Jumat, 29 Mei 2020

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN BAGAN PETE KECAMATAN KOTA BARU JAMBI ( LAPORAN MAGANG / FARX EXPERIENCE )

LAPORAN

FARM EXPERIENCE

 

 

SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN BAGAN PETE

KECAMATAN KOTA BARU JAMBI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


OLEH :

NAMA

NIM

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS JAMBI

2015

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1. Latar Belakang

Melihat dengan bertambahnya pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia maka kebutuhan akan protein hewani pun akan semakin meningkat, salah satunya adalah sumber protein yang berasal dari daging sapi. Di Provinsi Jambi kebutuhuan daging sebesar 26.588,46 ton berdasarkan standar gizi konsumsi daging namun masih memiliki kekurangan sebanyak ± 70 % didatangkan dari luar Provinsi Jambi (Syafrial et al., 2007). Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan protein hewani di Provinsi Jambi adalah dengan usaha peternakan sapi potong.

Sapi potong merupakan jenis ternak yang tujuan pemeliharaannya untuk menghasilkan daging dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang merupakan bahan pangan bagi masyarakat, oleh karena itu untuk mengimbangi permintaan daging asal sapi potong oleh masyarakat sebagai bahan pangan, maka harus cukup tersedia secara kontinyu. Ketersediaan daging asal sapi potong ini dapat dilakukan dengan cara meningkatkan produksi daging sapi potong. Hal ini merupakan suatu peluang besar bagi peternak sapi potong, terutama bagi sarjana peternakan untuk mengembangkan dan juga membuka usaha peternakan sapi pedaging.

Dalam usaha mengembangkan peternakan sapi, faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas ternak diantaranya, sistem pemeliharaan, ketersediaan pakan, kesehatan ternak, lingkungan tempat pemeliharaan, kondisi iklim dan bibit ternak. Untuk mendapatkan produk sapi potong yang berkualitas baik, maka diperlukan suatu sistem pemeliharaan ternak sapi potong yang baik pula.

Sistem pemeliharaan sapi di Indonesia terbagi atas tiga yaitu intensif, ekstensif, dan semi intensif. Sistem pemeliharaan sapi intensif adalah sistem pemeliharaan sapi yang dikandangkan terus-menerus dari pagi sampai malam hari, pakan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke kandang atau yang sering disebut dengan sistem cut and carry. Sistem pemeliharaan ekstensif adalah sistem pemeliharaan sapi di gembalakan atau di lepas pada suatu padang penggembalaan yang luas dan di situ terdapat suatu tempat untuk sapi beristirahat, sedangkan pemeliharaan sapi secara semi intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan pada siang hari dan pada malam harinya sapi dimasukkan ke kandang.

Mengingat pentingnya memperhatikan sistem pemeliharaan maka berdasarkan hal tersebutlah yang menjadikan alasan penulis melakukan farm experience dengan judul Sistem Pemeliharaan Sapi Potong di Peternakan Bapak. Marsono Jalan Lingkar Barat Lorong Kuningan Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota Jambi.

 

1.2.   Tujuan

Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience ini adalah untuk mengetahui sistem pemeliharaan sapi potong di Peternakan Bapak Marsono yang berada di Jalan Lingkar Barat Lorong Kuningan Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota Jambi.

 

1.3.  Manfaat

     Manfaat dari Farm Experience ini adalah untuk menambah wawasan, pengalaman serta dapat mengetahui bagaimana sistem pemeliharaan sapi potong yang diterapkan di Peternakan Bapak Marsono, Jalan Lingkar Barat Lorong Kuningan Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota Jambi.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PROSEDUR KERJA

 

2.1. Tempat dan Waktu

Farm Experience ini dilaksanakan pada tanggal 20 September sampai dengan 20 Oktober 2014 yang bertempat di Peternakan Bapak Marsono jalan Lingkar Barat lorong Kuningan kelurahan Bagan Pete kecamatan Kota Baru Kota Jambi.

 

2.2. Prosedur Kerja

Materi yang digunakan dalam Farm Experience secara keseluruhan yaitu 5 ekor sapi. Peralatan yang digunakan adalah 1 buah sekop, 1 buah cangkul, pompa dan selang air, 2 buah ember, 2 buah drum sebagai tempat air minum. Bahan yang digunakan dalam Farm Experience ini terdiri atas hijauan (rumput lapang, rumput kumpai, rumput benggala) dan garam.

 Metode yang digunakan dalam kegiatan Farm Experience ini adalah kegiatan seperti pemeliharaan ternak sapi sebanyak 5 ekor yang meliputi pembersihan kandang di pagi hari dengan menggunakan sekop dan cangkul, pembersihan tempat pakan dan minum. Pemberian pakan hijauan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Sedangkan pemberian air minum dilakukan satu kali sehari pada pagi hari. Pengukuran bobot badan sapi, untuk mendapatkan bobot awal sebagai acuan pemberian pakan dan untuk mengetahui pertambahan bobot badan dilakukan dengan cara mengukur lingkar dada sapi.

 

2.3. Analisis Data

Data yang diambil selama kegiatan farm experience ini berasal dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung dan wawancara kepada peternak. Data primer diambil meliputi jumlah ternak, jenis pakan yang diberikan kepada ternak setiap harinya, bobot badan ternak serta perkandangan dengan mengamati tipe kandang. Sedangkan data sekunder diperoleh dari recording atau catatan yang ada di Peternakan bapak Marsono, meliputi tahun berdiri berdirinya peternakan Bapak Marsono, asal ternak, luas kandang dan luas lahan peternakan.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif, yakni mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasi data yang diperoleh sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan ataupun tempat yang diteliti. Pada data pertambahan bobot badan menggunakan analisis penaksiran bobot badan dengan pengukuran lingkar dada. Rumus yang digunakan adalah rumus Schoorl dengan mengkonversikan ke dalam satuan berat (kg) (Syukur, 2002).

Bobot Badan (kg)

Metode perhitungan pertambahan bobot badan (PBB) menggunakan rumus sebagai berikut:

PBB (kg) = Bobot Badan akhir (kg) – Bobot Badan awal (kg)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

3.1. Kondisi Umum Peternakan

Usaha peternakan sapi potong bapak  Marsono berdiri  pada tahun 1991. Beralamat di jalan Lingkar Barat lorong Kuningan kelurahan Bagan Pete kecamatan Kota Baru Kota Jambi. Pada mulanya jumlah sapi di peternakan tersebut hanya 1 ekor, dari tahun ke tahun ternaknya terus bertambah hingga 17 ekor. Akan tetapi, pada tahun 2005 sapi-sapi tersebut dijual hingga akhirnya jumlahnya tinggal 7 ekor. Pada tahun 2009 Bapak Marsono bergabung dengan kelompok tani ternak yang bernama Sumber Rezeki sebagai anggota, kemudian bergabung dengan kelompok tani ternak lainnya yaitu Sumber Jaya pada tahun 2010 sebagai wakil ketua, dan pada tahun 2012 Bapak Marsono keluar dari kelompok tani ternak karena alasan ingin memelihara ternak sapi sendiri.

Pekerjaan bapak Marsono ini ialah petani karet dimana beternak sapi ini merupakan pekerjaan sampingan. Sapi di peternakan ini dijual apabila pembeli sudah sesuai dengan harga yang ditentukan oleh peternak. Apabila harga yang ditawarkan oleh pembeli tidak sesuai maka sapi tersebut tidak dijual sampai menemukan harga yang sesuai.

Luas area peternakan ± 30 m2 dengan luas kandang ± 15 meter. Ternak yang di pelihara di peternakan bapak Marsono berasal dari bantuan pemerintah kota Jambi. Jenis sapi yang dipelihara adalah sapi PO (Peranakan Ongol), Sapi Bali dan Sapi Peranakan Simental.

Tujuan dari peternakan ini adalah untuk pembibitan dan jual beli. System pembitan dilakukan dengan cara alami namun terkadang juga menggunakan inseminas buatan (IB). Sedangkan sistem jual beli disini pembeli datang langsung ke peternakan. Harga penjualan sapi sekitar Rp. 12.000.000 – Rp. 14.000.000 untuk jenis sapi PO dan Peranakan Simental sedangkan untuk sapi bali sekitar Rp.9.000.000 – Rp. 11.000.000 dengan umur 3 tahun.

Sistem pemeliharaan merupakan salah satu faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Sistem pemeliharaan meliputi bibit, pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan penyakit (Santoso, 1997). Sistem pemeliharaan di peternakan bapak Marsono  dilakukan secara intensif hal ini bertujuan untuk menunjang proses pemeliharaan yang baik sesuai dengan pendapat dari Sugeng (1980), menyatakan bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sepanjang hari sehingga pengawasan ternak sapi mudah dilakukan  dan ternak diberi makan dan  minum didalam kandang.

            Pekerjaaan seputar talaksana di peternakan dilakukan secara mandiri oleh bapak Marsono hal ini dikarnakan jumlah sapi yang dipelihara  tidak terlalu banyak dan  dapat dikontrol oleh  1  orang saja.

3.2. Keadaan Umum Ternak

Ternak sapi di peternakan Bapak Marsono berjumlah 5 ekor sapi, yang terdiri dari 2 ekor sapi bali betina, 1 ekor sapi PO betina, 1 ekor sapi PO jantan, 1 ekor sapi Peranakan Simental jantan dengan jenis kelamin dan status yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jenis Kelamin dan Status Ternak Sapi

No

Jenis kelamin

Status

Umur (tahun)

Jumlah (ekor)

1

Betina

Dara

1,5

1

2

Betina

Dara

1,5

1

3

Betina

Induk   

9

1

4

Jantan

-

3

1

5

Jantan

-

6

1

 

Dari tabel diatas sapi induk yang berumur 9 tahun merupakan sapi tertua karena di pelihara dari sejak lahir yaitu pada tahun 2006. Selain itu, terdapat sapi jantan umur 6 tahun dimana sapi ini dibeli pada tahun 2011 pada umur 3 tahun. Sapi betina dara 1,5 tahun adalah anakan yang baru dibeli sedangkan sapi dara umur 1,5 tahun merupakan anakan dari induk yang sudah dijual. Menurut Sukria (2011) umur maksimal seekor sapi bali ialah sekitar umur 10 – 12 tahun, umur produktif 3 – 5 tahun, dan selama hidupnya sapi yang sehat bisa melahirkan sampai 5 – 6 kali.

Sapi Bali yang ada di peternakan Bapak Marsono memiliki performans tubuh berwarna coklat kehitaman atau merah bata dengan bulu halus mengkilat, serta terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai ke arah leher atau kepala, sesuai dengan pendapat Murtidjo (1990), menyatakan bahwa karakteristik sapi Bali yaitu sapi Bali usia pedet, memiliki bulu sawo matang, sapi Bali betina dewasa berbulu merah bata dan tanduknya agak ke dalam dari kepala, sedangkan Sapi Bali jantan dewasa mempunyai warna bulu hitam dan tanduknya agak di bagian luar kepala.

 

(Tambahkan Tinjauan Pustaka Sapi PO, P.Simental)

 

3.3 Sistem Pemeliharaan

Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Bapak Marsono yaitu sistem pemeliharaan secara intensif, dimana ternak sapi di kandangkan secara terus menerus dari pagi sampai sore, hijauan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke lokasi peternakan. Semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif.  Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama.  Sistem semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak.   

3.4 Perkandangan

Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan hujan, melindungi dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan serta mempermudah pengawasan ternak (Amonimous, 1993).

Kandang di peternakan Bapak Marsono berlokasi dibelakang rumah dengan jarak ± 10 meter, yang berarti sudah memenuhi syarat letak kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumoprastowo (1980), yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak di beri minum. Saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak tercemar. Hal ini didukung pula oleh pendapat Deptan (2001), yang menyatakan bahwa kandang ternak yang baik harus berjarak 10 - 20 meter dari rumah atau sumber air.

Kandang di peternakan Bapak Marsono ini memiliki ukuran 14 x 4,5 m dengan ketinggian ± 3,5 m, lantai kandang disemen miring dari lahan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (1997), menyatakan bahwa kontruksi lantai kandang harus diperhatikan kemiringannya. Kemiringan ini penting untuk membuang limbah cair dan kotoran. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.

Dinding kandang pada kedua sisinya terbuat dari kayu yang dipasang bersela, dan atap kandang terbuat dari seng. Tempat pakan terbuat dari kayu dengan panjang 3 m dan lebar 1 m, serta tempat minum terbuat dari drum plastik yang dibelah menjadi dua bagian. Kandang dialasi atau ditaburi dengan serbuk gergaji agar tidak terlalu becek dan kotor.

Tipe kandang yang ada di peternakan Bapak Marsono adalah kandang tipe tunggal, yaitu sapi berada dalam satu tempat yang sama. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.

 

3.5 Pemberian Pakan

Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah  bentuk  campuran  bahan  pakan  yang  kaya  akan  sumber protein  maupun  sumber energi Pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993).

Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB dengan cara memberikan pakan 16 ikat dalam sehari, diperkirakan dalam 1 ikat pakan ternak beratnya ± 12 kg. Jadi total pakan yang diberikan per hari untuk 5 ekor ternak sapi yaitu 192 kg, berarti per ekor mendapatkan 38,4 kg. Menurut Rudiah (2008), untuk meningkatkan bobot badan pada ternak, pemberian pakan sebaiknya dimulai pada pagi hari yaitu mulai pukul 08:00 – 14:00, hal ini dilakuk an karena pada pagi hari ternak mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk mengkonsumsi pakan dan memiliki kesempatan yang banyak pula untuk mengunyah makanan tersebut, semakin banyak waktu yang diberikan kepada ternak sapi untuk mengkonsumsi pakan, maka akan menghasilkan bobot badan yang lebih optimal.

Bila dihitung berdasarkan 10% bobot badan, maka konsumsi pakan ternak sapi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Konsumsi Pakan Ternak Sapi berdasarkan 10% Bobot Badan(Kg/Ekor/Hari)

 

No

Status ternak

Bobot Badan

Hijauan yg diberikan

Jumlah konsumsi

1

Dara

121

12

10

2

Dara

262,44

26

22

3

Induk   

262,44

26

22

4

-

353,44

35

31

5

-

368,64

36

32

 

Total

2315,89

229

205

 

Rata-rata

330,84

32,71

29,28

 

Dari tabel di atas diketahui bahwa konsumsi rata-rata per ekor 29,28 kg/ekor/hari, sedangkan rataan pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan yaitu 27,43 kg/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pakan yang diberikan dalam bentuk ikatan lebih rendah dari kebutuhan ternak berdasarkan bobot badan. Tetapi hal ini didapat dari pendugaan, karena tidak tersedianya timbangan untuk mengetahui pasti jumlah pakan ternak per harinya. Siregar (2003), menyatakan bahwa pemberian hijauan adalah 10% dari bobot badan, apabila diberikan dalam bentuk segar.

Alasan Peternakan Bapak Marsono memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar, selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat, sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat penting untuk diperhatikan  karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi.

 

3.6 Pemberian Air Minum

Pemberian air minum pada ternak sapi diberikan dua kali sehari, yang disediakan pada saat-saat tertentu, yang diambil dari sumur peternak. menurut pendapat Suharno dan Nazarudin (1994), yang menyatakan bahwa Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap tersedia.

Konsumsi air minum yang diberikan kepada ternak sapi adalah ± 15 liter/ekor/hari diberikan pada pagi dan sore, dicampur dengan garam sekitar 0,5 kg atau 2 genggam tangan peternak setiap satu kali pemberian air minum. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan.

3.7 Pertambahan Bobot Badan

Laju pertumbuhan seekor sapi dapat diukur dengan melihat pertambahan bobot badannya. Pertambahan bobot badan diperoleh dengan cara mengurangi bobot badan akhir dengan bobot badan awal (Yusuf, 2010). Pertambahan bobot badan sapi dapat diketahui secara pasti dengan melakukan penimbangan. Akan tetapi, karena timbangan ternak tidak tersedia di peternakan Bapak Marsono, maka penaksiran/pendugaan dilaksanakan dengan menghitung lingkar dada dari masing-masing sapi, dengan mengggunakan rumus Schoorl (Sariubang et al., 2004). Pertambahan bobot badan dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pertambahan Bobot Badan Ternak Sapi

No

Status  Ternak

BB Awal

(Kg)

BB Akhir

(Kg)

PBB/Bln

(Kg)

PBB/Hari

(Kg)

1

Dara

121

134,56

13,56

0,452

2

Dara

262,44

275,56

13,12

0,437

3

Induk   

262,44

275,56

13,12

0,437

4

-

353,44

357,21

3,77

0,126

5

-

368,64

372,49

3,85

0,128

 

Total

2315,89

2376,6

60,71

2.023

 

Rata-rata

330,84

339,51

8,673

0,289

 

Dari tabel diatas dapat dilihat hasil penaksiran/pendugaan bobot badan sapi rata-rata PBB (pertambahan bobot badan) selama 1 bulan yaitu 8,673 kg/ekor/bulan, sementara PBBH (pertambahan bobot badan harian) yaitu 0,289 kg/ekor/hari. Menurut Parulian (2009), pertambahan bobot hidup sapi Bali dipengaruhi oleh umur, bobot badan, kualitas pakan dan jumlah konsumsi pakan. Pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya merupakan salah satu penyebab utama pertambahan bobot badan sapi kurang maksimal. Pertambahan bobot badan yang tidak maksimal disebabkan pada waktu pelaksanaaan magang pakan yang diberikan kurang nutrisi (konsentrat). Abidin (2002) yang menyatakan bahwa kualiatas dan kuantitas dari pakan yang diberikan kepada ternak sangat mempengaruhi terhadapa pertambahan bobot badan dari ternak tersebut.Selanjutnya Soeparno dan Tillman (1998) melaporkan bahwa genetis dan asupan nutrisi sangat mempengaruhi terhadap kecepatan pertumbuhan ternak dan pertambahan bobot badan sapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu jenis sapi, jenis kelamin, pakan dan tekhnik Pengolahnya.

 

3.8 Kesehatan Ternak

Di peternakan ini tidak disediakan obat-obatan atau vaksinasi, karena jika ternak sakit serius, maka peternak akan mendatangkan atau bekerja sama dengan dokter atau mantri hewan, sehingga lebih memudahkan dalam mengetahui penyakitnya dan mengobati ternak, apabila peternak tidak mengetahui penyakit pada ternak sapinya tersebut. Berdasarkan pengamatan selama magang sapi-sapi yang dipelihara di peternakan Bapak Marsono sehat, walaupun sebagian ada sedikit luka/lecet, yang biasanya diakibatkan oleh goresan dari lantai, serta dinding kandang. Viviani dan Nazarudin (1998), menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah melalui sanitasi kandang dan lingkungan sekitar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ngadiyono, (2007) bahwa usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang setiap hari dan memandikan ternak satu kali sehari. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.

 

3.9 Penanganan Limbah Ternak

Pupuk kandang pada peternakan Bapak Marsono dijual dengan cara konsumen mengambil sendiri kotoran tersebut ke peternakan dengan harga 8.000 ribu/karung beras, atau memesan sesuai dengan jumlah pesanan konsumen per karungnya. Kadang kala kotoran ternak sapi ini diberikan kepada para tetangga yang menginginkannya. Menurut pendapat Sugeng (2010), kotoran sapi merupakan salah satu jenis limbah yang cukup banyak akan tetapi masih banyak para pemilik sapi yang menghasilkan banyak kotoran sapi kurang jeli dalam memanfaatkannya, sehingga banyak kotoran limbah kotoran sapi yang tidak dapat menghasilkan keuntungan bahkan menjadi hal yang merugikan baik untuk pemilik sapi ataupun untuk lingkungan. Hal ini dikarenakan jika limbah kotoran sapi hanya dibuang tanpa diolah untuk dimanfaatkan maka dapat berdampak pada kerusakan lingkungan, misalnya saja pencemaran yang berdampak pada kebersihan sungai atau lingkungan.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN

 

 

4.1  Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan Bapak Marsono sudah cukup baik, dimana dalam sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak selalu dikandangkan. Akan tetapi, kekurangannya ialah tidak diberikan konsentrat.

 

4.2 Saran

Kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan ke ternak sapi harus ditingkatkan, salah satunya yaitu dengan pemberian pakan tambahan seperti konsentrat dan perlu disediakan lahan untuk hijauan unggul, sehingga kebutuhan nutrisi ternak sapi tersebut dapat terpenuhi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

AAK. 1991. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pusataka. Tanggerang.

 

Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.

 

Anonimous. 1988. Tata Laksana Sapi Potong. Kanisius Press. Yogyakarta.

 

Anonimous. 2010. Kandang Sapi Menurut Umur. http://ohsapi.blogspot.com/2010/05/kandang-sapi-menurut-umur.html. 10 November 2014.

 

Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Press. Jakarta.

 

Cahyono. 1998. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.

 

Deptan. 2001. Penggemukan Sapi Potong Sistem Kereman. Jakarta. http://www.deptan.go.id. 15 Juni 2014.

 

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Basis Data Pertanian. http://deptan.go.id. 15 Juni 2014.

 

Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan Fisiology Ternak, Edisi ke 7, diterjemahkan oleh Srigandono, B dan Praseno, K. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

 

Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

 

Heri, A. Sukria. 2011. http://agroedutourismipb.multiply.com/journal/item/2/ SAPI_dan_DAUR HIDUPNYA. 27 Januari 2015.

 

Kadarsih, S. 2003. Peranan Ukuran Tubuh terhadap Bobot Badan Sapi Bali di Provinsi Bengkulu. Jurnal penelitian UNIB, IX (1) : 45-48..

 

Murtidjo, B.A. 1990. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Natasasmita, A. dan M. Koeswardhono. 1980. Beternak Sapi Daging. Unit Penataran. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Pane. 1996. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia Press. Jakarta.

 

Parulian, S.T. 2009. Efek Pelepah Daun Sawit dan Limbah Industrinya Sebagai Pakan Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Pada Fase Pertumbuhan. Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan. 

 

Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha Peternakan Sapi Potong. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

 

Reksohadiprojo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.

 

Rudiah. 2008. Pengaruh Waktu Pemberian Pakan Terhadap Performa Sapi Potong, J. Agrisains.

 

Rudiono, D. 1991. Pendugaan Berat Badan Sapi Bali Melalui Ukuran Tubuh pada Berbagai Kondisi dan Tingkat Umur. Tesis Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.

 

Saka, I.K. 1990. Pemberian Pakan dan Pemeliharaan Ternak. Makalah Dalam Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember 1990.

 

Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Santosa. 2002. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Santoso. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya. Jakarta.

 

Sariubang, M, A. Ella, A. Nurhayu, dan D. Pasambe. 2004. Laporan Sistem Usaha Pertanian Sapi Potong di Sulawesi Selatan.

 

Sarwono. 2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Setiadi. 1992. Beternak Sapi Pedaging dan Masalahnya. Aneka Ilmu. Semarang.

 

Siregar. 2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan Peternakan. Jakarta.

 

Sosroamidjoyo dan Soeradji. 1978. Peternakan Umum. CV Yasaguna. Jakarta.

 

Sugeng, Y.B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Sugeng, Y.B. 2007. Sapi Potong. Penebar Swadaya Press. Jakarta.

 

Sugeng, Y.B. 2010. Model Pengembangan Agribisnis Sapi Potong Berdasar Analisis Kelayakan Sosial Budaya dan Ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sapi Lokal, Tema : Peningkatan Potensi Sapi Lokal Untuk Mendorong Industrialisasi Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang. 

 

Sumoprastowo, C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata Karya Aksara. Jakarta.

 

Suparman, M dan Azis, M. S. 2003. Formulasi Pakan Murah yang Berkualitas untuk Usaha Penggemukkan Sapi Bali. BPTP. Sulawesi Selatan.

 

Sutardi. 1980. Iktisar Ruminologi. Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

Tillman, A. D. S, Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta.

 

Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadimodjo dan S. Prawirokusumo. 1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

 

Viviani dan Nazarudin. 1998. Ternak Komersil. Penebar Swadaya. Jakarta.

 

Yusuf. 2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental Fase Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.

 

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar