Kamis, 28 Mei 2020

PROSES PEMBUATAN KOMPOS DAN PEMASARANNYA DI KELOMPOK TANI TUNAS MUDA DESA PUDAK KEC.KUMPEH ULU KAB.MUARO JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )


LAPORAN
FARM EXPERIENCE
PROSES PEMBUATAN KOMPOS DAN PEMASARANNYA
DI KELOMPOK TANI TUNAS MUDA DESA PUDAK
KEC.KUMPEH ULU KAB.MUARO JAMBI



Description: LAMBANG UNJA EMBOSE 3 copy




OLEH
NAMA
NIM




FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Usaha dibidang peternakan mempunyai prospek yang baik untuk berkembang, karena tingginya permintaan akan produk peternakan. Usaha peternakan memberi keuntungan yang cukup tinggi dan menjadi sumber pendapatan bagi banyak masyarakat di perdesaaan di Indonesia. Selain menghasilkan daging, usaha peternakan juga menghasilkan produk sampingan berupa limbah kotoran ternak (feces). Limbah ternak dapat diolah untuk dijadikan kompos dan sebagai bahan baku penghasil biogas. Dengan adanya pengolahan limbah ternak selain dapat mengatasi masalah lingkungan juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak karena mempunyai nilai ekonomis. Pembuatan kompos dapat mendukung kegiatan pertanian untuk mengembalikan kesuburan lahan.
Pengomposan merupakan upaya pengelolaan limbah ternak terutama feces dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Sistem pengomposan ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain tidak merusak tanah karena tidak mengandung bahan kimia dan terdiri dari bahan baku alami. Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi (Sarah, 2013).
Kompos merupakan zat akhir suatu proses fermentasi, tumpukan sampah/ seresah tanaman dan ada kalanya termasuk bangkai binatang. Perkembangan mikrobia memerlukan waktu agar tercapai suatu keadaan fermentasi yang optimal. Untuk mempercepat proses pengomposan dipakai aktifator, bisa berupa kotoran hewan baik dalam jumlah sedikit ataupun banyak (Sutedjo, 2002).
Kompos atau pupuk organik memiliki peluang pasar yang menjanjikan, karena di Indonesia masih banyak terdapat persawahan dan perkebunan. Banyak petani yang beralih menggunakan pupuk organik yang penggunaannya aman untuk tanah maupun tanaman. Untuk pembuatan kompos tidaklah terlalu sulit, karena bahan baku yang mudah didapat dan pengolahan serta peralatannya terbilang sederhana.
Kelompok Tani Tunas Muda yang bertempat di desa Pudak kecamatan Kumpeh Ulu kabupaten Muaro Jambi, merupakan kelompok tani yang beranggotakan beberapa peternak sapi yang diketuai oleh bapak Jumono. Kelompok tani ini bergerak di bidang usaha pertanian, peternakan dan pengolahan kompos. Kompos yang diolah Kelompok Tani Tunas Muda merupakan limbah kotoran dari peternakan sapi. Kompos yang dihasilkan Kelompok Tani Tunas Muda adalah pupuk kompos padat. Usaha ini memerlukan proses pengolahan dan pemasaran, dari pengumpulan feces menjadi kompos sampai pengemasan sehingga memiliki nilai jual.
Berdasarkan  uraian  tersebut penulis melakukan kegiatan Farm Experience dengan judul  Proses Pembuatan Kompos dan Pemasarannya di Kelompok Tani Tunas Muda Desa Pudak Kec.Kumpeh Ulu Kab.Muaro Jambi”.

1.2. Tujuan
            Adapun tujuan dari kegiatan Farm Experience ini adalah  untuk mengetahui proses pembuatan dan pemasaran feces sapi menjadi pupuk kompos di Kelompok Tani Tunas Muda desa Pudak kecamatan Kumpeh Ulu kabupaten Muaro Jambi.

1.3. Manfaat
Manfaat dari kegiatan Farm Experience adalah dapat menambah pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan wawasan berpikir dalam menerapkan ilmu di bidang peternakan khususnya dalam pembuatan kompos dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi.


BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
            Kegiatan Farm Experience ini dilaksanakan dari tanggal 15 Maret - 15 April 2014 di Kelompok Tani Tunas Muda desa Pudak kecamatan Kumpe Ulu kabupaten Muaro Jambi.

2.2. Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja pada Farm Experience yang dilakukan  adalah dengan melihat dan ikut terjun langsung dalam pengolahan feces sapi menjadi pupuk kompos. Adapun kegiatannya meliputi, pengumpulan feces sapi, penjemuran feces sapi, penggilingan feces kering, pencampuran bahan-bahan pembuatan kompos dan pengemasan kompos.
2.3. Analisis Data
Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience ialah berasal dari data primer. Data primer diperoleh dari mengikuti kegiatan langsung dalam pengolahan kompos dan tanya jawab kepada ketua kelompok tani yaitu bapak Jumono dan beberapa karyawan.








BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum
Kelompok Tani Tunas Muda yang diketuai oleh bapak Jumono telah berdiri semenjak tahun 2002. Selain menjadi ketua kelompok tani beliau juga bekerja sebagai peternak dan petani padi. Penanganan limbah ternak sapi menjadi kompos didapatkan pak Jumono dari pelatihan pada tahun 2007. Kompos-kompos yang tersedia nantinya akan dijual dan akan memenuhi kekurangan kebutuhan kompos di Kota Jambi melalui  jalur Dinas Pertanian.
Pembuatan kompos di Kelompok Tani Tunas Muda adalah dengan mencampurkan Trichoderma pada feces yang telah siap untuk diolah menjadi pupuk kompos. Dalam pengolahan kompos tersebut pak Jumono dibantu oleh karyawan yang dipekerjakan. Sebagai ketua kelompok tani dan telah diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan pembuatan kompos, maka pembuatan kompos tersebut dilakukan diarea rumah pak Jumono tepatnya dibelakang rumah. Biasanya dalam pemasaran kompos tersebut, konsumen yang datang sendiri untuk memesan kompos dan tidak diantarkan.
Usaha yang masih cukup sederhana ini dapat memenuhi kekurangan pasokan kompos di Kota Jambi dengan memanfaatkan limbah peternakan warga ataupun anggota Kelompok Tani Tunas Muda yang berada disekitar tempat pengolahan kompos tersebut. Feces sapi yang dibeli langsung dari warga dihargai Rp.3500/karung dan Rp.2500 untuk harga karungnya. Namun tidak semua feces dibeli dari warga ada juga feces yang berasal dari peternakan milik pak  Jumono. Kompos yang sudah diolah dihargai dengan Rp.40.000/karung.
Pengolahan kompos di Kelompok Tani Tunas Muda masih dilakukan dengan cara manual kecuali penghalusan feces yang sudah dijemur. Pengeringan yang dilakukan masih mengandalkan panas dari matahari, begitu juga dengan pengadukan, pencampuran sampai pengemasan masih mengandalkan tenaga manual.
3.2. Proses Pembuatan Feces Menjadi Kompos/ Trichokompos
Rounded Rectangle: Pengumpulan FecesBerikut adalah bagan dalam membuat pupuk kompos:

 

Flowchart: Alternate Process: Penggilingan Feces Kering                                 
 








Proses pembuatan feces menjadi pupuk kompos diawali dari pengumpulan feces sapi dan dilanjutkan dengan proses penjemuran feces. Setelah kering feces tersebut melewati proses penggilingan. Selanjutnya penyiapan tricoderma yang meliputi, 1 liter trichoderma dicampur dengan 9 liter air di dalam tangki spayer, diaduk sampai homogen, maka trichoderma siap digunakan sebagai starter dalam proses fermentasi feces menjadi kompos. Untuk 1 ton feces digunakan trichoderma sebanyak 5 liter yang akan dicampur ke feces pada saat proses penggilingan dan fermentasi kering. Di alam terbuka, kompos bisa terjadi dengan sendirinya, lewat proses alamiah. Namun proses tersebut berlangsung lama sekali padahal kebutuhan akan tanah yang subur sudah mendesak. Oleh karenanya, proses tersebut perlu dipercepat dengan bantuan manusia. Dengan cara yang baik, proses mempercepat pembuatan kompos berlangsung wajar sehingga bisa diperoleh kompos yang berkualitas baik (Murbandono, 2000).
Proses fermentasi kompos dilakukan dengan dua cara, yaitu fermentasi basah dan fermentasi kering. Fementasi basah yakni fermentasi yang dilakukan secara langsung dengan pencampuran serbuk gergaji dan sekam padi. Sedangkan fermentasi kering yakni fermentasi yang dilakukan melalui proses penjemuran dan penggilingan. Setelah proses fermentasi selesai maka akan menghasilkan kompos atau yang disebut dengan Trichokompos. Penggunaan nama trichokompos untuk produksi pupuk kompos Kelompok Tani Tunas Muda diambil dari nama bakteri yang digunakan dalam proses pengomposan, nama bakteri tersebut adalah Tricoderma.
Tricoderma merupakan cendawan yang dapat menjadi agen biokontrol karena bersifat antagonis bagi jamur lainnya, terutama yang bersifat patogen. Aktivitas antagonis yang dimaksud meliputi persaingan, parasitisme, predasi atau pembentukan toksin seperti antibiotik. Untuk keperluan bioteknologi, agen biokontrol ini dapat diisolasi dari Tricoderma dan digunakan untuk menangani masalah kerusakan tanaman yang ditularkan melalui tanah, mempercepat proses pelapukan bahan organik, menggemburkan atau memperbaiki struktur tanah, mengurai unsur hara yang terikat didalam tanah.
Description: D:\Triko1.jpg






                       
Gambar 1. Trichoderma

3.2.1. Penjemuran atau Pengeringan
Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG-20140315-00553.jpgSetelah mendapatkan feces yang diinginkan selanjutnya dilakukan proses penjemuran, feces yang dijemur diperoleh dari peternak sekitar ataupun warga sekitar. Mula-mula feces sapi yang masih segar, dikeluarkan dari karung. Setelah feces segar dikeluarkan dari karung kemudian feces ternak diratakan diatas lahan penjemuran, selanjutnya di bolak balik menggunakan sekop dan penggaruk. Tujuan dari perataan dan pembalikan feces agar semua feces terjemur dan cepat kering.
                       
            Gambar 2. Feces sapi dari warga yang telah terkumpul

Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG02535-20140405-1252.jpgTujuan dari penjemuran ini adalah untuk mengurangi kadar air yang berada didalam feces, penjemuran sangat mengandalkan panas matahari. Pengeringan dilakukan selama kurang lebih satu minggu sampai dirasakan feces siap untuk digiling. Tujuan lain dari pengeringan ini adalah memudahkan penggilingan/penghalusan menggunakan mesin giling dan mengefisien waktu produksi. Untuk membedakan feces yang kering dilakukan perabaan feces tersebut, jika dirasa hilang airnya dan berat feces ringan maka dianggap feces tersebut telah kering.
                                                                        



Gambar 3. Penjemuran Feces
3.2.2. Penggilingan
Proses penggilingan dilakukan setelah feces sapi yang telah dijemur sudah benar-benar kering kemudian diangkut menggunakan lori untuk dipindahkan ke tempat penggilingan. Tujuan penjemuran sebelum penggilingan adalah agar feces tidak menggumpal saat dilakukan penggilingan sehingga feces tidak menempel pada pisau penggiling dan prosesnya lebih cepat. Kemudian feces  digiling dengan menggunakan mesin penggiling, tujuan penggilingan adalah untuk menghaluskan partikel-partikel feces yang besar menjadi partikel-partikel yang kecil agar tekstur kompos lebih halus sehingga pada saat penyebaran pada tanaman lebih mudah.
Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG02552-20140412-1542.jpg



Gambar 4. Mesin Penggilingan
Description: D:\;FOTO\Foto dari HP\2013-10-24 10.17.01.jpg

Feces yang telah halus kemudian dikumpulkan menjadi satu hingga membentuk tumpukan gunungan kecil, dan untuk selanjutnya dilakukan proses fermentasi kering dan fermentasi basah.

Gambar 5. Hasil Proses Penggilingan

3.2.3. Fermentasi Kering
Pada fermentasi kering feces yang telah halus setelah melalui proses penggilingan tadi dikumpulkan lalu disemprot rata dengan trichoderma yang sudah dicampur dengan air. Penyemprotan dilakukan sampai feces yang sudah kering dan halus terlihat lembab, setelah itu feces tersebut ditumpuk di satu tempat dan dibiarkan proses fermentasi berlangsung selama kurang lebih satu minggu.
Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG02507-20140315-1130.jpg









        Gambar 6. Feces halus hasil fermentasi kering

3.2.4. Fermentasi Basah
Fermentasi basah merupakan proses fermentasi kompos tanpa melalui tahap pengeringan dan penggilingan. Namun untuk mengurangi kadar airnya feces yang masih basah tersebut dicampur dengan serbuk gergaji, sekam padi yang telah dibakar dan Trichoderma, dengan perbandingan 1 ton feces basah : 1 kwintal serbuk gergaji : 1 kwintal sekam bakar : 5 liter Trichoderma. Fungsi dari sekam bakar dan serbuk gergaji adalah untuk mengurangi kadar air dan sebagi media tempat bertumbuhnya jamur.
Adapun proses pembuatan tersebut adalah, pertama Feces yang masih basah dikumpulkan di tempat/lantai lalu diratakan mengunakan skop, selanjutnya  sekam bakar dan serbuk gergaji ditaburkan pada permukaan feces tersebut hingga rata. Selanjutnya trichoderma disemprot pada sekam padi dan serbuk gergaji yang berada diatas permukaan feces tersebut hingga lembab kemudian diaduk hingga rata, lalu disemprotkan kembali trichoderma pada bahan tersebut dan diaduk rata kembali. Terakhir tumpukan bahan tersebut disimpan selama 1 minggu. Selama 1 minggu tersebut akan terjadi proses pengomposan yang akan mengurangi berat dari kompos tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Satriya (2011) yang menyatakan bahwa, selama proses pengomposan akan terjadi penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30-40% dari Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG-20140315-00506.jpgDescription: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG02508-20140315-1130.jpgvolume/bobot awal bahan.

Gambar 7. Proses pengerjaan fermentasi basah
3.2.5. Pencampuran Fermentasi Kering dan Fermentasi Basah
Pada proses pencampuran ini hasil dari fermentasi kering dan fermentasi basah digabung menjadi satu dengan perbandingan 70:30. Pencampuran ini memang sengaja dilakukan untuk mengurangi kandungan air yang ada pada kompos yang difermentasi secara basah. Mula-mula Kompos fermentasi basah diambil dari tumpukan dengan cara dikikis atau dicincang menggunakan skop dan garpu hingga rata, tujuan pengikisan agar tekstur tidak menggumpal pada saat pencampuran. Selanjunya kompos fermentasi basah dicampur dengan kompos fermentasi kering hingga homogen. Kompos yang sudah diaduk hingga homogen lalu kumpulkan di satu sisi dan siap untuk dikemas.



Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG-20140315-00511.jpg



Gambar 8. Proses pencampuran        
3.2.6. Pengemasan
Description: D:\BAHAN MAGANG\FOTO MAGANG\IMG-20140315-00545.jpgTrichokompos yang telah jadi selanjutnya dilakukan proses pengemasan dengan menggunakan karung. Pengemasan atau pengepakan dilakukan secara manual, mula-mula kompos yang telah jadi dimasukkan kedalam karung yang berkapasitas 40 kg dengan menggunakan skop, setelah itu ditimbang menggunakan timbangan hingga mendapatkan berat 40 kg. Kompos yang sudah ditimbang lalu dijahit serapi mungkin menggunakan mesin jahit genggam untuk menghindari kebocoran dan menjaga kualitas kompos. Kualitas produk mencerminkan kemampuan produk untuk menjalankan tugasnya yang mencakup daya tahan, kehandalan, kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan, dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Kotler dan Armstrong, 1997:279). Selanjutnya kompos disimpan didalam gudang.




       Gambar 9. Trichokompos yang telah dikemas
3.3. Pemasaran
Kompos yang telah siap untuk dijual dihargai dengan harga Rp.40.000/karung. Dalam pemasaran trichokompos, para pembeli datang sendiri ke Kelompok Tani Tunas Muda, sebagian besar dari penjualan trichokompos banyak dibeli oleh Dinas Pertanian.
Dinas Pertanian dan Kelompok Tani Tunas Muda telah menjalankan kerja sama pada sektor penjualan produk, kerja sama ini sudah berjalan sejak usaha ini masih berumur satu tahun yaitu pada tahun 2008. Kerja sama antara kedua pihak ini berdasarkan atas kepercayaan kedua pihak. Hal ini juga diungkapkan oleh Spekman (1998) yang menyatakan bahwa betapa pentingnya trust (kepercayaan) bagi perdagangan karena hubungan yang terjadi dicirikan oleh adanya kepercayaan yang tinggi sehingga pihak-pihak yang berkepentingan akan berkeinginan untuk melaksanakan komitmen mereka demi hubungan kerjasama yang sukses membutuhkan kepercayaan, saling menghormati dan menghargai, komunikasi yang baik serta kerelaan untuk berbagi dengan mitranya.
Namun dalam usaha ini juga terdapat kendala yang sering  dihadapi Kelompok Tani Tunas Muda, cuaca yang kadang tidak bersahabat yang menyebabkan proses penjemuran kompos menjadi terhalang dikarenakan hujan yang terus-menerus. Untuk pemasaran, Kelompok Tani Tunas Muda hanya mengandalkan pembelian pupuknya dari Dinas Pertanian, yang membeli pupuk dalam jumlah besar, karena  pembelian dari Dinas Pertanian inilah produksi komposnya tetap berjalan. Sedangkan jika hanya mengandalkan pembelian dari para petani, jumlah pemasokan yang didapat tidak banyak karena sebagian besar dari petani membeli pupuk dalam jumlah sedikit dan terkadang ada juga yang jarang membeli pupuk.

3.4. Perhitungan Pembuatan Kompos
Berdasarkan hasil interview kepada pak Jumono dan karyawan maka diketahui bahwa untuk memenuhi kebutuhan bahan baku kompos, feces yang dihasilkan dari Peternakan pak Jumono tidak mencukupi untuk kebutuhan kompos. Untuk memenuhi kekurangan feces, pak Jumono membeli dari kelompok tani sendiri atau dari desa-desa tetangga.
Tabel 1. Jumlah kompos yang diproduksi
Waktu
Berat perkarung
Total
Kompos/kg
Karung
Perhari
40
30
Perminggu (3hari)
40
90
Perbulan
40
360

Menurut pak Jumono dalam pembuatan kompos ini sehari dapat memproduksi 30 karung trichokompos dengan berat 1 karung 40 kg. Jika dihitung, maka dalam 1 minggu atau 3 hari produksi  akan didapatkan 90 karung trichokompos dan jika dihitung 1 bulan maka akan didapatkan 360 karung trichokompos yang siap untuk dijual. Harga trichokompos tersebut di jual seharga Rp.40.000/karung, maka penghasilan yang diidapat dari penjualan trichokompos selama sebulan adalah Rp.14.400.000.
Tabel 2. Biaya variabel
No
Uraian
Satuan
Harga per Satuan
Jumlah
1.
Tricoderma
5 liter
Rp.    16.000
Rp.     80.000
2.
Sekam bakar
8 karung
Rp.     5.000
Rp.     40.000
3.
Sebuk gergaji
8 karung
Rp.     2.000
Rp.     16.000
4.
Feces sapi
400 karung
Rp.     6.000
Rp.2.400.000
5.
Pembuatan karung
1000 karung
Rp.     4.500
Rp.4.500.000
6.
Solar
2 liter
Rp.     7.000
Rp.     14.000
7.
Gaji karyawan
2 orang
Rp.1.920.000/ bulan
Rp.3.840.000
Total
Rp.10.890.000

Keuntungan yang diperoleh pak Jumono:
Total keuntungan        = Total pendapatan – Total biaya produksi
                                    = Rp. 14.400.000 Rp. 10.890.000
= Rp.3.510.000/bulan
Jadi, dari hasil penjualan trichokompos selama 1 bulan pak Jumono mendapatkan keuntungan Rp.3.510.000. Uang hasil penjualan trichokompos, sudah bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga pak Jumono sehari-hari.






















                                                            BAB IV                                                   
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
            Pengolahan dan pemasaran kompos di Kelompok Tani Tunas Muda sudah termasuk kedalam usaha yang sangat baik, karena usaha tersebut tidak lagi menjadi usaha sampingan, tetapi telah menjadi usaha utama sehingga bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tidak hanya itu saja dengan adanya Trichokompos, Kelompok Tani Tunas Muda telah menjadi salah satu produsen tetap untuk ketersedian pupuk kompos di Kota Jambi.

4.2. Saran
Semoga kedepan usaha ini lebih memperluas lagi promosi tentang trichokompos, agar kedepannya lebih banyak lagi petani ataupun warga lain yang berminat menggunakan trichokompos, sehingga dapat menambah kembali pendapatan yang didperoleh pak Jumono.


DAFTAR PUSTAKA
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 1997. Prinsip-prinsip pemasaran Jilid I, Erlangga, Jakarta.
Murbandono, L.H.S., 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Satriya.2011. Proses Pengomposan. http://satriya51.blogspot.com/2011/04/proses-pengomposan.html. 20 APRIL 2014
Spekman, Robert E.; Kamauff, John E. and Myer, Niklas 1998, ‘An Empirical Investigation into Supply Chain Management: A Perspective on Partnership’, Supply Chain Management, Vol. 3, No.2, pp. 53-67.
Sutedjo, M. M. 2002. Pupuk Dan Cara Penggunaan. Rineka Cipta, Jakarta.















LAMPIRAN
Lampiran 1. Denah Lokasi Kelompok Tani Tunas Muda
                                                                    
                                                                              lokasi
                                                                                                    lorong
                                                                                                                       rojo lele         
                                                        Simpang                                           
                                                                   Talang Duku
                                                                                   Desa pudak
                        
 

                                                                                                   TPU Desa Pudak
                             Jembatan
                                     Batanghari II
                                      
 

PAL. 6     
                                                     Jembatan Kumpeh



SELINCAH









Lampiran 2. Struktur Organisasi Kelompok Tani Tunas Muda

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar