LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
PROSES
PEMBUATAN KOMPOS DAN PEMASARANNYA
DI KELOMPOK
TANI TUNAS MUDA DESA PUDAK
KEC.KUMPEH
ULU KAB.MUARO JAMBI

OLEH
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Usaha dibidang peternakan mempunyai prospek yang baik untuk
berkembang, karena tingginya permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan
memberi keuntungan yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak
masyarakat di perdesaaan di Indonesia. Selain menghasilkan daging, usaha
peternakan juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah kotoran ternak (feces).
Limbah ternak dapat diolah untuk dijadikan kompos dan sebagai bahan baku
penghasil biogas. Dengan adanya pengolahan limbah ternak selain dapat mengatasi
masalah lingkungan juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak karena
mempunyai nilai ekonomis. Pembuatan kompos dapat mendukung kegiatan pertanian
untuk mengembalikan kesuburan lahan.
Pengomposan merupakan upaya
pengelolaan limbah ternak terutama feces dengan memanfaatkan aktivitas
mikroorganisme. Sistem pengomposan ini mempunyai beberapa keuntungan, antara
lain tidak merusak tanah karena tidak mengandung bahan kimia dan terdiri dari
bahan baku alami. Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami
penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan
bahan organik sebagai sumber energi (Sarah, 2013).
Kompos merupakan zat
akhir suatu proses fermentasi, tumpukan sampah/ seresah tanaman dan ada kalanya
termasuk bangkai binatang. Perkembangan mikrobia memerlukan waktu agar tercapai
suatu keadaan fermentasi yang optimal. Untuk mempercepat proses pengomposan
dipakai aktifator, bisa berupa kotoran hewan baik dalam jumlah sedikit ataupun
banyak (Sutedjo, 2002).
Kompos atau pupuk
organik memiliki peluang pasar yang menjanjikan, karena di Indonesia masih
banyak terdapat persawahan dan perkebunan. Banyak petani yang beralih
menggunakan pupuk organik yang penggunaannya aman untuk tanah maupun tanaman.
Untuk pembuatan kompos tidaklah terlalu sulit, karena bahan baku yang mudah didapat
dan pengolahan serta peralatannya terbilang sederhana.
Kelompok Tani Tunas Muda yang bertempat di desa Pudak
kecamatan Kumpeh Ulu kabupaten Muaro Jambi, merupakan kelompok tani yang beranggotakan
beberapa peternak sapi yang diketuai oleh bapak Jumono. Kelompok tani ini
bergerak di bidang usaha pertanian, peternakan dan pengolahan kompos. Kompos
yang diolah Kelompok Tani Tunas Muda merupakan limbah kotoran dari peternakan
sapi. Kompos yang dihasilkan Kelompok Tani Tunas Muda adalah pupuk kompos padat.
Usaha ini memerlukan proses pengolahan dan pemasaran, dari pengumpulan feces
menjadi kompos sampai pengemasan sehingga memiliki nilai jual.
Berdasarkan uraian tersebut penulis melakukan kegiatan
Farm Experience dengan judul “Proses
Pembuatan Kompos dan Pemasarannya di Kelompok Tani Tunas Muda Desa Pudak
Kec.Kumpeh Ulu Kab.Muaro Jambi”.
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan Farm Experience ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan dan pemasaran feces
sapi menjadi pupuk kompos di Kelompok Tani Tunas Muda desa
Pudak kecamatan Kumpeh Ulu kabupaten
Muaro Jambi.
1.3. Manfaat
Manfaat dari kegiatan
Farm Experience adalah dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan wawasan berpikir dalam menerapkan ilmu di bidang peternakan khususnya dalam pembuatan
kompos dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi.
BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
Kegiatan Farm Experience ini dilaksanakan dari tanggal 15
Maret - 15 April 2014 di Kelompok Tani Tunas Muda desa Pudak kecamatan Kumpe
Ulu kabupaten Muaro Jambi.
2.2. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada Farm Experience yang dilakukan adalah dengan
melihat dan ikut terjun langsung dalam pengolahan feces sapi menjadi pupuk kompos. Adapun kegiatannya meliputi, pengumpulan feces
sapi, penjemuran feces sapi, penggilingan feces kering, pencampuran bahan-bahan pembuatan kompos dan pengemasan kompos.
2.3. Analisis Data
Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience ialah berasal dari data primer. Data primer diperoleh dari mengikuti
kegiatan langsung dalam
pengolahan kompos dan tanya
jawab kepada
ketua kelompok tani yaitu bapak Jumono
dan beberapa karyawan.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum
Kelompok
Tani Tunas Muda yang diketuai oleh bapak Jumono telah berdiri semenjak
tahun 2002. Selain menjadi ketua kelompok tani beliau juga bekerja sebagai
peternak dan petani padi. Penanganan
limbah ternak sapi menjadi kompos
didapatkan pak Jumono dari pelatihan pada tahun 2007. Kompos-kompos yang
tersedia nantinya akan dijual dan akan memenuhi kekurangan kebutuhan kompos di Kota
Jambi melalui jalur Dinas Pertanian.
Pembuatan kompos di Kelompok
Tani Tunas Muda adalah dengan
mencampurkan Trichoderma
pada
feces yang telah siap untuk diolah menjadi pupuk kompos. Dalam pengolahan kompos
tersebut pak Jumono dibantu oleh karyawan yang dipekerjakan. Sebagai ketua
kelompok tani dan telah diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan
pembuatan kompos, maka pembuatan kompos tersebut dilakukan diarea rumah pak Jumono
tepatnya dibelakang rumah. Biasanya dalam pemasaran kompos tersebut, konsumen
yang datang sendiri untuk memesan kompos dan tidak diantarkan.
Usaha yang masih cukup sederhana ini dapat memenuhi kekurangan
pasokan kompos di Kota Jambi dengan memanfaatkan limbah peternakan warga ataupun
anggota Kelompok Tani Tunas Muda yang berada disekitar tempat pengolahan kompos
tersebut. Feces sapi yang dibeli langsung dari warga dihargai Rp.3500/karung dan
Rp.2500 untuk harga karungnya. Namun tidak semua feces dibeli dari warga ada
juga feces yang berasal dari peternakan milik pak Jumono. Kompos yang sudah
diolah dihargai dengan Rp.40.000/karung.
Pengolahan kompos di Kelompok Tani Tunas Muda
masih dilakukan dengan cara manual kecuali penghalusan feces yang sudah
dijemur. Pengeringan yang dilakukan masih mengandalkan panas dari matahari,
begitu juga dengan pengadukan, pencampuran sampai pengemasan masih mengandalkan
tenaga manual.
3.2. Proses
Pembuatan Feces Menjadi Kompos/
Trichokompos
Berikut
adalah bagan dalam membuat
pupuk kompos:![]() |
![]() |
|||
Proses pembuatan feces menjadi pupuk kompos diawali
dari pengumpulan feces sapi dan dilanjutkan dengan proses penjemuran feces. Setelah
kering feces tersebut melewati proses penggilingan. Selanjutnya penyiapan tricoderma
yang meliputi, 1 liter trichoderma dicampur dengan 9 liter air di dalam tangki
spayer, diaduk sampai homogen, maka trichoderma siap digunakan sebagai starter
dalam proses fermentasi feces menjadi kompos. Untuk 1 ton feces digunakan
trichoderma sebanyak 5 liter yang akan dicampur ke feces pada saat proses
penggilingan dan fermentasi kering. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan
sendirinya, lewat proses alamiah. Namun proses tersebut berlangsung lama sekali
padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses
tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan cara yang baik, proses
mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa diperoleh kompos
yang berkualitas baik (Murbandono, 2000).
Proses fermentasi kompos
dilakukan dengan dua cara, yaitu fermentasi basah dan fermentasi kering.
Fementasi basah yakni fermentasi yang dilakukan secara langsung dengan
pencampuran serbuk gergaji dan sekam padi. Sedangkan fermentasi kering yakni
fermentasi yang dilakukan melalui proses penjemuran dan penggilingan. Setelah
proses fermentasi selesai maka akan menghasilkan kompos atau yang disebut dengan
Trichokompos. Penggunaan nama trichokompos untuk produksi pupuk kompos Kelompok Tani Tunas Muda
diambil dari nama bakteri yang digunakan dalam proses pengomposan, nama bakteri
tersebut adalah Tricoderma.
Tricoderma
merupakan cendawan yang dapat menjadi agen biokontrol karena bersifat antagonis
bagi jamur lainnya, terutama yang bersifat patogen. Aktivitas antagonis yang
dimaksud meliputi persaingan, parasitisme, predasi atau pembentukan toksin
seperti antibiotik. Untuk keperluan bioteknologi, agen biokontrol ini dapat
diisolasi dari Tricoderma dan
digunakan untuk menangani masalah kerusakan tanaman yang ditularkan melalui
tanah, mempercepat proses pelapukan bahan organik, menggemburkan atau
memperbaiki struktur tanah, mengurai unsur hara yang terikat didalam tanah.

Gambar 1. Trichoderma
3.2.1.
Penjemuran atau Pengeringan
Setelah
mendapatkan feces yang diinginkan selanjutnya dilakukan proses penjemuran, feces yang dijemur diperoleh dari
peternak sekitar ataupun warga sekitar. Mula-mula feces sapi yang masih segar, dikeluarkan dari karung. Setelah feces segar dikeluarkan dari karung kemudian feces ternak diratakan
diatas lahan penjemuran, selanjutnya di bolak balik menggunakan sekop dan
penggaruk. Tujuan dari perataan dan pembalikan feces agar semua feces terjemur
dan cepat kering.
Gambar 2. Feces sapi dari warga yang
telah terkumpul
Tujuan
dari penjemuran ini adalah untuk mengurangi kadar air
yang berada didalam feces,
penjemuran sangat mengandalkan panas matahari. Pengeringan
dilakukan selama kurang lebih satu minggu sampai dirasakan feces siap untuk
digiling. Tujuan lain dari pengeringan ini adalah memudahkan
penggilingan/penghalusan menggunakan mesin giling dan mengefisien waktu
produksi. Untuk membedakan
feces yang kering dilakukan perabaan feces tersebut, jika dirasa hilang airnya dan berat feces ringan maka dianggap feces tersebut telah kering.
Gambar
3. Penjemuran Feces
3.2.2.
Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan setelah feces sapi yang telah dijemur sudah
benar-benar kering kemudian diangkut menggunakan lori
untuk dipindahkan ke tempat penggilingan. Tujuan
penjemuran sebelum penggilingan adalah agar feces tidak menggumpal saat
dilakukan penggilingan sehingga feces tidak menempel pada pisau penggiling dan
prosesnya lebih cepat. Kemudian feces digiling dengan menggunakan mesin penggiling, tujuan penggilingan adalah untuk menghaluskan partikel-partikel
feces yang besar menjadi partikel-partikel yang kecil
agar
tekstur kompos lebih halus sehingga pada saat penyebaran pada tanaman lebih
mudah.

Gambar 4. Mesin
Penggilingan
![]() |
Feces yang telah halus kemudian dikumpulkan menjadi satu hingga membentuk tumpukan gunungan kecil, dan untuk selanjutnya dilakukan proses fermentasi kering dan fermentasi basah.
Gambar 5. Hasil Proses Penggilingan
3.2.3. Fermentasi
Kering
Pada fermentasi kering
feces yang telah halus setelah melalui proses penggilingan tadi dikumpulkan
lalu disemprot rata dengan trichoderma yang sudah dicampur dengan air. Penyemprotan
dilakukan sampai feces yang sudah kering dan halus terlihat lembab, setelah itu
feces tersebut ditumpuk di satu tempat dan dibiarkan proses fermentasi
berlangsung selama kurang lebih satu minggu.

Gambar 6. Feces halus
hasil fermentasi kering
3.2.4. Fermentasi Basah
Fermentasi basah
merupakan proses fermentasi kompos tanpa melalui tahap pengeringan dan
penggilingan. Namun untuk mengurangi kadar airnya feces yang masih basah
tersebut dicampur dengan serbuk gergaji, sekam padi yang telah dibakar dan
Trichoderma, dengan perbandingan 1 ton feces basah : 1 kwintal serbuk gergaji :
1 kwintal sekam bakar : 5 liter Trichoderma. Fungsi dari sekam bakar dan serbuk
gergaji adalah untuk mengurangi kadar air dan sebagi media tempat bertumbuhnya
jamur.
Adapun proses pembuatan
tersebut adalah, pertama Feces yang masih basah dikumpulkan di tempat/lantai
lalu diratakan mengunakan skop, selanjutnya
sekam bakar dan serbuk gergaji ditaburkan pada permukaan feces tersebut
hingga rata. Selanjutnya trichoderma disemprot pada sekam padi dan serbuk
gergaji yang berada diatas permukaan feces tersebut hingga lembab kemudian diaduk
hingga rata, lalu disemprotkan kembali trichoderma pada bahan tersebut dan diaduk
rata kembali. Terakhir tumpukan bahan tersebut disimpan selama 1 minggu. Selama
1 minggu tersebut akan terjadi proses pengomposan yang akan mengurangi berat
dari kompos tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Satriya (2011) yang
menyatakan bahwa, selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume
maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30-40% dari 
volume/bobot awal bahan.

volume/bobot awal bahan.
Gambar
7. Proses pengerjaan fermentasi basah
3.2.5.
Pencampuran Fermentasi Kering dan Fermentasi Basah
Pada proses pencampuran ini hasil dari fermentasi
kering dan fermentasi basah digabung menjadi satu dengan perbandingan 70:30.
Pencampuran ini memang sengaja dilakukan untuk mengurangi kandungan air yang
ada pada kompos yang difermentasi secara basah. Mula-mula Kompos fermentasi
basah diambil dari tumpukan dengan cara dikikis atau dicincang menggunakan skop
dan garpu hingga rata, tujuan pengikisan agar tekstur tidak menggumpal pada
saat pencampuran. Selanjunya kompos fermentasi basah dicampur dengan kompos
fermentasi kering hingga homogen. Kompos yang sudah diaduk hingga homogen lalu
kumpulkan di satu sisi dan siap untuk dikemas.

Gambar
8. Proses pencampuran
3.2.6. Pengemasan
Trichokompos
yang telah jadi selanjutnya
dilakukan proses pengemasan dengan menggunakan karung. Pengemasan atau pengepakan
dilakukan secara manual, mula-mula kompos yang telah jadi dimasukkan kedalam
karung yang berkapasitas 40 kg dengan menggunakan skop, setelah itu ditimbang
menggunakan timbangan hingga mendapatkan berat 40 kg. Kompos yang sudah ditimbang
lalu dijahit serapi mungkin menggunakan mesin jahit genggam untuk menghindari
kebocoran dan menjaga kualitas kompos. Kualitas produk mencerminkan kemampuan
produk untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan,
kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan, dan reparasi produk dan
ciri-ciri lainnya (Kotler dan Armstrong, 1997:279). Selanjutnya kompos disimpan
didalam gudang.
Gambar 9. Trichokompos yang telah
dikemas
3.3. Pemasaran
Kompos yang telah siap
untuk dijual dihargai dengan harga Rp.40.000/karung. Dalam pemasaran trichokompos, para pembeli datang sendiri ke Kelompok Tani Tunas Muda,
sebagian besar dari penjualan trichokompos banyak dibeli oleh Dinas Pertanian.
Dinas Pertanian dan Kelompok Tani Tunas Muda telah menjalankan kerja sama
pada sektor penjualan produk, kerja sama ini sudah
berjalan sejak usaha ini masih berumur satu tahun yaitu pada tahun 2008. Kerja
sama antara kedua pihak ini berdasarkan atas kepercayaan kedua pihak. Hal ini
juga diungkapkan oleh Spekman (1998) yang menyatakan bahwa betapa pentingnya
trust (kepercayaan) bagi perdagangan karena hubungan yang terjadi dicirikan
oleh adanya kepercayaan yang tinggi sehingga pihak-pihak yang berkepentingan
akan berkeinginan untuk melaksanakan komitmen mereka demi hubungan kerjasama
yang sukses membutuhkan kepercayaan, saling menghormati dan menghargai,
komunikasi yang baik serta kerelaan untuk berbagi dengan mitranya.
Namun dalam usaha ini
juga terdapat kendala yang sering dihadapi Kelompok Tani Tunas Muda, cuaca yang kadang tidak bersahabat yang menyebabkan proses
penjemuran kompos menjadi terhalang dikarenakan hujan yang terus-menerus.
Untuk pemasaran, Kelompok Tani Tunas
Muda hanya mengandalkan pembelian
pupuknya dari Dinas Pertanian, yang membeli pupuk dalam jumlah besar,
karena pembelian dari Dinas Pertanian
inilah produksi komposnya tetap berjalan. Sedangkan jika hanya mengandalkan
pembelian dari para petani, jumlah pemasokan yang didapat tidak banyak karena
sebagian besar dari petani membeli pupuk dalam jumlah sedikit dan terkadang ada
juga yang jarang membeli pupuk.
3.4.
Perhitungan Pembuatan Kompos
Berdasarkan hasil interview kepada
pak Jumono dan karyawan maka diketahui bahwa untuk memenuhi kebutuhan bahan
baku kompos, feces yang dihasilkan dari Peternakan pak Jumono tidak mencukupi
untuk kebutuhan kompos. Untuk memenuhi kekurangan feces, pak Jumono membeli
dari kelompok tani sendiri atau dari desa-desa tetangga.
Tabel 1. Jumlah kompos yang diproduksi
|
Waktu
|
Berat perkarung
|
Total
|
|
Kompos/kg
|
Karung
|
|
|
Perhari
|
40
|
30
|
|
Perminggu (3hari)
|
40
|
90
|
|
Perbulan
|
40
|
360
|
Menurut pak Jumono dalam pembuatan kompos ini sehari dapat memproduksi
30 karung trichokompos dengan berat 1 karung 40 kg. Jika dihitung, maka dalam 1
minggu atau 3 hari produksi akan
didapatkan 90 karung trichokompos dan jika dihitung 1 bulan maka akan
didapatkan 360 karung trichokompos yang siap untuk dijual. Harga trichokompos
tersebut di jual seharga Rp.40.000/karung, maka penghasilan yang diidapat dari
penjualan trichokompos selama sebulan adalah Rp.14.400.000.
Tabel 2. Biaya variabel
|
No
|
Uraian
|
Satuan
|
Harga per Satuan
|
Jumlah
|
|
1.
|
Tricoderma
|
5 liter
|
Rp. 16.000
|
Rp. 80.000
|
|
2.
|
Sekam bakar
|
8 karung
|
Rp. 5.000
|
Rp. 40.000
|
|
3.
|
Sebuk gergaji
|
8 karung
|
Rp. 2.000
|
Rp. 16.000
|
|
4.
|
Feces sapi
|
400 karung
|
Rp. 6.000
|
Rp.2.400.000
|
|
5.
|
Pembuatan karung
|
1000 karung
|
Rp. 4.500
|
Rp.4.500.000
|
|
6.
|
Solar
|
2 liter
|
Rp. 7.000
|
Rp. 14.000
|
|
7.
|
Gaji karyawan
|
2 orang
|
Rp.1.920.000/ bulan
|
Rp.3.840.000
|
|
Total
|
Rp.10.890.000
|
|||
Keuntungan yang diperoleh
pak Jumono:
Total keuntungan = Total pendapatan – Total biaya
produksi
= Rp. 14.400.000 – Rp. 10.890.000
= Rp.3.510.000/bulan
Jadi, dari hasil penjualan trichokompos selama 1 bulan pak
Jumono mendapatkan keuntungan Rp.3.510.000. Uang hasil penjualan trichokompos, sudah
bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pak Jumono sehari-hari.
BAB
IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
Pengolahan
dan pemasaran kompos di Kelompok Tani Tunas Muda sudah termasuk kedalam usaha
yang sangat baik, karena usaha tersebut tidak lagi menjadi usaha sampingan,
tetapi telah menjadi usaha utama sehingga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Tidak hanya itu saja dengan adanya Trichokompos, Kelompok Tani Tunas Muda
telah
menjadi salah satu produsen tetap untuk ketersedian pupuk kompos di Kota Jambi.
4.2.
Saran
Semoga kedepan usaha
ini lebih memperluas lagi promosi tentang trichokompos, agar kedepannya lebih
banyak lagi petani ataupun warga lain yang berminat menggunakan trichokompos, sehingga
dapat menambah kembali pendapatan yang didperoleh pak Jumono.
DAFTAR PUSTAKA
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 1997. Prinsip-prinsip pemasaran Jilid I,
Erlangga, Jakarta.
Murbandono,
L.H.S., 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sarah.2013.PembuatanKompos.http://sarahyustiani.blogspot.com/2013/06/laporan-tetap-pembuatan-kompos.html.
20 APRIL 2014
Satriya.2011.
Proses Pengomposan. http://satriya51.blogspot.com/2011/04/proses-pengomposan.html. 20 APRIL 2014
Spekman, Robert E.; Kamauff, John E. and Myer, Niklas
1998, ‘An Empirical Investigation into Supply Chain Management: A Perspective
on Partnership’, Supply Chain
Management, Vol. 3, No.2, pp. 53-67.
Sutedjo, M. M. 2002. Pupuk
Dan Cara Penggunaan. Rineka Cipta, Jakarta.
LAMPIRAN
Lampiran
1. Denah Lokasi Kelompok Tani Tunas Muda
rojo
lele


Desa pudak
![]() |
|||||
Jembatan
Kumpeh
SELINCAH
Lampiran 2. Struktur Organisasi Kelompok Tani Tunas
Muda
![]() |





Tidak ada komentar:
Posting Komentar