FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN DI
PETERNAKAN TUNAS MUDA KECAMATAN KUMPEH ULU KABUPATEN
MUARO JAMBI
OLEH:
NAMA
NIM
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sapi potong merupakan salah
satu ternak yang memiliki nilai jual tinggi dibandingkan dengan ternak yang lain. Pada
umumnya masyarakat membutuhkan hewan ini
untuk dikonsumsi, karena kandungan
protein yang tinggi. Pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut
ketersediaan daging yang meningkat pula. Hal inilah yang menyebabkan usaha sapi
potong mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Saat ini usaha sapi potong
didominasi oleh peternakan besar dan kecil. Ada juga perorangan yang
menjalankan usaha ini, usaha ini juga bisa dilakukan secara kelompok. Di daerah
Jambi usaha sapi potong ini tidak begitu digemari hanya ada beberapa peternak
yang usahanya bisa dibilang besar,
selebihnya peternak hanya memiliki beberapa ekor ternak saja. Padahal usaha ini
memiliki keuntungan yang besar, tetapi usaha ini juga memiliki resiko yang
besar.
Salah satu tantangan yang
dihadapi oleh peternak adalah produktivitas sapi yang rendah. Terutama sapi bali
yang banyak dipakai oleh peternak dalam usahanya. Produktivitas sapi ini dapat
dipengaruhi oleh pakan. Pakan adalah semua bahan makanan yang bisa diberikan
dan bermanfaat bagi ternak. Pakan yang diberikan oleh ternak harus tidak dalam
keadaan rusak (busuk, bercendawa), disukai ternak, bebas dari penyakit, mudah
didapat dan harganya murah.
Pada peternakan rakyat
termasuk salah satunya Peternakan Tunas
Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi, pakan yang diberikan pada umumnya sesuai dengan kemampuan peternak,
bukan sesuai dengan kebutuhan ternaknya. Peternak juga tidak memperhatikan
kualitas pakan yang diberikan kepada ternak. Padahal untuk dapat meningkatkan
produktifitas dari ternak tersebut, peternak harus memberikan pakan dengan
kualitas tinggi dengan harga yang murah sehingga peternak tidak rugi. Dari
uraian diatas saya ingin melakukan farm experience di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten
Muaro Jambi.
1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Farm
Experience ini adalah untuk mengetahui Manajemen
Pemberian Pakan di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu
Kabupaten Muaro Jambi serta mahasiswa juga dapat
mengetahui kegiatan – kegiatan apa saja yang dilakukan di peternakan tersebut. Dan dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang
teknik pengolahan pakan bagi petenak.
1.3 Manfaat
Manfaat Farm Experience adalah bisa
untuk menambah pengetahuan atau wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa mengenai Manajemen Pemberian Pakan di Peternakan Tunas Muda Kecamatan
Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.
BAB II
PROSEDUR KEGIATAN
2.1 Waktu
dan Tempat
Kegiatan
Farm Experience dilaksanakan di Peternakan
Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi yang di mulai dari
tanggal 07 September sampai 07 Oktober 2014 pada pukul 07.00 WIB- 11.00 WIB dilanjutkan kembali
pukul 14.00 WIB – 17.00 WIB.
2.2 Materi
Materi dan bahan pengamatan dalam pelaksanaan Farm
Experience adalah 10 ekor ternak sapi bali, hijauan, dedak, air, dan garam.
Alat yang digunakan dalam pelaksanaan Farm Experience adalah, ember, selang,
sekop, karung beras, sapu lidi, gerobak, tali, cangkul, sabit, kandang dan
gerobak.
2.3 Prosedur
Kerja
Prosedur kerja yan dilakukan selama melaksanakan Farm
Experience ini adalah melakukan pengamatan dan praktek langsung di kandang
ternak sapi Bali di Kelompok Tani Tunas Muda dari pukul 07.00 WIB s/d 17.000
WIB. Kegiatan yang dilakukan selama Farm Experience ini adalah membersihkan
kandang sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi hari (08.00 WIB – 09.00 WIB) dan
sore hari (16.00 WIB). Feses diangkat dengan menggunakan skop, diangkut ke
tempat penampungan feses yang berada dibelakang kandang. Pemberian pakan dilakukan
dua kali sehari yaitu pada pagi hari (07.00 WIB) dan siang hari (14.00 WIB).
Sebelum pakan diberikan ke ternak terlebih dahulu pakan di timbang begitu juga
dengan sisa pakan yang telah diberikan.
Pemberian minum pada pukul 15.00 WIB. Dan mengukur lingkar dada dan
panjang sapi dengan menggunakan tali pada hari pertama dan pada hari terakhir
kegiatan Farm Experience.
2.4 Analisis
Data
Data yang dihimpun selama kegiatan Farm
Experience ini berasal dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh
dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada pemilik usaha peternakan. Data
primer yang diambil meliputi jumlah ternak, jumlah pakan, dan minum yang diberi
serta jenis pakan, cara pemberian pakan dan minum. Sedangkan data sekunder
berasal dari catatan yang ada di Peternakan
Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.
Data yang diperoleh dianalisis dengan
cara penjumlahan, pengurangan, perkalian dan rataan yang meliputi konsumsi
pakan, pertambahan bobot badan, jenis pakan (hijauan dan konsentrat). Rumus
yang digunakan untuk menghitung bobot badan berpedoman pada Rumus Schoorl (1952).
· Bobot
Badan Sapi =
· PBB (Kg) = Bobot Badan Akhir (Kg) – Bobot Awal (Kg)
·
PBBH (Kg) =
Keterangan:
PBB : Pertambahan Bobot Badan
PBBH : Pertambahan Bobot Badan per Hari (Kg)
G :
Lingkar dada (cm)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Keadaan Umum Kelompok Tani Tunas Muda
Kelompok
Tani Tunas Muda berdiri pada tahun 1999 yang terletak di Desa Pudak Kecamatan
Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi. Kelompok Tani ini diketuai oleh Bapak Jumono.
Kecamatan Kumpeh termasuk wilayah Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi.
Kecamatan ini terletak dekat dengan Kota Jambi yang di ukur dari Kantor Pos
terdekat berjarak 25 KM.
Kelompok
Tani Tunas Muda ini berbatasan di sebelah Utara denga Desa Kemingking, sebelah
Selatan dengan sungai anakan Batanghari, Sebelah Barat dengan Desa Kumpeh dan
sebelah Timur dengan Desa Kota Karang. Luas peternakan ini adalah sekitar ±
1000 m2 yang terdiri dari beberapa bangunan yang dapat dilihat pada
tabel berikut ini.
Tabel 1. Bangunan di Peternakan Tunas Muda
|
No |
Penggunaan
Lahan |
Unit |
Luas (m2) |
|
1 |
Kandang
sapi |
1 |
15 x 6 |
|
2 |
Gudang |
1 |
10 x 5 |
|
3 |
Tempat
Pembuangan Limbah |
1 |
10 x 2 |
|
4 |
Kolam |
1 |
12 x 50 |
|
5 |
Tempat
Pengolahan feses |
1 |
7 x 20 |
Sumber : Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda 2014
3.2 Pengalaman Farm Experience
Farm
Experience merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan dan wajib diikuti
oleh setiap mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Peternakan sebelum menyelasaikan
studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui manajemen
pemeliharaan ternak sapi dan memberikan pengalaman kepada mahasiswa agar
memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai salah satu
sarjana peternakan.
Farm
Experience ini dilaksanakan selama 4 minggu yaitu dari tanggal 07 September- 07
Oktober 2014 yang terletak di Peternakan sapi potong Kelompok Tani Tunas Muda
Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi. Kegiatan magang ini dimulai pada
pukul 07.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB. Pada jam 07.00- 09.00 WIB dilakukan
pembersihan kandang, tempat pakan dan tempat minum, dilanjutkan dengan
pemberian pakan. Feses yang berada dikandang diambil menggunakan skop kemudian
dikumpulkan di tempat penampungan feses yang berada dibelakang kandang.
Sedangkan sisa pakan dikumpulkan disamping kandang untuk dibakar. Pukul 08.00
WIB diberikan air minum yang dicampur dengan dedak dan garam dapur. Pukul 09.30
WIB dilakukan pembuatan kompos. Pada pukul 14.00 WIB diberikan pakan dan
diberikan air minum. Dari kegiatan yang dilakukan dapat dilihat bahwa semua
teori yang diberikan pada saat perkuliahan dapat diterapkan dilapangan. Hal ini
tergantung bagaimana kondisi peternakan, lokasi peternakan, pendidikan peternak
dan pengalaman peternakan. Pemberian konsentrat juga diberikan walaupun hanya
berupa dedak saja, bagi peternak hal ini sudah mencukupi bagi pertumbuhan
ternaknya.
3.3 Sistem Perkandangan
Kandang
memiliki beberapa fungsi penting dalam suatu usaha sapi yaitu : melindungi sapi
dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat dengan nyaman, mengontrol sapi
agar tidak merusak tanaman disekkita lokasi peternakan, tempat pengumpulan
kotoran ternak sapi, melindungi sapi dari hewan pengganggu, memudahkan
pemeliharaan terutama dalam pemberian pakan, minum dan mempermudah pengawasan
kesehatan (Abidin, 2002).
Tipe
kandang dari kelompok Tani Tunas Muda ini adalah tipe intensif (sapi
dikandangkan terus-menerus). Sistem
pemeliharaan sapi potong dikategorikan dalam tiga yaitu sistem pemeliharaan
intensif yaitu ternak dikandangkan, sistem pemeliharaan semi intensif yaitu
ternak dikandangkan pada malam hari dan dilepas dipadang penggembalaan pada
pagi hari dan sistem pemeliharaan ekstensif yaitu ternak dilepas di padang
penggembalaan (Hernowo, 2006). Kandang ini
mempunyai Panjang 15 meter, Lebar 5 meter dan Tinggi 3 meter. Kandang ini
berlokasi tepat berada dibelakang rumah ketua Kelompok Tani Tunas Muda dengan
jarak sekitar 7 meter. Jarak ini terlalu dekat dengan rumah dimana tempat Bapak
Jimono tinggal. Hal ini tidak
sesuai dengan pendapat Pusat Penelitiandan Pengembangan Peternakan (2007),
menyatakan bahwa jarak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi
tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.
Kandang
sapi di Kelompok Tani Tunas Muda tidak berdinding, tiang kandang terbuat dari
kayu dan atap terbuat dari seng yang memiliki ventilasi agar sirkulasi udara
berjalan dengan baik (Gambar 1). Menurut Santoso (2002), ventilasi berfungsi
untuk mengurangi kelembaban dalam kandang, mengurangi organisme penyakit,
mengurangi debu dan udara kotor sehingga mudah diganti dengan udara segar,
mengurangi limbah produksi terutama yang berasal dari kotoran dan urin seperti
ammonia, hidrogen, sulida, karbondiokksida dan gas methan.
Atap
kandang terbuat dari seng dengan tujuan
lebih tahan lama. Pane (1996), menyatakan bahwa atap yang cukup baik untuk
pembuatan kandang yaitu genteng, seng atau sejenisnya karena tahan lama, udara
bisa masuk melalui celah- celahnya. Lantai kandang terbuat dari semen dengan
kemiringan 60 agar kotoran dan urin dapat mudah dibersihkan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Suharso dan Nazaruddin (1994), yang menyatakan bahwa
bangunan kandang sebaiknya dilengkapi dengan sistem drainase atau pengaliran
air agar kotoran mudah dibersihkan dan air buangan mengalir lancar. Tempat
pakan pada kandang ini dibuat dari semen yang berukuran 800 x 30 x 50 cm.
Sementara tempat air minum berupa ember dan diletakkan didalam bak tempat
pakan.
Gambar 1.
Kandang Sapi
3.4 Umur Sapi
Bibit
sapi di Kelompok Tani Tunas Muda ini didatang dari desa seberang kota Jambi dan
Bangsa ternak sapi yang dipelihara yaitu Sapi Bali yang berjumlah 10 ekor. Dengan
jenis kelamin jantan 8 ekor dan berjenis kelamin betina sebanyak 2 ekor.
Tabel 2. Umur Sapi
|
No Sapi Umur Sapi |
|
|
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 |
1 tahun 2 tahun 2,5 tahun 2 tahun 11 bulan 1.8 tahun 3 tahun 3.5 tahun 4 tahun 4 tahun |
Sumber : Peternakan
Kelompok Tani Tunas Muda 2014
3.5 Sistem Pemberian Pakan dan Air Minum
Pakan yang diberikan kepada ternak sapi di Kelompok
Tani Tunas Muda ini adalah rumput lapangan dan rumput kumpeh yang diperoleh
dari pinggir sawah. Kelompok Tani Tunas Muda ini tidak mempunyai lahan untuk
menanam hijauan sendiri. Menurut
Reksohadiprojo (1985), hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein dan sumber energi.
Tabel 3. Jenis Pakan yang Diberikan Dilihat Dari Komposisi Kimia Pada
Peternakan Tunas Muda
|
No |
Jenis hijauan |
Kandungan zat makanan |
||
|
BK (%) |
PK (%) |
SK (%) |
||
|
1 |
Rumput
kumpai |
31,04 |
11,49 |
33,67 |
|
2 |
Lapangan |
35,41 |
6,69 |
34,19 |
Sumber :Kanisius, (1979).
Nilai biologis rumput kumpai yang
tinggi dengan kandungan protein kasar
14,11% di habitat aslinya (rawa) menjadikan rumput ini termasuk ke dalam kelas hijauan berkualitas tinggi jika dibandingkan protein kasar rumput gajah yang hanya 9% dan melebihi kandungan protein jagung kuning yang berkisar antara 10–11% (Hartadi, 1986).
Sistem pemberian
pakan di peternakan Tunas Muda dilakukan pada pagi
dan siang hari. Frekuensi
pemberian pakan pada ternak sapi merupakan faktor yang harus diperhatikan
karena pemberian pakan harus sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang
dibutuhkan oleh ternak. Pemberian pakan pada ternak
sapi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, bereproduksi dan
berproduksi (Sugeng, 2005).
Frekuensi
pemberian pakan hijauan untuk sapi Bali di Kelompok Tani Tunas Muda sebanyak 2
kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB dan 14.00 WIB (Gambar 2).Hal ini sesuai
dengan pendapat Bandani(2003), yang menyatakan bahwa pada prinsipnya pemberian
pakan berupa hijauan segar bagi sapi dewasa umumnya diberikan 2 kali sehari
sebanyak 10% dari berat badan. Di peternakan Kelompok Tani Tunas Muda diberikan
kosentrat yaitu dedak. Dedak ini didapatkan dari hasil sisa penggilingan padi
menjadi beras. Padi ini didapatkan dari sawah milik Bapak Jimono.
Menurut
Santoso (2005) bahwa dalam memilih bahan pakan, beberapa pengetahuan penting
berikut ini harus diketahui sebelumya yaitu:
1.
Bahan pakan harus mudah diperoleh dan sedapat
mungkin terdapat di daerah sekitar sehingga tidak menimbulkan masalah biaya transportasi dan kesulitan
mencarinya.
2.
Bahan pakan harus terjamin ketersediaannya sepanjang
waktu dalam jumlah yang mencukupi keperluan.
Gambar 2. Pemberian pakan
Kebutuhan
air minum pada Kelompok Tani Tunas Muda dilakukan pada pagi dan sore hari. Air
merupakan bahan utama yang tidak bisa diabaikan, karena tubuh ternak terdiri
dari 70 % air, sehingga air benar –benar termasuk kebutuhan utama dan
pemberiannya dilakukan 3 kali/hari yaitu pagi hari pukul 07.30 WIB dan sore
hari pukul 15.00 WIB Air minum tersebut ditambahkan garam sebanyak 0,5 gram
atau 1 genggam tangan kedalam 10 liter air untuk setiap pemberian (Gambar 3).
Jadi ternak tersebut mengkonsumsi air minum sebanyak 20 liter/ekor/hari. Hal
ini sesuai dengan pendapat Setiadi (2001) kebutuhan air minum sapi ± 20-40
liter/ekor/hari. Pemberian garam di air minum dimaksudkan agar ternak lebih
banyak minum. Pemberian garam dalam air minum demikian tidak boleh dilakukan
karna garam akan menyebabkan ternak menjadi haus sehingga ternak akan selalu
minum dan akibatnya konsumsi pakan berkurang. Dampaknya adalah pertumbuhan
bobot badan yang menjadi rendah.
Tubuh
hewan terdiri dari kurang lebih 70% air, maka air merupakan kebutuhan utama
sapi yang tidak bisa diabaikan. Hal ini sering sekali diabaikan oleh para
peternak. Menurut Rianto dan Purbowati (2010) kebutuhan air dari sapi
dipengaruhi oleh sejumlah kondisi fisiologis dan lingkungan meliputi laju
pertumbuhan, kebuntingan, aktifivitas fisik, tipe pakan, konsumsi bahan kering,
konsumsi garam dan temperatur lingkungan.
Gambar 3.Pemberian air minum.
3.6 Konsumsi Pakan
Jumlah rumput yang diberikan kepada ternak di Kelompok
Tani Tunas Muda rata-rata sebanyak 133,53 kg per 10 ekor ternak perhari. Jumlah
rumput yang diberikan telah memenuhi kebutuhan tubuh sapi, karena menurut
Suharso dan Nazaruddin (1994), rata-rata jumlah hijauan yang diberikan 10% dari
bobot badan sapi. Jika dilihat dari rata-rata konsumsi pakan ternak di Kelompok
Tani Tuas Muda ini yaitu dapat dilihat dari table berikut:
Tabel 4. Konsumsi Hijauan Pada Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda
Selama 30 Hari
|
Ternak |
Jumlah Yang Diberikan (Kg) |
Jumlah Sisa (Kg) |
Jumlah Dikonsumsi (Kg) |
Jumlah Konsumsi Harian (Kg/Ekor/Hari) |
|
1 - 4 |
2971 |
58.23 |
2912,77 |
24.27 |
|
5 - 8 |
2955 |
57,93 |
2899.07 |
24.15 |
|
9 - 10 |
1440 |
50.8 |
1389,2 |
23.15 |
|
Jumlah |
7366 |
166,96 |
7201,04 |
71,92 |
|
Rataan |
2455,33 |
55,65 |
2400,34 |
24 |
Sumber: Kelompok Tani Tunas
Muda
Konsumsi ini belum mencukupi. ,,,,,,,,,,,,,,,,Rendahnya
rata-rata konsumsi pakan Kelompok Tani Tunas Muda ini dapat
disebabkan oleh kuantitas pakan yang
diberikan dan frekuensi pakan yang diberikan hanya 2 kali sehari. Hijauan yang
diberikan kepada ternak dengan volume yang sedikit akan menyebabkan pertumbuhan
terhambat, sapi yang dewasa berat badannya akan menurun, perkembangbiakan akan
rendah karena fertilitasnya menurun dan persentase karkas pun rendah (Sugeng,
2003).
3.7 Pertambahan Bobot Badan
Untuk
mengetahui pertambahan bobot badan dari masing-masing sapi pada pelaksaan
magang di Kelompok Tani Tunas Mudadengan
cara pengukuran lingkar dada dari masing-masing sapi (Tabel 5). Cara pengukuran ini mengggunakan Rumus
Schoorl (1952).
· Bobot
Badan Sapi =
Tabel 5. Pertambahan Bobot Badan Sapi Bali Pada Peternakan Tunas Muda selama dilaksanakannya Farm
Experience
|
Nomor Sapi |
Minggu Pertama (Kg) |
Minggu Terakhir (Kg) |
PBB/Bln (Kg) |
PBB/Hari (Kg) |
|
1 |
193 |
207,64 |
14,64 |
0,48 |
|
2 |
476,3 |
501 |
24,7 |
0,82 |
|
3 |
95,98 |
109,26 |
13,28 |
0,44 |
|
4 |
130 |
144,89 |
14,89 |
0,49 |
|
5 |
94 |
114,6 |
20,6 |
0,68 |
|
6 |
73,1 |
90 |
16,9 |
0,56 |
|
7 |
116 |
130,21 |
14,21 |
0,47 |
|
8 |
121,13 |
135,83 |
14,7 |
0,49 |
|
9 |
126 |
139,56 |
13,56 |
0,45 |
|
10 |
110 |
122,81 |
12,81 |
0,42 |
|
Jumlah |
1535,51 |
1695,8 |
160,29 |
5,3 |
|
Rata-rata |
153,551 |
169,58 |
16,02 |
0,53 |
Sumber : Peternakan Kelompok
Tani Tunas Muda dan Hasil Pengukuran
Dari Tabel 5 dapat
diketahui bahwa rata-rata pertambahan bobot badan
sapi Bali yang ada di Peternakan Tunas Muda ini adalah 0.53
Kg/ekor/Hari.Hal ini tidak sesuai dengan
pendapat Yusup (2013), yang menyatakan bahwa
pertambahan bobot badan harian sapi Bali
0.66-0.80 kg/hari, dengan berat badan sapi dewasa jantan
bekisar 350-400 kg dan betina dewasa bekisar 250-300 kg. Pemberian pakan yang
kurang baik kualitasnya merupakan salah satu penyebab utama pertambahan bobot
badan sapi kurang maksimal dantidak
diberikannya pakan tambahan seperti konsentrat. Hal ini
sesuai dengan pendapat Abidin (2002), yang
menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas dari pakan yang diberikan kepada ternak
sangat mempengaruhi terhadap pertambahan bobot badan dari ternak tersebut.
BAB
IV
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Dari hasil Farm Experience yang
dilaksanakan pada Kelompok
TaniTunas Muda Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi
dapat diketahui yaitu sistem
pemberian pakan yang dilaksanakan dipeternakan ini kurang baik karena pakan yang diberikan masih kurang
mencukupi secara kualitas dan kosentrat yang diberikan hanya berupa dedak.
Dipeternakan Kelompok Tani Tunas Muda ini tidak adanya pencegahan penyakit
seperti vaksinasi.
4.2.
Saran
Pakan
ternak sapi Bali di Kelompok Tani
Tunas Muda masih perlu diperhatikan karena
kualitasnya masih belum mencukupi kebutuhan,perlu diberikan pakan tambahan
seperti konsentrat agar kebutuhan akan nutrisi ternak tercukupi dan kesehatan ternak harus diperhatikan karena banyak
ternak yang terserang penyakit tetapi tidak adanya penanganan seperti
vaksinasi.Pemberian garam sebaiknya dipercikkan ke pakan atau diberikan dalam
bentuk garam balok sehingga ternak dapat menjilat garam kapan pun.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media. Tanggerang.
Bandini, Y. 2003. Beternak Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hartadi, H. S. Reksohadiprojo dan A. D. Tillman. 1986. Tabel Komposisi
Pakan Untuk Indonesi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.
Hernowo,
B. 2006. Prospek pengemangan usaha peternakan sapi potong di kecematan surade
kabupaten sukabumi. Fakultas peternakan Institut pertanian bogor. Bogor.
Pane, I. 1996. Pelaksanaan Perbaikan Mutu Geetik Sapi Bali. Gramedia.
Denpasar. Bali.
Reksohadiprodjo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi.
BPFE. Yogyakarta.
Rianto, E dan Purbowati. 2010. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Santoso. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Tanggerang.
Santoso. 2005. Kesehatan dan Gizi Ternak Sapi. Rineka Cipta. Jakarta.
Schoorl. 1952. Mededelingen van het Instiruted van veevoeding. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Dipoegoro. Semarang.
Setiadi. 2001. Beternak Sapi Pedaging. Aneka Ilmu. Semarang.
Sugeng,
Y. B. 2003. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sugeng, Y. B. 2005. Pemeliharaan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Suharso dan Nazaruddin. 1994. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Yusup, 2013. Penggemukan
Pembibitan dan Perdagangan Sapi Potong.PT. Fortuna Megah Perkasa.http://www.fmp.sinarindo.co.id/index.php/7-jenis-sapi/6-sapi-bali
Sientje.
1983.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar