Jumat, 29 Mei 2020

PEMELIHARAAN KERBAU LUMPUR (Swamp buffalo) DIPETERNAKAN G.RAHAYU JAYA MULIA DI DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR PROVINSI JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )

LAPORAN

FARM EXPERIENCE

 

PEMELIHARAAN KERBAU LUMPUR (Swamp buffalo)

DIPETERNAKAN G.RAHAYU JAYA MULIA

DI DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI

KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR

PROVINSI JAMBI

 

 

 

 

 

OLEH

NAMA

NIM

 

 

Description: D:\fotoku n lainnya\LAMBANG\0007.jpg

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2015

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Ternak kerbau merupakan ternak asli daerah tropis yang sangat sesuai dengan sebagian besar kondisi lahan di Provinsi Jambi. Ternak kerbau merupakan hewan semi akuatik yang memiliki sedikit kelenjar keringat sehingga tidak tahan terhadap terik panas matahari. Oleh karenanya kerbau selalu memerlukan suatu tempat khusus seperti kubangan air dan lumpur untuk menjaga kelangsungan fisiologis tubuhnya. Hal ini diduga erat kaitannya dengan lambannya gerakan makanan di dalam saluran pencernaan kerbau sehingga makanan tersebut dapat diolah lebih lama dan penyerapan zat  gizinya akan lebih banyak. Oleh karena itu jarang sekali ditemukan kerbau kurus walaupun dengan ketersediaan pakan seadanya (Jamal,2007).

Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia merupakan salah satu peternakan yang mengadakan usaha jual beli ternak yang ada di desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi yang telah melakukan kegiatan tata niaga ternak sejak tahun 2007. Pemeliharaan ternak kerbau dikecamatan Geragai hampir seluruhnya menggunakan pola intensif yang mana seluruh kegiatan hanya dilakukan didalam kandang seperti sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi dari serangan binatang buas, serta mempermudah pengawasan ternak.

Pada Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia dengan memelihara ternak kerbau secara intensif, dimana semua aktivitas ternak kerbau dilakukan didalam kandang dengan memanfaatkan hijauan sekitar sebagai pakan ternak seperti rumput kumpai (Hymenachne amplexicaulis) dan tidak menggunakan konsnterat.

Ternak kerbau mempunyai beberapa keunggulan untuk ditingkatkan perannya terutama berkaitan dengan potensi genetik dan aspek lingkungannya, mempunyai daya adaptasi yang sangat tinggi, terlihat dari penyebarannya yang luas, mulai dari daerah iklim kering, lahan rawa, daerah pegunungan dan daerah dataran rendah, juga memiliki kemampuan memanfaatkan pakan berkualitas rendah seperti rumput kering dengan kadar nutrisi rendah dan serat  kasar  tinggi. Dan kerbau memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan sapi, yakni mampu hidup pada kawasan yang relatif sulit  terutama bila pakan yang tersedia berkualitas rendah. Saat kondisi kualitas pakan yang tersedia relatif jelek, setidaknya pertumbuhan kerbau dapat menyamai atau bahkan lebih baik dari pada sapi, dan masih dapat berkembangbiak dengan baik (Diwyanto dan Handiwirawan,2006).

Pemeliharaan ternak kerbau selama masa penampungan dipeternakan G. Rahayu Jaya Mulia merupakan salah satu usaha pemeliharaan sebelum penjualan ternak. Berdasarkan pengamatan tersebut, penulis melakukan Farm Experience dengan judulPemeliharaan Kerbau Lumpur (Swamp buffalo) selama penampungan dipeternakan G.Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi

 

1.2.  Tujuan

Tujuan yang ingin diperoleh dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui pemeliharaan ternak kerbau lumpur selama penampungan di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia, selain itu juga untuk menambah pengalaman di lapangan.

1.3.  Manfaat

Manfaat dari kegiatan Farm Experience ini adalah dapat menambah wawasan dan pengalaman dalam pemeliharaan ternak kerbau, serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam motivasi kewirausahaan dalam bidang Peternakan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROSEDUR KERJA

2.1. Waktu dan Tempat

Farm Experience ini dilaksanakan mulai dari tanggal 03 April sampai dengan tanggal 02 Mei 2015. Farm experience ini dilaksanakan di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi.

2.2. Prosedur Kerja

Prosedur kerja yang digunakan dalam pelaksanaan Farm Experience yaitu berpartisipasi langsung pada bagian sanitasi kandang setiap pagi dan sore hari, pembersihan kotoran kerbau dilakukan setiap kotoran sudah menumpuk, pemberian pakan dan air minum. Pemberian pakan dilakukan setelah tempat pakan dibersihkan untuk pagi hari dan dilakukan penambahan pakan untuk sore hari, lalu untuk pemberian air minum dilakukan 1 hari 1 kali menggunakan air yang telah dicampur dengan garam mineral. Ternak kerbau yang baru didatangkan dari Lampung dan pasar ternak Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi diseleksi sesuai dengan kreteria yang laku untuk dipasarkan, setelah itu dilakukan penentuan harga dengan metode tafsir.

Selama melaksanakan kegiatan farm experience penulis berusaha  mendapatkan data untuk kelengkapan laporan akhir dengan cara melakukan serangkaian wawancara kepada pemilik usaha yaitu Bapak Lamikun.

2.3. Analisis Data

Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi asal usul ternak,  jumlah ternak, ragam pakan yang diberikan serta sumber pakan yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data sekunder diperoleh melalui rekording atau pencatatan data yang meliputi keadaan umum usaha peternakan, lokasi, tahun berdiri, perkandangan, luas kandang dan sistem pemeliharaan.

Data yang didapatkan kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi Farm Experience.

(masukan rumus dari dody)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Kondisi Umum Wilayah Peternakan

Lokasi Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia terletak di Jln. Lintas Jambi-Muaro Sabak tepatnya di Desa Kota Baru SK 9 Zone 3 Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Di bawah pimpinan bapak Lamikun didampingi oleh istrinya Ibu Sulastri yang dengan sigap membantu bapak Lamikun menjalankan usaha jual beli ternak. Pasangan Bapak Lamikun dan Ibu Sulastri dikaruniai 2 orang putra yakni Dedi Saputra dan Diki Ardiansyah.

 

Gambar 1. Nama Usaha Peternakan

 

Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia ini berada di desa Kota Baru Kecamatan Geragai ini memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :

Batas-batas wilayah untuk Kecamatan Geragai adalah :

  1. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau Karya.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju

Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia didirikan pada Tahun 2007 oleh Bapak Lamikun dan mempunyai 8 orang pegawai seperti yang tercantum pada Tabel 1:

 

 

Tabel 1. Pegawai Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia

No

Nama

Pendidikan Terakhir

Pekerjaaan

1

Sarwono

SD

Tukang potong rumput

2

Bani

SD

Transportasi (Sopir)

Sumber : Data Primer Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia  (2015)

            Pegawai mempunyai peran penting dalam menentukan keberhasilan peternakan. Tingkat pendidikan pada Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia masih relatif rendah mengakibatkan cara mengelola atau manajemen dalam berusaha ternak masih sederhana. Maka dari itu tingkat pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut belum maksimal. Tujuan pendidikan itu menciptakan integritas atau kesempurnaan pribadi. Tingkat pendidikan diyakini sangat berpengaruh terhadap kecakapan, tingkah laku dan sikap seseorang, dan hal ini semestinya terkait dengan tingkat pandapatan seseorang. Artinya secara rata-rata makin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka makin memungkinkan orang tersebut memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Pemerintah pun merasa berkewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakatnya. Di lain sisi masyarakat pun sering menuntut agar porsi anggaran pendidikan perlu ditingkatkan untuk mencapai porsi yang dianggap ideal (Djumramsjah, 2004).

 

3.2 Kondisi Umum Ternak Kerbau

Ternak kerbau di Peternakan G.Rahayu Jaya Mulia di datangkan dari Provinsi Lampung dan pasar Ternak Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi. Apabila pembelian ternak dari Lampung dalam jumlah banyak maka akan diantar oleh penjual ke peternakan milik Bapak Lamikun, begitu juga sebaliknya apabila ternak yang dibeli dari lampung sedikit maka Bapak Lamikun sendiri yang menjemput ke Lampung. Sedangkan ternak yang dibeli dari pasar Ternak Bulian Kabupaten Batanghari Provinsi Jambi dijemput sendiri oleh Bapak Lamikun. Dalam pembelian ternak jenis ternak yang dicari hanya ternak berjenis kelamin jantan karena banyak konsumen yang lebih berminat kejantan dari pada ternak betina dan juga adanya larangan pemotongan betina terutama betina produktif.

Ternak yang baru datang dimasukkan kekandang dan dipisahkan antara ternak yang lama dan ternak yang baru, lalu ternak diikat ditiang kandang atau tepi kandang tujuannya agar ternak tidak lari setelah itu dibiarkan terlebih dahulu tujuannya agar ternak dapat menyesuaikan diri terlebih dahalu. Setelah itu baru diberi pakan sama seperti dengan ternak lainnya.

Gambar 2. Kerbau Lumpur (Swamp buffalo)

Kerbau lumpur (Swamp buffalo) mempunyai ciri-ciri memiliki penampilan kulit berwarna abu-abu, hitam, bulu berwarna abu-abu sampai hitam, Tanduk mengarah ke belakang, horizontal, bentuk bulan panjang dengan bagian ujung yang meruncing serta membentuk setengah lingkaran, kondisi badan baik, bagian belakang penuh dengan otot yang berkembang, leher kompak dan kuat serta mempunyai proporsi yang sebanding dengan badan dan kepala, ambing berkembang dan simetris.

 

Klasifikasi :

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Artiodactyla

Famili              : Bovidae

Supfamili        : Bovinae

Genus              : Bubalus

Species            : Bubalus bubalis

Supspecies      : Swamp buffalo

                                    : River Buffalo

 

 

 

3.3 Pemberian Pakan Ternak Kerbau

Jenis pakan yang diberikan kepada ternak kerbau di Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia adalah berupa hijauan rumput kumpai (Hymenachne amplexicaulis) yang diperoleh dari pinggir parit, daerah pematang sawah dan lapangan rumput di desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Waktu pemberian pakan dilakukan sehari 2 kali yaitu pagi dan sore hari. Perikat rumput memiliki berat ±30 - 40 kg yang mana 1 tempat pakan diberi 2 ikat hijauan. Hijauan dicari pada pukul 15.00 WIB dan diangkut kepeternakan dengan kendaraan milik Bapak Lamikun.

Alasan Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan pokok ternak kerbau, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo, (1985) menyatakan hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan kerbau.

Gambar 5. Pemberian pakan

 

Pakan Rumput Kumpai (Hymenachne amplexicaulis) merupakan tanaman menahun, cepat berbiak, membentuk rumpun-rumpun besar dengan tinggi 0,5–1 m. Helai daun lebih panjang serta lebih lebar dibanding rumput Brachiaria mutica tetapi kaku dan kasar dengan panjang daun antara 10–30 cm dan lebar mencapai 2,5 cm. Daun bawah membulat lebar dengan ujung lancip, kuncup daun muda melipat kedalam daun. Rumput ini tumbuh menjulur dengan batang berbuku-buku. Tiap buku ditumbuhi bulu-bulu akar serta didalam batang ada lapisan gabus. Rumput kumpai tumbuh pada daerah dengan ketinggian mencapai 100 m dari permukaan laut (Heyne, 1987). Habitat rumput ini adalah daerah rawa atau payo yang cerah, terbuka serta tumbuh lebih baik di tempat tergenang dengan kedalaman air mencapai 1–2 m (Soerjani dkk, 1987).

 

Klasifikasi Rumput Kumpai (Hymenachne amplexicaulis)

Divisi              : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Bangsa                        : Cyperales

Suku                : Poaceae

Marga              : Hymenachne

Jenis                : Hymenachne amplexicaulis

 

Gambar 4. Rumput Kumpai

 

3.4 Pemberian Zat Mineral dan Air Minum

Pemberian zat mineral berupa garam dapat dilakukan 1 kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan tulang ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985) menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan. Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap tersedia.

 

 

Pemberian Garam Mineral

3.5 Perkandangan

Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi dari serangan binatang buas, serta mempermudah pengawasan ternak (Amonimous, 1993).

Gambar 7. Perkandangan

Perkandangan di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia sudah cukup baik dimana bangunan kandang terbuat dari semen dan papan dengan atap seng dengan lantai kandang terbuat dari semen. Sedangkan ukuran kandang panjang 10 m, lebar 6 m, dan tinggi 4 m. Menurut Siregar (2003) tipe kandang ternak kerbau pada dasarnya tergantung pada jumlah ternak kerbau yang akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim. Sedangkan menurut (Yulitiani, 1999) menyatakan ukuran kandang kerbau harus disesuaikan dengan ukuran dan umur kerbau yaitu dewasa berukuran 1,5 meter x 2 meter/ekor, anak berukuran 1 meter x 2 meter/ekor, kandang jepit berukuran 1,2 meter x 0,55 meter x 1,5 meter/ekor. Karena kandang yang terlalu sempit maka akan memudahkan ternak untuk menyerang ternak lainnya karena kerbau lebih cenderung untuk menyerang sesame kerbau terutama kerbau jantan dibandingkan ternak sapi perah atau sapi potong. Hal ini sesuai dengan pernyataan Banerjee, (1982) menyatakan untuk memelihara ternak kerbau perlunya perhatiaan khusus seperti dipasihkannya kandang atau diberi pembatas karena apabila ternaknya berkelahi dapat berpengaruh terhadap nilai jual. Sebab perkelahian antar kerbau jantan sangat berbahaya dan sering berakhir dengan kematian.

3.6 Pemasaran Ternak Sapi

Jalur tataniaga yang berlangsung di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dapat dilihat pada gambar 1.

Jalur Tataniaga

  1. Konsumen

     
     

 

  1.  

 

  1.  

 

 

 

 


Gambar 6. Jalur Tataniaga Usaha G. Rahayu Jaya Mulia

Ternak kerbau yang ditampung dan dipelihara di peternakan G. Rahayu Jaya Mulia didatangkan dari daerah diluar Provinsi Jambi yaitu Lampung. Penjualan ternak sapi di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  ini tidak dipengaruhi oleh jenis kerbau tetapi dipengaruhi oleh Bobot Badan (BB) ternak kerbau. Semakin berat Bobot kerbau semakin tinggi harga penjualan kerbau tersebut.

3.6.1   Pengeluaran dan Penerimaan Peternakan G Rahayu Jaya Mulia

a. Pengeluaran

Pengeluaran oleh peternakan G. Rahayu Jaya Mulia ini tercantum pada Tabel 2, dijumpai adanya perbedaan besarnya biaya yang dikeluarkan, pada ternak kerbau sebesar Rp.5.250.000,-Keadaan ini sesuai dengan pernyataan  Soekartawi (1993) menyatakan bahwa biaya pemasaran adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan pemasaran, besarnya biaya pemasaran berbeda satu sama lain disebabkan karena, macam komoditas, lokasi pemasaran, dan efektivitas pemasaran yang dilakukan.

Tabel 2. Pengeluaran di Usaha G. Rahayu Jaya Mulia selama Magang

No

A.    Sapi Jantan

Pengeluaran (Rp)

1

Transportasi

3.000.000

2

Gaji

3.000.000

3

Garam untuk Minum sapi

50.000

4

Minyak Mobil

550000

Jumlah

6.600.000

 

Pada Tabel 2, dijumpai adanya perbedaan penyediaan produk oleh  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia, yaitu penyediaan ternak sapi jantan untuk dijual hidup  dan penyediaan ternak sapi betina untuk  dipotong sebegai penyediaan daging (bakso).  Hal ini disebabkan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  dalam upaya memenuhi kebutuhan permintaan masyarakat (konsumen) yang ada di Kecamatan Geragai, namun harga yang dipatok oleh  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  masih dalam kisaran kemampuan masyarakat (konsumen) di Kecamatan Geragai. Sesuai dengan pernytaan Nicholson (2002) ada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan akan suatu komoditi, diantaranya adalah harga komoditi itu sendiri, harga komoditi lain yang berhubungan dengan komoditi tersebut baik yang bersifat substitusi maupun komplementer terhadap barang itu sendiri, pendapatan rumah tangga, distribusi pendapatan dalam masyarakat, selera, jumlah penduduk, dan ramalan keadaan di masa yang akan datang.

b.     Penerimaan.

Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dalam menjual ternak sapi kepada konsumennya ada dua (2) cara dimana ternak sapi jantan dijual hidup dengan penentuan harganya berdasarkan bobot hidup. Hasil pengamatan dan wawancara dengan pak Lamikun, ternak sapi jantan dijual hidup karena ternak sapi jantan selalu digunakan untuk kegiatan keagamaan dan  harus memenuhi beberapa kriteria seperti ;  Kondisi ternak sapi jantan harus sehat dan tidak cacat, dan umur ternak sapi harus cukup.  Menurut Kotler (2004), bahwa harga merupakan salah satu penentu keberhasilan suatu perusahaan karena harga menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dari penjualan produknya baik berupa barang maupun jasa.

Tabel 3. Penerimaan di Peternakan G Rahayu Jaya Mulia.

NO

Rekap Data Penjualan

Penjualan (ekor)

Modal

Harga jual

Keuntungan

1

Januari

7

14500000

15300000

3400000

2

Februari

13

91600000

97200000

5600000

3

Maret

13

95600000

101500000

5900000

Jumlah

33

201700000

214000000

14900000

Pada Tabel 2 diatas, ternak sapi betina dijual dalam bentuk daging (bakso), 1 kg daging ternak sapi segar dapat menghasilkan 2 kg daging bakso, akibatnya penerimaan pada ternak sapi betina lebih tinggi dari penerimaan hasil penjualan ternak sapi jantan. Hal ini akan mempengaruhi pendapatan dan keuntungan Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia , tujuan  Perusahaan G. Rahayu Jaya Mulia  meningkatkan peneriamaan, selain untuk mendapatkan keuntungan dari usaha ini juga untuk mempertahankan kelangsungan usahanya.

 

c.   Keuntungan (laba)

Usaha G. Rahayu Jaya Mulia  dalam menentukan harga jual ternak sapi potong berdasarkan performans (tampilan tubuh), penentuan harga jual pada sapi jantan berdasarkan bobot tubuh (ramalan) dan dijual dalam bentuk hidup, sedangkan pada ternak betina  dijual dalam bentuk daging dan bobot daging diperoleh dengan cara ditimbang. Keadaan ini tentu dapat menyebabkan terdapatnya perbedaan margin pemasaran. Menurut Yusuf dan Nulik (2008) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang diterima peternak dengan pedagang dalam pemasaran ternak potong, keuntungan yang diterima oleh masing-masing pedagang berbeda-beda tergantung dari tingkat usahanya. Sedangkan menurut Saliem (2004), analisis margin pemasaran bertujuan untuk melihat efisiensi pemasaran semakin tinggi harga yang diterima produsen, semakin efisien pemasaran tersebut.

Tabel 4. Keuntungan di Peternakan G Rahayu Jaya Mulia.

Tataniaga

Pendapatan

Pengeluaran

Keuntungan

Kerbau Jantan

14900000

6600000

8300000

Jumlah

8300000

 

Pada Tabel 4, terlihat penerimaan pada penjualan daging bakso itu lebih tinggi (Rp.9.962.000,-) bila dibandingkan dengan penerimaan pada penjualan sapi hidup (Rp.1.650.000,-), keadaan ini menggambarkan  bahwa penerimaan pada daging olahan (bakso) lebih memberikan keuntungan, hal ini tercermin dari margin yang diperoleh Rp.8.312.000,- tinggi (besar). Hal ini sesuai dengan pernyataan Yusuf dan Nulik (2008), yang menyatakan bahwa besarnya margin pemasaran untuk pedagang dan perantara dipengaruhi oleh unsur-unsur biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran sebagai imbalan atas jasa pedagang dan perantara dalam memasarkan ternak. Tinggi rendahnya margin pemasaran dan bagian yang diterima peternak merupakan indicator dari efisiensi pemasaran, semakin rendah margin pemasaran dan semakin besar bagian yang diterima peternak, maka sistem pemasaran tersebut dikatakan efisien (Mubyarto, 1995).

 

Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

Salah satu unsur yang tidak boleh diabaikan adalah kesehatan, kesehatan ternak merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan peternakan G. Rahayu Jaya Mulia menerapkan pelaksanaan sanitasi kandang setiap hari yaitu pagi dan sore akan tetapi ternaknya tidak dimandikan kecuali saat cuaca panas maka akan dimandikan dengan cara disemprot. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Viviani dan Nazarudin (1988), yang menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi lingkungan. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak mau pun peternak.

Penyakit yang biasa menyerang peternakan G. Rahayu Jaya Mulia ini yaitu diare/mencret, Peternak biasanya memanggil dokter hewan sekitar jika ternak sakit.

3.7 Pengalaman Farm Experince

Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.

Kegiatan Farm Experience dilakukan selama satu bulan pada Peternakan G. Rahayu Jaya Mulia di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kegiatan magang ini dilakukan setiap hari sabtu dan minggu, pada pagi hari mulai pukul 07.00 – 09.00 WIB dan pada sore hari mulai pukul 16.00–17.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pakan, minum, membersihkan kandang yaitu membersihkan tempat pakan dan membuang feses ternak.

Tabel 2. Jadwal rutin magang

Hari Tanggal

Pukul (WIB)

Jenis kegiatan

03-Apr-15

07.00-08.30

Membersihkan Kandang

Sampai

08.30-09.30

Memberi Pakan dan Minum

02-Mei-15

09.30-16.30

Istirahat

16.30-17.00

Membersihkan Kandang

 

17.00-17.30

Memberi Pakan dan Minum

Pengalaman yang diperoleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara pemeliharaan ternak dengan cara dikandangkan di peternakan tempat melaksanakan Farm Experience dan dapat membedakan dengan pemeliharaan kerbau di peternakan lain serta menambah wawasan cara berbisnis dalam bidang peternakan sehingga sukses.

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar