Kamis, 28 Mei 2020

MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN G. RAHAYU JAYA MULYA DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATENTANJUNG JABUNG TIMUR (LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE)


LAPORAN
FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI 
DI PETERNAKAN G. RAHAYU JAYA MULYA
DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI
KABUPATENTANJUNG JABUNG TIMUR 



OLEH
NAMA………
NIM………….


 









FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014









BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kebutuhan daging sapi sebagai salah satu sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya gizi yang seimbang, pertambahan penduduk dan meningkatnya daya beli masyarakat (Deptan, 2006). Ternak sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia, dimana daging merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang cukup baik seperti kandungan protein. Oleh karena itu permintaan daging asal ternak sapi potong setiap tahunnya selalu meningkat,  seiring dengan peningkatan pertambahan penduduk, kualitas pendidikan masyarakat dan meningkatnya sadar  gizi untuk masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sebagaimana pernyataan Abidin Z (2002) sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan manusia lainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu. Sapi potong adalah salah satu genus dari famili Bovidae. Ternak atau hewan – hewan lainnya yang termasuk famili ini adalah bison, banteng (bibos), kerbau (babalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa. Pemenuhan kebutuhan daging sapi di Indonesia bersumber dari sapi lokal, sapi bakalan impor dan daging impor.Sapi lokal yang dijadikan sumber daging diantaranya sapi Bali dan sapi Peranakan Ongole (PO).Sapi bakalan impor umumnya berasal dari Australia yang disebut Australian Commercial Cross (ACC).
Sapi Bali adalah sapi lokal yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan. Kemampuan tersebut merupakan faktor pendukung keberhasilan budidaya sapi Bali. Populasi sapi Bali yang meningkat akan membantu mensukseskan program pemerintah untuk swasembada daging di Indonesia. Sapi Bali merupakan salah satu sapi asli Indonesia yang memiliki postur tubuh dari yang kurus sampai yang sangat gemuk. Darmaja (1980) menyatakan bahwa perfomans sapi Bali mempunyai adaptasi yang baik terhadap pengaruh lingkungan yang panas dan cukup toleran terhadap lingkungan dingin serta sangat efisien dalam penggunaan pakan dengan kualitas rendah. Demikian pula Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa lingkungan biotik mempengaruhi performans sapi potong melalui tingkat efisiensi penggunaan pakannya dan mampu menampilkan performans secara maksimal.
Sebelum memulai beternak sapi Bali ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan secara matang antara lain, bibit, pakan, kesehatan dan pemeliharaan, serta faktor lingkungan ternak. Sapi Bali mempunyai pertumbuhan cepat, adaptasi terhadap lingkungan tinggi, daya tahan terhadap penyakit tinggi, serta efisiensi dalam menggunakan pakan. Sapi Bali sangat cocok untuk dikembagkan karena adaptasinya dan produktivitas tinggi (Guntoro, 2002).
Pemeliharaan ternak sapi dulunya banyak dimanfaatkan sebagai penghasil pupuk dan kebutuhan tenaga kerja, namun dewasa ini masyarakat peternak yang maju menitik beratkan usaha pemeliharaan sapi untuk mengejar produksi daging atau berat hidup yang tinggi dalam periode yang sesingkat mungkin. Oleh karena itu, perlu adanya metode pemeliharaan yang tepat sehingga menghasilkan produksi yang baik. Sistem pemeliharaan sapi potong menurut (Susilorini, 2008) dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan di padang penggembalaan yang sama. Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak. Produktivitas sapi yang dipelihara secara intensif dapat ditunjang dengan pemberian pakan hijauan maupun konsentrat yang baik dengan komposisi yang sesuai, penanggulangan penyakit, penanganan pasca panen dan pemasaran serta jenis bangsa sapi dan umurnya. Keuntungan penggemukan secara intensif  yaitu  sapi yang dipelihara cepat gemuk, pertumbuhannya pesat karena mereka banyak mendapatkan unsur karbohidrat dan lemak, sehingga usaha penggemukan semacam ini bisa dilakukan dalam kurun waktu lebih pendek (Setiyono dkk, 2007).
Manajemen pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Manajemen pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Rasyaf, 1995).
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya adalah peternakan sapi bali yang ada di Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang telah melakukan kegiatan tataniaga ternak sapi bali sejak tahun 2007. Peternakan ini tidak hanya menjual ternak pada saat masih hidup, tapi juga menjual ternak sapi potong dalam kondisi telah menjadi daging, karena peternakan ini memiliki tempat pemotongan ternak (TPT) sendiri.
Atas dasar ulasan diatas maka dilakukan Farm Experience untuk melihat manajemen pemeliharaan ternak sapi bali di peternakan G. Rahayu Jaya Mulya dengan judul “ Manajemen Pemeliharaan Ternak Sapi Bali Di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur ”.

1.2.Tujuan
Tujuan yang ingin diperoleh dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui management pemeliharaan ternak sapi bali di peternakan G. Rahayu Jaya Mulya , selain itu juga untuk menambah pengalaman kerja di lapangan.

1.3.Manfaat
Manfaat dari kegiatan Farm Experience ini adalah dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam management pemeliharaan ternak sapi bali, serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam motivasi kewirausahaan dalam usaha bidang peternakan.



BAB II
MATERI DAN METODA
2.1. Waktu dan Tempat
Farm experience ini dilaksanakan di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Farm experience ini dilaksanakan mulai dari tanggal 11 April sampai dengan tanggal 10 Mei 2014.

2.2. Materi
Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah 20 ekor sapi Bali, terdiri dari 15 ekor sapi Bali betina dan 5 ekor sapi Bali jantan, 2 buah sekop, sapu lidi, 1 buah sorong, 1 buah gerobak dan ember sebagai tempat air untuk menyiram kandang.

2.3. Metoda
Metode yang digunakan dalam Farm Experience adalah terlibat langsung dalam management pemeliharaan ternak sapi bali, yang meliputi:
a.     Pengamatan bibit (bangsa) sapi potong yang digunakan.
b.     Jenis pakan yang diberikan.
c.     Frekuensi dan jumlah pakan yang diberikan.
d.     Perkandangan.
e.     Kesehatan ternak
f.      Pemotongan Ternak
 Sedangkan data penunjangnya yaitu keadaan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya dengan melakukan wawancara dengan pemilik peternakan.

2.4. Analisis Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi, tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi magang.




















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Peternakan
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya berada di desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan Geragai adalah :
  1. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau Karya.
  2. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo.
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju
Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya didirikan pada tahun 2007 oleh pak Lamikun dan mempunyai 9 orang pegawai seperti pada Tabel 1 dibawah ini ;
Tabel 1. Pegawai Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya
No
Nama
Pekerjaaan
1.
Sarwono, Bowo, Trimo
Tukang potong rumput
2.
Bani dan
Tukang Penggiling Bakso
3.
Slamet
Tukang Sembelih Sapi
4.
Sulastri, Mbok Mi, Ida
Pembuat Bakso dan Pengemasan

Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya melakukan pemeliharaan ternak sapi potong khususnya sapi bali, yang arah dan tujuan dari usaha ini untuk penyediaan sapi dan daging serta sebagai produsen bakso di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Menurut pernyataan Lubis (2010), upaya percepatan swasembada daging sapi 2014 ditempuh melalui dua strategi yaitu strategi bersifat teknis dan non-teknis. Strategi teknis meliputi: 1). Pengembangan sentra pembibitan dan penggemukan dengan menggunakan teknologi reproduksi (inseminasi buatan dan kawin alam dengan pejantan unggul) pada daerah pengembangan sapi potong; 2). Revitalisasi kelembagaan dan sumber daya manusia di lapangan dengan mengaktifkan kembali Pos IB, Poskeswan, melengkapi peralatan dan infra struktur yang diperlukan; dan 3).  Penguatan sarana dan prasarana pendukung berupa lahan padang penggembalaan, peralatan pengolahan pakan, sarana satuan pelayanan IB serta sarana lain yang diperlukan.
 






3.2. Manajemen Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya adalah secara intensif. Semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif.  Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama.  Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak.
  
3.2.1 Bibit (Bangsa) Ternak
Usaha peternakan pembibitan ternak sapi potong  di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya menggunakan bibit (bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali.  Jumlah bangsa sapi Bali yang dipelihara adalah 20 ekor, yang terdiri dari 15 ekor sapi Bali betina dan 5 ekor sapi Bali jantan. Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya adalah pada ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kea rah leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian Tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994) bahwa karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke ekor.
         







Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1).  Sapi Bali memiliki pertambahan  bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang kondisi pakannya kurang, 3). Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam pemeliharaannya. Pada berbagai lingkungan pemeliharaan di Indonesia, sapi Bali memperlihatkan kemampuannya untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki sapi Bali. Keunggulan sapi Bali dibandingkan sapi lain yaitu memiliki daya adaptasi sangat tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana, 1990), seperti dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Sastradipradja, 1990), mempunyai persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan Rollinson, 1973), memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah yaitu kurang lebih 4% (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit internal dan eksternal (National Research Council, 1983).

3.2.2 Perkandangan
Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan serta mempermudah pengawasan ternak (Amonimous, 1993).
Perkandangan di peternakan G. Rahayu Jaya Mulya sudah cukup baik dimana bangunan kandang terbuat dari semen dan papan dengan atap seng dengan lantai kandang terbuat dari semen. Sedangkan ukuran kandang panjang 10 m, lebar 6 m, dan tinggi 4 m. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.
 






3.2.3. Pemberian Pakan
Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah  bentuk  campuran  bahan  pakan  yang  kaya  akan  sumber protein  maupun  sumber energi Pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993).
Pemberian sedikit hijauan digunakan untuk merangsang keluarnya saliva yang bertujuan untuk menjaga pH rumen saat pemberian konsentrat.  Setelah dilakukan pemberian sedikit hijauan kemudian konsentrat diberikan dengan selang dua jam hijauan diberikan lagi (Rianto dan Purbowati, 2009).  Hijauan pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk segar, silase atau berupa hay yaitu hijauan yang dikeringkan atau jerami kering (Akoso, 2000).
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di peternakan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya adalah berupa hijauan, yang diperoleh dari pinggir parit, daerah pematang sawah dan lapangan rumput. Hijauan diberikan pada sore hari sebanyak 3,5 kg/ekor/hari.  Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan  karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi






3.2.4 Pemberian Zat Mineral dan Air Minum
Pemberian zat mineral berupa garam dapat di lakukan 1 kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan tulang ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Sedangkan menurut pendapat yang menyatakan bahwa Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap tersedia..

3.2.5 Pencegahan dan Pengobatan Penyakit
Salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha peternakan. Peternakan G. Rahayu Jaya Mulya menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Ngadiyono, (2007) bahwa usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang setiap hari dan memandikan ternak satu kali sehari. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.
Penyakit yang biasa menyerang ternak di peternakan G. Rahayu Jaya Mulya ini yaitu diare/mencret, biasanya disebabkan karena rumput yang di berikan pada ternak terkena air hujan dan terlalu muda. Peternak biasanya memanggil dokter hewan sekitar jika ternak sakit.



3.3. Pengalaman Farm.
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Kegiatan Farm Experience dilakukan selama satu bulan yang bertempat di peternakan milik pak Lamikun di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kegiatan magang ini dilakukan setiap hari, pada pagi hari mulai pukul 07.00 – 09.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00 – 17.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pakan, minum, membersihkan kandang yaitu membersihkan tempat pakan dan membuang feses sapi.
Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan di peternakan tempat melaksanakan Farm Experience dan dapat membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan lain serta menambah wawasan cara berbisnis dalam bidang peternakan sehingga sukses.






BAB IV
PENUTUP
4.1   Kesimpulan
Dari hasil kegiatan Farm Experience di peternakan pak Lamikun dapat disimpulkan bahwa manajemen pemeliharaannya kurang baik, karena system pemberian pakan masih belum mencukupi kebutuhan sapi, tidak pernah dilakukan vaksinasi dan pemberian vitamin serta sapi tidak pernah dimandikan. Namun system perkandangan dipeternakan tersebut sudah baik dan memadai.

4.2. Saran
          Dari manajemen kesehatan dan lingkungan sebaiknya sapi dimandikan supaya berkurangnya kotoran yang menempel pada badan sapi dan dilakukan vaksinasi serta pemberian vitamin untuk mencegah timbulnya penyakit dan menjaga kekebalan tubuh ternak tersebut.









DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia, Jakarta
Akoso, B. T. 2000. Kesehatan Sapi. Cetakan ke-10. Kanisius, Yogyakarta.
Anonimous, 2010, Sapi-Sapi Potong Indonesia,http://www.fmp.sinarindo.co.id, dikutip 24 Maret 2012.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).
Darmaja, S.G.N.D.1980. setengah abad peternakan sapi tradisional dalam ekosistim pertanian di Bali. Thesis UNPAD
Ditjend Peternakan. 1997. Pedoman Teknis Penyiapan Induk Sapi Penghasil Bakalan Lokal (Balok) melalui Perbaikan Pakan. Buku Panduan Praktis. Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta.
Diwyanto, K. 2002. Pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi Teknologi Dalam mendukung Pengembangan sapi Potong di Indonesia. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.
Djaenudin, D., H. Subagio Dan Suprifuddin. 1996. Kesesuaian Lahan untuk pengembangan peternakan di beberapa propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner Puslitbang Peternakan. Departemen Pertanian. Bogor.
Ermawati, Nuschati U, Subiharta, Yuni E, Rini N. 2010. Pedoman Teknis Budidaya Sapi Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Ungaran.
Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius. Yogyakarta
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Lubis, A.R., 2010, Prospek Pengembangan Ternak Sapi Dalam Rangka Mendukung Program Swasembada Daging Sapi Di Provinsi Sumatera Utara, Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Panca Budi, Jl. Jend. Gatot Subroto Km 4,5, Medan. http://www.google.com. Diakses 2 Mei 2014
Mubyarto. 1995. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES
National  Research Council. 1983. Little-Known Asian Animals with a Promising  Economic Future. Washington, D.C.: National Academic Press.
Payne, W.J.A. and D.H.L. Rollinson. 1973. Bali cattle. World Anim. Rev. 7: 13- 21.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE.     Yogyakarta.
Rianto E., dan Purbowati E.,  2008, Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta























Tidak ada komentar:

Posting Komentar