LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
SISTEM PEMELIHARAAN TERNAK SAPI BALI DI PETERNAKAN BAPAK MARSONO KELURAHAN BAGAN PETE
KECAMATAN KOTA BARU JAMBI
OLEH :
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Melihat
dengan bertambahnya pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia maka kebutuhan
akan protein hewani pun akan semakin meningkat, salah satunya adalah sumber protein
yang berasal dari daging sapi. Di Provinsi Jambi
kebutuhuan daging sebesar 26.588,46 ton berdasarkan standar gizi konsumsi
daging namun masih memiliki kekurangan sebanyak ± 70 % didatangkan dari luar
Provinsi Jambi (Syafrial et al.,
2007). Salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan
protein hewani di Provinsi Jambi adalah dengan usaha peternakan sapi potong.
Sapi potong merupakan jenis ternak yang tujuan
pemeliharaannya untuk menghasilkan daging dan merupakan salah satu sumber protein hewani yang merupakan
bahan pangan bagi masyarakat, oleh karena itu untuk mengimbangi permintaan
daging asal sapi potong oleh masyarakat sebagai bahan pangan, maka harus cukup tersedia
secara kontinyu. Ketersediaan daging asal sapi potong ini dapat dilakukan
dengan cara meningkatkan produksi daging sapi potong. Hal ini merupakan suatu peluang besar bagi peternak sapi potong,
terutama bagi sarjana peternakan untuk mengembangkan dan juga membuka usaha
peternakan sapi pedaging.
Dalam usaha mengembangkan
peternakan sapi, faktor-faktor yang mempengaruhi produktifitas ternak
diantaranya, sistem pemeliharaan, ketersediaan pakan, kesehatan ternak,
lingkungan tempat pemeliharaan, kondisi iklim dan bibit ternak. Untuk
mendapatkan produk sapi potong yang berkualitas baik, maka diperlukan suatu
sistem pemeliharaan ternak sapi potong yang baik pula.
Sistem pemeliharaan sapi di Indonesia
terbagi atas tiga yaitu intensif, ekstensif, dan semi intensif. Sistem
pemeliharaan sapi intensif adalah sistem pemeliharaan sapi yang dikandangkan terus-menerus dari pagi
sampai malam hari, pakan diambil dari padang penggembalaan dan diangkut ke
kandang atau yang sering disebut dengan sistem cut and carry. Sistem
pemeliharaan ekstensif adalah
sistem pemeliharaan sapi di gembalakan atau di lepas pada suatu padang
penggembalaan yang luas dan di situ terdapat suatu tempat untuk sapi
beristirahat, sedangkan pemeliharaan sapi secara semi intensif yaitu sistem pemeliharaan sapi digembalakan
pada siang hari dan pada malam harinya sapi dimasukkan ke kandang.
Mengingat
pentingnya memperhatikan sistem pemeliharaan maka berdasarkan hal tersebutlah
yang menjadikan alasan penulis melakukan farm experience dengan judul Sistem
Pemeliharaan Sapi Potong di Peternakan Bapak. Marsono Jalan
Lingkar Barat Lorong Kuningan Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota
Jambi.
1.2.
Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan Farm Experience ini adalah untuk
mengetahui sistem pemeliharaan sapi potong di Peternakan
Bapak Marsono yang berada di Jalan Lingkar Barat Lorong Kuningan Kelurahan
Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota Jambi.
1.3. Manfaat
Manfaat
dari Farm Experience ini adalah untuk menambah wawasan, pengalaman serta dapat
mengetahui bagaimana sistem pemeliharaan sapi potong yang diterapkan di
Peternakan Bapak Marsono, Jalan Lingkar Barat Lorong Kuningan
Kelurahan Bagan Pete Kecamatan Kota Baru Kota Jambi.
BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. Tempat dan Waktu
Farm
Experience ini dilaksanakan pada tanggal 20 September sampai dengan 20 Oktober
2014 yang bertempat di Peternakan Bapak Marsono jalan Lingkar
Barat lorong Kuningan kelurahan Bagan Pete kecamatan Kota Baru Kota Jambi.
2.2. Prosedur Kerja
Materi
yang digunakan dalam Farm Experience secara keseluruhan yaitu 5 ekor sapi.
Peralatan yang digunakan adalah 1 buah sekop, 1 buah cangkul, pompa dan selang
air, 2 buah ember, 2 buah drum sebagai tempat air minum. Bahan yang digunakan
dalam Farm Experience ini terdiri atas hijauan (rumput lapang, rumput kumpai,
rumput benggala) dan garam.
Metode yang digunakan dalam kegiatan Farm
Experience ini adalah kegiatan seperti pemeliharaan ternak sapi sebanyak 5 ekor
yang meliputi pembersihan kandang di pagi hari dengan menggunakan sekop dan
cangkul, pembersihan tempat pakan dan minum. Pemberian pakan hijauan dilakukan
2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Sedangkan pemberian air minum dilakukan
satu kali sehari pada pagi hari. Pengukuran bobot badan sapi, untuk mendapatkan bobot awal sebagai acuan
pemberian pakan dan untuk mengetahui pertambahan bobot badan dilakukan dengan
cara mengukur lingkar dada sapi.
2.3. Analisis Data
Data yang diambil selama kegiatan farm experience ini berasal dari
data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan pengamatan langsung
dan wawancara kepada peternak. Data primer diambil meliputi jumlah ternak,
jenis pakan yang diberikan kepada ternak setiap harinya, bobot badan ternak
serta perkandangan dengan mengamati tipe kandang. Sedangkan data sekunder diperoleh
dari recording atau catatan yang ada di Peternakan bapak Marsono, meliputi
tahun berdiri berdirinya peternakan Bapak Marsono, asal ternak, luas kandang
dan luas lahan peternakan.
Data
yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif, yakni
mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasi data yang diperoleh sehingga dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan ataupun tempat yang diteliti. Pada
data pertambahan bobot badan menggunakan analisis penaksiran bobot badan dengan
pengukuran lingkar dada. Rumus yang digunakan adalah rumus Schoorl dengan
mengkonversikan ke dalam satuan berat (kg) (Syukur, 2002).
Bobot
Badan (kg)
Metode
perhitungan pertambahan bobot badan (PBB) menggunakan rumus sebagai berikut:
PBB
(kg) = Bobot Badan akhir (kg) – Bobot Badan awal (kg)
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1. Kondisi Umum
Peternakan
Usaha peternakan sapi
potong bapak Marsono berdiri pada tahun 1991. Beralamat di jalan Lingkar
Barat lorong Kuningan kelurahan Bagan Pete kecamatan Kota Baru Kota Jambi. Pada
mulanya jumlah sapi di
peternakan tersebut hanya 1 ekor, dari
tahun ke tahun ternaknya terus bertambah hingga 17 ekor. Akan tetapi, pada
tahun 2005 sapi-sapi tersebut dijual hingga akhirnya jumlahnya tinggal 7 ekor. Pada tahun
2009 Bapak Marsono bergabung dengan kelompok tani
ternak yang bernama Sumber Rezeki sebagai anggota, kemudian bergabung dengan kelompok tani ternak lainnya
yaitu Sumber Jaya pada tahun 2010 sebagai wakil ketua, dan pada tahun 2012 Bapak Marsono keluar dari kelompok tani ternak karena
alasan ingin memelihara ternak sapi sendiri.
Pekerjaan bapak Marsono ini ialah
petani karet dimana beternak sapi ini merupakan pekerjaan sampingan. Sapi di peternakan ini dijual apabila pembeli sudah sesuai dengan harga
yang ditentukan oleh peternak. Apabila harga yang ditawarkan oleh pembeli tidak
sesuai maka sapi tersebut tidak dijual sampai menemukan harga yang sesuai.
Luas area peternakan ± 30 m2 dengan
luas kandang ± 15 meter. Ternak yang di pelihara di peternakan bapak Marsono
berasal dari bantuan pemerintah kota Jambi. Jenis sapi yang dipelihara adalah
sapi PO (Peranakan Ongol), Sapi Bali dan Sapi Peranakan Simental.
Tujuan
dari peternakan ini adalah untuk pembibitan dan jual beli. System pembitan
dilakukan dengan cara alami namun terkadang juga menggunakan inseminas buatan
(IB). Sedangkan sistem jual beli disini pembeli datang langsung ke peternakan.
Harga penjualan sapi sekitar Rp. 12.000.000 – Rp. 14.000.000 untuk jenis sapi
PO dan Peranakan Simental sedangkan untuk sapi bali sekitar Rp.9.000.000 – Rp.
11.000.000 dengan umur 3 tahun.
Sistem pemeliharaan merupakan salah satu
faktor terpenting yang memegang peranan dalam keberhasilan suatu usaha
peternakan baik dalam skala kecil hingga skala besar. Sistem pemeliharaan meliputi bibit,
pemberian pakan dan air minum, kandang, serta pencegahan dan pengobatan
penyakit (Santoso, 1997). Sistem pemeliharaan di
peternakan bapak Marsono dilakukan
secara intensif hal ini bertujuan untuk menunjang proses pemeliharaan yang baik
sesuai dengan pendapat dari Sugeng (1980), menyatakan bahwa pemeliharaan
ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sepanjang hari sehingga
pengawasan ternak sapi mudah dilakukan dan ternak diberi makan dan minum didalam kandang.
Pekerjaaan seputar talaksana di
peternakan dilakukan secara mandiri oleh bapak Marsono hal ini dikarnakan jumlah
sapi yang dipelihara tidak terlalu
banyak dan dapat dikontrol oleh 1
orang saja.
3.2. Keadaan Umum Ternak
Ternak
sapi di peternakan Bapak Marsono berjumlah 5 ekor sapi, yang terdiri dari 2 ekor sapi
bali betina, 1 ekor sapi PO betina, 1 ekor sapi
PO jantan, 1 ekor sapi Peranakan Simental jantan dengan jenis
kelamin dan status yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel
1. Jenis Kelamin dan Status Ternak Sapi
|
No |
Jenis kelamin |
Status |
Umur (tahun) |
Jumlah (ekor) |
|
1 |
Betina |
Dara |
1,5 |
1 |
|
2 |
Betina |
Dara |
1,5 |
1 |
|
3 |
Betina |
Induk |
9 |
1 |
|
4 |
Jantan |
- |
3 |
1 |
|
5 |
Jantan |
- |
6 |
1 |
Dari tabel
diatas sapi induk yang berumur 9 tahun
merupakan sapi tertua karena di pelihara dari sejak lahir yaitu pada tahun 2006.
Selain itu, terdapat sapi jantan umur 6 tahun dimana sapi ini dibeli pada tahun
2011 pada umur 3 tahun. Sapi betina dara 1,5 tahun adalah anakan yang baru
dibeli sedangkan sapi dara umur 1,5 tahun merupakan anakan dari induk yang sudah dijual. Menurut Sukria
(2011) umur maksimal seekor sapi bali ialah sekitar umur 10 – 12 tahun, umur
produktif 3 – 5 tahun, dan selama hidupnya sapi yang sehat bisa melahirkan
sampai 5 – 6 kali.
Sapi Bali
yang ada di peternakan Bapak Marsono memiliki performans tubuh berwarna coklat
kehitaman atau merah bata dengan bulu halus mengkilat, serta terdapat garis
hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai ke arah leher atau kepala, sesuai
dengan pendapat Murtidjo (1990), menyatakan bahwa
karakteristik sapi Bali yaitu sapi Bali usia pedet, memiliki bulu sawo matang,
sapi Bali betina dewasa berbulu merah bata dan tanduknya agak ke dalam dari
kepala, sedangkan Sapi Bali jantan dewasa mempunyai warna bulu hitam dan
tanduknya agak di bagian luar kepala.
(Tambahkan Tinjauan Pustaka Sapi PO,
P.Simental)
3.3 Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan ternak sapi di peternakan
Bapak Marsono yaitu sistem pemeliharaan secara intensif, dimana ternak sapi di
kandangkan secara terus menerus dari pagi sampai sore, hijauan diambil dari
padang penggembalaan dan diangkut ke lokasi peternakan. Semua aktivitas sapi
dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian makan dan minum. Tujuan sistem
pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam pemeliharaan ternak sapi seperti
pemberian pakan, pengendalian penyakit dan pemantauan produksi dan
produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilorini (2008)
yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat dibedakan menjadi 3, antara lain
sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif dan intensif. Sistem ekstensif semua aktivitasnya dilakukan
dipadang penggembalaan yang sama. Sistem
semi intensif adalah memelihara sapi untuk digemukkan dengan cara digembalakan
dan pakan disediakan oleh peternak, atau gabungan dari sistem ekstensif dan
intensif. Sementara sistem intensif adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh
pakan disediakan oleh peternak.
3.4 Perkandangan
Sistem perkandangan merupakan salah satu faktor yang
menunjang dalam setiap usaha peternakan. Kandang mempunyai arti penting untuk melindungi ternak
terhadap gangguan dari luar yaitu pengaruh lingkungan yang kurang
menguntungkan. Kandang berfungsi sebagai tempat istirahat sewaktu panas dan
hujan, melindungi dari serangan binatang buas, tempat melahirkan, perkawinan serta
mempermudah pengawasan ternak (Amonimous, 1993).
Kandang di peternakan
Bapak Marsono berlokasi dibelakang rumah dengan jarak ± 10 meter, yang berarti
sudah memenuhi syarat letak kandang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumoprastowo
(1980), yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari
perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk. Tempat pakan
tersedia dalam kandang sedangkan tempat air minum disediakan apabila ternak di
beri minum. Saluran pembuangan limbah tersedia sehingga lingkungan tidak
tercemar. Hal ini didukung pula oleh pendapat Deptan (2001), yang menyatakan
bahwa kandang ternak yang baik harus berjarak 10 - 20 meter dari rumah atau
sumber air.
Kandang di peternakan
Bapak Marsono ini memiliki ukuran 14 x 4,5 m dengan ketinggian ± 3,5 m, lantai
kandang disemen miring dari lahan sekitarnya. Hal ini sesuai dengan
pendapat Santoso (1997), menyatakan bahwa kontruksi lantai kandang harus
diperhatikan kemiringannya. Kemiringan ini penting untuk membuang limbah cair dan kotoran. Menurut
Siregar (2003) tipe kandang sapi pada dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang
akan digunakan, selera peternak itu sendiri dan keadaan iklim.
Dinding
kandang pada kedua sisinya terbuat dari kayu yang dipasang bersela, dan atap
kandang terbuat dari seng. Tempat pakan terbuat dari kayu dengan panjang 3 m
dan lebar 1 m, serta tempat minum terbuat dari drum plastik yang dibelah
menjadi dua bagian. Kandang dialasi
atau ditaburi dengan serbuk gergaji agar tidak terlalu becek dan kotor.
Tipe kandang yang ada
di peternakan Bapak Marsono adalah kandang tipe tunggal, yaitu sapi berada
dalam satu tempat yang sama. Menurut Siregar (2003) tipe kandang sapi pada
dasarnya tergantung pada jumlah sapi yang akan digunakan, selera peternak itu
sendiri dan keadaan iklim.
3.5 Pemberian Pakan
Pemilihan jenis pakan dan tata cara pemberian pakan sangat
menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan. Pakan hijauan adalah semua
bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan,
terkadang termasuk batang, ranting dan bunga, sedangkan konsentrat adalah bentuk
campuran bahan pakan
yang kaya akan
sumber protein maupun sumber energi Pakan sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan
kasar ditandai dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan
sebagai pakan yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat
saat dewasa. Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan
utama yang cukup banyak (Williamson dan Payne, 1993).
Pemberian pakan
dilakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi pukul 08.00 WIB dan sore hari pukul
17.00 WIB dengan cara
memberikan pakan 16 ikat dalam sehari, diperkirakan dalam 1 ikat pakan ternak
beratnya ± 12 kg. Jadi total pakan yang diberikan per hari untuk 5 ekor ternak
sapi yaitu 192 kg, berarti per ekor mendapatkan 38,4 kg. Menurut Rudiah (2008), untuk meningkatkan bobot
badan pada ternak, pemberian pakan sebaiknya dimulai pada pagi hari yaitu mulai
pukul 08:00 – 14:00, hal ini dilakuk an karena
pada pagi hari ternak mendapat kesempatan yang lebih banyak untuk mengkonsumsi
pakan dan memiliki kesempatan yang banyak pula untuk mengunyah makanan
tersebut, semakin banyak waktu yang diberikan kepada ternak sapi untuk
mengkonsumsi pakan, maka akan menghasilkan bobot badan yang lebih optimal.
Bila dihitung berdasarkan 10% bobot badan, maka konsumsi pakan ternak sapi
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
2. Konsumsi Pakan Ternak Sapi berdasarkan 10% Bobot Badan(Kg/Ekor/Hari)
|
No |
Status ternak |
Bobot Badan |
Hijauan yg
diberikan |
Jumlah konsumsi |
|
1 |
Dara |
121 |
12 |
10 |
|
2 |
Dara |
262,44 |
26 |
22 |
|
3 |
Induk |
262,44 |
26 |
22 |
|
4 |
- |
353,44 |
35 |
31 |
|
5 |
- |
368,64 |
36 |
32 |
|
|
Total |
2315,89 |
229 |
205 |
|
|
Rata-rata |
330,84 |
32,71 |
29,28 |
Dari tabel di atas diketahui bahwa konsumsi rata-rata per ekor 29,28 kg/ekor/hari, sedangkan rataan pakan yang
diberikan dalam bentuk ikatan yaitu 27,43
kg/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa pakan yang
diberikan dalam bentuk ikatan lebih rendah dari kebutuhan ternak berdasarkan
bobot badan. Tetapi hal ini didapat dari
pendugaan, karena tidak tersedianya timbangan untuk mengetahui pasti jumlah
pakan ternak per harinya. Siregar (2003), menyatakan bahwa pemberian hijauan
adalah 10% dari bobot badan, apabila diberikan dalam bentuk segar.
Alasan Peternakan Bapak
Marsono memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan
pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar,
selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat,
sumber energi, mineral
dan vitamin. Pakan sangat
penting untuk diperhatikan karena pakan
sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan
diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging.
Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi.
3.6 Pemberian Air Minum
Pemberian air minum pada ternak sapi diberikan dua kali
sehari, yang disediakan pada saat-saat tertentu, yang diambil
dari sumur peternak. menurut pendapat
Suharno dan Nazarudin (1994), yang menyatakan bahwa Pemberian air minum
sebaiknya dilakukan secara Ad libitum
untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat penting bagi makhluk
hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam proses metabolisme di
dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga air harus tetap
tersedia.
Konsumsi air minum yang diberikan
kepada ternak sapi adalah ± 15 liter/ekor/hari diberikan pada pagi dan sore, dicampur dengan garam sekitar 0,5
kg atau 2 genggam tangan peternak setiap satu kali pemberian air minum. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan
salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan.
3.7 Pertambahan Bobot Badan
Laju pertumbuhan seekor sapi dapat diukur dengan melihat pertambahan bobot
badannya. Pertambahan bobot badan
diperoleh dengan cara mengurangi bobot badan akhir dengan bobot badan awal (Yusuf,
2010). Pertambahan bobot badan sapi dapat
diketahui secara pasti dengan melakukan penimbangan. Akan tetapi, karena
timbangan ternak tidak tersedia di peternakan Bapak Marsono, maka
penaksiran/pendugaan dilaksanakan dengan menghitung lingkar dada dari masing-masing sapi, dengan mengggunakan
rumus Schoorl (Sariubang et al., 2004). Pertambahan bobot badan dapat
dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3.
Pertambahan Bobot Badan Ternak Sapi
|
No |
Status Ternak |
BB Awal (Kg) |
BB Akhir (Kg) |
PBB/Bln (Kg) |
PBB/Hari (Kg) |
|
1 |
Dara |
121 |
134,56 |
13,56 |
0,452 |
|
2 |
Dara |
262,44 |
275,56 |
13,12 |
0,437 |
|
3 |
Induk |
262,44 |
275,56 |
13,12 |
0,437 |
|
4 |
- |
353,44 |
357,21 |
3,77 |
0,126 |
|
5 |
- |
368,64 |
372,49 |
3,85 |
0,128 |
|
|
Total |
2315,89 |
2376,6 |
60,71 |
2.023 |
|
|
Rata-rata |
330,84 |
339,51 |
8,673 |
0,289 |
Dari tabel
diatas dapat dilihat hasil penaksiran/pendugaan bobot badan sapi rata-rata PBB (pertambahan bobot badan) selama 1 bulan yaitu 8,673 kg/ekor/bulan, sementara PBBH (pertambahan bobot badan harian) yaitu 0,289
kg/ekor/hari. Menurut
Parulian (2009), pertambahan
bobot hidup sapi Bali dipengaruhi oleh umur, bobot badan, kualitas pakan dan
jumlah konsumsi pakan. Pemberian pakan yang kurang baik kualitasnya merupakan
salah satu penyebab utama pertambahan bobot badan sapi kurang maksimal. Pertambahan
bobot badan yang tidak maksimal disebabkan pada waktu pelaksanaaan magang pakan
yang diberikan kurang nutrisi (konsentrat). Abidin
(2002) yang menyatakan bahwa kualiatas dan kuantitas dari pakan yang diberikan
kepada ternak sangat mempengaruhi terhadapa pertambahan bobot badan dari ternak
tersebut.Selanjutnya Soeparno dan Tillman (1998) melaporkan bahwa genetis dan
asupan nutrisi sangat mempengaruhi terhadap kecepatan pertumbuhan ternak dan
pertambahan bobot badan sapi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu jenis
sapi, jenis kelamin, pakan dan tekhnik Pengolahnya.
3.8 Kesehatan Ternak
Di peternakan ini tidak disediakan obat-obatan atau
vaksinasi, karena jika ternak sakit serius, maka peternak akan mendatangkan
atau bekerja sama dengan dokter atau mantri hewan, sehingga lebih memudahkan
dalam mengetahui penyakitnya dan mengobati ternak, apabila peternak tidak
mengetahui penyakit pada ternak sapinya tersebut. Berdasarkan
pengamatan selama magang sapi-sapi yang dipelihara di peternakan Bapak Marsono sehat, walaupun sebagian ada sedikit
luka/lecet, yang biasanya
diakibatkan oleh goresan dari lantai, serta dinding kandang. Viviani dan
Nazarudin (1998), menyatakan bahwa salah satu usaha pencegahan penyakit adalah
melalui sanitasi kandang dan lingkungan sekitar. Hal ini sesuai dengan pendapat Ngadiyono, (2007) bahwa
usaha pencegahan penyakit dilakukan dengan membersihkan kandang setiap hari dan
memandikan ternak satu kali sehari. Ini dilakukan supaya lingkungan dan ternak
tetap terjaga. Kandang yang bersih selain mencegah timbulnya penyakit, juga
memberikan kenyamanan bagi ternak maupun peternak.
3.9 Penanganan Limbah Ternak
Pupuk kandang pada
peternakan Bapak Marsono dijual dengan cara konsumen mengambil sendiri kotoran
tersebut ke peternakan dengan harga 8.000 ribu/karung beras, atau memesan
sesuai dengan jumlah pesanan konsumen
per
karungnya. Kadang kala kotoran ternak sapi ini diberikan kepada para tetangga
yang menginginkannya. Menurut pendapat Sugeng (2010),
kotoran sapi merupakan salah satu jenis limbah yang cukup banyak akan tetapi
masih banyak para pemilik sapi yang menghasilkan banyak kotoran sapi kurang
jeli dalam memanfaatkannya, sehingga banyak kotoran limbah kotoran sapi yang
tidak dapat menghasilkan keuntungan bahkan menjadi hal yang merugikan baik
untuk pemilik sapi ataupun untuk lingkungan. Hal ini dikarenakan jika limbah
kotoran sapi hanya dibuang tanpa diolah untuk dimanfaatkan maka dapat
berdampak pada kerusakan lingkungan, misalnya saja pencemaran yang berdampak
pada kebersihan sungai atau lingkungan.
BAB
IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil
Farm Experience yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan bahwa sistem pemeliharaan ternak
sapi di peternakan Bapak Marsono sudah cukup
baik, dimana dalam sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak selalu dikandangkan.
Akan tetapi, kekurangannya ialah tidak diberikan konsentrat.
4.2 Saran
Kualitas
dan kuantitas pakan yang diberikan ke ternak sapi harus ditingkatkan, salah
satunya yaitu dengan pemberian pakan tambahan seperti konsentrat dan perlu
disediakan lahan untuk hijauan unggul, sehingga kebutuhan nutrisi ternak sapi
tersebut dapat terpenuhi.
DAFTAR PUSTAKA
AAK.
1991. Penggemukan Sapi Potong. Agro Media Pusataka. Tanggerang.
Anonimous. 1993. Teknik Pemeliharaan Sapi. Balai Informasi Pertanian. Jambi.
Anonimous. 1988. Tata Laksana Sapi Potong. Kanisius Press. Yogyakarta.
Anonimous. 2010. Kandang Sapi Menurut Umur. http://ohsapi.blogspot.com/2010/05/kandang-sapi-menurut-umur.html. 10
November 2014.
Anggorodi, R. 1979. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Press.
Jakarta.
Cahyono.
1998. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.
Deptan.
2001. Penggemukan Sapi Potong Sistem
Kereman. Jakarta. http://www.deptan.go.id. 15 Juni 2014.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2011. Basis Data
Pertanian. http://deptan.go.id. 15 Juni 2014.
Frandson, R.D. 1996. Anatomi dan
Fisiology Ternak, Edisi ke 7, diterjemahkan oleh Srigandono, B dan Praseno, K. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Hardjosubroto. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia Widiasarana
Indonesia. Jakarta.
Heri, A. Sukria. 2011. http://agroedutourismipb.multiply.com/journal/item/2/ SAPI_dan_DAUR HIDUPNYA. 27 Januari 2015.
Kadarsih,
S. 2003. Peranan Ukuran Tubuh terhadap Bobot
Badan Sapi Bali di Provinsi Bengkulu. Jurnal penelitian UNIB, IX (1) : 45-48..
Murtidjo, B.A.
1990. Penggemukan Sapi. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Natasasmita,
A. dan M. Koeswardhono. 1980. Beternak Sapi Daging. Unit Penataran. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Pane. 1996. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia Press. Jakarta.
Parulian, S.T. 2009. Efek Pelepah Daun Sawit dan Limbah Industrinya Sebagai
Pakan Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole Pada Fase Pertumbuhan.
Departemen Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatra Utara. Medan.
Rasyaf, M. 1995. Pengelolaan Usaha
Peternakan Sapi Potong. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Reksohadiprojo.
1985. Pengembangan Peternakan di Daerah Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Rudiah.
2008. Pengaruh
Waktu Pemberian Pakan Terhadap Performa Sapi Potong, J. Agrisains.
Rudiono, D. 1991. Pendugaan Berat Badan Sapi Bali Melalui
Ukuran Tubuh pada Berbagai Kondisi dan Tingkat Umur. Tesis Program Pascasarjana
Universitas Padjadjaran. Bandung.
Saka,
I.K.
1990. Pemberian Pakan dan Pemeliharaan Ternak. Makalah Dalam
Pertemuan Aplikasi Paket Teknologi Sapi Potong. BIP Bali, Denpasar 10-13 Desember
1990.
Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Santosa.
2002. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Santoso. 1997. Prospek Agribisnis Penggemukan Pedet. Penebar swadaya.
Jakarta.
Sariubang, M, A. Ella, A. Nurhayu, dan D.
Pasambe. 2004. Laporan Sistem Usaha Pertanian Sapi Potong di Sulawesi Selatan.
Sarwono.
2002. Penggemukan Sapi Potong Secara Tepat. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Setiadi.
1992. Beternak Sapi Pedaging dan Masalahnya. Aneka Ilmu.
Semarang.
Siregar.
2003. Penggemukan Sapi Bali. Balai Pengkajian dan Pemgembagan
Peternakan. Jakarta.
Sosroamidjoyo
dan Soeradji. 1978. Peternakan Umum. CV Yasaguna.
Jakarta.
Sugeng,
Y.B. 1994. Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Analisis Penggemukan Sapi Potong.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Sugeng, Y.B. 2007. Sapi Potong.
Penebar Swadaya Press. Jakarta.
Sugeng, Y.B. 2010. Model Pengembangan Agribisnis Sapi Potong Berdasar Analisis
Kelayakan Sosial Budaya dan Ekonomi. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan
Sapi Lokal, Tema : Peningkatan Potensi Sapi Lokal Untuk Mendorong
Industrialisasi Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Malang.
Sumoprastowo, C.D.A. 1980. Beternak Yang Berhasil. Bharata Karya Aksara. Jakarta.
Suparman, M dan Azis, M. S. 2003. Formulasi Pakan Murah yang
Berkualitas untuk Usaha Penggemukkan Sapi Bali. BPTP. Sulawesi Selatan.
Sutardi.
1980. Iktisar Ruminologi. Departemen Ilmu Makanan Ternak.
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tillman, A. D. S,
Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, H. Hartadi dan S. Lebdosoekojo. 1991.
Ilmu
Makanan Ternak Dasar. Gadjah MadaUniversity Press. Yogyakarta.
Tillman, A.D, H. Hartadi, S. Reksohadimodjo dan S. Prawirokusumo.
1993. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Viviani
dan Nazarudin. 1998. Ternak Komersil. Penebar
Swadaya. Jakarta.
Yusuf.
2010. Pemanfaatan Pelepah Sawit dan
Hasil Ikutan Industri Kelapa Sawit Terhadap Pertumbuhan Sapi Peranakan Simental
Fase Pertumbuhan. Departemen Pendidikan Fakultas Sumatra Utara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar