Jumat, 29 Mei 2020

TATALAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI SIMENTAL DI PETERNAKAN MORO SENENG KELURAHAN KENALI BESAR KECAMATAN KOTABARU ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )

LAPORAN

FARM EXPERIENCE

TATALAKSANA PEMELIHARAAN TERNAK SAPI SIMENTAL DI PETERNAKAN MORO SENENG

KELURAHAN KENALI BESAR

KECAMATAN KOTABARU

 

 

 

OLEH

NAMA

NIM

 

 

Description: D:\fotoku n lainnya\LAMBANG\0007.jpg
 

 

 

 

 

 

 


FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2015

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang

Ternak sapi, khususnya sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan  penting artinya di dalam kehidupan masyarakat. Seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang dan lain sebagainya. Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani.

Hasil daging yang dapat diperoleh sangat berhubungan dengan penyebaran populasi ternak pada suatu daerah. Lebih mendukung lagi apabila pengolahan ataupun pemeliharaan yang dilakukan secara modern. Namun pemeliharaan yang dilakukan masih jauh dari modrenisasi. Ternak sapi potong di Indonesia sebagian besar dipelihara dengan cara semi intensif dan terkesan masih bersifat tradisional. Sapi dipelihara sebagai usaha sampingan dengan usaha pokok adalah bertani.

Sapi Simmental merupakan salah satu bangsa sapi potong yang mempunyai  pertumbuhan cepat. Sapi jenis ini merupakan sapi dwiguna, yaitu sapi yang menghasilkan susu dan daging. Secara morfologi, Sapi Simmental memiliki cirri fisik tidak berpunuk dan tidak bergelambir. Warna bulunya cokelat kemerahan (merah bata). Bagian wajah dan lutut ke bawah sampai ujung ekor berwarna putih. Betina dewasa dapat mencapai 800 kg, sedangkan pejantan dewasa mencapai berat sekitar 1150 kg. Berdasarkan keunggulan tersebut, banyak peternak di Indonesia yang memelihara Sapi Simmental untuk memenuhi tingginya kebutuhan daging sapi untuk masyarakat. Bibit Sapi Simmental yang unggul dapat diperoleh dengan melakukan program pemuliabiakan ternak melalui Inseminasi Buatan (IB). Menurut Toelihere (1993), teknologi IB dapat mempercepat perkembangan populasi dan meningkatkan mutu genetik ternak.

 

 

1.2. Tujuan

Tujuan yang ingin diperoleh dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi Simental Di Peternakan Moro Seneng  Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru.

 

1.3.  Manfaat

Manfaat dari Farm Experience ini adalah untuk menambah wawasan, pengalaman serta dapat mengetahui bagaimana Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi Simental Di Peternakan Moro Seneng  Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROSEDUR KERJA

2.1. Tempat dan Waktu

Farm experience ini dilaksanakan di Peternakan Moro Seneng kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru tanggal 20 Maret sampai dengan tanggal 19 April 2015.

 

2.2. Prosedur Kerja

Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah 15 ekor sapi Simental, terdiri dari 2 ekor sapi Simental betina dan  13 ekor sapi Simental jantan, 4 buah sekop, 3 buah sorong, 15 buah ember, 8 buah drum, 4 buah sapu lidi, selang air untuk menyalurkan air minum dan memandikan sapi, 3 buah garukan dari kayu, 8 buah karung beras, rumput dan konsentrat, rumput terdiri dari rumput lapang, rumput kumpeh, dan rumput gajah, konsentrat terdiri dari dedak, ampas tahu dan garam sebagai tambahan mineral.

Metode yang digunakan dalam Farm Experience adalah terlibat langsung dalam usaha pemeliharaan ternak yang meliputi Pemeliharaan ternak sapi, pembersihan kandang di pagi dan sore hari dengan menggunakan sekop. Pemberian pakan hijauan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore. Pemberian konsentrat pada siang hari.  Sedangkan pemberian air minum dilakukan satu kali sehari pada sore hari.

 

2.3. Analisis Data

Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi, tahun berdiri dan luas kandang.

Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi magang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. Keadaan Umum Lokasi Peternakan

Peternakan Moro Seneng ini dengan nama pemilik Satiman, yang mendirikan usahannya pada tahun 2002 di Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru Jambi Lorong Sidodadi dengan luas ± 1.000 m². Pada awalnya usaha peternakan Pak Satiman ini beralamat di JL. Gelincing RT 22 Telanaipura dimulai pada tahun 1991 dengan memelihara 5 ekor sapi dan ternyata usaha ini membuahkan hasil dan populasi sapi terus meningkat menjadi 229 ekor pada tahun 2007, sehingga pemilik berpindah lokasi yang lebih luas dari sebelumnya.

Peternakan Moro Seneng ini berlokasi di samping rumah dengan jarak lebih kurang 4 meter dari rumah petugas kandang. Hal ini bertentangan dengan pendapat Sumoprastowo ( 1980 ), bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak diberi minum. Saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar.

Peternakan Moro Seneng bertujuan sebagai mata pencaharian utama bagi pemiliknya dan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat akan proteinnya. Sapi merupakan penghasil daging utama di Indonesia. Konsumsi daging sapi mencapai 19 persen dari jumlah konsumsi daging Nasional (Dirjen Peternakan,2009). Konsumsi daging sapi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 mencapai 4,1 kg/ kapita/tahun meningkat menjadi 5,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2007.

 

3.2. Tatalaksana Pemeliharaan

Keadaan Umum Petugas Kandang

            Tugas dari masing-masing tenaga kerja berbeda-beda sesuai dengan yang diberikan oleh Pak Satiman selaku pemilik peternakan. Petugas kandang setiap harinya melaksanakan tugas memebersihkan kandang, memandikan ternak, mencari dan mengambil rumput untuk ternak, memberikan air minum dan memberikan pakan yang berupa hijauan dan konsentrat. Peternakan Pak Satiman memiliki tenaga kerja yang berjumlah 5 orang, dimana tenaga kerja yang bertugas di kandang 1 orang, 3 orang mencari rumput dan 1 orang sebagai sopir yang membawa sapi kepeternak rakyat dan mengantar sapi ke tempat pembeli.

Peternakan Moro Seneng  mempunyai 5 orang pegawai seperti pada Tabel 1 dibawah ini ;

Tabel 1. Pegawai Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia

No

Nama

Pendidikan

Pekerjaaan

1.

Masmin

SMP

Pegawai kandang

2.

Sasmadi

SMP

Sopir mobil

3.

Tri hidayat

SMP

Pegawai mencari rumput

4.

Fredi

SMP

Pegawai mencari rumput

5.

Tejo

SMA

Pegawai mencari rumput

Sumber : Data Primer 2015

 

Tingkat pendidikan dari pegawai kandang yang ada di peternakan milik Pak Satiman ini beragam, di mulai dari SMP sampai tamatan SMA (dapat dilihat dari table 1.). hal ini dapat dilihat bahwa dengan pendidikan pola fikir mereka akan luas sehingga mereka mudah mengerti tentang cara-cara memelihara ternak yang ada di peternakan Pak Satiman. Hal ini didukung pendapat Reksohadiprojo (1985) bahwa tingkat pendidikan merupakan faktor pelancar dalam membangun peternakan. Ditambahkan oleh Anonimus (1993), bahwa pendidikan merupakan salah satu pelancar dalam usaha pembangunan peternakan, karena dengan pendidikan yang cukup, peternak akan lebih mudah mempelajari suatuilmu pengetahuan yang berkaitan dengan bidang peternakan terutama dalam tatalaksana pemeliharaan ternak sapi. di Bertolak belakang dengan pertanyaan di atas bahwa pemilik peternakan ini tidak memiliki pendidikan formal (tidak sekolah) tetapi dia berhasil dalam usaha peternakan ini. 

Tatalaksana pemeliharaan ternak sapi di peternakan Peternakan Moro Seneng Kecamatan Kota Baru, Jambi ini yaitu dengan tatalaksana pemeliharaan yang dikandang yakni ternak mendapat pengontrolan yang lebih baik dari peternak, baik pakan, minummaupun kebersihan kandang. Ternak sapi tidak digunakan sebagai tenaga kerja dan ternak diberi pakan dan minum di dalam kandang. Hal ini berarti sistem penggemukan ternak sapi yang ada di peternakan Satiman dengan dikandangkan terus menerus cukup baik.

Sapi yang ada di peternakan Moro Seneng di antaranya memiliki ciri-ciri seperti sapi Simental betina coklat, tubuh besar dan gempal, pantat berwarna coklat dan bagian lutut ke bawah bewarna coklat, memiliki tanduk yang tumbuh ke bagian luar.

Salah satu tolok ukur penampilan produksi sapi potong adalah pertambahan berat badan harian. Penampilan produksi tersebut merupakan suatu fungsi dari faktor genetic, faktor lingkungan dan interaksi antara kedua faktor tersebut. Dengan bakalan dafri genetik bermutu, peternak tinggal mengontrol keadaan lingkungan sehingga fungsi produksi tetap optimal. Di Peternakan Moro Seneng semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif.  Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama.  Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak.

 

3.3. Sistem Perkandangan

Kandangan berfungsi sebagai tempat bernaung, berlindung dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, sebagai tempat melakukan perkawinan. Kandang juga berpengaruh terhadap rasa nyaman dan tentram bagi ternak, sebab kenyamanan kandang menunjang proses biologis ternak yang dipelihara (Anonimus, 1993).

Kandang di peternakan pak satiman berlokasi di samping rumah dengan jarak lebih kurang 4 meter dari rumah petugas kandang, hal ini tidak sesuai dengan pendapat Sumoprastowo (1980), bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk, tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak diberi minum, saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar.

Kandang di peternakan Pak Satiman memiliki ukuran kandang 14 x 8,5 m dengan ketinggian 2,5 m, lantai kandang disemen dengan kemiringan 3° dari lahan sekitarnya. Untuk masing-masing lantai dengan panjang 2,10 m dan lebar 1,40 m, lebar saluran pembuangna 25 cm, panjang tempat ransum 70 cm. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (1997), bahwa kontruksi lantai kandang harus diperhatikan kemiringannya, kemiringan ini penting untuk membuang limbah cair dan kotoran.

Tipe kandang yang ada dipeternakan Pak satiman adalah kandang tipe tunggal dan ganda, penempatana sapi pada kandang tipe ganda dilakukan dengan saling berhadapan. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digemukkan, selera si peternak itu sendiri dan keadaan iklim.    

 

3.4. Pakan Yang Diberikan Serta Sistem Pemberian

Pakan merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian, oleh karena itu pemberian pakan ternak harus sesuai dengan kualitas pakan yang dibutuhkan. Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah  bentuk  campuran  bahan  pakan  yang  kaya  akan  sumber protein  maupun  sumber energi Pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa. Pakan hijauan itu terdiri atas rumput gajah, kumpeh dan rumput lapang, Setelah dilakukan pemberian sedikit hijauan kemudian konsentrat diberikan dengan selang dua jam hijauan diberikan lagi (Rianto dan Purbowati, 2009). konsentrat terdiri atas ampas tahu, dedak, dan campuran garam. Pakan hijauan kurang lebih 10 kg pertong, amaps tahu 150 kg pertong, dedak 100 kg pertong, dan garam 1 kg pertong. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993). Frekuensi pemberian pakan dalam usaha peningkatan produksi ternak pakan juga merupakan salah satu faktor yang harus mendapatkan perhatian. Oleh karena itu pemberian pakan bagi ternak harus sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang dibutuhkan guna mendapatkan hasil yang diharapkan. Pakan bagi ternak dapat berfungsi untuk hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi (Sugeng, 1994),

 

3.5. Pengalaman Farm Experience

Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.

Kegiatan Farm Experience dilakukan selama satu bulan yang bertempat di peternakan milik Pak Satiman Kelurahan Kenali Besar Kecamatan Kota Baru. Kegiatan magang ini dilakukan setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu, pada siang hari mulai pukul 13.00 – 17.20 WIB. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pakan, minum, membersihkan kandang yaitu membersihkan tempat pakan dan membuang feses sap serta memandikan sapi.

 

 

 

 

Tabel 2. Jadwal rutin selama magang

 

No

Pukul (WIB)

Jenis kegiatan

1

13.00 – 14.30

Membersihkan Konsentrat

2

14.50 – 16.30

Sanitasi Kandang

3

16.40 – 17.00

Istirahat

4

17.15 – 17.25

Membersihkan Pakan Hijauan dan Minum

 

Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan di peternakan tempat melaksanakan Farm Experience dan dapat membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan lain serta menambah wawasan cara berbisnis dalam bidang peternakan sehingga sukses.

 

3.6. Keadaan Umum Ternak

            Ternak sapi yang dipelihara dipeternakan Pak Satiman didatangkan dari lampung dan hamper keseluruhannya merupakan keturunan sapi bali. Sapi Simmental adalah bangsa Bos Taurus (Siregar, 1999), berasal dari daerah Simmedi negara Switzerland tetapi sekarang berkembang lebih cepat di benua

Eropa dan Amerika, merupakan tipe sapi perah dan pedaging, warna bulu coklat

kemerahan (merah bata), dibagian muka dan lutut kebawah serta ujung ekor berwarna putih, sapi jantan dewasanya mampu mencapai berat badan 1150 kg

sedang betina dewasanya 800 kg.

            Diantara sekian banyak keturunan sapi yang ada tentu saja tidak semua memiliki produktivitas serta kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan setempat dengan baik untuk dikembangkan. Untuk itu perlu dilakukannya seleksi. Seleksi adalah keputusan yang diambil oleh pemulia ternak untuk menentukan ternak mana akan dipilih sebagai tertua pada generasi berikutnya dan ternak mana yang akan disisihkan (Warwick, dkk., 1995).

 

 

 

3.7. Kesehatan Ternak

            Kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menetukan keberhasilan pemeliharaan sapi. Penyakit yang menyerang ternak biasanya disebebkan oleh kandang yang kotor, pemberian pakan yang tidak teratur dan perawatan yang kurang baik. Berdasarkan pengamatan selama magang sapi Simental yang dipelihara cukup sehat walaupun sebagian ada terserang jika lecet, mencret dan kudis (kalau ternak sapi baru dibeli dari pasar hewan). Dalam mengatasi penyakit tersebut peternak bekerja sama dengan dokter hewan, disamping itu pula kebersihan kandang dan genangan air harus dijaga. (gambar sapi). Salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Peternakan Moro Seneng menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

4.1   Kesimpulan

Dari hasil kegiatan Farm Experience di peternakan Moro Seneng dapat disimpulkan bahwa tata laksana pemeliharaannya ternak sapi Simental di peternakan Pak Satiman cukup baik, dilihat dari segi perkandangan dan pemeliharaan ternak, serta pencegahan penyakit.

 

4.2.Saran

            Pemberian konsentrat sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dan sebaiknya harus ada pengolahan limbah seperti kompos dan biogas. Agar kedepannya lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.

Direktorat Jendral peternakan. 2009. Statistik Peternakan. Direktorat Jendral Peternakan, Jakarta.

Rianto, E. dan Purbowati, E. 2009. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Santoso, U. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya. Jakarta.

Siregar, S.B. 2003. Penggemukan Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sugeng, Y. B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sumoprastowo, C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata karya Aksara. Jakarta.

Susilorini, E. T. 2008. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Penebar Swadaya, Jakarta.

Toelihere, M.R. 1993. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Angkasa. Bandung.

Warwick, E.J., J. M. Astuti, dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Williamson, G dan W.J.A Payne. 1993. An Introduction Husbandry In The Tropic. Longman Group London. Terjemahan Darmadja. D. SGN. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar