LAPORAN
FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU KECAMATAN
GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG
TIMUR
OLEH
NAMA
NIM
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI
POTONG DI KOPERASI SUKA
MAJU DESA KOTA
BARU KECAMATAN
GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG
TIMUR
LAPORAN
FARM EXPERIENCE
OLEH
RAHMAT HIDAYAT
E10012067
Mengetahui, Menyetujui,
Ketua
jurusan/Prodi Peternakan Pembimbing Lapangan
..... .....
NIP.. NIP..
DAFTAR ISI
Halaman
PRAKATA……………………………………………………………… i
DAFTAR
ISI............................................................................................. . ii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………... iii
BAB I. PENDAHULUAN....................................................................... 1
1.1.
Latar Belakang........................................................................... 1
1.2.
Tujuan......................................................................................... 3
1.3. Manfaat
..................................................................................... 3
BAB II. PROSEDUR KEGIATAN........................................................ 4
2.1.
Waktu dan Tempat..................................................................... 4
2.2. Prosedur Kerja............................................................................ 4
2.3. Analisis Data.............................................................................. 4
BAB III. HASIL DAN
PEMBAHASAN................................................. 6
3.1. Kondisi Umum Peternakan ....................................................... 6
3.2. Pengalaman Farm Experience.................................................... 7
3.3. Pembuatan Biogas......................................................................
8
3.4. Kompos...................................................................................... 11
BAB IV. PENUTUP.................................................................................
4.1. Kesimpulan................................................................................. 13
4.2.
Saran........................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.
Skema Pembuatan
Biogas…………………………………………….. 8
2.
Kompor
Biogas.......…………………………………………………... 9
3.
Pengumpulan Feses................................................…………………..... 10
4.
Pengaliran Feses ke biodigester…………………………………….... 10
5.
Pengumpulan
feses....................……………………………………… 11
6.
Pengadukan kompos………………………………………………….. 12
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Peningkatan
populasi ternak sapi secara nasional dan regional akan meningkatkan jumlah
limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik,
maka akan sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari
limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak
sacara sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat
menimbulkan bau. Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan,
kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.
Limbah ternak memiliki dua potensi yang
bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan
bagi manusia dan lingkungan. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak
adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika
dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan
limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari
pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah.
Limbah ternak khususnya sapi
potong mengandung
bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses
penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak
dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengelolaan dan
pemanfaatan limbah ternak secara baik dapat mewujudkan suatu konsep peternakan
yang ramah lingkungan.
Potensi
yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara
maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan
masyarakat di sekitar areal peternakan. Dengan demikian diperlukan suatu upaya
pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair
(urin), sehingga limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran
udara maupun air.
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta
sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi peternakan. Seekor
ternak sapi akan menghasilkan limbah feses sebanyak 3,5 kg/hari/ekor.Jika dalam
suatu peternakan terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan menghasilkan 35 kg feses
yang dapat mecemari lingkungan. Namun
sebenarnya, limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak
sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan biogas dan pupuk kompos.
Salah
satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi.
Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan
9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 –
7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari
atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang
dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses
45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang
berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan
yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg
untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif
dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan bergantung pada
beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi
pengolahan limbah. Contoh teknologi yang bisa diterapkan yaitu teknologi biogas
dan pembuatan pupuk cair. Biogas adalah gas
methan yang terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara)
oleh bakteri methan atau Methanobacterium
disebut juga bakteri anaerobik. Bakteri biogas seperti Methanobacillus, Methanococcus dan Methanosarcina (Price and Paul,
1981) mengurai sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik
(biomassa),sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar
dapat menghasilkan energi panas. Energi panas yang dihasilkan merupakan energi
terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat guna yang relatif lebih
sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan. Bakteri memproses limbah bio atau
biomassa di dalam alat kedap udara yang disebut digester. Kotoran ternak yang
sudah mengalami pemrosesan dengan pengeluaran gas bio adalah kompos kotoran
ternak. Ginting
(2007) mengemukakan bahwa kompos adalah hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa
kotoran ternak atau feses, sisa pertanian, sisa makanan ternak dan sebagainya.
Bentuk
lain pengolahan limbah ternak adalah dengan pembuatan pupuk cair organik. Pupuk
cair organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan
sisa -sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk cair organik menyediakan nitrogen dan unsur mineral
lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk
nitrogen kimia. Pupuk organik merupakan hasil akhir
dan atau hasil antara dari perubahan atau penguraian bagian dan sisa-sisa
tanaman dan hewan. Karena pupuk organik berasal dari bahan organik yang
mengandung segala macam unsur, maka pupuk ini pun mengandung hampir semua unsur
(baik makro maupun mikro). Hanya saja ketersediaan unsur-unsur tersebut
biasanya dalam jumlah yang sedikit (Murbandono, 2000).
Oleh sebab itu, dengan adanya
investasi instalasi biogas ini akan memberikan dampak positif pada peternakan
sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas,
pupuk organik padat dan cair. Dua produk terakhir ini dapat menyediakan unsur
hara nitrogen, fosfat, kalium(NPK) yang dibutuhkan tanaman. Selain itu,
teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup
tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.
1.2
Tujuan
Tujuan
dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah di Koperasi
Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
1.3
Manfaat
Manfaat
dari Farm Experience ini adalah mahasiswa akan memperoleh keterampilan dan
pengalaman yang lebih mengenai pemanfaatan limbah dan membandingkan ilmu yang telah
didapat secara teori saat kuliah.
BAB
II
PROSEDUR
KERJA
2.1.
Waktu dan Tempat
Farm
Experience ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai dengan 18 April 2015
yang dilaksanakan di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2.2. Prosedur
Kerja
Materi
yang digunakan pada Farm Experience ini adalah sapi jenis Bali berjumlah 23 ekor yang terdiri dari 17 betina, 3
jantan dan 3 pedet. Anggota Koperasi Suka
Maju beranggotakan 19 orang. Koperasi tersebut diberi bantuan alat biogas jenis
fiber. Alat ini dibantu oleh Pemerintah Provinsi Jambi melalui dinas Peternakan
Provinsi Jambi pada tahun 2014 .
Alat yang digunakan selama kegiatan berlangsung yaitu skop,
ember, cangkul, alat pengayaan, alat pengemasan.
Metode yang digunakan dalam Farm
Experience ini adalah pengamatan langsung terhadap keadaan sehari-hari di
peternakan Pak Parli, anggota Koperasi Suka Maju. Wawancara langsung dengan Pak
Parli yang merupakan pemilik peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan
untuk memperoleh informasi yang akurat terhadap informasi-informasi yang
dibutuhkan dalam laporan Farm Experience.
2.3.
Analisis Data
Data
yang dihimpun selama
kegiatan Farm Experience berasal
dari data primer. Data primer didapatkan
dari pengalaman farm experience yang meliputi kegiatan pembuatan biogas dan
pembuatan kompos, Selain
itu dilakukan tanya jawab pada Pak
Parli
sebagai ketua anggota koperasi Suka Maju. Setelah data diperoleh dilakukan penjumlahan, pengurangan dan persentase dari
data-data tersebut sehingga data dianalisis dengan metode narasi
menjadi laporan magang.
BAB
III
HASIL
DAN PEMBAHASAN
3.1.Kondisi Umum
Peternakan
Koperasi Suka
Maju ini didirikan pada 17 Oktober 2013 yang beralamat di Jln Lintas Jambi –
Muara Sabak, Dusun Jati Mulyo Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Luas area peternakan ±40 meter2. Bakalan sapi
berasal dari pemberian bantuan oleh PT.
Petro China di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Jenis sapi yang dipelihara di Koperasi Suka Maju ini adalah sapi Bali. Sapi Bali
merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari
Banteng (Bibos
banteng)
(Hardjosubroto,1994).
Jumlah
anggota Koperasi Suka Maju beranggotakan 19 Orang, yang memiliki pendidikan
dari SD - S1 dan diberikan sebuah
digester berupa fiber ukuran 1500 L pada tahun 2014 oleh
Dinas Peternakan Provinsi Jambi. Di Koperasi Suka Maju saat
ini berjumlah 23 ekor sapi.
Tabel
1.Jumlah Peternak
Berdasarkan
Pendidikan
|
NO
|
PENDIDIKAN
|
JUMLAH
|
|
1
|
SD
|
5
Orang
|
|
2
|
SMP
|
10
Orang
|
|
3
|
SMA
|
3
Orang
|
|
4
|
S1
|
1
Orang
|
Sumber : Koperasi Suka Maju 2015
Sistem
pemeliharan Sapi Bali di Koperasi Suka Maju dilakukan secara intensif. Ternak
sapi dikandangkan secara terus-menerus dari pagi sampai sore. Hijauan diperoleh
dengan cara cut and carry yaitu hijauan diambil dari Hutan dan diangkut ke
lokasi peternakan. Sistem pemeliharaan dengan cara intensif atau dikandangkan
sangat baik sehingga ternak sapi dapat terkontrol terus menerus. Menurut Sugeng
(1994) bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan
sehingga pengawasan ternak sapi lebih mudah dan ternak diberi makan dan minum
didalam kandang.
Sistem pemeliharaan pada Koperasi
Suka Maju merupakan sistem intensif
dengan tipe kandang
kelompok. Kandang kelompok atau koloni merupakan
model kandang dalam
satu ruangan kandang
ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebas
tanpa diikat (Abidin, 2002)
Konstruksi kandang
terbuat dari kayu dan
papan. Lantai kandang dan tempat
pakan terbuat
dari semen dengan tempat penampungan urin di belakang kandang. Letak kandang dari
rumah petani berjarak
10-20 meter dari rumah,
Kandang sapi berada dibelakang. Hal ini sesuai dengan
pendapat (Sumoprastowo, 1985) yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat
10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.
3.2.
Pengalaman Farm Experience
Farm
Experience ini dilakukan di Koperasi Suka Maju di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai
Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang dimulai pada tanggal 21 Maret sampai 18 April
2015. Kegiatan Farm Experience dilaksanakan 2 hari
dalam seminggu, kegiatan yang dilakukan selama Farm Experience dimulai jam 08.00-10.00 WIB dengan 16.00-18.00
WIB. Kegiatan yang dilakukan selama Farm
Experience ini adalah
membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan feses ke tempat penampungan menggunakan
skop. Setelah itu dilanjutkan dengan pembersihan tempat pakan dan menyapu
lantai kandang. Setelah pembersihan kandang dan tempat pakan dilanjutkan dengan
pemberian pakan pada ternak sapi.
Peternak biasanya memberikan pakan pada
sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, sore dan malam hari. Pakan yang
diberikan yaitu berupa hijauan. Adapun hijauan yang diberikan antara lain Rumput
Gajah, Rumput Kumpai,
dan Alang-Alang. Air minum juga diberikan 2
kali sehari.
3.3. Pembuatan
Biogas
Di bawah ini adalah alur
dari proses pembuatan biogas:
|
Feses ke Biodigester
|
|
Sisa feses (kotoran dan
urin)
|
|
Penampung
gas
|
|
Pembangkit Daya
|
|
Daya listrik
|
|
Pengumpulan feses ke dalam
tempat penampung
|
Gambar1. Skema
Pembuatan Biogas dan aplikasinya
Biogas
adalah gas yang dapat dibakar atau sumber energi yang merupakan campuran
berbagai gas, dengan gas methana dan gas karbon dioksida merupakan campuran yang
dominan (Simamora dkk., 2006). Biogas berasal dari kata bios yang artinya hidup, sedangkan gas adalah sesuatu yang keluar dari tungku atau dari perapian atau
lubang yang dihasilkan oleh makhluk hidup melalui proses tertentu. Proses yang
dimaksud adalah proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob atau
bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara. Biogas mempunyai sifat mudah
terbakar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak
tanah atau LPG untuk memasak dan untuk penerangan.
Di Koperasi Suka Maju, feses sangat dimanfaatkan
dalam pembuatan biogas. Hasil dari biogas ini akan
ditampung di
dalam plastik yang berdiameter 2 meter dan panjang 5 meter.
Biogas di peternakan Koperasi Suka Maju di rumah pak parli
sendiri menggunakan jenis fiber berisi 1500 Liter, penampung gasnya terbuat
dari plastik tebal berdiameter 2 meter dan panjang 5 meter. Penyaluran gas melalui pipa
berukuran 2 inch. Kompornya terbuat dari bahan besi dan seng berukuran kecil
berbentuk seperti tabung berdiameter 20 cm.
Gambar 2. Kompor
Harahap dkk,(1978) menyatakan bahwa gasbio, merupakan bahan
bakar berguna yang dapat diperoleh dengan memproses limbah di dalam alat yang
dinamakan penghasil gasbio Dinyatakan pula bahwa gasbio memiliki nilai kalorinya
cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 4.800-6.700 Kcal/m3, gas methana
murni (100%) mempunyai nilai kalori 8.900 Kcal/m3.
Sapi
Bali dewasa yang dikandangkan menghasilkan kotoran segar sebanyak 6- 8 kg/hari.
Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan
kemudian limbah padatnya masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Untuk
skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran sebanyak
kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500 –
5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak
tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga
pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga. Jika harga eceran minyak tanah Rp. 10.000,-/liter maka penggunaan biogas dapat
mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp 2.500.000/tahun. Satu reaktor biogas
kapasitas 2500 liter membutuhkan biaya Rp. 3.500.000 dengan umur penggunaan
berkisar 10 tahun. Dengan demikian penggunaan biogas secara nyata menurunkan
biaya rumah tangga tani untuk membeli minyak tanah (Kaharudin dan Sukmawati, 2010).
Kegiatan
yang dilaksanakan dalam pembuatan Biogas pada Farm Experience adalah sebagai
berikut:
1.Pengumpulan Feses
Pengumpulan
feses dari dalam kandang dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini dilakukan dengan
menggunakan skop yang telah
disediakan. Cara untuk menggumpulkan feses yaitu dengan menggaruk feses yang
tercecer pada semua sisi kandang dan menyatukan pada satu tempat pada bagian samping kandang. Dan memasukkan feses ke saluran
biogas .
Gambar 3.Memasukkan feses yg
tercampur urin ke penampungan
2. Pengaliran Feses ke Biodigester
Mengalirkan
lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian pertama kran
gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan udara yang
ada didalam digester terdesak keluar.
Gambar 4.Tempat Penampung feses
3.Penampungan Gas
Setelah
lumpur dialirkan ke biodigester, kemudian menghasilkan gas Metan (CH4)
yang ditampung pada plastik penampungan. Apabila pada plastik penampungan telah
penuh maka kran utama pada biodigester harus ditutup untuk menghentikan gas.
4.Pengolahan Slury (Limbah dari
Biogas)
Pengolahan
limbah dari biogas ini hanya digunakan sendiri untuk pupuk kebun sendiri .
3.4. Kompos
Menurut Prihandini dan purwanto (2007),
kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan
yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman
dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti
pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan
dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak
berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses dan pemanfaatan kompos
dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara efektif,
menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.
Gambar 5.Pengumpulan Feses
Pembuatan kompos di Koperasi Suka Maju menggunakan
feses sapi yang telah di kumpulkan pada
tempat penampungan pertama, setelah kira-kira feses terlihat kering kemudian di
pindahkan ke penampungan kompos yang berikutnya dan di tambahkan serbuk gergaji
60 kg, dedak halus 20 kg, dan diaduk hingga homogen setelah homogen di
tambahkan dengan Tricoderma 5 L dan di biarkan dalam posisi aerob. Pada setiap
minggu dilakukan pengadukan kompos yang bertujuan untuk menambah suplay oksigen
dan meningkatkan homogenitas bahan.
Gambar
6. Pengadukan Kompos
Hal ini sesuai dengan
pendapat Indriani (2012), menyatakan bahan yang
berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin
luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat
proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau
dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam
tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan.
Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu
sekali.
Pendapat ini juga
didukung oleh Murbandono (2000), kelembaban di dalam
timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam
keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah
timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan
demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan
suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos.
Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak
atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri
pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri
anaerob.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Dari
hasil Farm Experience yang dilaksanakan Di Koperasi Suka Maju Desa Kota
Baru
Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung
Jabung Timur dapat diketahui yaitu pengelolaan
limbah ternak sapi
sudah baik namun
belum termanfaatkan slury (limbah dari biogas) dengan maksimal. Pengelolaan limbah secara benar
dan efisien membuat
peternakan ini sehat dan
dapat mengurangi polusi
udara serta ekonomi
sebagai peternak dalam
penggunaan gas di dapur.
4.2. Saran
Dalam mencapai keberhasilan suatu
usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus
tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk
dan penghematan energi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar