LAPORAN
FARM
EXPERIENCE
MANAGEMENT
PEMBIBITAN TERNAK SAPI POTONG
DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA BARU
KECAMATAN
GERAGAI
NURSHOLEH
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2014
MANAGEMENT
PEMBIBITAN TERNAK SAPI POTONG
DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU
KECAMATAN
GERAGAI
LAPORAN
FARM EXPERIENCE
OLEH
NURSHOLEH
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua
jurusan/
Prodi Peternakan
Pembimbing Lapangan
DOSEN DOSEN
NIP. NIP.
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL....................................................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................. iv
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................... 1
1.1 Latar Belakang.................................................................................. 1
1.2 Tujuan............................................................................................... 3
1.3 Manfaat............................................................................................. 3
BAB II. PROSEDUR KEGIATAN........................................................... 4
2.1 Tempat dan Waktu........................................................................... 4
2.2 Prosedur Kerja.................................................................................. 4
2.3 Analisis Data .................................................................................... 5
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN................................................... 6
3.1 Gambaran Umum Wilayah ……………………….......................... 6
3.2 Tata Laksana Pemeliharaan............................................................... 8
3.3 Bibit (bangsa) Ternak........................................................................ 9
3.4 Jenis Pakan........................................................................................ 11
3.5 Pakan Tambahan............................................................................... 13
3.5 Pemberian Zat Mineral Dan Air
Minum........................................... 15
3.5 Pengalaman Farm.............................................................................. 15
BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN.................................................. 17
4.1 Kesimpulan....................................................................................... 17
4.2 Saran................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR
TABEL
Halaman
Tabel
1. Latar Belakang Anggota Koperasi Suka Maju................................ 10
Tabel
2. Bahan Penyusun Konsntrat Di Koperasi
Suka Maju....................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Ternak sapi potong
merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia, dimana daging
merupakan bahan pangan yang mempunyai nilai gizi yang cukup baik seperti
kandungan protein. Oleh karena itu permintaan daging asal ternak sapi potong
setiap tahunnya selalu meningkat,
seiring dengan peningkatan pertambahan penduduk, kualitas pendidikan
masyarakat dan meningkatnya sadar gizi
untuk masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Sebagaimana pernyataan
Abidin Z (2002) sapi adalah hewan ternak terpenting dari jenis – jenis hewan
ternak yang dipelihara manusia sebagai sumber penghasil daging, susu, tenaga
kerja dan kebutuhan manusia lainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 %
kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan
sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu. Sapi potong adalah salah satu genus
dari famili Bovidae. Ternak atau hewan – hewan lainnya yang termasuk famili ini
adalah bison, banteng (bibos), kerbau (babalus), kerbau Afrika (Syncherus),
dan anoa.
Produktifitas ternak sapi potong di Indonesia dapat dilihat dari jumlah
produksi daging yang dihasilkan setiap ekor sapi, dan juga bisa dilihat dari jumlah
peningkatan populasi dari anakan. Namun produktifitas ternak sapi potong ini belum
mampu mengimbangi permintaan masyarakat terhadap daging asal ternak sapi, hal
ini ditandai dengan masih tinggi harga daging sapi dan masih banyak
daging-daging sapi import yang dipasarkan di dalam Negeri. Rendahnya populasi ternak sapi antara lain disebabkan sebagian
besar ternak yang dipelihara oleh peternak masih berskala kecil dengan lahan
dan modal terbatas, usaha ternak sapi masih merupakan usaha sambilan dan masih
tingginya pemotongan betina produktif dalam upaya memenuhi kebutuhan akan
daging untuk masyarakat. Usaha
peternakan sapi juga relevan
dengan upaya pelestarian sumber daya lahan, kotoran sapi yang diperoleh selama
masa pemeliharaan dapat
digunakan sebagai bahan biogas dan pupuk kandang, karena faeses sapi selain
volumenya yang cukup besar juga memiliki berbagai kandungan senyawa dan
mikroorganisme yang dapat digunakan untuk memperbaiki tekstur dan
kesuburan tanah.
Petro China International Jabung Ltd (PetroChina) ikut serta mensukseskan program Pemerintah dalam
Pencapaian Swasembada Daging. Salah satu program dari Petro China yaitu
memanfaatkan potensi masyarakat pedesaan dalam upaya Pencapaian Swasembada
Daging, yaitu memberdayakan tenaga kerja
keluarga masyarakat pedesaan, memanfaatkan waktu luang dan lahan yang belum
digunakan serta kemampuan dan ketrampilan yang ada pada masyarakat pedesaan. Oleh
karena itu Petro China bersama masyarakat Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
mendirikan “Koperasi Suka Maju”.
Koperasi Suka Maju merupakan usaha bersama masyarakat Desa Kota Baru
dimana usaha yang dilakukana adalah pembibitan sapi potong. Keberhasilan usaha
pembibitan sapi potong ini ada beberapa faktor yang harus mendapatkan
perhatian, seperti bibit sapi potong yang digunakan, pakan sapi potong yang
diberikan dan management pemeliharaan yang diterapkan.
Atas dasar ulasan
diatas maka dilakukan Farm
Experience untuk melihat pemeliharaan pembibitan ternak sapi potong di Koperasi Suka Maju dengan judul “Management Pembibitan Ternak Sapi Potong di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai”.
1.2.Tujuan
Tujuan yang ingin
diperoleh dari Farm Experience ini adalah selain untuk mengetahui management pemeliharaan pembibitan sapi potong di
Koperasi Suka Maju, selain itu juga untuk menambah pengalaman lapangan dan juga dapat melatih kepercayaan dalam diri sebagai
mahasiswa Fakultas Peternakan.
1.3.Manfaat
Manfaat dari
kegiatan Farm Experience ini adalah kita dapat menambah wawasan dan pengalaman
dalam management pemeliharaan
pembibitan ternak sapi
potong, serta menumbuhkan rasa
percaya diri dalam motivasi kewirausahaan dalam usaha bidang peternakan. Selain
itu, juga sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi Pemerintah daerah
setempat dalam pengadaan bibit sapi potong.
BAB
II
MATERI DAN METODA
2.1. Waktu
dan Tempat
Farm experience ini dilaksanakan di Koperasi Suka Maju Desa
Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Farm experience ini dilaksanakan mulai dari tanggal 02 Maret sampai dengan tanggal 1 April 2014.
2.2. Materi
Materi yang digunakan pada Farm Experience adalah 20 ekor sapi Bali, terdiri dari 17 ekor sapi Bali
betina dan 3 ekor sapi Bali jantan. 2
buah sekop,
sapu lidi, 1 buah sorong dan ember sebagai tempat air untuk menyiram kandang.
2.3. Metoda
Metode
yang digunakan dalam Farm Experience adalah terlibat langsung dalam management pemeliharaan pembibitan ternak sapi potong, yang meliputi:
a.
Pengamatan bibit (bangsa) sapi potong
yang digunakan.
b.
Jenis pakan yang diberikan.
c.
Frekuensi dan jumlah pakan yang
diberikan.
d.
Perkandangan.
e.
Kesehatan ternak.
Sedangkan data penunjangnya yaitu keadaan Koperasi
Suka Maju dengan melakukan wawancara dengan Ketua dan anggota
Koperasi Suka Maju.
2.4. Analisis
Data
Data yang diambil adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung dan wawancara kepada pengelola
ternak atau pemilik ternak, data primer meliputi jumlah ternak, jumlah pakan
dan jumlah air minum yang diberikan pada ternak setiap harinya. Sedangkan data
sekunder diperoleh melalui recording atau pencatatan data yang meliputi lokasi,
tahun berdiri dan luas kandang.
Data yang di peroleh kemudian di analisis dengan menggunakan metode
deskriptif, yaitu mengumpulkan, mengolah, dan menginterprestasikan data yang diperoleh
sehingga dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai keadaan lokasi
magang.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Gambaran Umum Wilayah
Koperasi Suka Maju
berada di desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Batas-batas wilayah untuk Kecamatan
Geragai adalah :
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Rantau Karya.
- Sebelah timur berbatasan dengan Desa Parit Culum II.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Dusun Jati Mulyo.
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Suka Maju
Koperasi Suka Maju
didirikan pada tanggal 17 Oktober 2013, beranggota 19 orang dengan latar
belakang pendidikan sebagaimana tercantum pada Tabel 1 dibawah ini;
Tabel
1. Latar Belakang Anggota Koperasi Suka Maju
|
No
|
Pendidikan
|
Jumlah (orang)
|
|
1.
|
Sekolah Dasar (SD)
|
5
|
|
2.
|
Sekolah Menengah Pertama (SMP)
|
10
|
|
3.
|
Sekolah Menengah Atas (SMA)
|
3
|
|
4.
|
Sarjana
|
1
|
Anggota Koperasi Suka Maju umumnya memiliki mata pencaharian utama adalah sebagai petani,
tentu hal ini merupakan potensi
yang dimiliki oleh anggota koperasi untuk pengembangan dalam usaha bidang peternakan. Selain itu juga desa
Geragai memiliki lahan perkebunan dan pertanian, tentu ketersediaan pakan
ternak sapi dari limbah perkebunan dan pertanian selalu tersedia. Sebagaimana
pernyataan Djaenudin dkk., (1996), usaha peternakan yang berorientasi
agribisnis harus diusahakan pada lahan-lahan yang sesuai dengan kehidupan
ternak, terutama penyediaan pakannya.
Beberapa upaya penyediaan pakan hijauan untuk ternak terutama sapi
potong telah banyak dilakukan diantaranya melalui upaya pemanfaatan limbah
pertanian, penggunaan limbah pertanian sebagai sumber serat disertai dengan
supplementasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan zat-zat nutrisi yang
diperlukan ternak (Tillman dkk., 1998).
Koperasi Suka Maju melakukan pemeliharaan pembibitan ternak sapi potong, yang arah dan
tujuan dari usaha ini untuk penyediaan bibit dan sapi bakalan di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur, sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan daging asal ternak
sapi potong. Menurut pernyataan Lubis (2010), upaya percepatan swasembada
daging sapi 2014 ditempuh melalui dua strategi yaitu strategi bersifat teknis
dan non-teknis. Strategi teknis meliputi: 1). Pengembangan sentra pembibitan
dan penggemukan dengan menggunakan teknologi reproduksi (inseminasi buatan dan
kawin alam dengan pejantan unggul) pada daerah pengembangan sapi potong; 2). Revitalisasi
kelembagaan dan sumber daya manusia di lapangan dengan mengaktifkan kembali Pos
IB, Poskeswan, melengkapi peralatan dan infra struktur yang diperlukan; dan 3). Penguatan sarana dan prasarana pendukung berupa
lahan padang penggembalaan, peralatan pengolahan pakan, sarana satuan pelayanan
IB serta sarana lain yang diperlukan.
Keberhasilan usaha pembibitan ternak sapi potong yang
dilakukan olek Koperasi Suka Maju, akan ditentukan oleh beberapa factor seperti
; 1). Bibit (bangsa) ternak sapi potong
yang digunakan, karena setiap bangsa ternak sapi potong memiliki potensi yang
berbeda-beda,2). Pakan untuk ternak sapi potong, karena kualitas dan kuantitas
pakan sangat mempengaruhi tumbuh kembang ternak. Sebagaimana pernyataan Mubyarto
(1995) mengemukakan Pengembangan manajemen usaha tani ini adalah merupakan
suatu proses mengkombinasikan faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja
dan modal untuk menghasilkan produk pertanian dan peternakan. Keberhasilan
kebijakan dan manajemen pengembangan usaha tani ini tergantung pada tiga unsur
yaitu bibit (breeding), pakan (feeding) dan pengelolaan (management).
3.2. Tata Laksana Pemeliharaan
Sistem kereman adalah
system yang dilakukan dengan cara mengandangkan sapi-sapi selama beberapa
bulan, diberi hijauan dan konsentrat serta minum. Bila hijaun tersedia cukup
banyak dan berkesinambungan maka hijuannya diberikan lebih banyak. Jika
konsentratnya lebih murah dan tersedia banyak maka konsentratlah yang lebih
dominan pemberiannya namun biasanya hanya satu atau dua jenis konsentrat saja
yang diberikan bagi ternak sapi, misalnya :dedak padi dan atau ampas tahu,
bungkil kelapa dan hasil ikutan industry pertanian lainnya.
Sistem
pemeliharaan ternak sapi di peternakan Koperasi Suka Maju adalah secara
intensif. Semua aktivitas sapi dilakukan didalam kandang, mulai dari pemberian
makan dan minum. Tujuan sistem pemeliharaan ini adalah untuk mempermudah dalam
pemeliharaan ternak sapi seperti pemberian pakan, pengendalian penyakit dan
pemantauan produksi dan produktifitas ternak sapi. Hal ini sesuai dengan
pendapat Susilorini (2008) yaitu sistem pemeliharaan sapi potong dapat
dibedakan menjadi 3, antara lain sistem pemeliharaan ekstensif, semi intensif
dan intensif. Sistem ekstensif semua
aktivitasnya dilakukan dipadang penggembalaan yang sama. Sistem semi intensif adalah memelihara sapi
untuk digemukkan dengan cara digembalakan dan pakan disediakan oleh peternak,
atau gabungan dari sistem ekstensif dan intensif. Sementara sistem intensif
adalah sapi-sapi dikandangkan dan seluruh pakan disediakan oleh peternak.
3.3.
Bibit (Bangsa) Ternak
Usaha peternakan
pembibitan
ternak sapi potong di Koperasi Suka Maju
menggunakan bibit (bangsa) sapi potong yaitu bangsa sapi Bali. Jumlah
bangsa sapi Bali yang dipelihara adalah 20 ekor, yang terdiri dari 17 ekor sapi
Bali betina dan 3 ekor sapi Bali jantan. Ciri-ciri sapi Bali yang dipelihara di
Koperasi Suka Maju adalah pada ternak sapi Bali jantan dewasa berwarna coklat
kehitaman sedangkan ternak betina dan jantan muda berwarna kuning, pada bagian
punggung terdapat garis hitam yang memanjang dari pangkal ekor sampai kea rah
leher, bagian pantat belakang ada lingkaran putih dan ke empat kaki bagian
Tarsal dan tarsus berwarna putih seperti kaos kaki. Sebagaimana pernyataan Hardjosubroto, (1994)
bahwa karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi Bali murni, yaitu
warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki
bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung
ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang
jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal
disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannya pertumbuhan tanduk
mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada
ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal
yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis
dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya
sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam ke
ekor.
Alasan Koperasi
Suka Maju memilih ternak sapi Bangsa Bali dalam usaha peternakannya karena; 1). Sapi Bali memiliki pertambahan bobot badan yang cepat, 2). Dapat hidup dilingkungan yang
kondisi pakannya kurang, 3). Tahan terhadap penyakit. 4). Mudah dalam
pemeliharaannya. Pada berbagai
lingkungan pemeliharaan di Indonesia, sapi Bali memperlihatkan kemampuannya
untuk berkembang biak dengan baik yang disebabkan beberapa keunggulan yang
dimiliki sapi Bali. Keunggulan sapi Bali dibandingkan sapi lain yaitu memiliki
daya adaptasi sangat tinggi terhadap lingkungan yang kurang baik (Masudana,
1990), seperti dapat memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah (Sastradipradja,
1990), mempunyai persentase karkas yang tinggi yaitu 52-57,7% (Payne dan
Rollinson, 1973), memiliki daging berkualitas baik dengan kadar lemak rendah
yaitu kurang lebih 4% (Payne dan Hodges, 1997) dan tahan terhadap parasit
internal dan eksternal (National Research Council, 1983).
3.4. Jenis
Pakan
Pakan merupakan suatu bahan yang dimakan oleh
ternak yang mengandung energi dan zat gizi lainnya yang dapat digunakan sebagai
campuran ransum.Ransum merupakan campuran pakan yang mengandung dua buah atau lebih
bahan pakan (Hartadi, 1993). Pakan
sapi potong terdiri dari pakan kasar dan konsentrat. Pakan kasar ditandai
dengan tingginya kandungan serat kasar, pakan ini dikategorikan sebagai pakan
yang memiliki kandungan air banyak saat muda dan pakan berserat saat dewasa.
Konsentrat merupakan makanan yang mengandung komponen makanan utama yang cukup
banyak (Williamson dan Payne, 1993).
Pemberian sedikit hijauan digunakan untuk merangsang
keluarnya saliva yang bertujuan untuk menjaga pH rumen saat pemberian konsentrat. Setelah dilakukan pemberian sedikit hijauan
kemudian konsentrat diberikan dengan selang dua jam hijauan diberikan lagi
(Rianto dan Purbowati, 2009). Hijauan
pakan ternak dapat diberikan dalam bentuk segar, silase atau berupa hay yaitu
hijauan yang dikeringkan atau jerami kering (Akoso, 2000).
Hijauan adalah pakan yang penting bagi
ternak ruminansia. Hijauan ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu hijauan liar
(tidak sengaja ditanam dan tumbuh dengan sendirinya) dan hijauan yang
dibudidayakan (sengaja ditanam dan dipupuk. Hijauan liar terdiri dari berbagai
jenis rumput, leguminosa dan tanaman lainnya. Sedangkan hijauan yang
dibudidayakan hanya merupakan satu spesies rumput atau bercampur dengan
spesies rumput lain. Menurut Sutardi (1991),
Rumput liar atau di kenal dengan rumput alam umumnya mengandung bahan kering
sekitar 20%, sehingga rumput lapangan belum bisa memberikan pertambahan bobot
badan yang optimal.
Jenis-jenis pakan yang diberikan kepada ternak sapi di peternakan Koperasi
Suka Maju adalah berupa hijauan,
hijauan ini diperoleh dari
lahan perkebunan dan pertanian, daerah pematang sawah
dan lapangan rumput. Alasan Koperasi Suka
Maju memberikan pakan berupa hijauan, karena hijauan merupakan bahan makanan
pokok ternak sapi potong, sebab hijauan itu kaya dengan kandungan serat kasar,
selain itu juga hijauan memiliki kandungan karbohidrat, protein dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), Hijauan adalah bahan pakan utama khusus ternak
ruminansia yang berfungsi sebagai pengenyang, sumber protein, karbohidrat,
sumber energi, mineral dan vitamin. Pakan sangat
penting untuk diperhatikan karena pakan
sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan
diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging.
Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi (
Tillman,1998 ). Penggemukan ternak sapi Bali dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu
penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan
kombinasi cara pertama dan kedua (Anonim, 2010) . Untuk
memenuhi permintaan
daging perlu diupayakan penyediaan dan pemberian pakan
yang memadai agar produktivitas sapi potong dapat
ditingkatkan. Sapi potong dapat
mengubah pakan berserat menjadi sumber pangan yang berkualitas
(Mathius, 2008).
Jenis pakan berdasarkan sifatnya
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hijauan dan konsentrat sedangkan berdasarkan
asalnya dibagi menjadi nabati dan hewani (Prabowo dkk., 2008). Kualitas masing
masing jenis pakan berbeda, pakan hijauan mengandung serat kasar tinggi
sedangkan protein kasarnya kurang sehingga harus diimbangi dengan pemberian
pakan konsentrat yang memiliki protein kasar tinggi. Pemberian pakan konsentrat
dapat memenuhi kebutuhan protein kasar yang digunakan untuk pembentukan daging
dalam program penggemukan dan menghasilkan asam amino essensial yang
dibutuhkan oleh tubuh. Penambahan konsentrat tertentu dapat juga bertujuan agar
zat makanan dapat langsung diserap di usus tanpa terfermentasi di rumen,
mengingat fermentasi rumen membutuhkan energi lebih banyak (Ermawati dkk., 2010)
3.4.1. Pakan Tambahan
Pemberian
pakan tambahan berupa konsentrat juga telah dilakukan di peternakan Koperasi
Suka Maju, tujuan memberikan konsentrat sebagai pakan tambahan adalah untuk
memenuhi dan melengkapi zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tubuh ternak sapi,
agar produksi dan produktifitas ternak dapat berlangsung secara optimal.
Blakely dan Bade (1998) bahan pakan dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
konsentrat dan bahan berserat. Konsentrat berupa bijian dan butiran serta bahan
berserat yaitu jerami dan rumput yang merupakan komponen penyusun ransum. Pakan
adalah bahan yang dimakan dan dicerna oleh seekor hewan yang mampu menyajikan
hara atau nutrien yang penting untuk perawatan tubuh, pertumbuhan, penggemukan,
dan reproduksi.
Konsentrat
yang diberikan pada ternak sapi potong di Koperasi Suka Maju, terdiri dari
beberapa bahan pakan, sebagaimana yang tercantum pada Tabel 2 dibawah ini :
Tabel
2 : Bahan Penyusun Konsentrat Di Koperasi Suka Maju.
|
No
|
Jenis Pakan
|
Jumlah
|
Persentase
(%)
|
|
1
|
Jagung Halus
|
2.50 kg
|
27.78
|
|
2
|
Dedak
|
5.00 kg
|
55.56
|
|
3
|
Bungkil Kelapa
|
1.50 kg
|
16.66
|
|
|
Jumlah
|
9.00 kg
|
10.00
|
Alasan
Koperasi Suka Maju memberikan pakan tambahan berupa konsentrat adalah untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sapi potong, karena jika kebutuhan nutrisi
ternak sapi potong terpenuhi baik kuantitas maupun kualitas, maka produksi dan
produktifitas ternak sapi potong berlangsung secara optimal. Kegagalan
reproduksi sapi potong di Indonesia masih tinggi dan masalah ini antara lain
disebabkan oleh manajemen pakan yang belum memadai (Ditjen Peternakan, 1997).
Perbaikan produktivitas sapi induk sebagai penghasil bibit perlu dilakukan
karena 99% penghasil sapi bakalan di dalam negeri adalah peternakan
rakyat, dengan input pakan sangat bergantung pada sumber daya lokal. Pemeliharaan
sapi potong induk sangat bergantung pada limbah pertanian yang pada umumnya
berkualitas rendah (Diwyanto, 2002).
3.4.2.
Pemberian Zat Mineral dan Air Minum.
Pemberian zat mineral berupa garam dapat di lakukan 1
kali dalam sehari, untuk pemberiannya dicampur dengan air minum yang
diletakkan di dalam ember. Pemberian garam dimaksudkan untuk menambah nafsu
makan ternak dan berupa penyediaan mineral bagi ternak yang berguna untuk pertumbuhan
tulang ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Reksohadiprojo (1985), yang menyatakan bahwa garam dapur merupakan
salah satu faktor yang berfungsi untuk meningkatkan nafsu makan.
Sedangkan menurut pendapat Suharno dan Nazarudin (1994), yang menyatakan
bahwa Pemberian air minum sebaiknya dilakukan secara Ad libitum untuk mencukupi kebutuhan minum ternak sapi. Air sangat
penting bagi makhluk hidup karena air berfungsi sebagai komponen utama dalam
proses metabolisme di dalam tubuh dan sebagai pengontrol suhu tubuh sehingga
air harus tetap tersedia.
3.5. Pengalaman
Farm.
Farm Experience merupakan salah satu kegiatan yang wajib di laksanakan oleh
Mahasiswa Fakultas Peternakan yang akan menyelesaikan studinya. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk memberikan pengalaman terhadap mahasiswa agar
memiliki keterampilan untuk menunjang keahlian sebagai sarjana peternakan.
Pengalaman yang di peroleh dari kegiatan Farm Experience ini adalah penulis
banyak sekali mendapatkan ilmu tambahan dari pemilik ternak dan mengetahui cara
pemeliharaan ternak dengan cara penggembalaan di peternakan tempat melaksanakan
Farm Experience dan dapat membedakan dengan sistem pemeliharaan di peternakan
lain.
BAB IV
KESIMPULAN DAN
SARAN
4.1.
Kesimpulan
Management pembibitan ternak
sapi Bali di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten
Tanjung Jabung Timur cukup baik, karena faktor-faktor produksi dalam usaha
pembibitan sapi Bali sudah diperhatikan seperti Bangsa sapi, perkandangan, kualitas
dan kuantitas pakan dan management pemeliharaan telah dilakukan secara
professional dan maksimal.
4.2.
Saran
Untuk perkembangan dan kemajuan usaha pembibitan ternak sapi Bali di Koperasi
Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur
sebaiknya dilakukan penyuluhan dan pelatihan-pelatihan secara intensif.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z., 2002. Penggemukan Sapi Potong. Agromedia,
Jakarta
Akoso, B. T. 2000. Kesehatan Sapi. Cetakan ke-10. Kanisius,
Yogyakarta.
Anonimous, 2010,
Sapi-Sapi Potong Indonesia,http://www.fmp.sinarindo.co.id, dikutip 24 Maret
2012.
Blakely,
J. dan D.H. Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).
Ditjend
Peternakan. 1997. Pedoman Teknis Penyiapan Induk Sapi Penghasil Bakalan
Lokal (Balok) melalui Perbaikan Pakan. Buku Panduan Praktis.
Direktorat Jenderal Peternakan Jakarta.
Djaenudin, D., H.
Subagio Dan Suprifuddin. 1996. Kesesuaian Lahan untuk pengembangan peternakan
di beberapa propinsi di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan
Veteriner Puslitbang Peternakan. Departemen Pertanian. Bogor.
Diwyanto, K.
2002. Pemanfaatan sumber daya lokal dan inovasi Teknologi Dalam mendukung
Pengembangan sapi Potong di Indonesia. Orasi Pengukuhan Ahli Peneliti Utama.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian dan pengembangan
Pertanian. Departemen Pertanian. Bogor.
Ermawati,
Nuschati U, Subiharta, Yuni E, Rini N. 2010. Pedoman Teknis Budidaya Sapi
Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Ungaran.
Hardjosubroto, W.
1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. Grasindo, Jakarta.
Lubis,
A.R., 2010, Prospek Pengembangan Ternak
Sapi Dalam Rangka Mendukung Program Swasembada Daging Sapi Di Provinsi Sumatera
Utara, Fakultas Pertanian
Universitas Pembangunan Panca Budi, Jl. Jend. Gatot Subroto Km 4,5, Medan.
http://www.google.com.
Diakses 2 Mei 2014.
Mubyarto. 1995. Pengantar
Ekonomi Pertanian. Jakarta : LP3ES
National Research
Council. 1983. Little-Known Asian Animals with a Promising Economic Future. Washington, D.C.:
National Academic Press.
Payne, W.J.A. and D.H.L. Rollinson. 1973. Bali cattle.
World Anim. Rev. 7: 13- 21.
Reksohadiprijo. 1985. Pengembangan Peternakan di Daerah
Transmigrasi. BPFE. Yogyakarta.
Rianto E., dan Purbowati E., 2008, Panduan Lengkap Sapi Potong.
Penebar Swadaya, Jakarta
Williamson, G.and W. J. A. Payne. 1993. Pengantar
Peternakan di Daerah Tropis. Edisi Ketiga.Cetakan Pertama.Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar