Kamis, 28 Mei 2020

MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR ( LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE )


LAPORAN
FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG TIMUR




OLEH
NAMA…..
NIM…..


 








FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015






BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Peningkatan populasi ternak sapi secara nasional dan regional akan meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sacara sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat menimbulkan bau. Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.
Limbah ternak memiliki dua potensi yang bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan bagi manusia dan lingkungan. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah. Limbah ternak khususnya sapi potong mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak secara baik dapat mewujudkan suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan. (tambahkan tinjauan pustaka)
Potensi yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan masyarakat di sekitar areal peternakan. Dengan demikian diperlukan suatu upaya pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair (urine), sehingga limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran udara maupun air. (tambahkan tinjauan pustaka)
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi peternakan. Seekor ternak sapi akan menghasilkan limbah feses sebanyak 3,5 kg/hari/ekor. Jika dalam suatu peternakan terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan menghasilkan 35 kg feses yang dapat mecemari lingkungan.  Namun sebenarnya, limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas dan pupuk kompos. (tambahkan tinjauan pustaka)
Salah satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi. Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan 9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 – 7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses 45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan bergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi pengolahan limbah. Contoh teknologi yang bisa diterapkan yaitu teknologi biogas dan pembuatan pupuk cair. Biogas adalah gas methan yang terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau Methanobacterium disebut juga bakteri anaerobik. Bakteri biogas seperti Methanobacillus, Methanococcus dan Methanosarcina (Price and Paul, 1981) mengurai sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa), sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas. Energi panas yang dihasilkan merupakan energi terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat guna yang relatif lebih sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan. Bakteri memproses limbah bio atau biomassa di dalam alat kedap udara yang disebut digester. Kotoran ternak yang sudah mengalami pemrosesan dengan pengeluaran gas bio adalah kompos kotoran ternak. Ginting (2007) mengemukakan bahwa kompos adalah hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa kotoran ternak atau feses, sisa pertanian, sisa makanan ternak dan sebagainya.
Bentuk lain pengolahan limbah ternak adalah dengan pembuatan pupuk cair organik. Pupuk cair organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk cair organik menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Pupuk organik merupakan hasil akhir dan atau hasil antara dari perubahan atau penguraian bagian dan sisa-sisa tanaman dan hewan. Karena pupuk organik berasal dari bahan organik yang mengandung segala macam unsur, maka pupuk ini pun mengandung hampir semua unsur (baik makro maupun mikro). Hanya saja ketersediaan unsur-unsur tersebut biasanya dalam jurnlah yang sedikit (Murbandono, 2000).
Pupuk cair tersebutdapat dibuat dari kotoran hewan yang masih baru. Kotoran hewan yang dapat digunakan misalnya kotoran kambing, domba, kelinci, ayam atau ternak lainnya.
Oleh sebab itu, dengan adanya investasi instalasi biogas ini akan memberikan dampak positif pada peternakan sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk organik padat dan cair. Dua produk terakhir ini dapat menyediakan unsur hara nitrogen, fosfat, kalium (NPK) yang dibutuhkan tanama. Selain itu, teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.
1.2  Tujuan
Tujuan dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah ternak sapi oleh peternak di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1.3 Manfaat
Manfaat dari praktek lapang ini adalah melalui kegiatan Farm Experience  ini mahasiswa akan memperoleh keterampilan dan pengalaman yang lebih mengenai pemanfaatan limbah dan membandingkan ilmu yang telah didapat secara teori saat kuliah.







BAB II
PROSEDUR KEGIATAN
2.1.Tempat dan Waktu
Farm experience ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai 18 April 2015 yang dilaksanakan di Kelompok Tani Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2.2.Prosedur Kerja
            Materi yang digunakan pada Farm Experience ini adalah sapi jenis Bali yang dipelihara oleh Peternak Anggota Kelompok Tani Suka Maju. Anggota Kelompok Tani Suka Maju yang beranggotakan 48 orang. Setiap peternak memiliki 3-5 ekor sapi dengan sistem pemeliharaan intensif. Beberapa kanggota kelompok tani/ternak diberi bantuan alat biogas jenis fiber. Alat ini dibantu oleh PT. Petro China Ltd pada tahun 2008 .
         Alat yang digunakan selama kegiatan berlangsung yaitu skop, ember, cangkul. Dalam praktek Farm Experience ini yang dilakukan adalah setiap pagi dan sore membantu Pak Parli dalam sanitasi kandang dan pengumpulan feses kedalam bak penampungan feses biogas. Setiap 2 hari sekali dilakukan pengadukan feses untuk biogas. Selain membersihkan kandang, dilakukan juga pemberian makan sapi tiap pagi sekitar jam 8.00 -10.00 WIB pada sore harinnya jam 16.00-18.00 WIB, baik berupa hijauan unggul dan alami maupun konsentrat berupa tepung jagung, dedak dan garam.
         Metode yang digunakan dalam farm Experience ini adalah pengamatan langsung terhadap keadaan sehari-hari di peternakan Pak Parli, anggota Kelompok Tani Suka Maju. Wawancara langsung dengan Pak Parli yang merupakan pemilik peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan untuk memperoleh informasi yang akurat terhadap informasi-informasi yang dibutuhkan dalam laporan Farm Experience.
2.3. Analisis Data
         Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience berasal dari data primer. Data primer didapatkan dari pengalaman farm experience yang mengikuti kegiatan pembuatan biogas dan pupuk urin cair secara langsung dan pembuatan kompos, selain itu dilakukan tanya jawab pada Pak Parli sebagai ketua anggota kelompok tani Suka Maju. Setelah data diperoleh dilakukan penjumlahan, pengurangan dan persentase dari data-data tersebut sehngga data dianalisis dengan metode narasi menjadi laporan magang.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.Kondisi Umum Peternakan
Usaha peternakan kelompok Tani Suka Maju ini dimulai pada tahun 2008. Usaha ini beralamat di Jln Lintas Jambi – Muara Sabak, Dusun Jati Mulyo Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Luas area peternakan ± 40 meter2. Bakalan sapi berasal dari pemberian  bantuan oleh PT. Petro China di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Jenis sapi yang dipelihara  di Kelompok Tani Suka Maju ini adalah sapi Bali. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (bibos banteng) (Hardjosubroto,1994).
Jumlah  anggota Kelompok Tani Suka Maju didirikan pada tanggal 17 Oktober 2013 yang beranggotakan 19 petani, yang memiliki pendidikan dari SD-S1. Anggota Kelompok Tani Suka Maju ini tersebar dan beternak dirumah masing-masing. Anggota diberi bakalan sapi sebanyak 3 ekor dan diberikan sebuah digester berupa fiber ukuran 1500 L pada tahun 2008 oleh PT. Petro China Ltd. Jumlah sapi dikelompok Tani Suka Maju saat ini berjumlah 23 ekor.
Tabel 1. Jumlah Peternak Berdasarkan Pendidikan
NO
PENDIDIKAN
JUMLAH
1
SD
5 Orang
2
SMP
10 Orang
3
SMA
3 Orang
4
S1
1 Orang
           
            Petani bertanggung jawab terhadap pengelolaan usaha tani yang dilakukannya. Untuk itu diperlukan keputusan-keputusan manajemen dalam pemeliharaan. Apabila  petani dapat melakukan dengan baik maka ini akan menghasilkan produksi yang efektif untuk keuntungan maksimal, dan sebaliknya. Jadi tingkat pendidikan dalam suatu kelompok tani juga berpengaruh terhadap keputusan-keputusan yang dibuat dalam pengelolaan peternakan. Pada kelompok Tani Suka Maju anggota lebih banyak yang berpendidikan SD dan SMP, pada pengelolaan peternak sudah bisa mengambil keputusan dan mengerti manajemen yang diajarkan oleh penyuluh megenai pemeliharaan yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keberhasilan  anggota yang memelihara sapi sesuai dengan manajemen dengan tujuan pembibitan dan peggemukan.
            Tujuan pemeliharaan dari usaha ini yaitu untuk pembibitan dan penggemukan. Ketersediaan pasar sangat menentukan populasi ternak yang dipelihara dan keuntungan dari si peternak. Sistem jual beli dilakukan dengan cara ternak dipasarkan ke pasar hewan yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur seperti pasar hewan yang yang berada di Pasar Ternak Kecamatan Geragai pada setiap hari Miggu, atau pembeli datang langsung ke peternak.
Sistem pemeliharan Sapi Bali di peternakan Kelompok Tani Suka Maju dilakukan secara intensif. Ternak sapi dikandangkan secara terus-menerus dari pagi sampai sore. Hijauan diperoleh dengan cara cut and carry yaitu hijauan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke lokasi peternakan. Sistem pemeliharaan dengan cara intensif atau dikandangkan sangat baik sehingga ternak sapi dapat terkontrol terus menerus. Menurut Sugeng (1994) bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi lebih mudah dan ternak diberi makan dan minum didalam kandang.
Sistem pemeliharaan pada kelompok tani Suka Maju merupakan sistem intensif dengan tipe kandang kelompok. Kandang kelompok atau koloni merupakan model kandang dalam satu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebastanpa diikat (Abidin, 2002)
  Konstruksi  kandang yang terbuat dari kayu dan papan. Lantai kandang terbuat dari semen dengan tempat penampungan urin di belakang kandang. Rata-rata letak kandang dari rumah petani berjarak 10-20 meter dari rumah, Kandang sapi ada yang terletak di samping rumah, dibelakang rumah dan ada pula dekat parit rumah. Sebagian anggota mengelola limbah berupa feses menjadi pupuk kandang dan sebagiannya lagi mengelola dan memanfaatkannya sebagai penghasil biogas. Biogas ini dimanfaatkan oleh peternak untuk memasak.
Konstruksi  kandang dibuat dari kayu dan papan. Lantai kandang dibuat dari semen dengan tempat penampungan urin di belakang kandang. Rata-rata letak kandang dari rumah petani berjarak 10-20 meter dari rumah. Kandang sapi ada yang terletak di samping rumah, di belakang rumah dan ada pula dekat parit rumah. Sebagian anggota mengelola limbah berupa feses menjadi pupuk kandang dan sebagiannya lagi mengelola dan memanfaatkannya sebagai penghasil biogas. Biogas ini dimanfaatkan oleh peternak untuk memasak.

3.2. Pengalaman Farm Experience
         Farm experience ini dilakukan di Peternakan Pak Parli yang merupakan anggota Kelompok Tani Suka Maju di Desa Kota Baru Lecamatan Gergai kabupaten Tanjung Jabung Timur yang dimulai pada tanggal 21 Maret sampai 18 April 2015. Kegiatan farm experience dilaksanakan 2 hari dalam seminggu, kegiatan yang selama farm experience dimulai jam 08.00-10.00 WIB  dengan 16.00-18.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan selama farm experience ini adalah membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan feses ke tempat penampungan menggunakan skop lalu dimasukkan ke dalam biodigester. Setelah itu dilanjutkan dengan pembersihan tempat pakan dan menyapu lantai kandang. Setelah pembersihan kandang dan tempat pakan dilanjutkan dengan pemberian pakan pada ternak sapi.
         Peternak biasanya memberikan pakan pada sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, sore dan malam hari. Pakan yang diberikan yaitu berupa hijauan. Adapun hijauan yang diberikan antara lain Rumput Gajah, Rumput Kumpai, Rumput Cabe - Cabean dan Alang-Alang. Air minum juga diberikan 2 kali sehari.


3.3. Pembuatan Biogas
Di bawah ini adalah alur dari proses pembuatan biogas: (buat skema hingga ke kompor)






Gambar   . Pembuatan Biogas
Biogas adalah gas yang dapat dibakar atau sumber energi yang merupakan campuran berbagai gas, dengan gas methana dan gas karbon dioksida merupakan campuran yang dominan (Simamora dkk., 2006). Biogas berasal dari kata bios yang artinya hidup, sedangkan gas adalah sesuatu yang keluar dari tungku atau dari perapian atau lubang yang dihasilkan oleh makhluk hidup melalui proses tertentu. Proses yang dimaksud adalah proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob atau bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara. Biogas mempunyai sifat mudah terbakar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah atau LPG untuk memasak dan untuk  penerangan.
Di peternakan Pak Parli, cara pembuatan biogas yaitu dengan mengumpulkan feses selama 2 hari. Setelah terkumpul banyak barulah feses dicampur dengan air dengan perbandingan 1:2 kemudian diaduk hingga berbentuk lumpur. Setelah itu, cairan dimasukkan kedalam digester. Hasil dari biogas ini akan ditampung di dalam plastik yang berdiameter 2 meter dengan panjang 5 meter. Menurut  Nugraheni (2013) cara pengolahan sapi menjadi biogas yaitu kotoran sapi dicampur dengan air hingga berbentuk seperti lumpur dengan perbandingan 1:1 pada bak penampungan sementara.  Kemudian alirkan lumpur ke dalalm digester dan kran di atas digester dibuka.
          Biogas milik Pak Parli ini jenis fiber berisi 1500 Liter, penampung gasnya terbuat dari plastik tebal berukuran diameter  2 meter dan panjang 5 meter berjumlah 2. Penyaluran gas melalui pipa berukuran 2 inch. Kompornya terbuat dari bahan besi dan seng berukuran kecil berbentuk seperti tabung berdiameter 20 cm.
Harahap dkk, (1978) menyatakan bahwa gas bio, merupakan bahan bakar berguna yang dapat diperoleh dengan memproses limbah di dalam alat yang dinamakan penghasil gasbio Dinyatakan pula bahwa gas bio memiliki nilakalorinya cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 4.800-6.700 Kcal/m3, gas methana murni (100%) mempunyai nilai kalori 8.900 Kcal/m3.
Sapi Bali dewasa yang dikandangkan menghasilkan kotoran segar sebanyak 6- 8 kg/hari. Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Untuk skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran sebanyak kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500 – 5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga. Jika harga eceran minyak tanah Rp. 10.000,-/liter maka penggunaan biogas dapat mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp 2.500.000/tahun. Satu reaktor biogas kapasitas 2500 liter membutuhkan biaya Rp. 3.500.000 dengan umur penggunaan berkisar 10 tahun. Dengan demikian penggunaan biogas secara nyata menurunkan biaya rumah tangga tani untuk membeli minyak tanah. (Kaharudin dan Sukmawati, 2010)
Kegiatan yang dilaksanakan pada Farm Experience adalah sebagai berikut:
1.     Pengumpulan Feses.
            Pengumpulan feses dari dalam kandang dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan skop yang telah disediakan. Cara untuk menggumpulkan feses yaitu dengan menggaruk feses yang tercecer pada semua sisi kandang dan menyatukan pada satu tempat pada bagian belakang kandang .

2.     Pengadukan Feses
Feses yang telah terkumpul di dalam bak pengumpulan, pada sore hari feses diaduk dengan menambahkan air. Penambahan air yakni 1:2 dimana 1 kg feses ditambah 2 kg air hingga feses menjadi lumpur. Setelah tercampur rata dan homogen feses yang sudah tercampur yang berbentuk cairan dimasukkan ke dalam biodigester.
Description: D:\PERKULIAHAN\Laporan Magang\Foto Magang\20150315_083059.jpg
Gambar 1. Pengadukan Feses
3.     Memasukkan Lumpur Feses ke Biodigester
Setelah masuk ke penampungan feses di aduk terus agar feses masuk seutuhnya ke digester
Tambahkan katakata dewek
3.4. Pupuk Organik Cair
            Kegiatan peternakan sapi dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan, yaitu peningkatan pendapatan peternak, perluasan kesempatan kerja, peningkatan ketersediaan pangan dan penghematan devisa. Namun tanpa dilakukan pengolahan limbah yang tepat, kegiatan ini menimbulkan permasalahan lingkungan (Sri Wahyuni, 2009).
Pemanfaatan limbah urin sebagai salah satu pupuk organik memberikan hasil yang cukup menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa memperoleh hasil sebelum ternak itu dijual. Harga urine yang sudah diolah dan menjadi pupuk cair berkisar antara Rp. 7000 – Rp 8000/ liter.
Prinsip pembuatan pupuk cair dengan menggunakan urin sapi adalah menambahkan bakteri pengurai untuk menguraikan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam urin tersebut sehingga bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Urin sapi yang digunakan untuk diolah menjadi pupuk cair yang paling baik adalah urin sapi murni segar, urin sapi ini belum tercampur dengan cemaran lain yang ada dalam kandang seperti feses, sisa pakan, dan sisa air minum. Penggunaan urin sapi segar ini lebih baik kurang dari 24 jam setelah urin dihasilkan oleh sapi.
Pemanfaatan urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu memberdayakan peternak agar semua produk dari ternak bisa dimanfaatkan unutk mendatangkan keuntungan secara ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan terhadap peternak terutama soal teknik atau cara menampung urine hingga proses pembuatan menjadi pupuk cair.
            Pada pembuatan pupuk urin cair memerlukan materi berupa urin sapi. Sedangkan bahan pencampurnya adalah EM4 dan gula. Alat yang digunakan adalah ember dan kayu. Adapun cara pembuatan pupuk organik cair sebagai berikut:
1.     Pengumpulan Urin (perbaik gambar)
Description: D:\KULIAH\Farm Experince\Magang Nursholeh\Laporan Magang Nursholeh\IMG-20140316-03271.jpg

Pada peternakan Pak Parli urin ditampung langsung ke dalam bak penampungan yang berukuran 1 x 1,5 x 0,5 meter. Dengan adanya bak penampung urin di belakang kandang sapi ini memudahkan dalam pengumpulan urin sapi.
2.     Penyaringan Urin
Description: IMG-20140412-03420.jpg

Urin sapi yang telah tertampung di bak pengumpulan urin disaring menggunakan kain. Guna dari penyaringan ini adalah memisahkan urin sapi dari kotoran berupa sampah. Setelah disaring urin dimasukkan ke dalam ember tempat fermentasi.
3.     Penambahan Larutan Gula dan EM4
Berdasarkan hasil data yang diperoleh, dengan bahan yang digunakan yaitu menggunakan urin sapi, dapat dikatakan berhasil. Hal ini dapat dinilai dari bau pupuk cair yang tidak berbau justru cenderung wangi, lalu timbul jamur yang tumbuh diatasnya yakni terlihat buih-buih berwarna putih kekuningan.
Pupuk organik mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah dan selain itu  juga mengahsilkan produk pertanian yang aman bagi kesehatan, sehingga pupuk organik ini dapat digunakan untuk pupuk yang ramah lingkungan.
Maspary (2010) menyebutkan bahwa manfaat lain yaitu: a) Zat perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit, b) Sebagai Pupuk daun organik, c) Dengan dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat serangan thrip.
Karena baunya yang khas urin ternak juga dapat mencegah datangnya berbagai hama tanaman sehingga urine sapi juga dapat berfungsi sebagai pengendalian hama tanaman dari serangan (Phrimantoro, 1995 dalam : Affandi, 2008).
Rizal (2012) menyatakan bahwa manfaat pupuk organik cair adalah sebagai berikut : a) Untuk menyuburkan tanaman, b)  Untuk menjaga stabilitas unsur hara dalam tanah, c) Untuk mengurangi dampak sampah organik di lingkungan sekitar, d) Untuk membantu revitalisasi produktivitas tanah dan e) Untuk meningkatkan kualitas produk
Dengan demikian, para petani tidak perlu repot memikirkan dan membeli pupuk urea, tanaman cukup  dipupuk menggunakan pupuk organik yang berasal dari limbah urine ternak sapi , dimana 2 kilogram pupuk urea bisa diganti dengan setara 2,5 liter urine perhari. Dengan demikian, penggunaan pupuk cair organik dari urine ini dapat menambah keuntungan petani peternak, karena dapat mengurangi biaya operasional perawatan tanaman.
3.5. Kompos
            Menurut Prihandini dan purwanto (2007), kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.
            Pembuatan kompos di koperasi suka maju menggunakan feses sapi yang telah di kumpulkan pada tempat penampungan pertama setelah 5 hari feses di pindahkan ke penampungan kompos yang ke dua dan di tambahkan serbuk gergaji secukupnya dan di biarkan selama 21 hari dalam posisi aerob.pada setiap minggu dilakukan pengadukan kompos yang bertujuan untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan.
            Hal ini sesuai dengan pendapat Indriani (2012),menyatakan bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan. Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu sekali.
            Pendapat ini juga didukung oleh Murbandono (2000), kelembaban di dalam timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos. Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri anaerob.



BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
            Dari hasil farm experience yang dilaksanakan pada peternakan anggota Kelompok Tani Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur dapat diketahui yaitu pengelolaan limbah ternak sapi sudah baik namun belum tertampungnya slury (limbah dari biogas) dengan baik. Pengelolaan limbah secara benar dan efisien membuat peternakan ini sehat dan dapat mengurangi polusi udara serta ekonomis bagi peternak dalam penggunaan gas di dapur.
4.2. Saran
            Dalam mencapai keberhasilan suatu usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk dan penghematan energi.








                                             






DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Ginting, Ir. Perdana. 2007. Sistem Pengolahan Lingkungan dan Limbah Industri. Yrama Widya. Bandung.
Harahap, F.M, Apandi dan Ginting S. 1978. Teknologi Gasbio. Pusat Teknologi       Pembangunan Institut Teknologi Bandung. Bandung
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.
Indriani, Y. H. 2012. Membuat Kompos Secara Kilat. Penebar Swadaya. Jakarta
Kaharudin dan Sukmawati, M.F. 2010. Petunjuk Praktis Manajemen Umum Limbah Ternak Untuk Kompos dan Biogas. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB, NTB.
Murbandono, L. HS. 2000. Membuat Kompos. Penebar swadaya. Jakarta
Price, E., dan Paul,N.C. 1981. Biogas Producton and Utilization. Ann Arborn Science Publishers, Inc., Michigan, pp.6-8. Ppp.65-68.
Prihandini, P. w, dan Purwanto, T. 2007. Petunjuk Teknis Pembuatan Kompos Berbahan Kotoran Sapi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan
Setiawan, A.1. 2002. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta
Simamora, S., Salundik, S. Wahyuni dan Sarajudin. 2006. Membuat Biogas            Pengganti Bahan Bakar Minyak dan Gas dari Kotoran Ternak. Agromedia      Pustaka, Jakarta.
Sugeng, Y. B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumoprastowo, C.D.A.1985. TernakPerah. CV. Yasaguna. Jakarta






LAMPIRAN
Jadwal Kerja Selama Magang di Peternakan Koperasi Suka MAju
NO
PUKUL
KETERANGAN
1
07.00-08.00
Sanitasi kandang
2
08.00-09.00
Pemberian pakan berupa hijauan
3
16.00-17.00
Sanitasi kandang
4
17.00-17.40
Pemberian pakan berupa hijauan dan air minum



Tidak ada komentar:

Posting Komentar