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pusataka. Tanggerang.
Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.
Anonimous. 1988. Tata Laksana Sapi Potong. Kanisius Press. Yogyakarta.
Anonimous. 2010. Kandang Sapi Menurut Umur. http://ohsapi.blogspot.com/2010/05/kandang-sapi-menurut-umur.html. 10 November 2014.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Press.
Jakarta.
Cahyono.
1998. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
Deptan.
2001. Penggemukan Sapi Potong Sistem
Kereman. Jakarta. http://www.deptan.go.id. 15 Juni 2014.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Basis Data
Pertanian. http://deptan.go.id. 15 Juni 2014.
Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan
Fisiology Ternak, Edisi ke 7, diterjemahkan oleh Srigandono, B dan Praseno, K. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia. Jakarta.
Heri, A. Sukria. 2011. http://agroedutourismipb.multiply.com/journal/item/2/ SAPI_dan_DAUR HIDUPNYA. 27 Januari 2015.
Kadarsih,
S. 2003. Peranan Ukuran Tubuh terhadap Bobot
Badan Sapi Bali di Provinsi Bengkulu. Jurnal penelitian UNIB, IX (1) : 45-48..
Murtidjo, B.A.
1990. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Natasasmita,
A. dan M. Koeswardhono. 1980. Beternak Sapi Daging. Unit Penataran. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Pane. 1996. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia Press. Jakarta.
Parulian, S.T. 2009. Efek Pelepah Daun Sawit dan Limbah Industrinya Sebagai
Pakan Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Pada Fase Pertumbuhan.
Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.
Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha
Peternakan Sapi Potong. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Reksohadiprojo.
1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Rudiah.
2008. Pengaruh
Waktu Pemberian Pakan Terhadap Performa Sapi Potong, J. Agrisains.
Rudiono, D. 1991. Pendugaan Berat Badan Sapi Bali Melalui
Ukuran Tubuh pada Berbagai Kondisi dan Tingkat Umur. Tesis Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran. Bandung.
Saka,
I.K.
1990. Pemberian Pakan dan Pemeliharaan Ternak. Makalah Dalam
Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember
1990.
Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Santosa.
2002. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Santoso. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya.
Jakarta.
Sariubang, M,
A. Ella, A. Nurhayu, dan D. Pasambe. 2004. Laporan Sistem Usaha Pertanian Sapi
Potong di Sulawesi Selatan.
Sarwono.
2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Setiadi.
1992. Beternak Sapi Pedaging dan Masalahnya. Aneka Ilmu.
Semarang.
Siregar.
2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan
Peternakan. Jakarta.
Sosroamidjoyo
dan Soeradji. 1978. Peternakan Umum. CV Yasaguna.
Jakarta.
Sugeng,
Y.B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, Y.B. 2007. Sapi Potong.
Penebar Swadaya Press. Jakarta.
Sugeng, Y.B. 2010. Model Pengembangan Agribisnis Sapi Potong Berdasar Analisis
Kelayakan Sosial Budaya dan Ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan
Sapi Lokal, Tema : Peningkatan Potensi Sapi Lokal Untuk Mendorong
Industrialisasi Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Sumoprastowo, C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
Suparman, M dan Azis, M. S. 2003. Formulasi Pakan Murah yang
Berkualitas untuk Usaha Penggemukkan Sapi Bali. BPTP. Sulawesi Selatan.
Sutardi.
1980. Iktisar Ruminologi. Departemen Ilmu Makanan Ternak.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tillman, A. D. S,
Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991.
Ilmu
Makanan Ternak Dasar. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta.
Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadimodjo dan S. Prawirokusumo.
1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Viviani
dan Nazarudin. 1998. Ternak Komersil. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Yusuf.
2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan
Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental
Fase Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar