Jumat, 29 Mei 2020

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI KELOMPOK TANI SUMBER REZEKI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )

LAPORAN

FARM EXPERIENCE

 

 

TATA LAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI

 DI KELOMPOK TANI SUMBER REZEKI

 

 

 

 

 

 

OLEH

NAMA

NIM

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2014

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ternak sapi adalah ternak ruminansia besar yang pada umumnya sudah dikenal oleh masyarakat karena memiliki peran yang sangat penting, disamping sebagai salah satu ternak potong, juga sumber pendapatan bagi pemiliknya. Ternak sapi merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging sebagai produk utama yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan penting bagi kehidupan masyarakat. Di samping sebagai penghasil makanan yang bergizi yaitu daging, ternak sapi merupakan penghasil pupuk organik.

Peternakan sapi merupakan salah satu peluang usaha yang dapat dikembangkan di Desa Purwodadi. Hal ini dilatarbelakangi oleh banyaknya lahan pengembalakan yang ada di sekitar desa purwodadi dan semakin meningkatnya kebutuhan akan konsumsi daging dari tahun ke tahun, jumlah ternak yang ada di Desa desa Purwodadi kisaran 301 ekor ternak ruminansia (sapi), yang terdiri dari 3 (tiga) kelompok tani (terak) yang berjumlah 192 ekor ternak sapi, dan 16 kandang milik pribadi berjumlah 109 ekor ternak sapi.

Kelompok tani (ternak) Sumber Rezeki memiliki 106 ekor ternak sapi, yang berada di kelompok tani sember rezeki sekarang berjumlah 62 ekor sapi, 7 ekor sapi jantan dan 55 ekor sapi betina, Sisanya 44 ekor sapi d pelihara orang laen. Rata-rata ternak sapi yang ada di desa purwodadi berasal dari kelompok tani Sumber Rezeki, dan 2 (dua) kelompok tani yang ada di desa tersebut juga binaan dari kelompok tani (ternak) Sumber Rezeki.

Peternakan sumber rezeki berdiri pada tahun 2009 dengan jumlah awal ternak yang di pelihara 3 (tiga) ekor sapi, cara pemeliharaan sapi di Indonesia terbagi atas tiga yaitu intensif, semi intensif dan ekstensif. cara intensif adalah cara pemeliharaan sapi yang dikandangkan terus-menerus dari pagi sampai malam hari, pakan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke kandang atau yang sering disebut dengan cara cut and carry. Cara seami intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan pada siang hari dan pada malam harinya sapi dimasukkan ke kandang, sedangkan cara ekstensif adalah cara pemeliharaan sapi di gembalakan  atau di lepas pada suatu padang penggembalaan yang luas dan di situ terdapat suatu tempat untuk sapi beristirahat, dan cara pemeliharaan yang di terapkan pada kelompok tani (ternak) Sumber Rezeki mengunakan cara semi intensif.

 

1.2  Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience ini adalah untuk mengetahui Tatalaksana Pemeliharaan ternak sapi bali di kelompok tani Sumber Rejeki serta mahasiswa juga dapat mengetahui kegiatan – kegiatan apa saja yang dilakukan di peternakan tersebut.

 

1.3  Manfaat

Manfaat Farm Experience adalah agar menambah pengetahuan atau wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa mengenai Tata Laksana Pengemukan  Ternak Sapi Bali di Peternakan  Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Purwodadi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROSEDUR KERJA

 

2.1 Tempat dan Waktu

Farm Experience ini dilaksanakan pada tanggal 22 Maret sampai 22  April 2014 yang bertempat di Peternakan Sumber Rejeki Desa Purwodadi Kecamatan Tebing Tinggi Kabupaten Tanjug Jabung Barat.

 

2.2 Prosedur Kerja

Materi yang digunakan dalam Farm Experience terdiri dari 106 ekor sapi bali, 1 mesin pencacah pelepah atau copper, 1 mesin pencampur atau mixer, 3 buah sapu lidi, 4 buah sekop, 2 buah gerobak sorong, selang air, obat-obatan, dan 2 buah mobil L300. Mobil L300 disini digunakan untuk mencari dan mengangkut rumput. Di karenakan sapi yang dipelihara cukup banyak, jadi harus menggunakan mobil sebagai alat untuk mengangkut rumput.

Metode yang digunakan dalam kegiatan Farm Experience adalah kegiatan seperti pemeliharaan ternak sapi yang meliputi pembersihan kandang di pagi hari, pembersihan tempat pakan dan minum, pemberian pakan dan minum. Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari pada pagi hari, sore dan malam hari. Sedangkan air minum diberikan secara ablibitum. Namun di peternakan Kelompok Tani ini sitem pemeliharaannya semi intensif yakni sapi digembalakan 2 hari sekali, jadi kami melakukan semua ini saat sapi di kandangkan saja. Tetapi saat sapi digembalakan, hal yang kami lakukan adalah mengecek sapi di padang penggembaan setiap pagi dan sore hari. Kami di tuntut untuk mengerti bagaimana mencari sapi di padang penggembalaan, dikarenakan lahan yang digunakan adalah perkebunan sawit dan lahannya sangat besar.

Setelah itu untuk kesehatan dan penyakit ternak, hal yang penulis lakukan adalah melakukan pengamatan dan pengobatan terhadap sapi yang menderita penyakit.

 

2.3 Anlisis Data

Data yang diambil selama kegiatan magang di Farm Experience ini berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada Peternak , serta anak kandang. Data primer yang diambil meliputi jumlah ternak, serta perkandangan dengan mengamati tipe kandang. Sedangkan data sekunder berasal dari recording atau catatan di peternakan Sumber Rejeki, meliputi tahun berdiri, asal ternak ,luas kandang, sturuktur organisasi dan fasilitas yang ada di peternakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. Kondisi Umum Peternakan

Kelompok Tani Sumber Rezeki adalah kelompok tani yang berada di Desa Purwodadi, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jarak dari kota Jambi adalah ± 150 Km, dan luas wilayah ± 2 Ha, dengan rincian untuk wilayah padang penggembalaannya yakni di lahan perkebunan sawit ± 2.000 Ha.

Sejarah berdirinya Kelompok Tani Sumber Rezeki ini yakni pada tahun 2009 saat Pak Sukarno berhasil melakukan usaha integrasi peternakan sapi bali dengan perkebunan sawit, hal ini dimulai ketika PT. Petro Cina memberikan kepercayaan kepada Pak Sukarno untuk mengasuh dan mengurus 3 sapi kepada beliau, dan kini sapi tersebut mulai berkembang dengan pesat.

Setelah melihat usaha di pengembangan sapi memiliki peluang yang menjanjikan, beliau beserta kerabat dengan swadaya merintis usaha peternakan bersama dan dan mendapat kepercayaan dari berbagai kalangan mulai dari kalangan pejabat, hingga para pedagang, mulai dari wilayah sebrang hingga wilayah Ilir Tanjung Jabung Barat.

Pada akhir tahun 2010, beliau berinisiatif untuk mengepakkan sayap lebih lebar lagi dan berdasarkan info dari dinas penyuluhan di bantu dengan PPL, beliau mengajukan proposal binaan sapi ke Dinas Peternakan melalui dana APBN, dan tercapai setahun setelahnya. Kini pak Sukarno memiliki Kelompok Tani yang diberi nama Kelompok Tani Sumber Rezeki yang beranggotakan 17 orang yang mana pak Sukarno sendiri menjadi ketuanya.

Di tahun 2013 ini, sapi bantuan dari dinas peternakan sebanyak 50 ekor yang terdiri dari 2 ekor sapi jantan dan 48 ekor sapi betina di diserahkan ke-17 anggotanya sebanyak 47 ekor dan di pelihara oleh pak Sukarno sendiri sebanyak 3 ekor. Kini sapi yang diserahkan kepada anggota kelompoknya sudah menetaskan anak sejumlah 38 ekor, dan diharapkan akan terus berkembang sesuai dengan keinginan. Ternyata harapan itu tidak sia-sia, kini pada tahun 2014 jumlah keseluruhan populasi sapi milik Pak Sukarno ada 106 ekor. Saat ini peternakan sapi Pak Sukarno telah mendapatkan prestasi ditingkat kabupaten, provinsi maupun nasional. Peternakan Sumber Rezeki mendatangkan bakalan dari Lampung dan pasar ternak, Jenis sapi yang dipelihara di peternakan Sumber Rezeki ini adalah sapi Bali. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng) yang dikemukakan oleh Hardjosubroto (1994).

Gambar 1. Nama kelompok Tani (ternak)

 

Tatalaksana pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Tatalaksan pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Santoso, 1997). Tata laksana pemeliharan Sapi Bali di peternakan Sumber Rezeki dilakukan secara semi intensif  Cara seami intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan pada siang hari dan pada malam harinya sapi dimasukkan ke kandang.

Kelompok tani SUMBER REZEKI memiliki struktur organisasi yang terdiri dari ketua, sekertaris, bendahara dan anggota, yang dijelaskan dalam Bagan 1. Sistem yang ada di Sumber Rezeki mempunyai peranan yang sangat penting untuk kemajuan usaha yang tengah berjalan.

 

 

 

 

 

 

KETUA

SEKRETARIS

BENDAHARA

ANGGOTA

(17 ORANG)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Struktur  organisasi Sumber Rezeki

Keterangan :

1.     Ketua               : Sukarno

2.     Sekertaris         : Jayus

3.     Bendahara        : Suparjo

4.     Anggota           : 1. Prayitno                           10. Darman

2. Ngatman                         11. Purwanto

3. Harsito                            12. Gianto

4. Biran                               13. Wagiyo

5. Wagimin                         14. Pitono

6. Supadi                             15. Sunarto

7. Misradi                           16. Sutopo

8. Agus Widoyo                  17. Teguh Wibowo

9. Suyono

 

Di peternakan Sumber Rezeki mimiliki tenaga kerja yang berjumlah 3 orang, dimana 1 orang yaitu pak Sukarno selaku pemilik dan sekaligus sebagai manajer, kemudian 2 orang sebagai petugas pencari rumput dan megontrol sapi yang di gembalakan.

Tugas dari masing-masing tenaga kerja berbeda-beda sesuai dengan yang diberikan oleh pak Sukaro selaku pemilik peternakan. Petugas kandang setiap harinya melaksanakan tugas mengontrol sapi yang di gembalakan, memeriksa kesehatan ternak, mengobati ternak yang terserang penyakit dan memberikan pakan yang berupa hijauan.

Tingkat pendidikan dari petugas kandang di peternakan Sumber Rezeki ini beragam, dimulai dari SMP sampai tamatan SMA. Hal ini dapat dilihat bahwa dengan pendidikan pola fikir mereka akan luas sehingga mereka mudah mengerti tentang cara-cara memelihara ternak yang ada di peternakan Sumber Rezeki, hal ini didukung oleh pendapat Reksohadiprojo (1985) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor pelancar dalam membangun peternakan, dan ditambahkan lagi oleh Anonimous (1993) yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu pelancar dalam usaha pembangunan peternakan, karena dengan pendidikan yang cukup peternak akan lebih mudah memepelajari suatu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bidang peternakan terutama dalam sistem pemeliharaan ternak sapi.

 

Tabel 1. Tingkat pendidikan Karyawan di Peternakan Sumber Rezeki

No

Nama

Pendidkan terakhir

Umur (tahun)

1

Sukarno

SMP

44

2

Alif

SMA

29

3

Doni

SMA

30

 

 

 

 

 Sumber : Data Primer

 

Gambar 2. Kediaman Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki

3.2       Pengalaman Magang

Kegiatan farm Experience ini dilakukan dari tanggal 22 Maret – 22 April 2014. Kegiatan dimulai dengan jadwal kerja setiap hari jumat – minggu pada pukul 07.00 s/d pukul 17.00 WIB. Adapun kegiatan yang dilakukan selama Farm Experince adalah sanitasi kandang, pembersiahan kandang dimulai dari pembersihan balungan (tempat pakan dan minum) membuang sisa – sisa pakan dalam balungan menggunakan sekop. Pembersihan tempat minum dengan cara mengurasnya dan mengganti airnya dengan yang baru. Pembersihan lingkungan dalam dan sekitar kandang dengan menggunakan sapu lidi dan sapu dari pelepah sawit.

Pada saat sapi yang dipelihara sedang berada di padang penggembalaan (lahan perkebunan sawit), maka kegiatan yang kami lakukan adalah memeriksa sapi setiap pagi dan sore hari. Dikarenakan lahan yang digunakan untuk penggembalaan adalah lahan yang dimiliki oleh beberapa PT, maka kami diharuskan bisa membaca dan mengira-ngira kemana sapi-sapi itu berada, yakni dengan menelusuri letak terakhir sapi itu berada dan mengikuti jejak sapi yang masih baru.

 

Tabel 2. Jadwal rutin selama magang

 

No

Pukul (WIB)

Jenis kegiatan

1

07.00-08.30

Mencari sapi yang di gembalakan dan memeriksa kesehatan sapi

2

08.30-12.30

Pencarian HMT di ladang rumput

3

12.30-15.00

Istirahat

4

16.30-17.30

mengontrol keberadaan sapi dan megobati ternak bila ada yang sakit

           

 

Gambar 3. Pengecekan Sapi di Padang Penggembalaan

 

Gambar 4. Sapi berpindah tempat penggembalaan

 

3.3    Perkandangan

Di Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Purwodadi, sistem perkandangan yang digunakan adalah kandang koloni. Hal ini dikarenakan jumlah ternak yang pelihara cukup banyak dan dalam penggunaannya kandang koloni lebih efisien dalam tenaga kerja, karena 1 orang pegawai bisa memelihara 100-150 ekor ternak sapi.

Gambar 5. Bentuk Kandang Koloni

 

3.4       Cara Pemeliharaan

Cara pemeliharaan ternak yang diterapkan di Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Purwodadi ini termasuk sistem pemeliharaan secara semi intensif, karena ternak dikandangkan, tetapi ternak juga digembalakan selama 2 hari sekali. Sistem pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Menurut Pak Sukarno Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki mengatakan bahwa Sapi Bali adalah sapi yang masih termasuk keturunan banteng, jadi lebih bagus di gembalakan dari pada selalu di kandangkan. Pendapat ini bertentangan dengan pendapat Susetyo (1980) yang menyatakan bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi tidak digunakan sebagai kerja dan ternak diberi makan dan minum di dalam kandang. Di tambahkan Rasyaf, (1995) Sistem pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit.

 

a.   Bibit (Breeding)

Bibit ternak yang ada di Kelompok Tani Sumber Rezeki dibeli dari sentra pembibitan ternak yaitu dari Provinsi Lampung, dengan umur bibit yang dibeli 1-1,5 tahun. Jumlah ternak yang dipelihara di Kelompok Tani Sumber Rezeki dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tabel 3. Populasi Sapi Bali di Peternakan Kelompok Tani Sumber Rezeki

NO       Kelompok Ternak

Jenis Kelamin

Jumlah

Jantan                 Betina

                                                   (Ekor)

1.     Dewasa                                         19                        43                    62

2.     Remaja                                         12                        21                    33

3.     Anak                                             4                          7                      11

 

Gambar 6. Ternak Pejantan di Kelompok Tani Sumber Rezeki

 

Sapi Bali jantan pada dasarnya hampir sama dengan sapi Bali betina, hanya saja sapi Bali jantan berwarna hitam dan memiliki tanduk yang tumbuh ke bagian luar. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2002), menyatakan sapi Bali jantan dan betina dilahirkan dengan warna bulu merah bata dengan garis hitam di sepanjang punggung yang disebut dengan garis belut. Setelah dewasa warna sapi Bali jantan berubah menjadi hitam, sedangkan sapi Bali betina tetap.

Gambar 7.  Jenis sapi yang dipelihara di SUMBER REZEKI

 

b.     Pakan (Feeding)

Pakan merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh karena itu pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Jenis Pakan yang diberikan pada ternak adalah hasil olahan limbah pertanian yaitu pelepah sawit, BIS, onggok, dedak, molases, garam.

Gambar 8. Sapi sedang makan

Hijauan yang diberikan untuk ternak di Kelompok Tani Sumber Rezeki yaitu rumput raja, centrosema pubescens, Centrosema molle dan rumput Benggala. Tetapi selama berada di padang penggembalaan, ternak bebas untuk memilih hijauan pakan yang mereka sukai.

 

Gambar 9. Centrosema pubescens

 

Gambar 10. Centrosema molle

 

Selain hijauan, ternak juga di beri konsentrat dan gilingan pelepah sawit. Menurut Elisabeth dan Ginting (2004) mengatakan bahwa untuk ternak ruminansia pelepah sawit dapat digunakan sebagai bahan pengganti rumput, sedangkan lumpur sawit dan bungkil inti sawit dapat digunakan sebagai bahan sumber protein dengan kandungan protein masing-masing 14,5 % dan 16,3 %. Ditambahkan Hassan dan Ishida (1992) bahwa pelepah kelapa sawit dapat dipergunakan sebagai bahan pakan ternak ruminansia, sebagai sumber pengganti hijauan atau dapat dalam bentuk silase yang dikombinasikan dengan bahan lain atau konsentrat sebagai bahan campuran dan tingkat kecernaan bahan kering pelepah sawit dapat mencapai 45%.

 

Gambar 11. Proses Penggilingan Pelepah Sawit

 

Gambar 12. Hasil Penggilingan Pelepah Sawit

Gambar 13. Proses pencampuran Pelepah Sawit dengan Konsentrat

 

Gambar 14. Pencampuran Pelepah Sawit dengan Konsentrat

 

Waktu pemberian pakan di Kelompok Tani Sumber Rezeki ini adalah sebanyak 3 kali sehari, yaitu pada pagi pukul 08.00 WIB, siang pukul 14.00 WIB dan malam pada pukul 22.00 WIB. Cara ini memiliki keuntungan pertambahan bobot badan lebih bisa didapat. Waktu pemberian pakan yang belum sesuai dengan kebutuhan ternak, dilaporkan merupakan faktor utama rendahnya tingkat produktifitas ternak didaerah tropis (Chen, 1990).

Beberapa keuntungan dari pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit pada usaha peternakan sapi adalah :

1.     Secara teknis bahan pakan ini mudah didapat dan produksinya berkesinambungan.

2.     Secara ekonomi membantu peningkatan pendapatan perkebunan.

3.      Membantu pengawasan lingkungan serta mengurangi pencemaran.

4.     Menambah penyedian bahan pakan (Aritonang, 1986).

 

3.5     Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang setiap hari. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Viviani dan Nazarudin (1988), menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi lingkungan. Sastroamidjojo (1985), menyatakan bahwa pembersihan kandang dan lingkungan sekitarnya adalah salah satu usaha sanitasi dalam usaha peternakan agar ternak selalu dalam keadaan sehat. Kesehatan ternak salah satu faktor penentu keberhasilan pemeliharaan ternak. Penyakit yang menyerang ternak biasanya disebabkan oleh kandang yang kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan yang kurang baik.

Penyakit yang sering menyerang pada sapi di Kelompok Tani Sumber Rezeki yaitu kurap, kurang nafsu makan, mencret, dan serangan caplak.

 

1.       Kurap

Penyakit ini dikarenakan kurangnya kebersihan pada tubuh ternak. Pengobatannya yaitu dengan cara menyuntikan Hipomek. Teknik penggunaannya adalah dengan cara menyuntikkan di dalam kulit di luar daging.

 

2.       Penambah Stamina

Tidak hanya manusia, sapi juga memerlukan stamina untuk melakukan aktivitasnya sehari-hari. Obat untuk penambah stamina sapi adalah Biosolamine.

Gambar 15. Biosolamine

 

3.       Mencret

Penyakit ini disebabkan oleh hijauan yang masih sangat muda dan kandungan airnya masih terlalu banyak. Pengobatan yang dilakukan adalah memberikan sari daun jambu. Daun jambu di tumbuk, di campur dengan air dan diminumkan airnya.

 

 

 

4.       Serangan Caplak

Penyakit ini termasuk penyakit dari luar. Jika serangan caplak sudah terlalu parah, maka akan menyebabkan pendarahan pada ternak. Cara pengobatannya adalah kapur barus di tambah tembakau di tambah minyak tanah, semua bahan di tumbuk kemudian di ambil airnya dan di semprotkan pada daerah luka yang diserang caplak.

 

Gambar 16. Penyakit Caplak

 

Gambar 17. Penyemprotan Obat Caplak

Gambar 18. Penyakit Caplak yang sudah terlalu parah

 

Gambar 19. Penyakit Caplak yang sudah terlalu parah sesudah pengobatan

 

Selain cara pengobatan di atas, penulis juga mendapat ilmu baru dari peternak si Kelompok Tani Sumber Rezeki, yaitu :

 

1.       Merangsang Sapi Makan

Caranya adalah garam, daun kates, dan tempe busuk ditumbuk kemudian diambil airnya. Airnya diminumkan kepada sapi.

 

 

 

2.       Mempercepat pengeluaran Ari-ari sapi Setelah melahirkan

Cara yang dilakukan jika setelah ternak melahirkan dan untuk mempercepat keluarnya ari-ari, maka ternak diberikan pakan berupa daun randu dan daun jambu.

Gambar 20. Daun Jambu

 

Gambar 21. Daun Randu

 

 

 

 

 

 

 

3.       Cara Melancarkan Asi Pada Sapi

Cara peternak di Kelompok Tani Sumber Rezeki jika ternaknya setelah melahirkan dan untuk melancarkan asi sapi, maka peternak memberikan pakan berupa daun turi.

 

Gambar 22. Daun Turi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.   Kesimpulan

Dari kegiatan Farm Experience di Kelompok Tani Sumber Rezeki dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan yang diterapkan di Kelompok Tani ini adalah Semi Intensif, karena ternak dikandangkan dan kadang juga di gembalakan. Pakan yang di berikan adalah pakan yang berasal hijauan. Cara pemeliharaan ini sudah cukup bagus, hal ini bisa dilihat dari peforma bobot badan ternak-ternak yang dipelihara, hampir semua memiliki proporsi tubuh yang besar dan memiliki PBB yang cukup bagus.

 

4.2.   Saran

Saran saya untuk para peternak pada Kelompok Tani Sumber Rezeki adalah saat sapi berada dipadang penggembalaan usahakan untuk selalu mengecek keadaaan tubuh sapi dengan cara membersihkan caplak-caplak agar dapat menjaga kesehatan ternak dan kenyamanan ternak saat mencari makan dipadang penggembalaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidin, 2002. Bentuk Sapi bali. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Anonimus. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.

Aritonang. 1986. Analisis biaya pakan dan performa sapi potong local pada ransum hijauan tinggi yang disuplementasi ekstrak lerak (Sapindusrarak).Skripsi S1. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Chen.1990. Penggemukan Sapi Potong. Agro media Pustaka.Jakarta.

Elisabeth dan Ginting. 2004. Pola reproduksi induk sapi Bali di lahan kering dikaitkan dengan musim, ketersediaan pakan dan pemasarannya. Prosiding Seminar Nasional Optimalisasi Teknologi Kreatif dan Peran Stakeholder dalam Percepatan Adopsi Inovasi Teknologi Pertanian, Denpasar 28 September 2005. Pusat Analisis Sosial  Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

 

Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternakdi Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

 

Hasan dan Ishadi. 1992. Laporan Akhir Pengkajian Integrasi Ternak dengan Sayuran di Daerah Dataran Tinggi Kering Beriklim Basah. BPTP  Denpasar.

 

Rasyaf. 1995. Pemberian pakan dan pemeliharaan ternak kerja. Makalah dalam

pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1995.

Reksohadiprodjo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.

Santosa, 2002. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Cetakan I. Penebar Swadaya. Jakarta

Sastroamidjojo. 1985. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.

 

Susetyo. 1980. Kiat Mengatasi Permasalahan Praktis Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta. 

Viviani dan Nazarudin. 1988. Petunjuk Beternak Sapi Potong dan kerja. Cetakan ke-2. Yogyakarta: Yayasan Kanisius 1988.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar