LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
TATA LAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI
DI KELOMPOK TANI SUMBER
REZEKI
OLEH
NAMA
NIM
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ternak sapi adalah
ternak ruminansia besar yang pada umumnya sudah dikenal oleh masyarakat karena
memiliki peran yang sangat penting, disamping sebagai salah satu ternak potong,
juga sumber pendapatan bagi pemiliknya. Ternak sapi merupakan salah satu sumber
daya penghasil bahan makanan berupa daging sebagai produk utama yang memiliki
nilai ekonomis yang tinggi dan penting bagi kehidupan masyarakat. Di samping
sebagai penghasil makanan yang bergizi yaitu daging, ternak sapi merupakan
penghasil pupuk organik.
Peternakan sapi merupakan salah satu peluang usaha yang
dapat dikembangkan di Desa
Purwodadi. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya lahan pengembalakan yang ada di sekitar desa
purwodadi dan semakin meningkatnya kebutuhan akan konsumsi
daging dari tahun ke tahun,
jumlah ternak yang ada di Desa desa Purwodadi kisaran 301 ekor ternak
ruminansia (sapi), yang terdiri dari 3 (tiga) kelompok tani (terak) yang berjumlah
192 ekor ternak sapi, dan 16 kandang milik pribadi berjumlah 109 ekor ternak
sapi.
Kelompok tani (ternak) Sumber Rezeki memiliki 106 ekor ternak sapi, yang
berada di kelompok tani sember rezeki sekarang berjumlah 62 ekor sapi, 7 ekor
sapi jantan dan 55 ekor sapi betina, Sisanya 44 ekor sapi d pelihara orang
laen. Rata-rata ternak sapi yang ada di desa purwodadi berasal dari kelompok
tani Sumber Rezeki, dan 2 (dua) kelompok tani yang ada di desa tersebut juga
binaan dari kelompok tani (ternak) Sumber Rezeki.
Peternakan sumber rezeki berdiri pada tahun 2009 dengan jumlah awal ternak
yang di pelihara 3 (tiga) ekor sapi, cara pemeliharaan sapi di Indonesia terbagi atas tiga yaitu intensif,
semi intensif dan ekstensif. cara intensif adalah cara pemeliharaan sapi yang dikandangkan terus-menerus dari pagi sampai
malam hari, pakan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke kandang
atau yang sering disebut dengan cara cut and carry. Cara seami
intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan pada siang hari dan pada
malam harinya sapi dimasukkan ke kandang, sedangkan cara ekstensif adalah cara pemeliharaan sapi di gembalakan atau di lepas pada suatu padang penggembalaan
yang luas dan di situ terdapat suatu tempat untuk sapi beristirahat, dan cara pemeliharaan yang di terapkan pada kelompok tani
(ternak) Sumber Rezeki mengunakan cara semi intensif.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience
ini adalah untuk mengetahui Tatalaksana Pemeliharaan ternak sapi bali di kelompok tani Sumber
Rejeki serta
mahasiswa juga dapat mengetahui kegiatan – kegiatan apa saja yang dilakukan di
peternakan tersebut.
1.3 Manfaat
Manfaat Farm Experience adalah agar
menambah pengetahuan atau wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa
mengenai Tata
Laksana Pengemukan Ternak Sapi Bali di
Peternakan Kelompok Tani Sumber Rejeki
Desa Purwodadi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1
Tempat dan Waktu
Farm Experience ini dilaksanakan
pada tanggal 22 Maret sampai 22 April 2014 yang
bertempat di Peternakan
Sumber
Rejeki Desa Purwodadi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjug Jabung Barat.
2.2
Prosedur Kerja
Materi
yang digunakan dalam Farm Experience terdiri dari 106 ekor sapi bali, 1 mesin
pencacah pelepah atau copper, 1 mesin pencampur atau mixer, 3 buah sapu lidi, 4
buah sekop, 2 buah gerobak sorong, selang air, obat-obatan, dan 2 buah mobil
L300. Mobil L300 disini digunakan untuk mencari dan mengangkut rumput. Di karenakan
sapi yang dipelihara cukup banyak, jadi harus menggunakan mobil sebagai alat
untuk mengangkut rumput.
Metode
yang digunakan dalam kegiatan Farm Experience adalah kegiatan seperti
pemeliharaan ternak sapi yang meliputi pembersihan kandang di pagi hari,
pembersihan tempat pakan dan minum, pemberian pakan dan minum. Pemberian pakan
dilakukan tiga kali sehari pada pagi hari, sore dan malam hari. Sedangkan air
minum diberikan secara ablibitum. Namun di peternakan Kelompok Tani ini sitem
pemeliharaannya semi intensif yakni sapi digembalakan 2 hari sekali, jadi kami
melakukan semua ini saat sapi di kandangkan saja. Tetapi saat sapi
digembalakan, hal yang kami lakukan adalah mengecek sapi di padang penggembaan
setiap pagi dan sore hari. Kami di tuntut untuk mengerti bagaimana mencari sapi
di padang penggembalaan, dikarenakan lahan yang digunakan adalah perkebunan
sawit dan lahannya sangat besar.
Setelah
itu untuk kesehatan dan penyakit ternak, hal yang penulis lakukan adalah
melakukan pengamatan dan pengobatan terhadap sapi yang menderita penyakit.
2.3 Anlisis Data
Data yang diambil
selama kegiatan magang di Farm Experience ini berasal dari data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada
Peternak
, serta anak kandang. Data primer yang diambil meliputi
jumlah ternak, serta perkandangan dengan mengamati tipe kandang. Sedangkan data
sekunder berasal dari recording atau catatan di peternakan
Sumber Rejeki, meliputi tahun
berdiri, asal ternak ,luas kandang, sturuktur organisasi dan fasilitas yang ada di peternakan.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum Peternakan
Kelompok
Tani Sumber Rezeki adalah kelompok tani yang berada di Desa Purwodadi,
Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jarak dari kota Jambi
adalah ± 150 Km,
dan luas wilayah ± 2 Ha, dengan rincian untuk wilayah padang
penggembalaannya yakni di lahan perkebunan sawit ± 2.000 Ha.
Sejarah
berdirinya Kelompok Tani Sumber Rezeki ini yakni pada tahun 2009 saat Pak Sukarno berhasil melakukan usaha integrasi
peternakan sapi bali dengan perkebunan sawit, hal ini dimulai ketika PT. Petro
Cina memberikan kepercayaan kepada Pak Sukarno untuk mengasuh dan mengurus 3
sapi kepada beliau, dan kini sapi tersebut mulai berkembang dengan pesat.
Setelah
melihat usaha di pengembangan sapi memiliki peluang yang menjanjikan, beliau
beserta kerabat dengan swadaya merintis usaha peternakan bersama dan dan
mendapat kepercayaan dari berbagai kalangan mulai dari kalangan pejabat, hingga
para pedagang, mulai dari wilayah sebrang hingga wilayah Ilir Tanjung Jabung
Barat.
Pada
akhir tahun 2010, beliau berinisiatif untuk mengepakkan sayap lebih lebar lagi
dan berdasarkan info dari dinas penyuluhan di bantu dengan PPL, beliau
mengajukan proposal binaan sapi ke Dinas Peternakan melalui dana APBN, dan tercapai
setahun setelahnya. Kini pak Sukarno memiliki Kelompok Tani yang diberi nama
Kelompok Tani Sumber Rezeki yang beranggotakan 17 orang yang mana pak Sukarno
sendiri menjadi ketuanya.
Di tahun
2013 ini, sapi bantuan dari dinas peternakan sebanyak 50 ekor yang terdiri dari
2 ekor sapi jantan dan 48 ekor sapi betina di diserahkan ke-17 anggotanya
sebanyak 47 ekor dan di pelihara oleh pak Sukarno sendiri sebanyak 3 ekor. Kini
sapi yang diserahkan kepada anggota kelompoknya sudah menetaskan anak sejumlah
38 ekor, dan diharapkan akan terus berkembang sesuai dengan keinginan. Ternyata
harapan itu tidak sia-sia, kini pada tahun 2014 jumlah keseluruhan populasi
sapi milik Pak Sukarno ada 106 ekor. Saat ini peternakan sapi Pak Sukarno telah
mendapatkan prestasi ditingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Peternakan Sumber Rezeki mendatangkan bakalan
dari Lampung dan pasar ternak, Jenis sapi yang dipelihara di peternakan Sumber Rezeki ini adalah sapi Bali. Sapi Bali
merupakan sapi potong asli Indonesia dan
merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng) yang dikemukakan oleh Hardjosubroto (1994).
Gambar 1. Nama
kelompok Tani (ternak)
Tatalaksana
pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam
keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar.
Tatalaksan pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang,
serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Santoso, 1997). Tata laksana pemeliharan Sapi Bali
di peternakan Sumber Rezeki
dilakukan secara semi intensif Cara seami
intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan pada siang hari dan pada
malam harinya sapi dimasukkan ke kandang.
Kelompok tani SUMBER REZEKI memiliki struktur
organisasi yang terdiri dari ketua,
sekertaris, bendahara dan anggota, yang dijelaskan dalam Bagan 1.
Sistem yang ada di Sumber Rezeki
mempunyai peranan yang sangat penting untuk kemajuan usaha yang tengah
berjalan.
KETUA SEKRETARIS BENDAHARA ANGGOTA (17 ORANG)
Struktur organisasi Sumber Rezeki
Keterangan
:
1. Ketua : Sukarno
2. Sekertaris : Jayus
3. Bendahara :
Suparjo
4. Anggota :
1. Prayitno 10.
Darman
2. Ngatman 11. Purwanto
3. Harsito 12.
Gianto
4. Biran 13. Wagiyo
5. Wagimin 14. Pitono
6. Supadi 15. Sunarto
7. Misradi 16. Sutopo
8. Agus Widoyo 17. Teguh Wibowo
9. Suyono
Di peternakan Sumber Rezeki mimiliki tenaga kerja yang berjumlah 3
orang, dimana 1 orang yaitu pak Sukarno
selaku pemilik dan sekaligus sebagai manajer, kemudian 2 orang sebagai petugas
pencari rumput dan megontrol sapi
yang di gembalakan.
Tugas dari masing-masing tenaga kerja berbeda-beda
sesuai dengan yang diberikan oleh pak Sukaro selaku pemilik peternakan. Petugas kandang setiap
harinya melaksanakan tugas mengontrol
sapi yang di gembalakan, memeriksa kesehatan ternak, mengobati ternak yang terserang penyakit dan
memberikan pakan yang berupa hijauan.
Tingkat pendidikan dari petugas kandang di
peternakan Sumber Rezeki
ini
beragam, dimulai dari SMP sampai tamatan SMA. Hal ini dapat dilihat bahwa
dengan pendidikan pola fikir mereka akan luas sehingga mereka mudah mengerti
tentang cara-cara memelihara ternak yang ada di peternakan Sumber Rezeki, hal ini didukung oleh
pendapat Reksohadiprojo (1985) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan
merupakan faktor pelancar dalam membangun peternakan, dan ditambahkan lagi oleh
Anonimous (1993) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu pelancar
dalam usaha pembangunan peternakan, karena dengan pendidikan yang cukup
peternak akan lebih mudah memepelajari suatu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan
bidang peternakan terutama dalam sistem pemeliharaan ternak sapi.
Tabel
1. Tingkat pendidikan Karyawan di Peternakan Sumber Rezeki
|
No |
Nama |
Pendidkan terakhir |
Umur
(tahun) |
|
1 |
Sukarno |
SMP |
44 |
|
2 |
Alif |
SMA |
29 |
|
3 |
Doni
|
SMA |
30 |
|
|
|
|
|
Sumber : Data Primer
Gambar 2. Kediaman Ketua Kelompok Tani Sumber
Rezeki
3.2 Pengalaman
Magang
Kegiatan farm Experience ini
dilakukan dari tanggal 22 Maret – 22 April 2014. Kegiatan dimulai dengan jadwal
kerja setiap hari jumat – minggu pada pukul 07.00 s/d pukul 17.00 WIB. Adapun
kegiatan yang dilakukan selama Farm Experince adalah sanitasi kandang, pembersiahan
kandang dimulai dari pembersihan balungan (tempat pakan dan minum) membuang
sisa – sisa pakan dalam balungan menggunakan sekop. Pembersihan tempat minum
dengan cara mengurasnya dan mengganti airnya dengan yang baru. Pembersihan
lingkungan dalam dan sekitar kandang dengan menggunakan sapu lidi dan sapu dari
pelepah sawit.
Pada saat sapi yang dipelihara
sedang berada di padang penggembalaan (lahan perkebunan sawit), maka kegiatan
yang kami lakukan adalah memeriksa sapi setiap pagi dan sore hari. Dikarenakan
lahan yang digunakan untuk penggembalaan adalah lahan yang dimiliki oleh
beberapa PT, maka kami diharuskan bisa membaca dan mengira-ngira kemana
sapi-sapi itu berada, yakni dengan menelusuri letak terakhir sapi itu berada
dan mengikuti jejak sapi yang masih baru.
Tabel 2. Jadwal rutin selama magang
|
No |
Pukul (WIB) |
Jenis kegiatan |
|
1 |
07.00-08.30 |
Mencari sapi yang di
gembalakan dan memeriksa kesehatan sapi |
|
2 |
08.30-12.30 |
Pencarian HMT di ladang rumput |
|
3 |
12.30-15.00 |
Istirahat |
|
4 |
16.30-17.30 |
mengontrol keberadaan sapi
dan megobati ternak bila ada yang sakit |
Gambar 3. Pengecekan Sapi di Padang
Penggembalaan
Gambar 4. Sapi berpindah tempat penggembalaan
3.3
Perkandangan
Di Kelompok Tani Sumber
Rezeki Desa Purwodadi, sistem perkandangan yang digunakan adalah kandang
koloni. Hal ini dikarenakan jumlah ternak yang pelihara cukup banyak dan dalam
penggunaannya kandang koloni lebih efisien dalam tenaga kerja, karena 1 orang
pegawai bisa memelihara 100-150 ekor ternak sapi.
Gambar 5. Bentuk Kandang Koloni
3.4
Cara
Pemeliharaan
Cara pemeliharaan ternak yang
diterapkan di Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Purwodadi ini termasuk sistem
pemeliharaan secara semi intensif, karena ternak dikandangkan, tetapi ternak
juga digembalakan selama 2 hari sekali. Sistem pemeliharaan merupakan salah
satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha
peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Menurut Pak Sukarno Ketua
Kelompok Tani Sumber Rezeki mengatakan bahwa Sapi Bali adalah sapi yang masih
termasuk keturunan banteng, jadi lebih bagus di gembalakan dari pada selalu di
kandangkan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat
Susetyo (1980) yang menyatakan bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik
adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi tidak digunakan
sebagai kerja dan ternak diberi makan dan minum di dalam kandang. Di tambahkan
Rasyaf, (1995) Sistem pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air
minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.
a.
Bibit
(Breeding)
Bibit ternak yang ada di Kelompok
Tani Sumber Rezeki dibeli dari sentra pembibitan ternak yaitu dari Provinsi
Lampung, dengan umur bibit yang dibeli 1-1,5 tahun. Jumlah ternak yang
dipelihara di Kelompok Tani Sumber Rezeki dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Populasi Sapi Bali di Peternakan Kelompok Tani Sumber Rezeki
|
NO
Kelompok Ternak |
Jenis Kelamin |
Jumlah |
|
Jantan Betina |
||
|
1. Dewasa
19
43 62 2. Remaja
12
21 33 3. Anak
4
7 11 |
||
Gambar 6. Ternak Pejantan di Kelompok Tani
Sumber Rezeki
Sapi Bali jantan pada dasarnya hampir sama dengan sapi Bali
betina, hanya saja sapi Bali jantan berwarna hitam dan memiliki tanduk yang tumbuh ke bagian
luar. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2002), menyatakan sapi Bali jantan
dan betina dilahirkan dengan warna bulu merah bata dengan garis hitam di
sepanjang punggung yang disebut dengan garis belut. Setelah dewasa warna sapi
Bali jantan berubah menjadi hitam, sedangkan sapi Bali betina tetap.
Gambar 7. Jenis sapi yang dipelihara di SUMBER REZEKI
b. Pakan (Feeding)
Pakan
merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh karena itu
pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Jenis Pakan yang diberikan pada ternak adalah
hasil olahan limbah pertanian yaitu pelepah sawit, BIS, onggok, dedak, molases,
garam.
Gambar 8. Sapi sedang makan
Hijauan yang diberikan untuk
ternak di Kelompok Tani Sumber Rezeki yaitu rumput raja, centrosema pubescens, Centrosema molle dan rumput Benggala.
Tetapi selama berada di padang penggembalaan, ternak bebas untuk memilih
hijauan pakan yang mereka sukai.
Gambar 9. Centrosema pubescens
Gambar 10. Centrosema molle
Selain hijauan, ternak juga di
beri konsentrat dan gilingan pelepah sawit. Menurut Elisabeth dan Ginting (2004) mengatakan bahwa untuk ternak
ruminansia pelepah sawit dapat digunakan sebagai bahan pengganti rumput,
sedangkan lumpur sawit dan bungkil inti sawit dapat digunakan sebagai bahan
sumber protein dengan kandungan protein masing-masing 14,5 % dan 16,3 %. Ditambahkan
Hassan dan Ishida (1992) bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan
sebagai bahan pakan ternak ruminansia, sebagai sumber pengganti hijauan atau
dapat dalam bentuk silase yang dikombinasikan dengan bahan lain atau konsentrat
sebagai bahan campuran dan tingkat kecernaan bahan kering pelepah sawit dapat
mencapai 45%.
Gambar 11. Proses Penggilingan Pelepah
Sawit
Gambar 12. Hasil Penggilingan Pelepah
Sawit
Gambar 13. Proses pencampuran Pelepah Sawit dengan Konsentrat
Gambar 14. Pencampuran Pelepah Sawit
dengan Konsentrat
Waktu pemberian pakan di
Kelompok Tani Sumber Rezeki ini adalah sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi
pukul 08.00 WIB, siang pukul 14.00 WIB dan malam pada pukul 22.00 WIB. Cara ini memiliki keuntungan pertambahan bobot badan
lebih bisa didapat. Waktu pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan
ternak, dilaporkan merupakan faktor utama rendahnya tingkat produktifitas
ternak didaerah tropis (Chen, 1990).
Beberapa
keuntungan dari pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit pada usaha peternakan
sapi adalah :
1.
Secara teknis bahan pakan ini mudah
didapat dan produksinya berkesinambungan.
2.
Secara ekonomi membantu peningkatan
pendapatan perkebunan.
3.
Membantu
pengawasan lingkungan serta mengurangi pencemaran.
4.
Menambah penyedian bahan pakan (Aritonang,
1986).
3.5
Pencegahan
dan Pengobatan Penyakit
Kesehatan
ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha
peternakan. Usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang
setiap hari. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Viviani
dan Nazarudin (1988), menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit
adalah melalui sanitasi lingkungan. Sastroamidjojo (1985), menyatakan bahwa pembersihan kandang dan
lingkungan sekitarnya adalah salah satu usaha sanitasi dalam usaha peternakan
agar ternak selalu dalam keadaan sehat. Kesehatan ternak salah satu faktor
penentu keberhasilan pemeliharaan ternak. Penyakit yang menyerang ternak
biasanya disebabkan oleh kandang yang kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan
yang kurang baik.
Penyakit yang sering menyerang
pada sapi di Kelompok Tani Sumber Rezeki yaitu
kurap, kurang nafsu makan, mencret, dan serangan caplak.
1. Kurap
Penyakit ini dikarenakan kurangnya
kebersihan pada tubuh ternak. Pengobatannya yaitu dengan cara menyuntikan
Hipomek. Teknik penggunaannya adalah dengan cara menyuntikkan di dalam kulit di
luar daging.
2. Penambah
Stamina
Tidak hanya manusia, sapi
juga memerlukan stamina untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari. Obat untuk
penambah stamina sapi adalah Biosolamine.
Gambar 15. Biosolamine
3. Mencret
Penyakit ini disebabkan oleh
hijauan yang masih sangat muda dan kandungan airnya masih terlalu banyak.
Pengobatan yang dilakukan adalah memberikan sari daun jambu. Daun jambu di
tumbuk, di campur dengan air dan diminumkan airnya.
4. Serangan
Caplak
Penyakit ini termasuk
penyakit dari luar. Jika serangan caplak sudah terlalu parah, maka akan
menyebabkan pendarahan pada ternak. Cara pengobatannya adalah kapur barus di
tambah tembakau di tambah minyak tanah, semua bahan di tumbuk kemudian di ambil
airnya dan di semprotkan pada daerah luka yang diserang caplak.
Gambar 16. Penyakit Caplak
Gambar 17. Penyemprotan Obat Caplak
Gambar 18. Penyakit Caplak yang sudah terlalu
parah
Gambar 19. Penyakit Caplak yang sudah terlalu
parah sesudah pengobatan
Selain cara pengobatan di
atas, penulis juga mendapat ilmu baru dari peternak si Kelompok Tani Sumber
Rezeki, yaitu :
1.
Merangsang
Sapi Makan
Caranya
adalah garam, daun kates, dan tempe busuk ditumbuk kemudian diambil airnya.
Airnya diminumkan kepada sapi.
2.
Mempercepat
pengeluaran Ari-ari sapi Setelah melahirkan
Cara
yang dilakukan jika setelah ternak melahirkan dan untuk mempercepat keluarnya
ari-ari, maka ternak diberikan pakan berupa daun randu dan daun jambu.
Gambar 20. Daun Jambu
Gambar 21. Daun Randu
3.
Cara
Melancarkan Asi Pada Sapi
Cara peternak di Kelompok
Tani Sumber Rezeki jika ternaknya setelah melahirkan dan untuk melancarkan asi sapi,
maka peternak memberikan pakan berupa daun turi.
Gambar 22. Daun Turi
BAB
IV
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Dari kegiatan Farm Experience
di Kelompok Tani Sumber Rezeki dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan yang
diterapkan di Kelompok Tani ini adalah Semi Intensif, karena ternak
dikandangkan dan kadang juga di gembalakan. Pakan yang di berikan adalah pakan yang berasal
hijauan. Cara pemeliharaan ini sudah cukup bagus, hal ini bisa dilihat dari
peforma bobot badan ternak-ternak yang dipelihara, hampir semua memiliki
proporsi tubuh yang besar dan memiliki PBB yang cukup bagus.
4.2. Saran
Saran
saya untuk para peternak pada Kelompok Tani Sumber Rezeki adalah saat sapi
berada dipadang penggembalaan usahakan untuk selalu mengecek keadaaan tubuh sapi
dengan cara membersihkan caplak-caplak agar dapat menjaga kesehatan ternak dan
kenyamanan ternak saat mencari makan dipadang penggembalaan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,
2002. Bentuk
Sapi bali. Agromedia Pustaka.
Jakarta.
Anonimus. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian.
Jambi.
Aritonang. 1986. Analisis biaya pakan dan performa sapi potong local pada ransum
hijauan tinggi yang disuplementasi ekstrak lerak (Sapindusrarak).Skripsi S1.
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Chen.1990. Penggemukan Sapi
Potong. Agro media Pustaka.Jakarta.
Elisabeth dan Ginting. 2004. Pola
reproduksi induk sapi Bali di lahan kering dikaitkan dengan musim, ketersediaan
pakan dan pemasarannya. Prosiding Seminar Nasional Optimalisasi Teknologi
Kreatif dan Peran Stakeholder dalam Percepatan Adopsi Inovasi Teknologi
Pertanian, Denpasar 28 September 2005. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian. Bogor.
Hardjosubroto. 1994.
Aplikasi Pemuliabiakan Ternakdi Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia,
Jakarta.
Hasan dan Ishadi. 1992. Laporan
Akhir Pengkajian Integrasi Ternak dengan Sayuran di Daerah Dataran Tinggi
Kering Beriklim Basah. BPTP Denpasar.
Rasyaf.
1995. Pemberian pakan dan pemeliharaan ternak kerja. Makalah dalam
pertemuan
Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1995.
Reksohadiprodjo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah
Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Santosa,
2002. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Cetakan I. Penebar Swadaya.
Jakarta
Sastroamidjojo. 1985. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.
Susetyo.
1980. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Penggemukan Sapi Potong. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Viviani dan Nazarudin. 1988. Petunjuk Beternak Sapi Potong dan kerja. Cetakan ke-2.
Yogyakarta: Yayasan Kanisius 1988.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar