LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
MANAJEMEN
PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU
KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG
JABUNG TIMUR
OLEH
NAMA…..
NIM…..
FAKULTAS
PETERNAKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Peningkatan
populasi ternak sapi secara nasional dan regional akan meningkatkan jumlah limbah yang
dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan
sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah
kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sacara
sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat menimbulkan bau.
Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup
peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.
Limbah ternak memiliki dua potensi yang
bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan
bagi manusia dan lingkungan. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak
adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika
dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan
limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari
pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah.
Limbah ternak khususnya sapi
potong mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat
hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan
pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan
biologi tanah. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak secara baik dapat
mewujudkan suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan. (tambahkan
tinjauan pustaka)
Potensi
yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara
maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan
masyarakat di sekitar areal peternakan. Dengan demikian diperlukan suatu upaya
pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair
(urine), sehingga limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran
udara maupun air. (tambahkan tinjauan pustaka)
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta
sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi peternakan. Seekor
ternak sapi akan menghasilkan limbah feses sebanyak 3,5 kg/hari/ekor. Jika dalam suatu
peternakan terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan menghasilkan 35 kg feses yang
dapat mecemari lingkungan. Namun
sebenarnya, limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak
sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan biogas dan pupuk kompos. (tambahkan tinjauan
pustaka)
Salah
satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi.
Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan
9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 –
7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari
atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang
dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses
45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang
berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan
yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg
untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif
dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan bergantung pada
beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi
pengolahan limbah. Contoh teknologi yang bisa diterapkan yaitu teknologi biogas
dan pembuatan pupuk cair. Biogas adalah gas
methan yang terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara)
oleh bakteri methan atau Methanobacterium
disebut juga bakteri anaerobik. Bakteri
biogas seperti Methanobacillus,
Methanococcus dan Methanosarcina (Price
and Paul, 1981) mengurai sampah-sampah yang
banyak mengandung bahan organik (biomassa), sehingga terbentuk gas
methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas. Energi panas yang
dihasilkan merupakan energi terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi
tepat guna yang relatif lebih sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan. Bakteri memproses limbah bio
atau biomassa di dalam alat kedap udara yang disebut digester. Kotoran ternak
yang sudah mengalami pemrosesan dengan pengeluaran gas bio adalah kompos
kotoran ternak. Ginting (2007) mengemukakan bahwa kompos adalah hasil dari pelapukan
bahan-bahan berupa kotoran ternak atau feses, sisa pertanian, sisa makanan
ternak dan sebagainya.
Bentuk
lain pengolahan limbah ternak adalah dengan pembuatan pupuk cair organik. Pupuk cair organik adalah pupuk yang tersusun dari materi
makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk
cair organik menyediakan
nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman,
seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Pupuk organik merupakan hasil akhir
dan atau hasil antara dari perubahan atau penguraian bagian dan sisa-sisa
tanaman dan hewan. Karena pupuk organik berasal dari bahan organik yang
mengandung segala macam unsur, maka pupuk ini pun mengandung hampir semua unsur
(baik makro maupun mikro). Hanya saja ketersediaan unsur-unsur tersebut
biasanya dalam jurnlah yang sedikit (Murbandono, 2000).
Pupuk cair tersebutdapat dibuat dari kotoran hewan yang
masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran kambing, domba,
kelinci, ayam atau ternak lainnya.
Oleh sebab itu, dengan adanya
investasi instalasi biogas ini akan memberikan dampak positif pada peternakan
sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk
organik padat dan cair. Dua produk terakhir ini dapat menyediakan unsur hara
nitrogen, fosfat, kalium (NPK) yang dibutuhkan tanama. Selain
itu, teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal
cukup tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.
1.2
Tujuan
Tujuan
dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah ternak
sapi oleh peternak di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung
Timur.
1.3
Manfaat
Manfaat
dari praktek lapang ini adalah melalui kegiatan Farm Experience ini mahasiswa akan memperoleh keterampilan
dan pengalaman yang lebih mengenai pemanfaatan limbah dan membandingkan ilmu yang telah didapat secara teori saat
kuliah.
BAB
II
PROSEDUR
KEGIATAN
2.1.Tempat
dan Waktu
Farm
experience ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai 18 April 2015 yang
dilaksanakan di Kelompok Tani Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2.2.Prosedur
Kerja
Materi
yang digunakan pada Farm Experience ini adalah sapi jenis Bali yang dipelihara
oleh Peternak Anggota Kelompok Tani Suka Maju. Anggota Kelompok Tani Suka Maju
yang beranggotakan 48
orang. Setiap peternak memiliki 3-5 ekor sapi dengan sistem pemeliharaan intensif.
Beberapa kanggota kelompok tani/ternak diberi bantuan alat biogas jenis fiber.
Alat ini dibantu oleh PT. Petro China
Ltd pada tahun 2008 .
Alat yang digunakan selama kegiatan berlangsung yaitu skop,
ember, cangkul. Dalam praktek Farm Experience ini yang dilakukan
adalah setiap pagi dan sore membantu Pak Parli dalam sanitasi kandang dan pengumpulan feses kedalam bak penampungan feses biogas.
Setiap 2 hari sekali dilakukan pengadukan feses untuk biogas.
Selain membersihkan kandang, dilakukan juga pemberian makan sapi tiap pagi
sekitar jam 8.00 -10.00 WIB pada sore
harinnya jam 16.00-18.00 WIB, baik berupa hijauan
unggul dan alami maupun konsentrat berupa tepung jagung, dedak dan garam.
Metode yang digunakan dalam farm
Experience ini adalah pengamatan
langsung terhadap keadaan sehari-hari di peternakan Pak Parli, anggota Kelompok
Tani Suka Maju. Wawancara langsung dengan Pak Parli yang merupakan pemilik
peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan untuk memperoleh informasi
yang akurat terhadap informasi-informasi yang dibutuhkan dalam laporan Farm
Experience.
2.3.
Analisis Data
Data
yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience berasal dari data primer. Data
primer didapatkan dari pengalaman farm experience yang mengikuti kegiatan
pembuatan biogas dan pupuk urin cair secara langsung
dan pembuatan kompos, selain itu dilakukan tanya jawab pada Pak Parli sebagai ketua anggota
kelompok tani Suka Maju. Setelah data diperoleh dilakukan penjumlahan,
pengurangan dan persentase dari data-data tersebut sehngga data dianalisis
dengan metode narasi menjadi laporan magang.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1.Kondisi Umum
Peternakan
Usaha peternakan
kelompok Tani Suka Maju ini dimulai pada tahun 2008. Usaha ini beralamat di Jln
Lintas Jambi – Muara Sabak, Dusun Jati Mulyo Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Luas area peternakan ± 40 meter2.
Bakalan sapi berasal dari pemberian
bantuan oleh PT. Petro China di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Jenis sapi yang dipelihara di Kelompok Tani Suka Maju ini adalah sapi
Bali. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan
merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng) (Hardjosubroto,1994).
Jumlah anggota Kelompok Tani Suka Maju didirikan
pada tanggal 17 Oktober 2013 yang beranggotakan 19 petani, yang memiliki
pendidikan dari SD-S1. Anggota Kelompok Tani Suka Maju ini tersebar dan beternak
dirumah masing-masing. Anggota diberi bakalan sapi sebanyak 3 ekor dan
diberikan sebuah digester berupa fiber ukuran 1500 L pada tahun
2008 oleh PT. Petro China Ltd. Jumlah sapi dikelompok Tani Suka Maju saat ini
berjumlah 23 ekor.
Tabel 1.
Jumlah Peternak Berdasarkan Pendidikan
|
NO
|
PENDIDIKAN
|
JUMLAH
|
|
1
|
SD
|
5
Orang
|
|
2
|
SMP
|
10
Orang
|
|
3
|
SMA
|
3
Orang
|
|
4
|
S1
|
1
Orang
|
Petani bertanggung jawab terhadap
pengelolaan usaha tani yang dilakukannya. Untuk itu diperlukan
keputusan-keputusan manajemen dalam pemeliharaan. Apabila petani dapat melakukan dengan baik maka ini
akan menghasilkan produksi yang efektif untuk keuntungan maksimal, dan
sebaliknya. Jadi tingkat pendidikan dalam suatu kelompok tani juga berpengaruh
terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dalam pengelolaan peternakan. Pada
kelompok Tani Suka Maju anggota lebih banyak yang berpendidikan SD dan SMP,
pada pengelolaan peternak sudah bisa mengambil keputusan dan mengerti manajemen
yang diajarkan oleh penyuluh megenai pemeliharaan yang baik. Hal ini dapat
dilihat dari tingkat keberhasilan
anggota yang memelihara sapi sesuai dengan manajemen dengan tujuan
pembibitan dan peggemukan.
Tujuan pemeliharaan dari usaha ini
yaitu untuk pembibitan dan penggemukan. Ketersediaan
pasar sangat menentukan populasi ternak yang dipelihara dan keuntungan dari si
peternak. Sistem
jual beli dilakukan dengan cara ternak dipasarkan ke pasar hewan yang ada di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur
seperti pasar hewan yang yang berada di Pasar Ternak Kecamatan Geragai pada setiap hari Miggu, atau pembeli datang langsung ke peternak.
Sistem
pemeliharan Sapi Bali di peternakan Kelompok Tani Suka Maju dilakukan secara
intensif. Ternak
sapi dikandangkan secara terus-menerus dari pagi sampai sore. Hijauan diperoleh
dengan cara cut and carry yaitu hijauan diambil dari padang penggembalaan dan
diangkut ke lokasi peternakan. Sistem pemeliharaan dengan cara intensif atau
dikandangkan sangat baik sehingga ternak sapi dapat terkontrol terus menerus.
Menurut Sugeng (1994) bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan
cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi lebih mudah dan ternak diberi
makan dan minum didalam kandang.
Sistem pemeliharaan pada
kelompok tani Suka Maju merupakan sistem intensif
dengan tipe kandang kelompok. Kandang kelompok atau koloni merupakan model
kandang dalam satu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor ternak, secara
bebastanpa diikat (Abidin, 2002)
Konstruksi kandang yang
terbuat dari kayu dan papan. Lantai kandang terbuat dari semen dengan tempat
penampungan urin di belakang kandang. Rata-rata letak
kandang dari rumah petani berjarak 10-20 meter dari rumah, Kandang sapi ada yang terletak
di samping rumah, dibelakang rumah dan ada pula dekat
parit rumah. Sebagian anggota mengelola limbah berupa feses menjadi pupuk
kandang dan sebagiannya lagi mengelola dan memanfaatkannya sebagai
penghasil biogas. Biogas ini
dimanfaatkan oleh peternak untuk memasak.
Konstruksi kandang dibuat
dari kayu dan papan. Lantai kandang dibuat dari semen dengan tempat
penampungan urin di belakang kandang. Rata-rata letak
kandang dari rumah petani berjarak 10-20 meter dari rumah. Kandang sapi ada yang terletak
di samping rumah, di belakang rumah dan ada pula dekat
parit rumah. Sebagian anggota mengelola limbah berupa feses menjadi pupuk
kandang dan sebagiannya lagi mengelola dan memanfaatkannya sebagai
penghasil biogas. Biogas ini
dimanfaatkan oleh peternak untuk memasak.
3.2.
Pengalaman Farm Experience
Farm
experience ini dilakukan di Peternakan Pak Parli yang merupakan anggota
Kelompok Tani Suka Maju di Desa Kota Baru Lecamatan Gergai kabupaten Tanjung
Jabung Timur yang dimulai pada tanggal 21 Maret sampai 18 April 2015. Kegiatan farm experience dilaksanakan 2 hari dalam
seminggu, kegiatan yang selama farm experience dimulai jam 08.00-10.00 WIB dengan 16.00-18.00 WIB. Kegiatan yang
dilakukan selama farm experience
ini adalah membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan feses ke tempat penampungan
menggunakan skop lalu dimasukkan ke dalam biodigester. Setelah itu dilanjutkan
dengan pembersihan tempat pakan dan menyapu lantai kandang. Setelah pembersihan
kandang dan tempat pakan dilanjutkan dengan pemberian pakan pada
ternak sapi.
Peternak biasanya memberikan pakan pada
sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, sore dan malam hari. Pakan yang
diberikan yaitu berupa hijauan. Adapun hijauan yang diberikan antara lain Rumput
Gajah, Rumput Kumpai,
Rumput Cabe - Cabean dan Alang-Alang. Air minum juga diberikan 2 kali sehari.
3.3. Pembuatan Biogas
Di bawah ini adalah alur dari proses pembuatan biogas:
(buat skema hingga ke kompor)
Gambar .
Pembuatan Biogas
Biogas adalah gas yang dapat dibakar atau sumber energi yang
merupakan campuran berbagai gas, dengan gas methana dan gas karbon dioksida
merupakan campuran yang dominan (Simamora dkk., 2006). Biogas berasal dari kata bios yang artinya hidup, sedangkan gas adalah sesuatu yang keluar dari
tungku atau dari perapian atau lubang yang dihasilkan oleh makhluk hidup
melalui proses tertentu. Proses yang dimaksud adalah proses fermentasi
bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob atau bakteri yang hidup dalam kondisi
kedap udara. Biogas mempunyai sifat mudah terbakar, sehingga dapat dimanfaatkan
sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah atau LPG untuk memasak dan untuk
penerangan.
Di peternakan Pak Parli, cara pembuatan biogas yaitu dengan
mengumpulkan feses selama 2 hari. Setelah terkumpul banyak barulah feses
dicampur dengan air dengan
perbandingan 1:2 kemudian diaduk hingga berbentuk lumpur. Setelah itu, cairan dimasukkan kedalam digester.
Hasil dari biogas ini akan ditampung di dalam plastik yang berdiameter 2 meter dengan panjang 5 meter. Menurut Nugraheni (2013) cara pengolahan sapi menjadi biogas
yaitu kotoran sapi dicampur dengan air hingga berbentuk seperti lumpur dengan
perbandingan 1:1 pada bak penampungan sementara. Kemudian alirkan lumpur ke dalalm digester
dan kran di atas digester dibuka.
Biogas milik Pak Parli ini jenis fiber berisi 1500 Liter,
penampung gasnya terbuat dari plastik tebal berukuran diameter 2 meter dan panjang 5 meter berjumlah 2. Penyaluran gas melalui
pipa berukuran 2 inch. Kompornya terbuat dari bahan besi dan seng berukuran
kecil berbentuk seperti tabung berdiameter 20 cm.
Harahap dkk, (1978) menyatakan bahwa
gas bio, merupakan bahan bakar berguna yang dapat diperoleh dengan memproses
limbah di dalam alat yang dinamakan penghasil gasbio Dinyatakan pula bahwa gas bio memiliki nilakalorinya cukup
tinggi, yaitu dalam kisaran 4.800-6.700 Kcal/m3, gas methana murni
(100%) mempunyai nilai kalori 8.900 Kcal/m3.
Sapi
Bali dewasa yang dikandangkan menghasilkan kotoran segar sebanyak 6- 8 kg/hari.
Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan
kemudian limbah padatnya masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Untuk
skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran sebanyak
kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500 –
5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak
tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga
pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga. Jika harga eceran minyak tanah Rp. 10.000,-/liter maka penggunaan biogas dapat
mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp 2.500.000/tahun. Satu reaktor biogas
kapasitas 2500 liter membutuhkan biaya Rp. 3.500.000 dengan umur penggunaan
berkisar 10 tahun. Dengan demikian penggunaan biogas secara nyata menurunkan
biaya rumah tangga tani untuk membeli minyak tanah. (Kaharudin
dan Sukmawati, 2010)
Kegiatan
yang dilaksanakan pada Farm Experience adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan Feses.
Pengumpulan
feses dari dalam kandang dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan skop yang telah
disediakan. Cara untuk menggumpulkan feses yaitu dengan menggaruk feses yang
tercecer pada semua sisi kandang dan menyatukan pada satu tempat pada bagian
belakang kandang .
2.
Pengadukan Feses
Feses yang telah terkumpul di dalam bak pengumpulan, pada sore hari feses diaduk dengan
menambahkan air. Penambahan air yakni 1:2 dimana 1 kg feses ditambah 2
kg air hingga feses menjadi lumpur. Setelah tercampur rata dan homogen feses yang sudah
tercampur yang berbentuk cairan dimasukkan ke dalam biodigester.

Gambar
1. Pengadukan Feses
3.
Memasukkan Lumpur Feses ke Biodigester
Setelah
masuk ke penampungan feses di aduk terus agar feses masuk seutuhnya ke digester
Tambahkan katakata dewek
3.4. Pupuk Organik Cair
Kegiatan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif
terhadap pembangunan, yaitu peningkatan pendapatan peternak, perluasan
kesempatan kerja, peningkatan ketersediaan pangan dan penghematan devisa. Namun
tanpa dilakukan pengolahan limbah yang tepat, kegiatan ini menimbulkan
permasalahan lingkungan (Sri Wahyuni, 2009).
Pemanfaatan limbah urin sebagai salah satu pupuk organik
memberikan hasil yang cukup menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa
memperoleh hasil sebelum ternak itu dijual. Harga urine yang sudah diolah dan
menjadi pupuk cair berkisar antara Rp. 7000 – Rp 8000/ liter.
Prinsip pembuatan pupuk cair dengan menggunakan urin sapi
adalah menambahkan bakteri pengurai untuk menguraikan senyawa-senyawa organik
yang terkandung di dalam urin tersebut sehingga bisa langsung dimanfaatkan oleh
tanaman. Urin sapi yang digunakan untuk diolah menjadi pupuk cair yang paling
baik adalah urin sapi murni segar, urin sapi ini belum tercampur dengan cemaran
lain yang ada dalam kandang seperti feses, sisa pakan, dan sisa air minum.
Penggunaan urin sapi segar ini lebih baik kurang dari 24 jam setelah urin
dihasilkan oleh sapi.
Pemanfaatan urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu
memberdayakan peternak agar semua produk dari ternak bisa dimanfaatkan unutk
mendatangkan keuntungan secara ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan
terhadap peternak terutama soal teknik atau cara menampung urine hingga proses
pembuatan menjadi pupuk cair.
Pada pembuatan pupuk urin cair
memerlukan materi berupa urin sapi. Sedangkan bahan pencampurnya adalah
EM4 dan gula. Alat yang digunakan adalah ember dan kayu. Adapun cara
pembuatan pupuk organik cair sebagai berikut:
1. Pengumpulan Urin (perbaik gambar)
![]() |
Pada peternakan Pak Parli urin ditampung langsung ke dalam bak penampungan yang berukuran 1 x 1,5 x 0,5 meter. Dengan adanya bak penampung urin di belakang kandang sapi ini memudahkan dalam pengumpulan urin sapi.
2.
Penyaringan Urin

Urin sapi yang telah tertampung di
bak pengumpulan urin disaring menggunakan kain. Guna dari penyaringan ini
adalah memisahkan urin sapi dari kotoran berupa sampah. Setelah disaring urin
dimasukkan ke dalam ember tempat fermentasi.
3.
Penambahan Larutan Gula dan EM4
Berdasarkan hasil data yang diperoleh, dengan bahan yang
digunakan yaitu menggunakan urin sapi, dapat dikatakan berhasil. Hal ini dapat dinilai dari bau
pupuk cair yang tidak berbau justru cenderung wangi, lalu timbul jamur yang
tumbuh diatasnya yakni terlihat buih-buih berwarna putih kekuningan.
Pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi
tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah dan selain
itu juga mengahsilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga
pupuk organik ini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan.
Maspary (2010) menyebutkan bahwa manfaat lain yaitu: a) Zat
perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit, b) Sebagai
Pupuk daun organik, c) Dengan dicampur pestisida
organik bisa
membuka daun yang keriting akibat serangan thrip.
Karena baunya yang khas urin ternak juga dapat mencegah
datangnya berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi
sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro, 1995 dalam :
Affandi, 2008).
Rizal (2012) menyatakan bahwa manfaat pupuk organik cair
adalah sebagai berikut : a) Untuk menyuburkan tanaman, b) Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam
tanah, c) Untuk mengurangi dampak sampah organik di lingkungan sekitar, d)
Untuk membantu revitalisasi produktivitas tanah dan e) Untuk meningkatkan
kualitas produk
Dengan demikian, para petani tidak
perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, tanaman cukup dipupuk menggunakan
pupuk organik yang berasal dari limbah urine ternak sapi , dimana 2 kilogram pupuk urea bisa
diganti dengan setara 2,5 liter urine perhari. Dengan demikian, penggunaan
pupuk cair organik dari urine ini dapat menambah keuntungan petani peternak,
karena dapat mengurangi biaya operasional perawatan tanaman.
3.5. Kompos
Menurut Prihandini dan purwanto
(2007), kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan
kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama
ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan
sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup
mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna
bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang.
Proses dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat
dimanfaatkan secara efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi
pencemaran lingkungan.
Pembuatan kompos di koperasi suka maju menggunakan feses sapi yang telah
di kumpulkan pada tempat penampungan pertama setelah 5 hari feses di pindahkan
ke penampungan kompos yang ke dua dan di tambahkan serbuk gergaji secukupnya
dan di biarkan selama 21 hari dalam posisi aerob.pada setiap minggu dilakukan pengadukan
kompos yang bertujuan untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan
homogenitas bahan.
Hal ini sesuai dengan
pendapat Indriani (2012),menyatakan bahan yang
berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin
luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat
proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau
dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam
tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan.
Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu
sekali.
Pendapat ini juga
didukung oleh Murbandono (2000), kelembaban di dalam
timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam
keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah
timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan
demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan
suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos.
Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak
atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri
pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri
anaerob.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari
hasil farm experience yang dilaksanakan pada peternakan anggota Kelompok Tani Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan
Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur dapat diketahui yaitu pengelolaan limbah ternak sapi sudah baik namun belum
tertampungnya slury (limbah dari biogas) dengan baik. Pengelolaan limbah secara
benar dan efisien membuat peternakan ini sehat dan dapat mengurangi polusi
udara serta ekonomis bagi peternak dalam penggunaan gas di dapur.
4.2. Saran
Dalam mencapai keberhasilan suatu
usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus
tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk
dan penghematan energi.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia
Pustaka. Jakarta.
Ginting, Ir. Perdana. 2007. Sistem Pengolahan Lingkungan dan Limbah
Industri. Yrama Widya. Bandung.
Harahap, F.M, Apandi dan Ginting
S. 1978. Teknologi Gasbio. Pusat Teknologi Pembangunan Institut Teknologi Bandung. Bandung
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Indriani, Y. H. 2012. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar
Swadaya. Jakarta
Kaharudin dan Sukmawati, M.F.
2010. Petunjuk Praktis Manajemen Umum Limbah Ternak Untuk Kompos dan Biogas. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, NTB.
Murbandono, L. HS. 2000. Membuat Kompos. Penebar swadaya. Jakarta
Price, E., dan Paul,N.C. 1981.
Biogas Producton and Utilization. Ann Arborn Science Publishers, Inc.,
Michigan, pp.6-8. Ppp.65-68.
Prihandini, P. w, dan
Purwanto, T. 2007. Petunjuk Teknis
Pembuatan Kompos Berbahan Kotoran Sapi. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Peternakan
Setiawan, A.1. 2002. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar
Swadaya. Jakarta
Simamora, S., Salundik, S.
Wahyuni dan Sarajudin. 2006. Membuat
Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak
dan Gas dari Kotoran Ternak. Agromedia Pustaka,
Jakarta.
Sugeng, Y. B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi,
Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumoprastowo, C.D.A.1985. TernakPerah. CV. Yasaguna. Jakarta
Jadwal Kerja Selama Magang di Peternakan Koperasi Suka MAju
|
NO
|
PUKUL
|
KETERANGAN
|
|
1
|
07.00-08.00
|
Sanitasi kandang
|
|
2
|
08.00-09.00
|
Pemberian pakan berupa hijauan
|
|
3
|
16.00-17.00
|
Sanitasi kandang
|
|
4
|
17.00-17.40
|
Pemberian pakan berupa
hijauan dan air minum
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar