Jumat, 29 Mei 2020

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN DI PETERNAKAN TUNAS MUDA KECAMATAN KUMPEH ULU KABUPATEN MUARO JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )

FARM EXPERIENCE

 

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN DI PETERNAKAN TUNAS MUDA KECAMATAN KUMPEH ULU KABUPATEN MUARO JAMBI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH:

 

NAMA

NIM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2014

 

 

 

 

 BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Sapi potong merupakan salah satu ternak yang memiliki nilai jual tinggi   dibandingkan dengan ternak yang lain. Pada umumnya  masyarakat membutuhkan hewan ini untuk dikonsumsi, karena kandungan protein yang tinggi. Pertambahan penduduk yang terus meningkat menuntut ketersediaan daging yang meningkat pula. Hal inilah yang menyebabkan usaha sapi potong mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Saat ini usaha sapi potong didominasi oleh peternakan besar dan kecil. Ada juga perorangan yang menjalankan usaha ini, usaha ini juga bisa dilakukan secara kelompok. Di daerah Jambi usaha sapi potong ini tidak begitu digemari hanya ada beberapa peternak yang usahanya  bisa dibilang besar, selebihnya peternak hanya memiliki beberapa ekor ternak saja. Padahal usaha ini memiliki keuntungan yang besar, tetapi usaha ini juga memiliki resiko yang besar.

Salah satu tantangan yang dihadapi oleh peternak adalah produktivitas sapi yang rendah. Terutama sapi bali yang banyak dipakai oleh peternak dalam usahanya. Produktivitas sapi ini dapat dipengaruhi oleh pakan. Pakan adalah semua bahan makanan yang bisa diberikan dan bermanfaat bagi ternak. Pakan yang diberikan oleh ternak harus tidak dalam keadaan rusak (busuk, bercendawa), disukai ternak, bebas dari penyakit, mudah didapat dan harganya murah.

Pada peternakan rakyat termasuk salah satunya Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi, pakan yang diberikan pada umumnya sesuai dengan kemampuan peternak, bukan sesuai dengan kebutuhan ternaknya. Peternak juga tidak memperhatikan kualitas pakan yang diberikan kepada ternak. Padahal untuk dapat meningkatkan produktifitas dari ternak tersebut, peternak harus memberikan pakan dengan kualitas tinggi dengan harga yang murah sehingga peternak tidak rugi. Dari uraian diatas saya ingin melakukan farm experience di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience ini adalah untuk mengetahui Manajemen Pemberian  Pakan di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi serta mahasiswa juga dapat mengetahui kegiatan – kegiatan apa saja yang dilakukan di peternakan tersebut. Dan dapat memberikan sumbangan pengetahuan tentang teknik pengolahan pakan bagi petenak.

 

1.3 Manfaat

Manfaat Farm Experience adalah bisa untuk menambah pengetahuan atau wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa mengenai Manajemen Pemberian  Pakan di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.

 


 

BAB II

PROSEDUR KEGIATAN

   

2.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan Farm Experience dilaksanakan di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi yang di mulai dari tanggal    07 September sampai 07 Oktober 2014 pada pukul 07.00 WIB- 11.00 WIB dilanjutkan kembali pukul 14.00 WIB – 17.00 WIB.

 

2.2 Materi

            Materi dan bahan pengamatan dalam pelaksanaan Farm Experience adalah 10 ekor ternak sapi bali, hijauan, dedak, air, dan garam. Alat yang digunakan dalam pelaksanaan Farm Experience adalah, ember, selang, sekop, karung beras, sapu lidi, gerobak, tali, cangkul, sabit, kandang dan gerobak.  

 

2.3 Prosedur Kerja

            Prosedur kerja yan dilakukan selama melaksanakan Farm Experience ini adalah melakukan pengamatan dan praktek langsung di kandang ternak sapi Bali di Kelompok Tani Tunas Muda dari pukul 07.00 WIB s/d 17.000 WIB. Kegiatan yang dilakukan selama Farm Experience ini adalah membersihkan kandang sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pagi hari (08.00 WIB – 09.00 WIB) dan sore hari (16.00 WIB). Feses diangkat dengan menggunakan skop, diangkut ke tempat penampungan feses yang berada dibelakang kandang. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi hari (07.00 WIB) dan siang hari (14.00 WIB). Sebelum pakan diberikan ke ternak terlebih dahulu pakan di timbang begitu juga dengan sisa pakan yang telah diberikan.  Pemberian minum pada pukul 15.00 WIB. Dan mengukur lingkar dada dan panjang sapi dengan menggunakan tali pada hari pertama dan pada hari terakhir kegiatan Farm Experience.

 

 

 

2.4 Analisis Data

Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience ini berasal dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada pemilik usaha peternakan. Data primer yang diambil meliputi jumlah ternak, jumlah pakan, dan minum yang diberi serta jenis pakan, cara pemberian pakan dan minum. Sedangkan data sekunder berasal dari catatan yang ada di Peternakan Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi.

Data yang diperoleh dianalisis dengan cara penjumlahan, pengurangan, perkalian dan rataan yang meliputi konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, jenis pakan (hijauan dan konsentrat). Rumus yang digunakan untuk menghitung bobot badan berpedoman pada Rumus Schoorl (1952).

·       Bobot Badan Sapi =

·       PBB (Kg) = Bobot Badan  Akhir (Kg) – Bobot Awal (Kg)

·       PBBH (Kg) =

Keterangan:

PBB         : Pertambahan Bobot Badan

PBBH      : Pertambahan Bobot Badan per Hari (Kg)

G              : Lingkar dada (cm)


 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Kelompok Tani Tunas Muda

            Kelompok Tani Tunas Muda berdiri pada tahun 1999 yang terletak di Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi. Kelompok Tani ini diketuai oleh Bapak Jumono. Kecamatan Kumpeh termasuk wilayah Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Kecamatan ini terletak dekat dengan Kota Jambi yang di ukur dari Kantor Pos terdekat berjarak 25 KM.

            Kelompok Tani Tunas Muda ini berbatasan di sebelah Utara denga Desa Kemingking, sebelah Selatan dengan sungai anakan Batanghari, Sebelah Barat dengan Desa Kumpeh dan sebelah Timur dengan Desa Kota Karang. Luas peternakan ini adalah sekitar ± 1000 m2 yang terdiri dari beberapa bangunan yang dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Bangunan di Peternakan Tunas Muda

No

Penggunaan Lahan

Unit

Luas (m2)

1

Kandang sapi

1

15 x 6

2

Gudang

1

10 x 5

3

Tempat Pembuangan Limbah

1

10 x 2

4

Kolam

1

12 x 50

5

Tempat Pengolahan feses

1

7 x 20

Sumber : Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda 2014

3.2 Pengalaman Farm Experience

            Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang harus dilakukan dan wajib diikuti oleh setiap mahasiswa dan mahasiswi Fakultas Peternakan sebelum menyelasaikan studinya. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui manajemen pemeliharaan ternak sapi dan memberikan pengalaman kepada mahasiswa agar memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai salah satu sarjana peternakan.

            Farm Experience ini dilaksanakan selama 4 minggu yaitu dari tanggal 07 September- 07 Oktober 2014 yang terletak di Peternakan sapi potong Kelompok Tani Tunas Muda Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi. Kegiatan magang ini dimulai pada pukul 07.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB. Pada jam 07.00- 09.00 WIB dilakukan pembersihan kandang, tempat pakan dan tempat minum, dilanjutkan dengan pemberian pakan. Feses yang berada dikandang diambil menggunakan skop kemudian dikumpulkan di tempat penampungan feses yang berada dibelakang kandang. Sedangkan sisa pakan dikumpulkan disamping kandang untuk dibakar. Pukul 08.00 WIB diberikan air minum yang dicampur dengan dedak dan garam dapur. Pukul 09.30 WIB dilakukan pembuatan kompos. Pada pukul 14.00 WIB diberikan pakan dan diberikan air minum. Dari kegiatan yang dilakukan dapat dilihat bahwa semua teori yang diberikan pada saat perkuliahan dapat diterapkan dilapangan. Hal ini tergantung bagaimana kondisi peternakan, lokasi peternakan, pendidikan peternak dan pengalaman peternakan. Pemberian konsentrat juga diberikan walaupun hanya berupa dedak saja, bagi peternak hal ini sudah mencukupi bagi pertumbuhan ternaknya.

             

3.3 Sistem Perkandangan

Kandang memiliki beberapa fungsi penting dalam suatu usaha sapi yaitu : melindungi sapi dari gangguan cuaca, tempat sapi beristirahat dengan nyaman, mengontrol sapi agar tidak merusak tanaman disekkita lokasi peternakan, tempat pengumpulan kotoran ternak sapi, melindungi sapi dari hewan pengganggu, memudahkan pemeliharaan terutama dalam pemberian pakan, minum dan mempermudah pengawasan kesehatan (Abidin, 2002).

Tipe kandang dari kelompok Tani Tunas Muda ini adalah tipe intensif (sapi dikandangkan terus-menerus). Sistem pemeliharaan sapi potong dikategorikan dalam tiga yaitu sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak dikandangkan, sistem pemeliharaan semi intensif yaitu ternak dikandangkan pada malam hari dan dilepas dipadang penggembalaan pada pagi hari dan sistem pemeliharaan ekstensif yaitu ternak dilepas di padang penggembalaan (Hernowo, 2006). Kandang ini mempunyai Panjang 15 meter, Lebar 5 meter dan Tinggi 3 meter. Kandang ini berlokasi tepat berada dibelakang rumah ketua Kelompok Tani Tunas Muda dengan jarak sekitar 7 meter. Jarak ini terlalu dekat dengan rumah dimana tempat Bapak Jimono tinggal. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Pusat Penelitiandan Pengembangan Peternakan (2007), menyatakan bahwa jarak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.

Kandang sapi di Kelompok Tani Tunas Muda tidak berdinding, tiang kandang terbuat dari kayu dan atap terbuat dari seng yang memiliki ventilasi agar sirkulasi udara berjalan dengan baik (Gambar 1). Menurut Santoso (2002), ventilasi berfungsi untuk mengurangi kelembaban dalam kandang, mengurangi organisme penyakit, mengurangi debu dan udara kotor sehingga mudah diganti dengan udara segar, mengurangi limbah produksi terutama yang berasal dari kotoran dan urin seperti ammonia, hidrogen, sulida, karbondiokksida dan gas methan.

Atap kandang  terbuat dari seng dengan tujuan lebih tahan lama. Pane (1996), menyatakan bahwa atap yang cukup baik untuk pembuatan kandang yaitu genteng, seng atau sejenisnya karena tahan lama, udara bisa masuk melalui celah- celahnya. Lantai kandang terbuat dari semen dengan kemiringan 60 agar kotoran dan urin dapat mudah dibersihkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharso dan Nazaruddin (1994), yang menyatakan bahwa bangunan kandang sebaiknya dilengkapi dengan sistem drainase atau pengaliran air agar kotoran mudah dibersihkan dan air buangan mengalir lancar. Tempat pakan pada kandang ini dibuat dari semen yang berukuran 800 x 30 x 50 cm. Sementara tempat air minum berupa ember dan diletakkan didalam bak tempat pakan.

                                Gambar 1. Kandang Sapi

 

3.4 Umur Sapi

            Bibit sapi di Kelompok Tani Tunas Muda ini didatang dari desa seberang kota Jambi dan Bangsa ternak sapi yang dipelihara yaitu Sapi Bali yang berjumlah 10 ekor. Dengan jenis kelamin jantan 8 ekor dan berjenis kelamin betina sebanyak 2 ekor.

 

Tabel 2. Umur Sapi

No Sapi                           Umur Sapi

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

1 tahun

2 tahun

2,5 tahun

2 tahun

11 bulan

1.8 tahun

3 tahun

3.5 tahun

4 tahun

4 tahun

                    Sumber : Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda 2014

 

3.5 Sistem Pemberian Pakan dan Air Minum

Pakan yang diberikan kepada ternak sapi di Kelompok Tani Tunas Muda ini adalah rumput lapangan dan rumput kumpeh yang diperoleh dari pinggir sawah. Kelompok Tani Tunas Muda ini tidak mempunyai lahan untuk menanam hijauan sendiri. Menurut Reksohadiprojo (1985), hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein dan sumber energi.

 

Tabel 3. Jenis Pakan yang Diberikan Dilihat Dari Komposisi Kimia Pada Peternakan Tunas Muda

No

Jenis hijauan

Kandungan zat makanan

BK

(%)

PK

(%)

SK

(%)

1

Rumput kumpai

31,04

11,49

33,67

 

2

 

Lapangan

 

35,41

 

6,69

 

34,19

Sumber :Kanisius, (1979).

Nilai biologis rumput kumpai yang tinggi dengan kandungan protein kasar 14,11% di habitat aslinya (rawa) menjadikan rumput ini termasuk ke dalam kelas hijauan berkualitas tinggi jika dibandingkan protein kasar rumput gajah yang hanya 9% dan melebihi kandungan protein jagung kuning yang berkisar antara 10–11% (Hartadi, 1986).

Sistem pemberian pakan di peternakan Tunas Muda dilakukan pada pagi dan siang hari. Frekuensi pemberian pakan pada ternak sapi merupakan faktor yang harus diperhatikan karena pemberian pakan harus sesuai dengan kualitas dan kuantitas pakan yang dibutuhkan oleh ternak. Pemberian pakan pada ternak sapi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, bereproduksi dan berproduksi (Sugeng, 2005).

Frekuensi pemberian pakan hijauan untuk sapi Bali di Kelompok Tani Tunas Muda sebanyak 2 kali sehari yaitu pada pukul 07.00 WIB dan 14.00 WIB (Gambar 2).Hal ini sesuai dengan pendapat Bandani(2003), yang menyatakan bahwa pada prinsipnya pemberian pakan berupa hijauan segar bagi sapi dewasa umumnya diberikan 2 kali sehari sebanyak 10% dari berat badan. Di peternakan Kelompok Tani Tunas Muda diberikan kosentrat yaitu dedak. Dedak ini didapatkan dari hasil sisa penggilingan padi menjadi beras. Padi ini didapatkan dari sawah milik Bapak Jimono.

Menurut Santoso (2005) bahwa dalam memilih bahan pakan, beberapa pengetahuan penting berikut ini harus diketahui sebelumya yaitu:

1.     Bahan pakan harus mudah diperoleh dan sedapat mungkin terdapat di daerah sekitar sehingga tidak menimbulkan  masalah biaya transportasi dan kesulitan mencarinya.

2.     Bahan pakan harus terjamin ketersediaannya sepanjang waktu dalam jumlah yang mencukupi keperluan.

 

 

Gambar 2. Pemberian pakan

Kebutuhan air minum pada Kelompok Tani Tunas Muda dilakukan pada pagi dan sore hari. Air merupakan bahan utama yang tidak bisa diabaikan, karena tubuh ternak terdiri dari 70 % air, sehingga air benar –benar termasuk kebutuhan utama dan pemberiannya dilakukan 3 kali/hari yaitu pagi hari pukul 07.30 WIB dan sore hari pukul 15.00 WIB Air minum tersebut ditambahkan garam sebanyak 0,5 gram atau 1 genggam tangan kedalam 10 liter air untuk setiap pemberian (Gambar 3). Jadi ternak tersebut mengkonsumsi air minum sebanyak 20 liter/ekor/hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Setiadi (2001) kebutuhan air minum sapi ± 20-40 liter/ekor/hari. Pemberian garam di air minum dimaksudkan agar ternak lebih banyak minum. Pemberian garam dalam air minum demikian tidak boleh dilakukan karna garam akan menyebabkan ternak menjadi haus sehingga ternak akan selalu minum dan akibatnya konsumsi pakan berkurang. Dampaknya adalah pertumbuhan bobot badan yang menjadi rendah.

Tubuh hewan terdiri dari kurang lebih 70% air, maka air merupakan kebutuhan utama sapi yang tidak bisa diabaikan. Hal ini sering sekali diabaikan oleh para peternak. Menurut Rianto dan Purbowati (2010) kebutuhan air dari sapi dipengaruhi oleh sejumlah kondisi fisiologis dan lingkungan meliputi laju pertumbuhan, kebuntingan, aktifivitas fisik, tipe pakan, konsumsi bahan kering, konsumsi garam dan temperatur lingkungan.

Gambar 3.Pemberian air minum.

3.6 Konsumsi Pakan

Jumlah rumput yang diberikan kepada ternak di Kelompok Tani Tunas Muda rata-rata sebanyak 133,53 kg per 10 ekor ternak perhari. Jumlah rumput yang diberikan telah memenuhi kebutuhan tubuh sapi, karena menurut Suharso dan Nazaruddin (1994), rata-rata jumlah hijauan yang diberikan 10% dari bobot badan sapi. Jika dilihat dari rata-rata konsumsi pakan ternak di Kelompok Tani Tuas Muda ini yaitu dapat dilihat dari table berikut:


 

Tabel 4. Konsumsi Hijauan Pada Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda Selama 30 Hari

Ternak

Jumlah Yang Diberikan  (Kg)

Jumlah Sisa (Kg)

Jumlah Dikonsumsi (Kg)

Jumlah Konsumsi Harian (Kg/Ekor/Hari)

1 - 4

2971

58.23

2912,77

24.27

5 - 8

2955

57,93

2899.07

24.15

9 - 10

1440

50.8

1389,2

23.15

Jumlah

7366

166,96

7201,04

71,92

Rataan

2455,33

55,65

2400,34

24

Sumber: Kelompok Tani Tunas Muda

Konsumsi ini belum mencukupi. ,,,,,,,,,,,,,,,,Rendahnya rata-rata konsumsi pakan Kelompok Tani Tunas Muda ini dapat disebabkan oleh kuantitas pakan yang diberikan dan frekuensi pakan yang diberikan hanya 2 kali sehari. Hijauan yang diberikan kepada ternak dengan volume yang sedikit akan menyebabkan pertumbuhan terhambat, sapi yang dewasa berat badannya akan menurun, perkembangbiakan akan rendah karena fertilitasnya menurun dan persentase karkas pun rendah (Sugeng, 2003).

3.7 Pertambahan Bobot Badan

Untuk mengetahui pertambahan bobot badan dari masing-masing sapi pada pelaksaan magang di Kelompok Tani Tunas Mudadengan cara pengukuran lingkar dada dari masing-masing sapi (Tabel 5). Cara pengukuran ini mengggunakan Rumus Schoorl (1952).

·       Bobot Badan Sapi =

 

 

 

Tabel 5. Pertambahan Bobot Badan Sapi Bali Pada Peternakan Tunas Muda selama dilaksanakannya Farm Experience

Nomor Sapi

Minggu Pertama (Kg)

Minggu Terakhir (Kg)

PBB/Bln (Kg)

PBB/Hari (Kg)

1

193

207,64

14,64

0,48

2

476,3

501

24,7

0,82

3

95,98

109,26

13,28

0,44

4

130

144,89

14,89

0,49

5

94

114,6

20,6

0,68

6

73,1

90

16,9

0,56

7

116

130,21

14,21

0,47

8

121,13

135,83

14,7

0,49

9

126

139,56

13,56

0,45

10

110

122,81

12,81

0,42

Jumlah

1535,51

1695,8

160,29

5,3

Rata-rata

153,551

169,58

16,02

0,53

Sumber : Peternakan Kelompok Tani Tunas Muda dan Hasil Pengukuran

Dari Tabel 5 dapat diketahui bahwa rata-rata pertambahan bobot badan sapi Bali yang ada di Peternakan Tunas Muda ini adalah 0.53 Kg/ekor/Hari.Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Yusup (2013), yang menyatakan bahwa pertambahan bobot badan harian sapi Bali 0.66-0.80 kg/hari, dengan berat badan sapi dewasa jantan bekisar 350-400 kg dan betina dewasa bekisar 250-300 kg. Pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya merupakan salah satu penyebab utama pertambahan bobot badan sapi kurang maksimal dantidak diberikannya pakan tambahan seperti konsentrat. Hal ini sesuai dengan pendapat Abidin (2002), yang menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas dari pakan yang diberikan kepada ternak sangat mempengaruhi terhadap pertambahan bobot badan dari ternak tersebut.


 

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

            Dari hasil Farm Experience yang dilaksanakan pada Kelompok TaniTunas Muda Desa Pudak Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muaro Jambi dapat diketahui yaitu sistem pemberian pakan yang dilaksanakan dipeternakan ini kurang baik karena pakan yang diberikan masih kurang mencukupi secara kualitas dan kosentrat yang diberikan hanya berupa dedak. Dipeternakan Kelompok Tani Tunas Muda ini tidak adanya pencegahan penyakit seperti vaksinasi.

4.2. Saran

            Pakan ternak sapi Bali di Kelompok Tani Tunas Muda masih perlu diperhatikan karena kualitasnya masih belum mencukupi kebutuhan,perlu diberikan pakan tambahan seperti konsentrat agar kebutuhan akan nutrisi ternak tercukupi dan kesehatan ternak harus diperhatikan karena banyak ternak yang terserang penyakit tetapi tidak adanya penanganan seperti vaksinasi.Pemberian garam sebaiknya dipercikkan ke pakan atau diberikan dalam bentuk garam balok sehingga ternak dapat menjilat garam kapan pun.


 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media. Tanggerang.

 

Bandini, Y. 2003. Beternak Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta.

Hartadi, H. S. Reksohadiprojo dan A. D. Tillman. 1986. Tabel Komposisi Pakan Untuk Indonesi. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Hernowo, B. 2006. Prospek pengemangan usaha peternakan sapi potong di kecematan surade kabupaten sukabumi. Fakultas peternakan Institut  pertanian bogor. Bogor.

Pane, I. 1996. Pelaksanaan Perbaikan Mutu Geetik Sapi Bali. Gramedia. Denpasar. Bali.

 

Reksohadiprodjo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.

 

Rianto, E dan Purbowati. 2010. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

 

Santoso. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pustaka. Tanggerang.

 

Santoso. 2005. Kesehatan dan Gizi Ternak Sapi. Rineka Cipta. Jakarta.

 

Schoorl. 1952. Mededelingen van het Instiruted van veevoeding. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Dipoegoro. Semarang.

 

Setiadi. 2001. Beternak Sapi Pedaging. Aneka Ilmu. Semarang.

Sugeng, Y. B. 2003. Sapi Potong. Penebar Swadaya, Jakarta.

Sugeng, Y. B. 2005. Pemeliharaan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Suharso dan Nazaruddin. 1994. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat. Penebar Swadaya. Jakarta.

Yusup, 2013. Penggemukan Pembibitan dan Perdagangan Sapi Potong.PT. Fortuna Megah Perkasa.http://www.fmp.sinarindo.co.id/index.php/7-jenis-sapi/6-sapi-bali

Sientje. 1983.


 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar