Kamis, 28 Mei 2020

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN BAGAN PETE KECAMATAN KOTA BARU JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )



LAPORAN
FARM EXPERIENCE


SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN
BAGAN PETE KECAMATAN
KOTA BARU JAMBI




 












OLEH :
NAMA
NIM








FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Ternak sapi merupakan ternak ruminansia besar yang dapat diambil manfaatnya bagi masyarakat yaitu sebagai bahan pangan sumber protein hewani seperti penghasil daging dan susu, serta sering dimanfaatkan tenaga kerjanya bagi para petani terutama di Indonesia. Disamping itu hasil ikutannya seperti kulit dapat dibuat ketrampilan, tulang diolah lebih lanjut untuk campuran ransum pakan ternak, serta kotoran ternak sapi dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos atau sumber energi (biogas). Hal tersebut bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan sampingan bagi para peternak. Akan tetapi, produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat produktivitas ternak rendah, meningkatnya jumlah penduduk atau rata-rata kualitas hidup masyarakat, serta semakin tingginya kesadaran dari masyarakat untuk mengkonsumsi pangan hewani dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ternak sapi diantaranya yaitu sistem pemeliharaan, ketersediaan pakan, kesehatan ternak, lingkungan tempat pemeliharaan, kondisi iklim, dan bibit ternak. Faktor-faktor ini harus direncanakan dan dilakukan secara baik dan teratur sehingga produksi yang akan dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa sarana penunjang sangat penting dalam tatalaksana dalam pemeliharaan ternak sapi. Sarana penunjang tersebut meliputi bangunan, peralatan maupun perlengkapan lainya (Santosa, 1995). Saat ini dikenal tiga sistem pemeliharaan ternak sapi, yaitu sistem pemeliharaan secara intensif, ekstensif, dan semi intensif. Sistem pemeliharaan intensif merupakan jenis pemeliharaan ternak yang seluruh kegiatannya dilakukan di kandang, sedangkan sistem pemeliharaan ekstensif sebagian besar aktivitas pemeliharaannya dilakukan di padang penggembalaan. Adapun  pemeliharaan semi intensif adalah gabungan antara system pemeliharaan ternak sapi secara intensif dan ekstensif.
Dalam usaha peningkatan ternak sapi, selain bibit dan pakan yang baik, sistem pemeliharaan merupakan salah satu faktor yang mendapat perhatian. Pada umumnya peternakan sapi di kota Jambi menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dimana ternak selalu dikandangkan yang bertujuan agar ternak mendapat pengontrolan yang baik dari segi pemberian pakan, air minum maupun kebersihan kandang. Selain itu terbatasnya lahan penggembalaan menyebabkan peternak menerapkan pola pemeliharaan seperti ini.
Akan tetapi informasi tentang sistem pemeliharaan ternak pada peternakan Bapak Marsono ini belum diketahui. Oleh karena itu penulis mencoba untuk meninjau sistem pemeliharaan ternak sapi yang ada di peternakan Bapak Marsono.

1.2  Tujuan
Tujuan dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui Sistem Pemeliharaan Ternak Sapi yang ada di Peternakan Bapak Marsono sebagai pembekalan dan melatih diri penulis agar terampil, serta mengaplikasikan teori yang telah diperoleh dalam perkuliahan, sehingga dapat diterapkan secara langsung dimasa yang akan datang.

1.3  Manfaat
Manfaat dari Farm Experience ini adalah dapat menambah pengetahuan atau wawasan dan pengalaman mahasiswa dalam system pemeliharaan ternak sapi, serta menumbuhkan motivasi kewirausahaan dalam usaha peternakan terutama ternak sapi.








BAB II
MATERI DAN METODA


2.1 Tempat dan Waktu
Farm Experience ini dilaksanakan di Peternakan Bapak Marsono, Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Kota Baru, Jambi, pada tanggal 22 Maret 2014 sampai dengan 22 April 2014.

2.2 Prosedur Kerja
Sebelum melaksanakan Farm Experience dilakukan survei lokasi peternakan. Kegiatan yang dilakukan yaitu membantu peternak memberikan pakan, membersihkan kandang ternak, membersihkan kotoran ternak, memberikan air minum, menaburkan sekam atau serbuk gergaji di lantai kandang, dan membantu peternak mengumpulkan feses ternak dan dimasukkan ke dalam karung beras untuk dijual. Pada awal dan akhir kegiatan dilakukan pengukuran lingkar dada dan panjang badan ternak untuk menduga bobot badan ternak sapi tersebut dengan menggunakan alat ukur meteran dan tali rapiah.

2.3 Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan dan wawancara langsung di lapangan dengan peternak, antara lain meliputi jenis dan cara pemberian pakan pada ternak sapi, pemberian air minum, sistem perkandangan, sistem perkawinan ternak sapi, dan penaksiran bobot badan ternak sapi dengan pengukuran lingkar dada, jumlah ternak sapi, jumlah pakan yang dikonsumsi setiap hari selama pemeliharaan. Data sekunder diperoleh melalui recording atau catatan yang ada di peternakan Bapak Marsono, yaitu tahun berdirinya usaha peternakan tersebut, struktur organisasi, keadaan lokasi kandang, asal ternak, luas lahan peternakan, luas kandang, dan petugas atau karyawan yang bekerja di peternakan tersebut.
Rumus yang digunakan untuk menduga bobot badan berpedoman pada rumus Schoorl (1952) yang dikutip oleh Rudiono (1991), adalah sebagai berikut :
            Bobot badan (Kg) =     (LD cm + 22)2
                                                            100

Keterangan :   LD : Lingkar Dada (Sapi)
                        22 dan 100 : Ketetapan Rumus Schoorl
PBB (kg) = Bobot Badan Akhir (kg) – Bobot Badan Awal (kg)

 

           
PBBH (kg) =
PBB Selama Dipelihara
Lama Pemeliharaan

Keterangan :
PBB     : Pertambahan Bobot Badan
PBBH  : Pertambahan Bobot Badan/Hari (Kg)

















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Keadaan Umum Peternakan
Awal mula peternakan Bapak Marsono ini berdiri pada tahun 1991 dengan jumlah 1 ekor sapi, dari tahun ke tahun ternaknya terus bertambah hingga 17 ekor. Akan tetapi, pada tahun 2005 sapi-sapi tersebut dijual hingga akhirnya jumlahnya tinggal 7 ekor. Peternakan ini berlokasi di Kelurahan Bagan Pete, Kecamatan Kota Baru, Jambi. Pada tahun 2009 Bapak Marsono bergabung dengan kelompok tani ternak yang bernama Sumber Rezeki sebagai anggota, kemudian bergabung dengan kelompok tani ternak lainnya yaitu Sumber Jaya pada tahun 2010 sebagai wakil ketua, dan pada tahun 2012 Bapak Marsono keluar dari kelompok tani ternak karena alasan ingin memelihara ternak sapi sendiri. Pekerjaan bapak Marsono ini ialah petani karet dimana beternak sapi ini merupakan pekerjaan sampingan. Sapi di peternakan ini dijual apabila pembeli sudah sesuai dengan harga yang ditentukan oleh peternak. Apabila harga yang ditawarkan oleh pembeli tidak sesuai maka sapi tersebut tidak dijual sampai menemukan harga yang sesuai.
Luas area peternakan Bapak Marsono ± 30 m2, kemudian ditambah dengan luas padang rumput ± 20 m2 dan kandang yang tak jauh dari lokasi peternakan dan rumahnya. Lokasi peternakan kurang strategis karena berada di dekat pemukiman penduduk, yang mungkin terganggu dengan adanya peternakan tersebut. Tetapi di area sekitar peternakan ini banyak pepohonan yang tumbuh, sehingga ternak merasa lebih nyaman.

3.2. Keadaan Umum Ternak
Ternak sapi di peternakan Bapak Marsono berjumlah 7 ekor sapi Bali, yang terdiri dari 6 ekor sapi betina, 1 ekor sapi jantan, dengan jenis kelamin dan status yang dapat dilihat pada Tabel 1.



Tabel 1. Jenis Kelamin dan Status Ternak Sapi
No
Jenis kelamin
Status
Umur (tahun)
Jumlah (ekor)
1
Jantan
Dewasa
6
1
2
Betina
Dara
1,5
2
3
Betina
Dara   
1
1
4
Betina
Induk
9
1
5
Betina
Induk
7
1
6
Betina
Induk
7,5
1

Dari tabel diatas terlihat bahwa umur sapi sudah diatas 7 tahun, ini dikarenakan sapi tersebut dipelihara dari pedet sampai sekarang tanpa adanya penjualan. Sapi induk yang berumur 9 tahun merupakan sapi tertua karena di pelihara dari sejak lahir yaitu pada tahun 2006, begitu juga dengan sapi umur 7 dan 7,5 tahun dipelihara pada tahun 2008. Selain itu, terdapat sapi jantan umur 6 tahun dimana sapi ini dibeli pada tahun 2011 pada umur 3 tahun. Sapi betina dara umur 1,5 tahun merupakan anakan dari sapi umur 7 tahun, dan sapi dara 1,5 tahun lagi adalah anakan yang baru dibeli sedangkan sapi dara umur 1,5 tahun merupakan anakan dari induk dengan umur 7,5 tahun. Menurut Sukria (2011) umur maksimal seekor sapi bali ialah sekitar umur 10 – 12 tahun, umur produktif 3 – 5 tahun, dan selama hidupnya sapi yang sehat bisa melahirkan sampai 5 – 6 kali.
Sapi berusia 0 – 8 bulan disebut dengan anak (pedet), sapi berusia 8 bulan – 2 tahun disebut sapi dara (remaja), sedangkan sapi berusia lebih dari 2 tahun dan laktasi disebut dengan sapi dewasa (induk) (Anonimous, 2010).
Jenis sapi yang dipelihara adalah sapi Bali. Menurut Hardjosubroto (1994), sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng). Sapi Bali yang ada di peternakan Bapak Marsono memiliki performans tubuh berwarna coklat kehitaman atau merah bata dengan bulu halus mengkilat, serta terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai ke arah leher atau kepala, sesuai dengan pendapat Murtidjo (1990), menyatakan bahwa karakteristik sapi Bali yaitu sapi Bali usia pedet, memiliki bulu sawo matang, sapi Bali betina dewasa berbulu merah bata dan tanduknya agak ke dalam dari kepala, sedangkan Sapi Bali jantan dewasa mempunyai warna bulu hitam dan tanduknya agak di bagian luar kepala. Didukung oleh pendapat Hardjosubroto (1994), menyatakan bahwa ada tanda-tanda khusus yang harus dipenuhi sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis belut (garis hitam) yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar.
Untuk meningkatkan produktivitas ternak sapi Bali haruslah didukung dengan sistem pemeliharaan yang baik, seperti pemberian pakan yang berkualitas dengan kuantitas yang sesuai terhadap ternak sapi tersebut.

3.3 Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Sistem pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Rasyaf, 1995). Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Bapak Marsono yaitu sistem pemeliharaan secara intensif, dimana ternak sapi di kandangkan secara terus menerus dari pagi sampai sore, hijauan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke lokasi peternakan.
Sistem pemeliharaan dengan cara intensif atau dikandangkan sangat baik sehingga ternak sapi dapat terkontrol terus menerus, sesuai dengan pendapat Sugeng (1994),  menyatakan bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi lebih mudah dan ternak diberi makan dan minum didalam kandang. Hal ini dikarenakan juga lahan penggembalaan yang tidak memadai disekitar area peternakan.
Selama pemeliharaan tidak dilakukan penimbangan bobot badan ternak sapi karena tidak tersedianya timbangan. Pada saat pelaksanaan magang dilakukan pengukuran bagian-bagian tubuh ternak sapi untuk pendugaan bobot badan ternak sapi tersebut. Menurut Pane (1996), pemeliharaan ternak yang baik seharusnya dilakukan penimbangan agar diketahui pertambahan bobot badan ternak. Pertambahan bobot badan akan maksimal jika pakan yang diberikan berupa hijauan yang masih segar dan berkualitas tinggi, serta sesuai dengan kebutuhan ternak. Sedangkan menurut pernyataan Kadarsih (2003), ukuran-ukuran tubuh ternak sangat berperan dalam pendugaan bobot badan. Bobot badan sapi dapat diperoleh dengan cara mengukur lingkar dada dan panjang badan ternak sapi tersebut dan mempunyai hubungan yang linear, antara besar lingkar dada dengan bobot badan ternak sapi terdapat korelasi yang positif, serta penentuan bobot fisik tubuh ternak sapi juga dapat digunakan untuk mengkalkulasi berat karkas pada ternak sapi (Sosroamidjoyo dan Soeradji, 1978).

3.4 Perkandangan
Kandang bagi ternak sapi tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal selama dalam proses pemeliharaan, tetapi juga berfungsi sebagai perlindungan ternak terhadap berbagai aspek yang mengganggu sapi, seperti cuaca yang tidak menimbulkan kenyamanan, kehujanan, dan angin kencang.
Kandang di peternakan Bapak Marsono berlokasi dibelakang rumah dengan jarak ± 10 meter, yang berarti sudah memenuhi syarat letak kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumoprastowo (1980), yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak di beri minum. Saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar. Anonimous (1988), menyatakan bahwa kandang yang memenuhi syarat kesehatan bagi pemiliknya adalah kandang yang letaknya tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Hal ini didukung pula oleh pendapat Deptan (2001), yang menyatakan bahwa kandang ternak yang baik harus berjarak 10 - 20 meter dari rumah atau sumber air.
Kandang merupakan tempat bernaung, berlindung dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, dan sebagai tempat melakukan perkawinan. Kandang juga berpengaruh terhadap rasa nyaman dan tenteram bagi ternak, sebab kenyamanan kandang menunjang proses biologis ternak yang dipelihara (Anonimous, 1993). Pernyataan ini didukung oleh pendapat Sarwono (2002), yang menyatakan bahwa kandang bukan hanya tempat berteduh, melainkan sebagai tempat berlindung dan tempat istirahat yang nyaman. AAK (1991), menyatakan bahwa konstruksi kandang yang dibangun  dengan perencanaan dan teknis yang benar akan menjamin kenyaman hidup ternak. Ternak akan terlindungi dari gangguan yang tidak diinginkan jika kandang mampu menahan masuknya berbagai macam gangguan, seperti gangguan alama yang ekstrim (di luar kemampuan ternak untuk beradaptasi), binatang buas, pencuri, dan sebagainya. Kemudahan pengelolaan akan tercapai jika kandang dibuat sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan pola manajemen yang akan diterapkan (efektif) tanpa meninggalkan prinsip efisiensi. Untuk itu kandang harus direncanakan secara menyeluruh mulai dari penentuan lokasi, pembuatan lay out (tata letak), sampai dengan pembuatan kandang itu sendiri.
Menurut Siregar (2003), pembuatan kandang sapi untuk memerlukan beberapa syarat yaitu :
a.     Memberikan kenyamanan bagi sapi-sapi yang digemukkan dan bagi pemelihara ataupun pekerja kandang.
b.     Memenuhi persyaratan bagi kesehatan sapi.
c.     Mempunyai ventilasi.
d.     Mudah dibersihkan dan terjamin kebersihannya.
e.     Memberi kemudahan bagi peternak ataupun pekerja kandang pada saat melaksanakan kerjanya, sehingga efisiensi kerja dapat tercapai.
f.      Bahan-bahan kandang yang dipergunakan dapat tahan lama, tidak mudah lapuk, dan sedapat mungkin memerlukan biaya yang relatif murah dan terjangkau oleh peternak pada umumnya.
g.     Tidak ada genangan air di luar ataupun di dalam kandang.
Kandang di peternakan Bapak Marsono ini memiliki ukuran 14 x 4,5 m dengan ketinggian ± 3,5 m, lantai kandang disemen miring dari lahan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (1997), menyatakan bahwa kontruksi lantai kandang harus diperhatikan kemiringannya. Kemiringan ini penting untuk membuang limbah cair dan kotoran.
Dinding kandang pada kedua sisinya terbuat dari kayu yang dipasang bersela, dan atap kandang terbuat dari seng. Tempat pakan terbuat dari kayu dengan panjang 3 m dan lebar 1 m, serta tempat minum terbuat dari drum plastik yang dibelah menjadi dua bagian. Kandang dialasi atau ditaburi dengan serbuk gergaji agar tidak terlalu becek dan kotor.
Dalam pembuatan kandang ternak sapi, bahan-bahan kandang sebaiknya dipilih yang tahan lama, tidak mudah lapuk, mudah diperoleh dan murah, serta tidak menimbulkan refleksi panas terhadap sapi yang ada di dalam kandang (Siregar, 2003).
Tipe kandang yang ada di peternakan Bapak Marsono adalah kandang tipe tunggal, yaitu sapi berada dalam satu tempat yang sama. Menurut Siregar (2003), tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan di gemukkan, selera si peternak itu sendiri dan keadaan iklim. Kandang ternak terbuka dan memiliki ventilasi udara yang baik, sesuai dengan pendapat Santosa (2002), menyatakan bahwa ventilasi udara berfungsi untuk mengurangi kelembaban dalam kandang, mengurangi organisme penyebab penyakit, mengurangi debu atau udara kotor, mengurangi gas yang terbentuk terutama yang berasal dari kotoran dan urin ternak seperti amonia, Hidrogen, CO2, dan gas methan.                                                                                                                       

3.5 Pemberian Pakan
Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB dengan cara memberikan pakan 16 ikat dalam sehari, diperkirakan dalam 1 ikat pakan ternak beratnya ± 12 kg. Jadi total pakan yang diberikan per hari untuk 7 ekor ternak sapi yaitu 192 kg, berarti per ekor mendapatkan 27,4 kg. Menurut Rudiah (2008), untuk meningkatkan bobot badan pada ternak, pemberian pakan sebaiknya dimulai pada pagi hari yaitu mulai pukul 08:00 – 14:00, hal ini dilakuk an karena pada pagi hari ternak mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk mengkonsumsi pakan dan memiliki kesempatan yang banyak pula untuk mengunyah makanan tersebut, semakin banyak waktu yang diberikan kepada ternak sapi untuk mengkonsumsi pakan, maka akan menghasilkan bobot badan yang lebih optimal.
Pakan merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh karena itu pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Sesuai dengan pendapat Sugeng (1994) jumlah pemberian pakan dalam usaha peningkatan produksi ternak merupakan salah satu faktor yang harus mendapat perhatian. Oleh karena itu pemberian pakan bagi ternak harus sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang dibutuhkan, guna mendapat hasil yang diharapkan. Pakan bagi ternak dapat berfungsi untuk hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi.
Natasasmita dan Koeswardhono (1980), menyatakan bahwa secara garis besar, kandungan nutrisi pakan yang diperlukan ternak sapi meliputi air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Cahyono (1998), menyatakan bahwa pemberian pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi ternak dapat menyebabkan defisiensi zat makanan sehingga ternak mudah terserang penyakit. Penyediaan pakan harus diupayakan secara terus-menerus dan sesuai dengan standar gizi menurut status ternak yang dipelihara.
Bila dihitung berdasarkan 10% bobot badan, maka konsumsi pakan ternak sapi dapat dilihat pada Tabel 2.







Tabel 2. Konsumsi Pakan Ternak Sapi berdasarkan 10% Bobot Badan(Kg/Ekor/Hari)

No
Status ternak
Bobot Badan
Hijauan yg diberikan
Jumlah konsumsi
1
Dara
121
12
10
2
Dara
262,44
26
22
3
Dara
262,44
26
22
4
Induk
353,44
35
31
5
Induk
368,64
36
32
6
Induk
432,64
43
40
7
Dewasa
/jantan
515,29
51
48

Total
2315,89
229
205

Rata-rata
330,84
32,71
29,28

Dari tabel di atas diketahui bahwa konsumsi rata-rata per ekor 29,28 kg/ekor/hari, sedangkan rataan pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan yaitu 27,43 kg/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan lebih rendah dari kebutuhan ternak berdasarkan bobot badan. Tetapi hal ini didapat dari pendugaan, karena tidak tersedianya timbangan untuk mengetahui pasti jumlah pakan ternak per harinya. Siregar (2003), menyatakan bahwa pemberian hijauan adalah 10% dari bobot badan, apabila diberikan dalam bentuk segar.
Jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi tersebut berupa hijauan 100%, tanpa adanya pakan tambahan seperti konsentrat kawrena faktor biaya. Hijauan yang diberikan berupa rumput segar yang terdiri dari rumput lapang, rumput cabe-cabean, rumput gajah. Reksohadiprojo (1985), menyatakan bahwa hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, energi, mineral, dan vitamin.

3.6 Pemberian Air Minum
Pemberian air minum pada ternak sapi diberikan dua kali sehari, yang disediakan pada saat-saat tertentu, yang diambil dari sumur peternak. Menurut Saka (1990), dengan menambahkan air minum untuk ternak sapi adalah hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan. Kebutuhan air minum bagi sapi sebanyak 20-40 litter/hari/ekor, namun sebaiknya diberikan secara ad libitum (tidak terbatas). Menurut Suparman dan Azis (2003), air minum diberikan secara ad-libitum dan kualitas airnya harus dijaga agar tidak terkontaminasi oleh bibit-bibit penyakit.
Air minum berperan penting untuk ternak, karena dalam proses pencernaan, air sangat berperan aktif untuk melancarkan pencernaan. Sutardi (1980), menyatakan bahwa air dalam tubuh berfungsi untuk memperlancarkan pencernaan dan metabolism zat-zat makanan. Anggorodi (1979), menyatakan bahwa air minum sangat dibutuhkan untuk kesehatan ternak, fungsi air minum dalam tubuh sapi adalah mengangkut zat-zat dari bagian satu kebagian  lainnya dan pengaturan suhu tubuh.
Konsumsi air minum yang diberikan kepada ternak sapi adalah ± 15 liter/ekor/hari diberikan pada pagi dan sore, dicampur dengan garam sekitar 0,5 kg atau 2 genggam tangan peternak setiap satu kali pemberian air minum. Tujuan pemberian garam dalam air minum sapi yaitu untuk meningkatkan palatabilitas ternak sapi, sehingga nafsu nmakan akan meningkat, juga sebagai sumber mineral bagi ternak sapi. Reksohadiprojo (1985), menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi  meningkatkan nafsu makan sapi.
Ternak yang mengalami kekurangan air hingga 20% dari keadaan normal akan mengalami dehidrasi (Sugeng, 2007). Kebutuhan rata-rata air pada sapi potong untuk tumbuh dengan suhu 21°C - 27°C adalah 4,7 liter air setiap kg bahan kering yang dikonsumsi (Tillman. et al., 1991).

3.7 Pertambahan Bobot Badan
Laju pertumbuhan seekor sapi dapat diukur dengan melihat pertambahan bobot badannya. Salah satu cara untuk mengetahui pertambahan bobot badan adalah dengan penimbangan untuk mencari dan membandingkan data ternak (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2011). Pertambahan bobot badan diperoleh dengan cara mengurangi bobot badan akhir dengan bobot badan awal (Yusuf, 2010).
Pertambahan bobot badan sapi dapat diketahui secara pasti dengan melakukan penimbangan. Akan tetapi, karena timbangan ternak tidak tersedia di peternakan Bapak Marsono, maka penaksiran/pendugaan dilaksanakan dengan menghitung lingkar dada dari masing-masing sapi, dengan mengggunakan rumus Schoorl (Sariubang et al., 2004). Pertambahan bobot badan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Pertambahan Bobot Badan Ternak Sapi
No
Status  Ternak
BB Awal
(Kg)
BB Akhir
(Kg)
PBB/Bln
(Kg)
PBB/Hari
(Kg)
1
Dara
121
134,56
13,56
0,452
2
Dara  
262,44
275,56
13,12
0,437
3
Dara
262,44
275,56
13,12
0,437
4
Induk
353,44
357,21
3,77
0,126
5
Induk
368,64
372,49
3,85
0,128
6
Induk
432,64
436,81
4,17
0,139
7
Dewasa/
jantan
515,29
524,41
9,12
0,304

Total
2315,89
2376,6
60,71
2.023

Rata-rata
330,84
339,51
8,673
0,289

Dari tabel diatas dapat dilihat hasil penaksiran/pendugaan bobot badan sapi rata-rata PBB (pertambahan bobot badan) selama 1 bulan yaitu 8,673 kg/ekor/bulan, sementara PBBH (pertambahan bobot badan harian) yaitu 0,289 kg/ekor/hari. Menurut Setiadi (1992), untuk mendapatkan pertambahan bobot badan ternak selama pemeliharaan dilakukan dengan menghitung selisih antara bobot akhir dengan bobot awal ternak. Pertambahan bobot badan tergolong rendah bila dibandingkan dengan pendapat Frandson (1996), yang menyatakan bahwa rata-rata pertambahan bobot badan harian sapi bali yaitu > 0,8 kg/ekor/hari. Hal ini diduga karena jumlah pakan yang diberikan lebih rendah dari kebutuhan ternak dan ternak sapi tidak diberikan konsentrat, sehingga pertambahan bobot badan sapi tidak sesuai dengan rataan normal. Menurut Parulian (2009), pertambahan bobot hidup sapi Bali dipengaruhi oleh umur, bobot badan, kualitas pakan dan jumlah konsumsi pakan. Pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya merupakan salah satu penyebab utama pertambahan bobot badan sapi kurang maksimal. Pertambahan bobot badan yang tidak maksimal disebabkan pada waktu pelaksanaaan magang pakan yang diberikan kurang nutrisi (konsentrat). Selanjutnya Tillman et al. (1993), menyatakan pengurangan pakan akan memperlambat kecepatan pertumbuhan dan bila pengurangan pakan yang nyata akan menyebabkan ternak kehilangan berat badannya.

3.8 Kesehatan Ternak
Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan termasuk pemeliharaan ternak sapi. Penyakit yang menyerang ternak sapi biasanya disebabkan oleh kandang yang kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan yang kurang baik, sehingga terjadi penurunan bobot badan sapi dan tentunya sangat merugikan peternak. Berdasarkan pengamatan selama magang sapi-sapi yang dipelihara di peternakan Bapak Marsono sehat, walaupun sebagian ada sedikit luka/lecet, yang biasanya diakibatkan oleh goresan dari lantai, serta dinding kandang.
Di peternakan ini tidak disediakan obat-obatan atau vaksinasi, karena jika ternak sakit serius, maka peternak akan mendatangkan atau bekerja sama dengan dokter atau mantri hewan, sehingga lebih memudahkan dalam mengetahui penyakitnya dan mengobati ternak, apabila peternak tidak mengetahui penyakit pada ternak sapinya tersebut.
Kebersihan kandang dan kesehatan ternak sapi kurang diperhatikan, dan jarang sekali memandikan sapi, sehingga peluang timbulnya penyakit besar. Tetapi ternak sapi tersebut terlihat sehat dan tidak ada penyakit yang serius selama pengamatan dalam magang. Viviani dan Nazarudin (1998), menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi kandang dan lingkungan sekitar.

3.9 Penanganan Limbah Ternak
Umumnya kotoran ternak dapat dijadikan produk (hasil) sampingan yang berasal dari ternak yang dapat diolah menjadi pupuk kandang, kompos, atau sebagai sumber energi berupa biogas. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang dapat menghasilkan keuntungan ekonomis bagi peternak. Pupuk kandang ini dijual dengan cara konsumen mengambil sendiri kotoran tersebut ke peternakan dengan harga 8.000 ribu/karung beras, atau memesan sesuai dengan jumlah pesanan konsumen per karungnya. Kadang kala kotoran ternak sapi ini diberikan kepada para tetangga yang menginginkannya.
Menurut pendapat Sugeng (2010), kotoran sapi merupakan salah satu jenis limbah yang cukup banyak akan tetapi masih banyak para pemilik sapi yang menghasilkan banyak kotoran sapi kurang jeli dalam memanfaatkannya, sehingga banyak kotoran limbah kotoran sapi yang tidak dapat menghasilkan keuntungan bahkan menjadi hal yang merugikan baik untuk pemilik sapi ataupun untuk lingkungan. Hal ini dikarenakan jika limbah kotoran sapi hanya dibuang tanpa diolah untuk dimanfaatkan maka dapat berdampak pada kerusakan lingkungan, misalnya saja pencemaran yang berdampak pada kebersihan sungai atau lingkungan.




















BAB IV
KESIMPULAN


4.1  Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Bapak Marsono sudah cukup baik, dimana dalam sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak selalu dikandangkan. Akan tetapi, kekurangannya ialah tidak diberikan konsentrat.

4.2 Saran
Kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan ke ternak sapi harus ditingkatkan, salah satunya yaitu dengan pemberian pakan tambahan seperti konsentrat dan perlu disediakan lahan untuk hijauan unggul, sehingga kebutuhan nutrisi ternak sapi tersebut dapat terpenuhi.

















DAFTAR PUSTAKA



AAK. 1991. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pusataka. Tanggerang.

Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.

Anonimous. 1988. Tata Laksana Sapi Potong. Kanisius Press. Yogyakarta.


Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Press. Jakarta.

Cahyono. 1998. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.

Deptan. 2001. Penggemukan Sapi Potong Sistem Kereman. Jakarta. http://www.deptan.go.id. 15 Juni 2014.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Basis Data Pertanian. http://deptan.go.id. 15 Juni 2014.

Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan Fisiology Ternak, Edisi ke 7, diterjemahkan oleh Srigandono, B dan Praseno, K. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Heri, A. Sukria. 2011. http://agroedutourismipb.multiply.com/journal/item/2/ SAPI_dan_DAUR HIDUPNYA. 27 Januari 2015.

Kadarsih, S. 2003. Peranan Ukuran Tubuh terhadap Bobot Badan Sapi Bali di Provinsi Bengkulu. Jurnal penelitian UNIB, IX (1) : 45-48..

Murtidjo, B.A. 1990. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Natasasmita, A. dan M. Koeswardhono. 1980. Beternak Sapi Daging. Unit Penataran. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pane. 1996. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia Press. Jakarta.

Parulian, S.T. 2009. Efek Pelepah Daun Sawit dan Limbah Industrinya Sebagai Pakan Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Pada Fase Pertumbuhan. Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan. 

Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Sapi Potong. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Reksohadiprojo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.

Rudiah. 2008. Pengaruh Waktu Pemberian Pakan Terhadap Performa Sapi Potong, J. Agrisains.

Rudiono, D. 1991. Pendugaan Berat Badan Sapi Bali Melalui Ukuran Tubuh pada Berbagai Kondisi dan Tingkat Umur. Tesis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.

Saka, I.K. 1990. Pemberian Pakan dan Pemeliharaan Ternak. Makalah Dalam Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1990.

Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Santosa. 2002. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta.

Santoso. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya. Jakarta.

Sariubang, M, A. Ella, A. Nurhayu, dan D. Pasambe. 2004. Laporan Sistem Usaha Pertanian Sapi Potong di Sulawesi Selatan.

Sarwono. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setiadi. 1992. Beternak Sapi Pedaging dan Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang.

Siregar. 2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan Peternakan. Jakarta.

Sosroamidjoyo dan Soeradji. 1978. Peternakan Umum. CV Yasaguna. Jakarta.

Sugeng, Y.B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugeng, Y.B. 2007. Sapi Potong. Penebar Swadaya Press. Jakarta.

Sugeng, Y.B. 2010. Model Pengembangan Agribisnis Sapi Potong Berdasar Analisis Kelayakan Sosial Budaya dan Ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sapi Lokal, Tema : Peningkatan Potensi Sapi Lokal Untuk Mendorong Industrialisasi Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang. 

Sumoprastowo, C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata Karya Aksara. Jakarta.

Suparman, M dan Azis, M. S. 2003. Formulasi Pakan Murah yang Berkualitas untuk Usaha Penggemukkan Sapi Bali. BPTP. Sulawesi Selatan.

Sutardi. 1980. Iktisar Ruminologi. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Tillman, A. D. S, Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta.

Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadimodjo dan S. Prawirokusumo. 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Viviani dan Nazarudin. 1998. Ternak Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yusuf. 2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar