Kamis, 11 Februari 2016

MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG (LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE)



LAPORAN
FARM EXPERIENCE

MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG PADA KELOMPOK TANI SUMBER REZEKI DI DESA BARU KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI



 



OLEH
NAMA
NIM






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015


PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Farm Experience yang berjudu “MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG PADA KELOMPOK TANI SUMBER REZEKI DI DESA BARU KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI.”
Terimakasih penulis mengucapkan kepada Dr. Ir. Ardi Novra, MP selaku pembimbing Farm Experience yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis, sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Senu atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk melaksanakan Farm Experience di peternakan yang bapak pimpin. Juga untuk informasi yang penulis butuhkan untuk laporan ini, serta penulis ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu meluangkan waktu, tenaga, dan fikiran sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari dalam laporan ini masih belum sempurna, oleh karena itu demi kesempurnaan laporan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan bagi kita semua.


Jambi, Mei 2015


                Penulis



  
DAFTAR ISI
PRAKATA.................................................................................................              i
DAFTAR ISI..............................................................................................             ii
DAFTAR TABEL.....................................................................................            iii
DAFTAR GAMBAR................................................................................            iv
BAB I.  PENDAHULUAN.......................................................................             1
1.1. Latar Belakang ...........................................................................             1           
1.2. Tujuan .........................................................................................             3
1.3. Manfaat ......................................................................................             3
BAB II.  PROSEDUR KERJA................................................................             4
2.1. Tempat dan Waktu......................................................................             4
2.2. Prosedur Kerja.............................................................................             4
2.3. Analisis Data...............................................................................             5
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................             6           
3.1. Gambaran Umum Peternakan......................................................             6
3.2. Pengalaman Farm  Experince .....................................................             7
3.3. Pembuatan Pupuk Kompos ........................................................             7           
3.4. Pembuatan Pupuk Biourine ........................................................           14           
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN................................................           17
4.1. Kesimpulan .................................................................................           17
4.2. Saran ...........................................................................................           17
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel                                                                                                            Halaman
1.  Bahan-bahan yang digunakan pada pupuk kompos................................ .           9           
2.  Pengukuran Suhu Pada Proses Pengomposan......................................... .         12           
3.  Bahan-Bahan Yang Digunakan Pada Biourine....................................... .         14


DAFTAR GAMBAR
Gambar                                                                                                        Halaman
1. Struktur Organisasi.....................................................................................           6
2. Skema Proses Pembuatan Kompos ………………………………...........           9
3. Pemberian Tricoderma Pada Awal Pengomposan......................................         10
4. Pembalikan Kompos Menggunakan Kultivator.........................................         11
5. Pengayaan Pupuk Kompos.........................................................................         12
6. Pengemasan Pupuk Kompos……………………………………………..         13
7. Tempat Penampungan Urin Sapi................................................................         14
8. Pencampuran Bahan-Bahan Biourine………………………………….....         15
9. Penutupan Biourine……………………………………………………....         16
10. Pengemasan Biourine.................................................................................       16





BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Ternak sapi potong adalah salah satu jenis ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan penting bagi kehidupan masyarakat, sebab ternak bisa menghasilkan berbagai macam produk guna mencukupi kebutuhan manusia, terutama sebagai bahan pangan berupa daging, disamping hasil ikutan lain seperti pupuk kompos, kulit dan tulang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat  akan produk asal ternak yang terus meningkat sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pangan yang bergizi, maka upaya yang dilakukan adalah dengan memacu peningkatan produksi melalui budidaya.
            Budidaya peternakan perlu dilakukan karena dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tetapi dalam usaha tersebut terdapat salah satu persoalan sampingan yang patut diperhatikan yakni limbah ternak. Limbah ternak terdiri dari feses, urine dan sisa pakan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara, air, tanah dan sebagai media berkembangnya penyakit yang pada akhirnya akan mengganggu usaha pemeliharaan ternak dan menyebabkan berbagai kerugian.
            Limbah ternak memiliki dua potensi yang bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan bagi manusia. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah. Limbah ternak mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak yang baik,maka akan dapat tercapai suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan.
Sebaliknya, potensi yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan masyarakat disekitar areal peternakan, dengan demikian diperlukannya suatu upaya pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair (urine) sehingga limbah-limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran udara maupun air.
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi peternakan. Seekor ternak sapi akan menghasilkan feses sebanyak rata-rata 30 kg/hari/ekor. Jika saja dalam suatu peternakan ada terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan menghasilkan 300kg feses yang dapat mencemari lingkungan (Putra dkk., 2014). Namun, sebenarnya limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk kompos dan pupuk cair.
Secara umum, pengertian pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah dengan cara menambahkan bahan tersebut ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Oleh karena itu, pemupukan diartikan sebagai penambahan zat hara tanaman ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat-sifat kimia dan fisik tanah, seperti pengapuran, pemberian abu atau tanah mineral (lumpur, pasir dan liat) pada tanah organik dan sebaliknya penambahan bahan organik atau kompos pada tanah mineral.
Menurut Kaharudin., dkk (2010) Kompos adalah pupuk organik yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik yang berasal dari  limbah atau sisa tanaman, kotoran hewan atau  manusia seperti  pupuk kandang, pupuk hijau dan humus yang telah mengalami dekomposisi. Kompos dari sisa atau limbah tanaman maupun limbah ternak mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang lengkap (N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, B dan S). Sedangkan biourin adalah Atas dasar tersebut maka penulis melakukan Farm Experience di Kelompok Tani Sumber Rezeki untuk melihat pengolahan limbah ternak sapi potong dengan judul “Manajemen Pengolahan Limbah Ternak Sapi Potong Pada Kelompok Tani Sumber Rezeki di Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi”.
1.2 Tujuan
Tujuan dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah ternak sapi oleh Kelompok Tani Sumber Rezeki di Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi.
1.3 Manfaat
Manfaat dari   Farm Experience ini ialah untuk menambah pengetahuan, pengalaman  dan  meningkatkan wawasan berpikir dalam menerapkan ilmu di bidang peternakan khusunya dalam pengelolaan limbah ternak sapi.


BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1 Tempat dan Waktu
            Kegiatan Farm Experience ini dilaksanakan di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Rezeki, Desa Baru Kecamatan Mestong Muaro Jambi selama 1 bulan yang di mulai pada tanggal 22 Maret 2015 sampai dengan 22 April 2015.
2.2 Prosedur Kerja
Materi yang digunakan pada Farm Experience ini adalah sapi Bali dengan jumlah 13 ekor, Sapi Peranakan Ongol berjumlah 1 ekor, dan Sapi Simental Ongol (Simpo) berjumlah 3 ekor yang dipelihara di kandang Kelompok Tani Sumber Rezeki.
Alat yang digunakan selama kegiatan berlangsung yaitu skop, Troli, Kultivator, Alat Pengayaan, Alat pengemasan, Thermometer untuk mengukur suhu pada saat proses pengomposan.
            Metode yang digunakan dalam Farm Experience ini adalah pengamatan langsung terhadap keadaan sehari-hari di peternakan Pak Senu, anggota Kelompok Tani Sumber Rezeki. Wawancara langsung dengan Pak Senu yang merupakan pemilik peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan untuk memperoleh informasi yang akurat terhadap informasi-informasi yang dibutuhkan dalam laporan Farm Experience.
2.3. Analisis data
Cara pengambilan data yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience berasal dari data primer. Data primer didapatkan dari pengalaman farm experience yang mengikuti kegiatan pembuatan pupuk kompos dan pupuk urin cair secara langsung, selain itu dilakukan tanya jawab pada Pak Senu sebagai ketua anggota kelompok tani Sumber Rezeki. Setelah data diperoleh dilakukan penjumlahan, pengurangan dan persentase dari data-data tersebut sehingga data dianalisis dengan metode narasi menjadi laporan magang
  


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Peternakan
Desa Baru mempunyai luas wilayah 4.425 Ha, termasuk dalam Kecamatan Mestong yang terbagi dalam 11 Rt dan 2 dusun. Desa ini dihuni oleh 2.100 jiwa penduduk dengan mayoritas bekerja sebagai petani karet dan kelapa sawit dengan luas kebun mencapai 4.172,75 Ha. Jarak Desa Baru dengan pusat Provinsi Jambi mencapai 41 Km, dari pusat Kecamatan Mestong 15 Km. Secara administratif Desa Baru mempunyai batas-batas sebagai berikut:
1.      Utara berbatasan dengan Desa Muhajirin dan Desa Sungai Bertam
2.      Selatan berbatasan dengan Desa Tanjung Pauh
3.      Barat berbatasan dengan kebun PTPN-VI Ness Batang Hari
4.      Timur berbatasan dengan Desa Nagasarindan Kelurahan Tempino
Kelompok tani sumber rezeki didirikan pada bulan maret tahun 2003 dengan jumlah anggota awal sebanyak 10 orang. Sampai saat ini jumlah anggota kelompok tani sumber rezeki ada 15 orang. Struktur organisasi kelompok tani Sumber Rezeki dapat dilihat pada gambar di bawah ini :




Ketua
Senu,A.Md























Seketaris
Muhari




Bendahara
Suyono





































Seksi pengawasan sapi
Nasrudin

Anggota
10 orang

Seksi pengolahan limbah
Kuswa



Gambar. 1. Struktur Organisasi
 Pada awal berdirinya Kelompok Tani Sumber Rezeki  mempunyai usaha ternak ayam potong namun pada perjalananya usaha tersebut tidak dapat berjalan dengan baik karena mengalami kerugian karena fluktuasi harga yang disebabkan oleh wabah flu burung. Kelompok Tani Sumber Rezeki mempunyai aset bersama berupa tanah dengan luas 100 m2. Kelompok Tani Sumber Rezeki memiliki 31 ekor sapi bali yang dipelihara oleh anggota kelompok secara terpisah di rumah masing-masing anggota kelompok, sedangkan 39 ekor sapi dipelihara pada satu tempat.
Pada awal tahun 2013 Kelompok Tani Sumber Rezeki bekerja sama dengan Fakultas Peternakan Universitas Jambi dan Lembaga Penelitian Universitas Jambi  dalam kegiatan pengolahan limbah terpadu, kelompok difasilitasi tempat, bangunan dan alat pengolahan limbah dan mesin chopper pelepah sawit. Pada bulan November tahun 2013 kelompok bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Universitas Jambi dan Kementrian Riset dan Teknologi melakukan uji coba hasil pengolahan limbah (pupuk kompos).
Sistem perkandangan pada kandang yang di olah oleh ketua Kelompok Tani Bapak Senu menggunakan sistem semi intensif dimana sapi di lepas di sekitar kandang pada pukul 08.00 pagi dan di kandangkan kembali pada pukul 17.00 sore hari, kandang yang digunakan adalah tipe kandang tail to tail.
3.2. Pengalaman Farm Experience
            Farm experience ini dilakukan di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Rezeki, Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi selama 1 bulan yang di mulai pada tanggal 22 Maret 2015 sampai dengan 22 April 2015. Jadwal kegiatan magang yang dimulai yaitu dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan selama paktik magang ini adalah mengunjungi kandang sapi, lalu membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan kotoran sapi kesuatu titik tempat menggunakan skop lalu dimasukkan ke dalam troli dan dibawa ke tempat pengumpulan feses. Setelah kotoran dibersihkan, dilanjutkan dengan pembersihan tempat pakan. Setelah dilakukan pembersihan kandang dilanjutkan dengan pembuatan pupuk kompos dan pupuk cair. Setelah selesai bekerja, penulis berbincang dengan peternak dan melakukan wawancara dengan peternak.
            Peternak biasanya memberikan pakan pada sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, siang dan sore hari. Pakan yang diberikan yaitu berupa hijauan dan konsentrat. Adapun hijauan yang diberikan bukan berasal dari rumput saja namun menggunakan limbah kebun kelapa sawit yaitu pelepah pohon  kelapa sawit tetapi dengan cara di chopper terlebih dahulu. Namun rumput-rumputan juga sering di beri yaitu antara lain rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan rumput setaria (Setaria sphacelata). Sedangkan konsentrat yang diberikan yaitu dedak halus, bungkil kelapa, garam yang di formulasikan dan air minum juga diberikan 3 kali sehari.
3.3  Pembuatan Pupuk Kompos
Berikut skema pembuatan pupuk kompos.
Gambar 2. Skema proses pembuatan pupuk kompos
1.      Pengumpulan feses
Pembuatan kompos di Kelompok Tani Sumber Rezeki menggunakan feses sapi yang telah dikumpulkan pada tempat penampungan pertama dan dimana pembuatan pupuk kompos dalam skala cukup besar yaitu dalam satu kali proses pembuatan sebanyak 5 - 8 ton. Pengumpulan feses ini juga berguna sebagai penjemuran feses yang basah. Bahan - bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk kompos ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Bahan-bahan yang di gunakan dalam pembuatan pupuk kompos.
Bahan-bahan
Jumlah
Kotoran sapi/Feses sapi
Legume
Kapur dolomit
Tricoderma
MOL
Air
850 Kg
100 Kg
50 Kg
2 Ltr
1 Ltr
Secukupnya
Sumber : kelompok tani sumber rezeki 2015
            Kotoran sapi memilki peranan yang sangat besar sebagai nutrisi yang lengkap, kapur dolomit dan legum atau sisa limbah pakan di campur pada saat dilakukan penumpukan feses, kapur dolomit berperan dalam meningkatkan pH tanah yang akan mengoptimalkan proses fermentasi dan ketersediaan nutrisi dalam kandungan pupuk. Legum berperan dalam mempertahankan kelembaban dengan kemampuan mengikat air yang baik, sekaligus sebagai sumber nutrisi setelah didekomposisikan. Sementara air beperan dalam mempercepat proses pematangan pupuk dengan kelembaban yang cukup. Aktivator pada proses pengomposan yang digunakan ialah MOL dan Tricoderma. MOL  adalah mikroorganisme lokal yang dapat dibuat dengan sangat sederhana yakni dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar kita yakni dapat memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau  memanfaatkan sisa dari tanaman. MOL berfungsi sebagai dekomposer, mempercepat proses penguraian senyawa-senyawa organik dan mempercepat pematangan kompos.
Tricoderma adalah agen hayati dari golongan jamur yang bersifat antagonis, yaitu mampu menekan pertumbuhan jamur-jamur pathogen atau penyebab penyakit tanaman. Serta mampu mempercepat proses pelapukan bahan organik (pengomposan).
2.      Proses pengomposan
Setelah cukup, feses dibawa ke tempat pembuatan kompos. Proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba­mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi dan penambahan aktivator pengomposan. Menurut Kaharudin., dkk (2008) Proses pengomposan merupakan proses biodegradasi bahan organik menjadi kompos dimana proses dekomposisi atau penguraian dilakukan oleh bakteri, yeast dan jamur. Untuk mempercepat proses dekomposisi bahan-bahan limbah organik menjadi pupuk organik yang siap dimanfaatkan oleh tanaman dilakukan proses penguraian secara artifisial. Kotoran ternak sapi dapat dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan nitrogen, potassium dan materi serat yang tinggi.
Pengomposan di Kelompok Tani Sumber Rezeki menggunakan proses aerobik dimana proses aerobik menurut Isroi, 2008 adalah proses pengomposan menggunakan mikroba yang membutuhkan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik (Isroi, 2008).
Mikroorganisme merupakan faktor terpenting dalam proses pembuatan kompos anaerob maupun aerob karena mikroorganisme ini yang merombak bahan organik menjadi kompos (Yuniwati, 2012). Pemberian tricoderma dilakukan pada saat penumpukan seperti gambar 3.
Gambar 3. Pemberian Tricoderma pada awal pengomposan.
Tricoderma dipilih oleh Pak Senu karena lebih mudah dan tidak panas, dahulu aktivator yang di gunakan oleh Pak Senu yaitu EM4 namun proses pengomposan menjadi lebih lama dan panas dibandingkan tricoderma.
Proses pengomposan ini membutuhkan waktu 14 hari atau 2 minggu dengan 6 kali pembalikan. Pengadukan atau pembalikan kompos yang bertujuan untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan, pembalikan kompos menggunakan alat kultivator yang ada di kandang, dengan memakai alat tersebut pembalikan kompos jadi lebih mudah dan efisien dimana dahulu Kelompok Tani Sumber Rezeki masih menggunakan alat manual cangkul untuk pembalikan dan kurang efisien karena memakai waktu seharian dan tenaga yang banyak terkuras, sementara dengan memakai alat kultivator pembalikan menjadi lebih mudah dan efisien.
Gambar 4. Proses pembalikan kompos menggunakan alat kultivator
Berdasarkan hasil tanya jawab pada pembuatan kompos di Kelompok Tani Sumber Rezeki cukup lama dimana pengumpulan feses hingga cukup dan kering yang akan di komposkan membutuhkan waktu hingga satu bulan lebih, sementara pada proses pengomposan hingga matang membutuhkan waktu sebulan. Hal ini  sesuai dengan pendapat (Isroi, 2008) yang menyatakan lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar­benar matang. Setelah pemberian Tricoderma maka di ukur suhu beserta pembalikan kompos. Hasil pengukuran suhu, tekstur dan warna selama 14 hari seperti di Tabel 2.
Tabel 2. Pengukuran Suhu pada proses pengomposan
Hari ke
Tanggal
Tekstur
Warna
Suhu
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
26-3-2015
27-3-2015
28-3-2015
29-3-2015
30-3-2015
31-3-2015
1-3-2015
2-3-2015
3-3-2015
4-3-2015
5-3-2015
6-3-2015
7-3-2015
8-3-2015
Kasar
Kasar
Kasar
Kasar
Kasar
Agak lembut
Agak lembut
Agak lembut
Lembut
Lembut
Lembut
Lembut
Sangat lembut
Sangat lembut
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
37,2°C
35,4°C
36,1°C
36,7°C
35,4°C
35,6°C
36,2°C
36°C
34,2°C
33,9°C
35,3°C
36,5°C
38,5°C
36,9°C
Sumber : kelompok tani sumber rezeki 2015
Setelah 2 minggu proses pengomposan tekstur kompos berubah menjadi sangat lembut, warna kompos akan semakin hitam dan suhu relatif berubah. Dengan kondisi seperti ini bahan telah dapat untuk menyuburkan tanah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Murbandono (2000) yang menyatakan bahwa timbunan bahan kompos akan cepat mengalami penguraian bila suhu nya tepat, suhu ideal dalam proses pengomposan yaitu 30-45oC.
3.      Pengayaan
Setelah feses tersebut sudah mengalami pengomposan feses dibawa ketempat pengayaan menggunakan troli. Pengayaan dilakukan menggunakan skop dan diangkat ke alat pengayaan hingga struktur kompos menjadi halus namun jika kompos yang belum halus sisanya akan dikumpulkan dan akan dilakukan pengomposan ulang pada tempat pengomposan.
Gambar 5. proses pengayaan pupuk kompos
4.      Pengemasan
Setelah pupuk diayak dan struktur kompos menjadi lembut dan halus, kemudian kompos dikemas di dalam karung 50 kg dengan harga Rp.75.000,- per karung dan siap di jual. Selain dijual kompos juga di gunakan pada kebun sawit milik anggota kelompok tani sendiri.
Gambar 6. Proses pengemasan pupuk kompos


3.4. Pembuatan Pupuk Biourine
                Pemanfaatan limbah urin sebagai salah satu pupuk organik memberikan hasil yang cukup menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa memperoleh hasil sebelum ternak itu dijual. Harga urine yang sudah diolah dan menjadi pupuk cair atau biourine yang telah di kemas yaitu 1 jerigennya di jual dengan harga Rp.12.500,- yang berisi 5 liter.
Prinsip pembuatan pupuk cair dengan menggunakan urin sapi adalah menambahkan bakteri pengurai untuk menguraikan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam urin tersebut sehingga bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Urin sapi yang digunakan untuk diolah menjadi pupuk cair yang paling baik adalah urin sapi murni segar, urin sapi ini belum tercampur dengan cemaran lain yang ada dalam kandang seperti feses, sisa pakan, dan sisa air minum. Penggunaan urin sapi segar ini lebih baik kurang dari 24 jam setelah urin dihasilkan oleh sapi. Menurut pendapat Hadisuwito (2012), Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman. Penggolongan pupuk umumnya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan, cara aplikasi, bentuk dan kandungan unsur haranya.
Pemanfaatan urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu memberdayakan peternak agar semua produk dari ternak bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan secara ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan terhadap peternak terutama soal teknik atau cara menampung urine hingga proses pembuatan menjadi pupuk cair. Bahan bahan yang digunakan dalam pembuatan biourine dapat di lihat pada tabel 3.
Tabel 3. Bahan-bahan yang di gunakan dalam pembuatan biourine
Bahan-bahan
Jumlah
Urine sapi
Lengkuas
Kunyit
Kencur
Molasses
Probiotik/EM4
Air
200 Ltr
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Ltr
1 Ltr
Secukupnya
Sumber : Kelompok Tani Sumber Rezeki 2015
Adapun cara pembuatan pupuk organik cair sebagai berikut:
1.      Pengumpulan Urin
Gambar 7. Tempat Penampungan urin pada kandang Sapi.
Urin ditampung langsung ke dalam bak penampungan. Dengan adanya bak penampung urin di belakang kandang sapi ini memudahkan dalam pengumpulan urin sapi.
2.      Pencampuran bahan-bahan pembuatan pupuk cair
Gambar 8. Pencampuran bahan-bahan pembuatan biourine
Urin disiapkan di dalam drum hingga penuh. Semua bahan-bahan di campur dalam ember kecil dan di aduk, setelah itu kemudian campuran bahan-bahan tersebut dimasukan ke dalam drum, setelah semua tercampur di dalam drum proses selanjutnya bahan-bahan diaduk hingga homogen lalu ditutup dan difermentasi selama tiga minggu. Menurut pendapat Rinekso (2012), Fermentasi adalah reaksi dengan menggunakan biokatalis untuk mengubah bahan baku menjadi produk.
Langkah pertama drum di tutup menggunakan terpal dan dibiarkan selama 1 minggu. Aktivator bakteri yang digunakan oleh Pak Senu dalam proses pencampuran yaitu EM4.
Gambar 9. Proses penutupan biourine
Setelah 1 minggu terpal di buka dan pengadukan urin tetap dilakukan  hingga bau urin di dalam drum tidak ada sampai 14 hari atau dua minggu kemudian di kemas.
3.    Pengemasan biourine
Setelah semua proses selesai dilakukan, kemudian Biourine dikemas menggunakan jerigen dan siap di jual.
Gambar 10. Pengemasan biourine Sumber Rezeki.

BAB  IV
PENUTUP
4.1.  Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari kegiatan Farm Experience di Kelompok Tani Sumber Rezeki adalah saya dapat mengetahui dan mengerti berbagai macam pengetahuan tentang pengolahan limbah khususnya limbah ternak sapi. Manajemen limbah yang ada pada Kelompok Tani Sumber Rezeki sudah cukup bagus, hal ini dikarenakan dalam limbah yang dihasilkan langsung dimanfaatkan pada usaha pertanian.

4.2. Saran
Dalam mencapai keberhasilan suatu usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk kompos dan pupuk biourine.





DAFTAR PUSTAKA

Isroi, 2008. Kompos. Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
Kaharudin., F.Sukmawati. 2010. Petunjuk Praktis Manajemen Umum Limbah Ternak Untuk Kompos Dan Biogas. NTB.
Murbandono, L.H.S., 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Maspary. 2010.  Cara Mudah Fermentasi Urine Sapi http://www.gerbangpertanian.com/2010/04/cara-mudah-fermentasi-urine sapi-untuk.html . Diakses tanggal 6 April 2013
Putra.P.D., B.Susilo. A.Nugroho. M.Ahmad. 2014. Analisis finansial pengolahan limbah biogas menjadi pellet ikan dan pupuk organik cair. Jurnal keteknikan pertanian tropis dan biosistem, Vol.2:53-64
Rinekso.B.K., E.Sutrisno. S.Sumiyati. 2012. Studi Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Fermentasi Urine Sapi (Ferisa) dengan Variasi Lokasi Peternakan yang Berbeda. Universitas Diponegoro, Semarang
Wahyuni, Sri., 2009. Biogas. Bogor
Yuniwati.M., F.Iskarima. A.Padulemba. 2012. Optimasi kondisi proses pembuatan kompos dari sampah organic dengan cara fermentasi menggunakan em4. Jurnal teknologi, Vol .5:172-181















 









Tidak ada komentar:

Posting Komentar