LAPORAN
FARM EXPERIENCE
TATALAKSANA
PEMELIHARAAN TERNAK SAPI SIMENTAL DI PETERNAKAN MORO SENENG
KELURAHAN KENALI
BESAR
KECAMATAN
KOTABARU
OLEH
NAMA
NIM

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu
sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis
tinggi dan penting artinya di dalam
kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan
berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging,
disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain
sebagainya. Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein
hewani.
Hasil daging yang dapat diperoleh sangat berhubungan dengan
penyebaran populasi ternak pada suatu daerah. Lebih mendukung lagi apabila
pengolahan ataupun pemeliharaan yang dilakukan secara modern. Namun
pemeliharaan yang dilakukan masih jauh dari modrenisasi. Ternak sapi potong di
Indonesia sebagian besar dipelihara dengan cara semi intensif dan terkesan
masih bersifat tradisional. Sapi dipelihara sebagai usaha sampingan dengan
usaha pokok adalah bertani.
Sapi Simmental merupakan salah satu bangsa sapi potong yang
mempunyai pertumbuhan cepat. Sapi jenis
ini merupakan sapi dwiguna, yaitu sapi yang menghasilkan susu dan daging.
Secara morfologi, Sapi Simmental memiliki cirri fisik tidak berpunuk dan tidak
bergelambir. Warna bulunya cokelat kemerahan (merah bata). Bagian wajah dan
lutut ke bawah sampai ujung ekor berwarna putih. Betina dewasa dapat mencapai
800 kg, sedangkan pejantan dewasa mencapai berat sekitar 1150 kg. Berdasarkan
keunggulan tersebut, banyak peternak di Indonesia yang memelihara Sapi
Simmental untuk memenuhi tingginya kebutuhan daging sapi untuk masyarakat.
Bibit Sapi Simmental yang unggul dapat diperoleh dengan melakukan program
pemuliabiakan ternak melalui Inseminasi Buatan (IB). Menurut Toelihere (1993),
teknologi IB dapat mempercepat perkembangan populasi dan meningkatkan mutu
genetik ternak.
1.2. Tujuan
Tujuan yang ingin diperoleh dari Farm Experience ini adalah
untuk mengetahui
Tatalaksana
Pemeliharaan Ternak Sapi Simental Di Peternakan Moro Seneng Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru.
1.3. Manfaat
Manfaat dari Farm Experience ini adalah untuk menambah
wawasan, pengalaman serta dapat mengetahui bagaimana Tatalaksana Pemeliharaan
Ternak Sapi Simental Di Peternakan Moro Seneng
Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru.
BAB
II
PROSEDUR
KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
Farm experience ini dilaksanakan di Peternakan
Moro Seneng kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru tanggal 20 Maret sampai dengan tanggal 19 April 2015.
2.2. Prosedur Kerja
Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah
15 ekor sapi Simental, terdiri dari 2 ekor sapi Simental betina
dan 13 ekor sapi Simental jantan, 4 buah sekop, 3 buah sorong, 15 buah ember, 8 buah drum, 4 buah sapu lidi, selang air
untuk menyalurkan air minum dan memandikan sapi, 3 buah garukan dari kayu, 8
buah karung beras, rumput dan konsentrat, rumput terdiri dari rumput lapang,
rumput kumpeh, dan rumput gajah, konsentrat terdiri dari dedak, ampas tahu dan
garam sebagai tambahan
mineral.
Metode
yang digunakan dalam Farm Experience adalah terlibat langsung dalam usaha
pemeliharaan ternak yang meliputi Pemeliharaan
ternak sapi, pembersihan kandang di pagi dan sore hari dengan menggunakan
sekop. Pemberian pakan hijauan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore.
Pemberian konsentrat pada siang hari. Sedangkan
pemberian air minum dilakukan satu kali sehari pada sore hari.
2.3. Analisis
Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola
ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan
dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi,
tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode
deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang
diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi
magang.
BAB
III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Keadaan Umum
Lokasi Peternakan
Peternakan Moro Seneng ini dengan nama pemilik Satiman, yang
mendirikan usahannya pada tahun 2002 di Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota
Baru Jambi Lorong Sidodadi dengan luas ± 1.000 m². Pada awalnya usaha
peternakan Pak Satiman ini beralamat di JL. Gelincing RT 22 Telanaipura dimulai
pada tahun 1991 dengan memelihara 5 ekor sapi dan ternyata usaha ini membuahkan
hasil dan populasi sapi terus meningkat menjadi 229 ekor pada tahun 2007,
sehingga pemilik berpindah lokasi yang lebih luas dari sebelumnya.
Peternakan Moro Seneng
ini berlokasi di samping rumah dengan jarak lebih kurang 4 meter dari rumah
petugas kandang. Hal ini bertentangan dengan pendapat Sumoprastowo ( 1980 ),
bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu
dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan
tempat air minum disediakan apabila ternak diberi minum. Saluran pembuangan
limbah tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar.
Peternakan Moro Seneng
bertujuan sebagai mata pencaharian utama bagi pemiliknya dan bisa memenuhi
kebutuhan masyarakat akan proteinnya. Sapi merupakan penghasil daging utama di
Indonesia. Konsumsi daging sapi mencapai 19 persen dari jumlah konsumsi daging
Nasional (Dirjen Peternakan,2009). Konsumsi daging sapi cenderung meningkat
dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 mencapai 4,1 kg/ kapita/tahun meningkat
menjadi 5,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2007.
3.2. Tatalaksana Pemeliharaan
Keadaan Umum Petugas
Kandang
Tugas dari masing-masing tenaga
kerja berbeda-beda sesuai dengan yang diberikan oleh Pak Satiman selaku pemilik
peternakan. Petugas kandang setiap harinya melaksanakan tugas memebersihkan
kandang, memandikan ternak, mencari dan mengambil rumput untuk ternak,
memberikan air minum dan memberikan pakan yang berupa hijauan dan konsentrat.
Peternakan Pak Satiman memiliki tenaga kerja yang berjumlah 5 orang, dimana
tenaga kerja yang bertugas di kandang 1 orang, 3 orang mencari rumput dan 1
orang sebagai sopir yang membawa sapi kepeternak rakyat dan mengantar sapi ke
tempat pembeli.
Peternakan Moro Seneng mempunyai 5 orang pegawai seperti pada Tabel
1 dibawah ini ;
Tabel
1. Pegawai Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia
|
No |
Nama |
Pendidikan |
Pekerjaaan |
|
1. |
Masmin
|
SMP |
Pegawai
kandang |
|
2. |
Sasmadi |
SMP |
Sopir
mobil |
|
3. |
Tri
hidayat |
SMP |
Pegawai
mencari rumput |
|
4. |
Fredi |
SMP |
Pegawai
mencari rumput |
|
5. |
Tejo |
SMA |
Pegawai
mencari rumput |
Sumber : Data Primer 2015
Tingkat pendidikan dari pegawai kandang yang ada di
peternakan milik Pak Satiman ini beragam, di mulai dari SMP sampai tamatan SMA (dapat
dilihat dari table 1.). hal ini dapat dilihat bahwa dengan pendidikan pola
fikir mereka akan luas sehingga mereka mudah mengerti tentang cara-cara
memelihara ternak yang ada di peternakan Pak Satiman. Hal ini didukung pendapat
Reksohadiprojo (1985) bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor pelancar dalam
membangun peternakan. Ditambahkan oleh Anonimus (1993), bahwa pendidikan
merupakan salah satu pelancar dalam usaha pembangunan peternakan, karena dengan
pendidikan yang cukup, peternak akan lebih mudah mempelajari suatuilmu
pengetahuan yang berkaitan dengan bidang peternakan terutama dalam tatalaksana
pemeliharaan ternak sapi. di Bertolak belakang dengan pertanyaan di atas bahwa
pemilik peternakan ini tidak memiliki pendidikan formal (tidak sekolah) tetapi
dia berhasil dalam usaha peternakan ini.
Tatalaksana pemeliharaan ternak sapi di peternakan Peternakan
Moro Seneng Kecamatan Kota Baru, Jambi ini yaitu dengan tatalaksana
pemeliharaan yang dikandang yakni ternak mendapat pengontrolan yang lebih baik
dari peternak, baik pakan, minummaupun kebersihan kandang. Ternak sapi tidak
digunakan sebagai tenaga kerja dan ternak diberi pakan dan minum di dalam
kandang. Hal ini berarti sistem penggemukan ternak sapi yang ada di peternakan
Satiman dengan dikandangkan terus menerus cukup baik.
Sapi yang ada di peternakan Moro Seneng di antaranya memiliki
ciri-ciri seperti sapi Simental betina coklat, tubuh besar dan gempal, pantat
berwarna coklat dan bagian lutut ke bawah bewarna coklat, memiliki tanduk yang
tumbuh ke bagian luar.
Salah satu tolok ukur penampilan produksi sapi potong adalah
pertambahan berat badan harian. Penampilan produksi tersebut merupakan suatu
fungsi dari faktor genetic, faktor lingkungan dan interaksi antara kedua faktor
tersebut. Dengan bakalan dafri genetik bermutu, peternak tinggal mengontrol
keadaan lingkungan sehingga fungsi produksi tetap optimal. Di Peternakan Moro
Seneng semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian
makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam
pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan
pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat
dibedakan menjadi 3, antara lain sistem
pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan
dipadang penggembalaan yang sama. Sistem
semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan
dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif.
Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan
disediakan oleh peternak.
3.3.
Sistem Perkandangan
Kandangan
berfungsi sebagai tempat bernaung, berlindung dari serangan binatang buas,
tempat melahirkan, sebagai tempat melakukan perkawinan. Kandang juga
berpengaruh terhadap rasa nyaman dan tentram bagi ternak, sebab kenyamanan
kandang menunjang proses biologis ternak yang dipelihara (Anonimus, 1993).
Kandang di peternakan pak satiman berlokasi di
samping rumah dengan jarak lebih kurang 4 meter dari rumah petugas kandang, hal
ini tidak sesuai dengan pendapat Sumoprastowo (1980), bahwa letak kandang
paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan
pemukiman penduduk, tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan tempat air
minum disediakan apabila ternak diberi minum, saluran pembuangan limbah
tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar.
Kandang di peternakan Pak Satiman memiliki ukuran
kandang 14 x 8,5 m dengan ketinggian 2,5 m, lantai kandang disemen dengan
kemiringan 3° dari lahan sekitarnya. Untuk masing-masing lantai dengan panjang
2,10 m dan lebar 1,40 m, lebar saluran pembuangna 25 cm, panjang tempat ransum
70 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (1997), bahwa kontruksi lantai
kandang harus diperhatikan kemiringannya, kemiringan ini penting untuk membuang
limbah cair dan kotoran.
Tipe kandang yang ada dipeternakan Pak satiman
adalah kandang tipe tunggal dan ganda, penempatana sapi pada kandang tipe ganda
dilakukan dengan saling berhadapan. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi
pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digemukkan, selera si
peternak itu sendiri dan keadaan iklim.
3.4. Pakan Yang Diberikan Serta
Sistem Pemberian
Pakan merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh
karena itu pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang
dibutuhkan. Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat
menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah
semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa
daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat
adalah bentuk campuran
bahan pakan yang
kaya akan sumber protein maupun
sumber energi Pakan
sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai
dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan
yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa.
Pakan hijauan itu terdiri atas rumput gajah, kumpeh dan rumput lapang, Setelah
dilakukan pemberian sedikit hijauan kemudian konsentrat diberikan dengan selang
dua jam hijauan diberikan lagi (Rianto dan Purbowati, 2009). konsentrat terdiri
atas ampas tahu, dedak, dan campuran garam. Pakan hijauan kurang lebih 10 kg
pertong, amaps tahu 150 kg pertong, dedak 100 kg pertong, dan garam 1 kg
pertong. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama
yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993). Frekuensi pemberian pakan dalam
usaha peningkatan produksi ternak pakan juga merupakan salah satu faktor yang
harus mendapatkan perhatian. Oleh karena itu pemberian pakan bagi ternak harus
sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang dibutuhkan guna mendapatkan hasil
yang diharapkan. Pakan bagi ternak dapat berfungsi untuk hidup pokok,
pertumbuhan dan reproduksi (Sugeng, 1994),
3.5. Pengalaman
Farm Experience
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh
Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar
memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Kegiatan Farm
Experience dilakukan selama satu bulan yang bertempat di peternakan milik Pak
Satiman Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru. Kegiatan magang ini
dilakukan setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, pada siang hari mulai pukul
13.00 – 17.20 WIB. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pakan, minum, membersihkan
kandang yaitu membersihkan tempat pakan dan membuang feses sap serta memandikan
sapi.
Tabel 2. Jadwal rutin selama magang
|
No |
Pukul
(WIB) |
Jenis
kegiatan |
|
1 |
13.00 – 14.30 |
Membersihkan
Konsentrat |
|
2 |
14.50 – 16.30 |
Sanitasi
Kandang |
|
3 |
16.40 – 17.00 |
Istirahat |
|
4 |
17.15 – 17.25 |
Membersihkan
Pakan Hijauan dan Minum |
Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis
banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara
pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan di peternakan tempat melaksanakan Farm Experience dan dapat
membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan lain serta menambah wawasan
cara berbisnis dalam bidang peternakan sehingga sukses.
3.6.
Keadaan Umum Ternak
Ternak
sapi yang dipelihara dipeternakan Pak Satiman didatangkan dari lampung dan
hamper keseluruhannya merupakan keturunan sapi bali. Sapi Simmental adalah
bangsa Bos Taurus (Siregar, 1999), berasal dari daerah Simmedi negara
Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua
Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi
perah dan pedaging, warna bulu coklat
kemerahan (merah bata), dibagian muka
dan lutut kebawah serta ujung ekor berwarna putih, sapi jantan dewasanya mampu
mencapai berat badan 1150 kg
sedang betina dewasanya 800 kg.
Diantara
sekian banyak keturunan sapi yang ada tentu saja tidak semua memiliki
produktivitas serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan setempat dengan
baik untuk dikembangkan. Untuk itu perlu dilakukannya seleksi. Seleksi adalah
keputusan yang diambil oleh pemulia ternak untuk menentukan ternak mana akan
dipilih sebagai tertua pada generasi berikutnya dan ternak mana yang akan
disisihkan (Warwick, dkk., 1995).
3.7.
Kesehatan Ternak
Kesehatan
ternak merupakan salah satu faktor yang menetukan keberhasilan pemeliharaan
sapi. Penyakit yang menyerang ternak biasanya disebebkan oleh kandang yang
kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan yang kurang baik. Berdasarkan
pengamatan selama magang sapi Simental yang dipelihara cukup sehat walaupun
sebagian ada terserang jika lecet, mencret dan kudis (kalau ternak sapi baru
dibeli dari pasar hewan). Dalam mengatasi penyakit tersebut peternak bekerja
sama dengan dokter hewan, disamping itu pula kebersihan kandang dan genangan
air harus dijaga. (gambar sapi). Salah
satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak
merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan.
Peternakan Moro Seneng menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari
yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan. Ini dilakukan
supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah
timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.
BAB
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari hasil kegiatan
Farm Experience di peternakan Moro Seneng dapat disimpulkan bahwa tata laksana pemeliharaannya
ternak sapi Simental di peternakan Pak Satiman cukup baik, dilihat dari segi
perkandangan dan pemeliharaan ternak, serta pencegahan penyakit.
4.2.Saran
Pemberian konsentrat sebaiknya
dilakukan pada pagi hari, dan sebaiknya harus ada pengolahan limbah seperti
kompos dan biogas. Agar kedepannya lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonimus. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi.
Balai Informasi Pertanian. Jambi.
Direktorat
Jendral peternakan. 2009. Statistik Peternakan. Direktorat Jendral Peternakan,
Jakarta.
Rianto, E. dan Purbowati, E. 2009. Sapi
Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santoso,
U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya. Jakarta.
Siregar, S.B. 2003. Penggemukan Sapi.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng,
Y. B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi
Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumoprastowo,
C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata karya Aksara. Jakarta.
Susilorini, E. T. 2008. Budi Daya 22
Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.
Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan
Pada Ternak. Angkasa. Bandung.
Warwick,
E.J., J. M. Astuti, dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Williamson,
G dan W.J.A Payne. 1993. An Introduction Husbandry In The Tropic. Longman Group
London. Terjemahan Darmadja. D. SGN. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah
Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar