LAPORAN
FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI
POTONG PADA KELOMPOK TANI SUMBER REZEKI DI DESA BARU KECAMATAN MESTONG
KABUPATEN MUARO JAMBI
OLEH
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
PRAKATA
Puji syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan
Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Farm Experience yang
berjudu “MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG PADA KELOMPOK TANI
SUMBER REZEKI DI DESA BARU KECAMATAN MESTONG KABUPATEN MUARO JAMBI.”
Terimakasih
penulis mengucapkan kepada Dr. Ir. Ardi Novra, MP selaku pembimbing Farm
Experience yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis, sehingga
laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis juga
mengucapkan terimakasih kepada Bapak Senu atas kesempatan yang diberikan kepada
penulis untuk melaksanakan Farm Experience di peternakan yang bapak pimpin.
Juga untuk informasi yang penulis butuhkan untuk laporan ini, serta penulis
ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu meluangkan waktu,
tenaga, dan fikiran sehingga laporan ini dapat diselesaikan.
Penulis
menyadari dalam laporan ini masih belum sempurna, oleh karena itu demi
kesempurnaan laporan ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun. Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat dan menambah
pengetahuan bagi kita semua.
Jambi,
Mei 2015
Penulis
DAFTAR ISI
PRAKATA................................................................................................. i
DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
DAFTAR TABEL..................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR................................................................................ iv
BAB I. PENDAHULUAN....................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1
1.2. Tujuan ......................................................................................... 3
1.3. Manfaat ...................................................................................... 3
BAB II. PROSEDUR KERJA................................................................ 4
2.1. Tempat dan Waktu...................................................................... 4
2.2. Prosedur Kerja............................................................................. 4
2.3. Analisis Data............................................................................... 5
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................. 6
3.1. Gambaran
Umum Peternakan...................................................... 6
3.2. Pengalaman Farm Experince ..................................................... 7
3.3. Pembuatan Pupuk Kompos ........................................................ 7
3.4.
Pembuatan Pupuk Biourine ........................................................ 14
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN................................................ 17
4.1. Kesimpulan ................................................................................. 17
4.2. Saran ........................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.
Bahan-bahan yang digunakan pada pupuk kompos................................ . 9
2. Pengukuran Suhu Pada Proses Pengomposan......................................... . 12
3. Bahan-Bahan
Yang Digunakan Pada Biourine....................................... . 14
DAFTAR GAMBAR
Gambar
Halaman
1. Struktur
Organisasi..................................................................................... 6
2. Skema Proses Pembuatan Kompos
………………………………........... 9
3. Pemberian Tricoderma Pada Awal Pengomposan......................................
10
4. Pembalikan Kompos Menggunakan Kultivator......................................... 11
5. Pengayaan Pupuk Kompos......................................................................... 12
6. Pengemasan Pupuk
Kompos…………………………………………….. 13
7. Tempat Penampungan Urin
Sapi................................................................ 14
8. Pencampuran Bahan-Bahan
Biourine…………………………………..... 15
9. Penutupan Biourine…………………………………………………….... 16
10. Pengemasan Biourine................................................................................. 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Ternak sapi potong adalah
salah satu jenis ternak penghasil daging yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
dan penting bagi kehidupan masyarakat, sebab ternak bisa menghasilkan berbagai
macam produk guna mencukupi kebutuhan manusia, terutama sebagai bahan pangan
berupa daging, disamping hasil ikutan lain seperti pupuk kompos, kulit dan
tulang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat akan produk asal ternak yang terus meningkat
sebagai akibat dari peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan kesadaran akan
pentingnya pangan yang bergizi, maka upaya yang dilakukan adalah dengan memacu
peningkatan produksi melalui budidaya.
Budidaya peternakan perlu dilakukan
karena dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tetapi dalam
usaha tersebut terdapat salah satu persoalan sampingan yang patut diperhatikan
yakni limbah ternak. Limbah ternak terdiri dari feses, urine dan sisa pakan.
Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan menimbulkan pencemaran
lingkungan seperti pencemaran udara, air, tanah dan sebagai media berkembangnya
penyakit yang pada akhirnya akan mengganggu usaha pemeliharaan ternak dan
menyebabkan berbagai kerugian.
Limbah
ternak memiliki dua potensi yang bertolak belakang, yaitu potensi yang
merugikan dan potensi yang menguntungkan bagi manusia. Potensi yang
menguntungkan dari limbah ternak adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat,
peternak maupun lingkungan jika dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya
untuk transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki
nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara
dan meningkatkan kesuburan tanah. Limbah ternak mengandung bahan organik yang
dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi)
dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat
fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak yang
baik,maka akan dapat tercapai suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan.
Sebaliknya, potensi yang
merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara maupun
air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan masyarakat
disekitar areal peternakan, dengan demikian diperlukannya suatu upaya
pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair
(urine) sehingga limbah-limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti
pencemaran udara maupun air.
Limbah peternakan seperti feses,
urin beserta sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi
peternakan. Seekor ternak sapi akan menghasilkan feses sebanyak rata-rata 30 kg/hari/ekor.
Jika saja dalam suatu peternakan ada terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan
menghasilkan 300kg feses yang dapat mencemari lingkungan (Putra dkk., 2014). Namun,
sebenarnya limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi
merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk
kompos dan pupuk cair.
Secara umum, pengertian pupuk
adalah suatu bahan yang digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah dengan cara
menambahkan bahan tersebut ke dalam tanah agar tanah menjadi lebih subur. Oleh
karena itu, pemupukan diartikan sebagai penambahan zat hara tanaman ke dalam
tanah untuk memperbaiki sifat-sifat kimia dan fisik tanah, seperti pengapuran,
pemberian abu atau tanah mineral (lumpur, pasir dan liat) pada tanah organik
dan sebaliknya penambahan bahan organik atau kompos pada tanah mineral.
Menurut Kaharudin., dkk (2010) Kompos
adalah pupuk organik yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik
yang berasal dari limbah atau sisa
tanaman, kotoran hewan atau manusia
seperti pupuk kandang, pupuk hijau dan
humus yang telah mengalami dekomposisi. Kompos dari sisa atau limbah tanaman
maupun limbah ternak mengandung unsur hara baik mikro maupun makro yang lengkap
(N, P, K, Ca, Mg, Fe, Cu, Zn, Mn, B dan S). Sedangkan biourin adalah Atas dasar tersebut maka penulis
melakukan Farm Experience di
Kelompok Tani Sumber Rezeki untuk melihat pengolahan limbah ternak sapi potong dengan judul “Manajemen Pengolahan
Limbah Ternak Sapi Potong Pada
Kelompok Tani Sumber Rezeki di Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro
Jambi”.
1.2 Tujuan
Tujuan dari
Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah ternak
sapi oleh Kelompok Tani Sumber
Rezeki di Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro Jambi.
1.3 Manfaat
Manfaat dari Farm Experience ini ialah untuk menambah
pengetahuan, pengalaman dan meningkatkan wawasan berpikir dalam
menerapkan ilmu di bidang peternakan khusunya dalam pengelolaan limbah ternak
sapi.
BAB II
PROSEDUR
KERJA
2.1 Tempat
dan Waktu
Kegiatan
Farm Experience ini dilaksanakan
di Peternakan Rakyat, Kelompok Tani Sumber Rezeki, Desa Baru Kecamatan Mestong
Muaro Jambi selama 1 bulan yang di mulai
pada tanggal 22 Maret
2015 sampai dengan 22 April 2015.
2.2 Prosedur Kerja
Materi yang digunakan pada Farm
Experience ini adalah sapi Bali dengan jumlah 13 ekor, Sapi Peranakan Ongol
berjumlah 1 ekor, dan Sapi Simental Ongol (Simpo) berjumlah 3 ekor yang dipelihara
di kandang Kelompok Tani Sumber Rezeki.
Alat yang digunakan selama
kegiatan berlangsung yaitu skop, Troli, Kultivator, Alat Pengayaan, Alat pengemasan,
Thermometer untuk mengukur suhu pada saat proses pengomposan.
Metode yang digunakan dalam Farm Experience
ini adalah pengamatan langsung terhadap keadaan sehari-hari di peternakan Pak
Senu, anggota Kelompok Tani Sumber Rezeki. Wawancara langsung dengan Pak Senu
yang merupakan pemilik peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan untuk
memperoleh informasi yang akurat terhadap informasi-informasi yang dibutuhkan
dalam laporan Farm Experience.
2.3. Analisis data
Cara pengambilan data yang digunakan
untuk memperoleh data yang diperlukan adalah:
Data yang dihimpun selama
kegiatan Farm Experience berasal dari data primer. Data primer didapatkan dari
pengalaman farm experience yang mengikuti kegiatan pembuatan pupuk kompos dan
pupuk urin cair secara langsung, selain itu dilakukan tanya jawab pada Pak Senu
sebagai ketua anggota kelompok tani Sumber Rezeki. Setelah data diperoleh
dilakukan penjumlahan, pengurangan dan persentase dari data-data tersebut sehingga
data dianalisis dengan metode narasi menjadi laporan magang
BAB III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum Peternakan
Desa
Baru mempunyai luas wilayah 4.425 Ha, termasuk dalam Kecamatan Mestong yang
terbagi dalam 11 Rt dan 2 dusun. Desa ini dihuni oleh 2.100 jiwa penduduk
dengan mayoritas bekerja sebagai petani karet dan kelapa sawit dengan luas
kebun mencapai 4.172,75 Ha. Jarak Desa Baru dengan pusat Provinsi Jambi
mencapai 41 Km, dari pusat Kecamatan Mestong 15 Km. Secara administratif Desa
Baru mempunyai batas-batas sebagai berikut:
1. Utara berbatasan dengan Desa Muhajirin dan Desa Sungai
Bertam
2. Selatan berbatasan dengan Desa Tanjung Pauh
3. Barat berbatasan dengan kebun PTPN-VI Ness Batang Hari
4.
Timur berbatasan
dengan Desa Nagasarindan Kelurahan Tempino
Kelompok
tani sumber rezeki didirikan pada bulan maret tahun 2003 dengan jumlah anggota
awal sebanyak 10 orang. Sampai saat ini jumlah anggota kelompok tani sumber
rezeki ada 15 orang. Struktur organisasi kelompok tani Sumber Rezeki dapat dilihat
pada gambar di bawah ini :
|
Ketua
Senu,A.Md
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|||||
|
Seketaris
Muhari
|
|
Bendahara
Suyono
|
|||||||
|
|
|||||||||
|
|
|||||||||
|
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|||
|
Seksi pengawasan sapi
Nasrudin
|
Anggota
10 orang
|
Seksi pengolahan limbah
Kuswa
|
|||||||
Gambar. 1.
Struktur Organisasi
Pada awal berdirinya Kelompok Tani Sumber
Rezeki mempunyai usaha ternak ayam
potong namun pada perjalananya usaha tersebut tidak dapat berjalan dengan baik
karena mengalami kerugian karena fluktuasi harga yang disebabkan oleh wabah flu
burung. Kelompok Tani Sumber Rezeki mempunyai aset bersama
berupa tanah dengan luas 100 m2. Kelompok Tani Sumber Rezeki memiliki
31 ekor sapi bali yang dipelihara oleh anggota kelompok secara terpisah di
rumah masing-masing anggota kelompok, sedangkan 39 ekor sapi dipelihara pada
satu tempat.
Pada
awal tahun 2013 Kelompok Tani Sumber Rezeki bekerja sama dengan Fakultas
Peternakan Universitas Jambi dan Lembaga Penelitian Universitas Jambi dalam kegiatan
pengolahan limbah terpadu, kelompok difasilitasi tempat, bangunan dan alat
pengolahan limbah dan mesin chopper pelepah sawit. Pada bulan November tahun 2013
kelompok bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Universitas Jambi dan Kementrian
Riset dan Teknologi melakukan uji coba hasil pengolahan limbah (pupuk kompos).
Sistem perkandangan pada kandang yang di olah oleh
ketua Kelompok Tani Bapak Senu menggunakan sistem semi intensif dimana sapi di
lepas di sekitar kandang pada pukul 08.00 pagi dan di kandangkan kembali pada
pukul 17.00 sore hari, kandang yang digunakan adalah tipe kandang tail to tail.
3.2. Pengalaman Farm Experience
Farm experience ini dilakukan di Peternakan
Rakyat, Kelompok Tani Sumber Rezeki, Desa Baru Kecamatan Mestong Kabupaten Muaro
Jambi selama 1 bulan yang di mulai pada tanggal 22 Maret 2015 sampai dengan 22
April 2015. Jadwal kegiatan magang yang dimulai yaitu dari pukul 07.00 WIB
sampai dengan 18.00 WIB. Kegiatan yang
dilakukan selama paktik magang ini adalah mengunjungi kandang sapi, lalu
membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan kotoran sapi kesuatu titik tempat
menggunakan skop lalu dimasukkan ke dalam troli dan
dibawa ke tempat pengumpulan feses. Setelah kotoran dibersihkan, dilanjutkan
dengan pembersihan tempat pakan. Setelah dilakukan pembersihan kandang
dilanjutkan dengan pembuatan pupuk kompos dan pupuk cair. Setelah selesai
bekerja, penulis berbincang dengan peternak dan melakukan wawancara dengan
peternak.
Peternak biasanya
memberikan pakan pada sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, siang dan sore
hari. Pakan yang diberikan yaitu berupa hijauan dan konsentrat. Adapun hijauan
yang diberikan bukan berasal dari rumput saja namun menggunakan limbah kebun
kelapa sawit yaitu pelepah pohon kelapa
sawit tetapi dengan cara di chopper terlebih dahulu. Namun rumput-rumputan juga
sering di beri yaitu antara lain rumput gajah (Pennisetum purpureum) dan rumput setaria (Setaria sphacelata). Sedangkan konsentrat yang diberikan yaitu
dedak halus, bungkil kelapa, garam yang di formulasikan dan air minum juga
diberikan 3 kali sehari.
3.3 Pembuatan Pupuk Kompos
Berikut skema pembuatan pupuk kompos.
Gambar 2. Skema proses pembuatan
pupuk kompos
1.
Pengumpulan feses
Pembuatan kompos di Kelompok Tani Sumber
Rezeki menggunakan feses sapi yang telah dikumpulkan pada tempat penampungan
pertama dan dimana pembuatan pupuk kompos dalam skala cukup besar yaitu dalam
satu kali proses pembuatan sebanyak 5 - 8 ton. Pengumpulan feses ini juga
berguna sebagai penjemuran feses yang basah. Bahan - bahan yang digunakan dalam
pembuatan pupuk kompos ini dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel
1. Bahan-bahan yang di gunakan dalam pembuatan pupuk kompos.
|
Bahan-bahan
|
Jumlah
|
|
Kotoran
sapi/Feses sapi
Legume
Kapur
dolomit
Tricoderma
MOL
Air
|
850 Kg
100 Kg
50 Kg
2 Ltr
1 Ltr
Secukupnya
|
Sumber : kelompok tani sumber rezeki 2015
Kotoran
sapi memilki peranan yang sangat besar sebagai nutrisi yang lengkap, kapur dolomit dan legum atau sisa limbah pakan di campur pada saat dilakukan
penumpukan feses, kapur dolomit berperan dalam meningkatkan pH tanah yang akan
mengoptimalkan proses fermentasi dan ketersediaan nutrisi dalam kandungan
pupuk. Legum berperan dalam mempertahankan kelembaban dengan kemampuan mengikat
air yang baik, sekaligus sebagai sumber nutrisi setelah didekomposisikan. Sementara
air beperan dalam mempercepat proses pematangan pupuk dengan kelembaban yang
cukup. Aktivator pada proses pengomposan yang
digunakan ialah MOL dan Tricoderma. MOL
adalah mikroorganisme lokal yang dapat dibuat dengan sangat sederhana
yakni dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada di sekitar kita yakni dapat
memanfaatkan limbah dari rumah tangga atau
memanfaatkan sisa dari tanaman. MOL berfungsi sebagai dekomposer,
mempercepat proses penguraian senyawa-senyawa organik dan mempercepat
pematangan kompos.
Tricoderma adalah agen hayati dari golongan
jamur yang bersifat antagonis,
yaitu mampu menekan pertumbuhan jamur-jamur pathogen atau penyebab penyakit tanaman. Serta
mampu mempercepat proses pelapukan bahan organik (pengomposan).
2.
Proses pengomposan
Setelah cukup, feses dibawa ke tempat pembuatan kompos. Proses pengomposan
adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh
mikrobamikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat
kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat
terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang,
pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi dan penambahan aktivator
pengomposan. Menurut Kaharudin.,
dkk (2008) Proses pengomposan merupakan
proses biodegradasi bahan organik menjadi kompos dimana proses dekomposisi atau
penguraian dilakukan oleh bakteri, yeast dan jamur. Untuk mempercepat proses
dekomposisi bahan-bahan limbah organik menjadi pupuk organik yang siap
dimanfaatkan oleh tanaman dilakukan proses penguraian secara artifisial. Kotoran ternak sapi dapat
dijadikan bahan utama pembuatan kompos karena memiliki kandungan nitrogen,
potassium dan materi serat yang tinggi.
Pengomposan di
Kelompok Tani Sumber Rezeki menggunakan proses aerobik dimana proses aerobik
menurut Isroi, 2008 adalah proses pengomposan menggunakan mikroba yang
membutuhkan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik (Isroi, 2008).
Mikroorganisme merupakan faktor terpenting dalam
proses pembuatan kompos anaerob maupun aerob karena mikroorganisme ini yang
merombak bahan organik menjadi kompos (Yuniwati, 2012). Pemberian tricoderma dilakukan pada saat penumpukan seperti gambar 3.
Gambar 3. Pemberian Tricoderma pada awal pengomposan.
Tricoderma dipilih oleh Pak Senu karena lebih mudah dan tidak
panas, dahulu aktivator yang di gunakan oleh Pak Senu yaitu EM4 namun proses pengomposan
menjadi lebih lama dan panas dibandingkan tricoderma.
Proses pengomposan ini membutuhkan waktu 14 hari atau 2 minggu
dengan 6 kali pembalikan. Pengadukan atau pembalikan kompos yang bertujuan
untuk menambah suplai
oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan, pembalikan kompos menggunakan alat
kultivator yang ada di kandang, dengan memakai alat tersebut pembalikan kompos
jadi lebih mudah dan efisien dimana dahulu Kelompok Tani Sumber Rezeki masih
menggunakan alat manual cangkul untuk pembalikan dan kurang efisien karena
memakai waktu seharian dan tenaga yang banyak terkuras, sementara dengan
memakai alat kultivator pembalikan menjadi lebih mudah dan efisien.
Gambar 4. Proses pembalikan kompos menggunakan alat kultivator
Berdasarkan hasil tanya jawab pada pembuatan kompos di Kelompok
Tani Sumber Rezeki cukup lama dimana pengumpulan feses hingga cukup dan kering
yang akan di komposkan membutuhkan waktu hingga satu bulan lebih, sementara
pada proses pengomposan hingga matang membutuhkan waktu sebulan. Hal ini sesuai dengan pendapat (Isroi, 2008) yang
menyatakan lama waktu pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang
dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa
penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan berlangsung
dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benarbenar matang. Setelah
pemberian Tricoderma maka di ukur suhu beserta pembalikan kompos. Hasil
pengukuran suhu, tekstur dan warna selama 14 hari seperti di Tabel 2.
Tabel
2. Pengukuran Suhu pada proses pengomposan
|
Hari ke
|
Tanggal
|
Tekstur
|
Warna
|
Suhu
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
|
26-3-2015
27-3-2015
28-3-2015
29-3-2015
30-3-2015
31-3-2015
1-3-2015
2-3-2015
3-3-2015
4-3-2015
5-3-2015
6-3-2015
7-3-2015
8-3-2015
|
Kasar
Kasar
Kasar
Kasar
Kasar
Agak lembut
Agak lembut
Agak lembut
Lembut
Lembut
Lembut
Lembut
Sangat lembut
Sangat lembut
|
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Cokelat kehitaman
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
Hitam
|
37,2°C
35,4°C
36,1°C
36,7°C
35,4°C
35,6°C
36,2°C
36°C
34,2°C
33,9°C
35,3°C
36,5°C
38,5°C
36,9°C
|
Sumber : kelompok tani sumber rezeki 2015
Setelah 2
minggu proses pengomposan tekstur kompos berubah menjadi sangat lembut, warna
kompos akan semakin hitam dan suhu relatif berubah. Dengan kondisi seperti ini
bahan telah dapat untuk menyuburkan tanah. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Murbandono
(2000) yang menyatakan bahwa timbunan bahan kompos akan cepat mengalami
penguraian bila suhu nya tepat, suhu ideal dalam proses pengomposan yaitu 30-45oC.
3.
Pengayaan
Setelah feses tersebut sudah mengalami pengomposan feses
dibawa ketempat pengayaan menggunakan troli. Pengayaan dilakukan menggunakan skop
dan diangkat ke alat pengayaan hingga struktur kompos menjadi halus namun jika
kompos yang belum halus sisanya akan dikumpulkan dan akan dilakukan pengomposan
ulang pada tempat pengomposan.
Gambar
5. proses pengayaan pupuk kompos
4.
Pengemasan
Setelah pupuk diayak dan struktur kompos
menjadi lembut dan halus, kemudian kompos dikemas di dalam karung 50 kg dengan
harga Rp.75.000,- per karung dan siap di jual. Selain dijual kompos juga di
gunakan pada kebun sawit milik anggota kelompok tani sendiri.
Gambar
6. Proses pengemasan pupuk kompos
3.4. Pembuatan Pupuk Biourine
Pemanfaatan
limbah urin sebagai salah satu pupuk organik memberikan hasil yang cukup
menjanjikan, sehingga peternak sudah bisa memperoleh hasil sebelum ternak itu
dijual. Harga urine yang sudah diolah dan menjadi pupuk cair atau biourine yang telah di kemas yaitu 1 jerigennya
di jual dengan harga Rp.12.500,- yang berisi 5 liter.
Prinsip pembuatan pupuk cair
dengan menggunakan urin sapi adalah menambahkan bakteri pengurai untuk
menguraikan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam urin tersebut
sehingga bisa langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Urin sapi yang digunakan
untuk diolah menjadi pupuk cair yang paling baik adalah urin sapi murni segar,
urin sapi ini belum tercampur dengan cemaran lain yang ada dalam kandang
seperti feses, sisa pakan, dan sisa air minum. Penggunaan urin sapi segar ini
lebih baik kurang dari 24 jam setelah urin dihasilkan oleh sapi. Menurut
pendapat Hadisuwito (2012), Pupuk merupakan bahan yang ditambahkan ke dalam
tanah untuk menyediakan unsur hara yang penting bagi pertumbuhan tanaman.
Penggolongan pupuk umumnya didasarkan pada sumber bahan yang digunakan, cara
aplikasi, bentuk dan kandungan unsur haranya.
Pemanfaatan
urine ini sangat berpotensi, sehingga perlu memberdayakan peternak agar semua
produk dari ternak bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan keuntungan secara
ekonomis, meski awalnya perlu ada pendampingan terhadap peternak terutama soal
teknik atau cara menampung urine hingga proses pembuatan menjadi pupuk cair. Bahan
bahan yang digunakan dalam pembuatan biourine dapat di lihat pada tabel 3.
Tabel 3. Bahan-bahan yang di gunakan dalam
pembuatan biourine
|
Bahan-bahan
|
Jumlah
|
|
Urine sapi
Lengkuas
Kunyit
Kencur
Molasses
Probiotik/EM4
Air
|
200 Ltr
1 Kg
1 Kg
1 Kg
1 Ltr
1 Ltr
Secukupnya
|
Sumber : Kelompok Tani Sumber Rezeki
2015
Adapun cara pembuatan pupuk organik cair sebagai berikut:
1.
Pengumpulan Urin
Gambar 7. Tempat Penampungan urin pada
kandang Sapi.
Urin
ditampung langsung ke dalam bak penampungan. Dengan adanya bak penampung urin
di belakang kandang sapi ini memudahkan dalam pengumpulan urin sapi.
2.
Pencampuran bahan-bahan pembuatan pupuk cair
Gambar 8.
Pencampuran bahan-bahan pembuatan biourine
Urin disiapkan di dalam drum
hingga penuh. Semua bahan-bahan di campur dalam ember kecil dan di aduk, setelah
itu kemudian campuran bahan-bahan tersebut dimasukan ke dalam drum, setelah
semua tercampur di dalam drum proses selanjutnya bahan-bahan diaduk hingga homogen
lalu ditutup dan difermentasi selama tiga minggu. Menurut pendapat Rinekso (2012),
Fermentasi adalah reaksi dengan menggunakan biokatalis untuk mengubah bahan
baku menjadi produk.
Langkah
pertama drum di tutup menggunakan terpal dan dibiarkan selama 1 minggu. Aktivator
bakteri yang digunakan oleh Pak Senu dalam proses pencampuran yaitu EM4.
Gambar 9.
Proses penutupan biourine
Setelah 1 minggu terpal di buka dan pengadukan urin
tetap dilakukan hingga bau urin di dalam
drum tidak ada sampai 14 hari atau dua minggu kemudian di kemas.
3.
Pengemasan biourine
Setelah semua proses selesai
dilakukan, kemudian Biourine dikemas menggunakan jerigen dan siap di jual.
Gambar 10. Pengemasan biourine Sumber
Rezeki.
BAB IV
PENUTUP
4.1.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh
dari kegiatan Farm Experience di Kelompok Tani Sumber Rezeki adalah saya dapat
mengetahui dan mengerti berbagai macam pengetahuan tentang pengolahan limbah
khususnya limbah ternak sapi. Manajemen limbah yang ada pada Kelompok Tani
Sumber Rezeki sudah cukup bagus, hal ini dikarenakan dalam limbah yang dihasilkan
langsung dimanfaatkan pada usaha pertanian.
4.2. Saran
Dalam mencapai keberhasilan suatu
usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus
tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk
kompos dan pupuk biourine.
DAFTAR
PUSTAKA
Isroi, 2008. Kompos. Balai Penelitian
Bioteknologi Perkebunan Indonesia, Bogor.
Kaharudin.,
F.Sukmawati. 2010. Petunjuk Praktis Manajemen Umum Limbah Ternak Untuk Kompos
Dan Biogas. NTB.
Murbandono,
L.H.S., 2000. Membuat Kompos. Penebar Swadaya, Jakarta.
Maspary. 2010. Cara Mudah Fermentasi Urine Sapi http://www.gerbangpertanian.com/2010/04/cara-mudah-fermentasi-urine sapi-untuk.html . Diakses tanggal 6 April 2013
Putra.P.D.,
B.Susilo. A.Nugroho. M.Ahmad. 2014. Analisis finansial pengolahan limbah biogas
menjadi pellet ikan dan pupuk organik cair. Jurnal keteknikan pertanian tropis
dan biosistem, Vol.2:53-64
Rinekso.B.K.,
E.Sutrisno. S.Sumiyati. 2012. Studi Pembuatan Pupuk Organik Cair dari
Fermentasi Urine Sapi (Ferisa) dengan Variasi Lokasi Peternakan yang Berbeda.
Universitas Diponegoro, Semarang
Rizal,
Ahmad Syamsu. 2012. Pupuk Organik Cair. http://cerita-dariitb.blogspot.com/2012/09/pupuk-organik-cair.html.
Diakses tanggal 5 mei 2015
Wahyuni,
Sri., 2009. Biogas. Bogor
Yuniwati.M.,
F.Iskarima. A.Padulemba. 2012. Optimasi kondisi proses pembuatan kompos dari
sampah organic dengan cara fermentasi menggunakan em4. Jurnal teknologi, Vol
.5:172-181
Tidak ada komentar:
Posting Komentar