Kamis, 11 Februari 2016

MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG (LAPORAN MAGANG / FARM EXPERIENCE)



LAPORAN
FARM EXPERIENCE
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG TIMUR




OLEH
NAMA
NIM


 
 







FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2015



MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH TERNAK SAPI
POTONG DI KOPERASI SUKA MAJU DESA KOTA
BARU KECAMATAN GERAGAI KABUPATEN
TANJUNG JABUNG TIMUR



LAPORAN
FARM EXPERIENCE



OLEH
RAHMAT HIDAYAT
E10012067





Mengetahui,                                                               Menyetujui,
Ketua jurusan/Prodi Peternakan                            Pembimbing Lapangan



.....                                                  .....
NIP..                                                       NIP..



 


DAFTAR ISI
                                                                                                                     Halaman
PRAKATA………………………………………………………………               i
DAFTAR ISI............................................................................................. .            ii
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………...             iii
BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................              1
1.1.  Latar Belakang...........................................................................              1
1.2.  Tujuan.........................................................................................              3
1.3.  Manfaat .....................................................................................              3
BAB II. PROSEDUR KEGIATAN........................................................              4
2.1. Waktu dan Tempat.....................................................................              4
2.2. Prosedur Kerja............................................................................              4
2.3. Analisis Data..............................................................................              4
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................                           6
3.1. Kondisi Umum Peternakan .......................................................              6
3.2. Pengalaman Farm Experience....................................................              7
3.3. Pembuatan Biogas......................................................................              8
3.4. Kompos......................................................................................            11
BAB IV. PENUTUP.................................................................................               
4.1. Kesimpulan.................................................................................            13
4.2. Saran...........................................................................................            13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR
Gambar                                                                                                     Halaman
1.        Skema Pembuatan Biogas……………………………………………..           8
2.        Kompor Biogas.......…………………………………………………...           9
3.        Pengumpulan Feses................................................………………….....        10
4.        Pengaliran Feses ke biodigester……………………………………....           10
5.        Pengumpulan feses....................………………………………………          11
6.        Pengadukan kompos…………………………………………………..         12





BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Peningkatan populasi ternak sapi secara nasional dan regional akan meningkatkan jumlah limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari. Pembuangan kotoran ternak sacara sembarangan dapat menyebabkan pencemaran air, tanah dan udara yang dapat menimbulkan bau. Hal ini akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.
Limbah ternak memiliki dua potensi yang bertolak belakang, yaitu potensi yang merugikan dan potensi yang menguntungkan bagi manusia dan lingkungan. Potensi yang menguntungkan dari limbah ternak adalah dapat memberi manfaat bagi masyarakat, peternak maupun lingkungan jika dikelola dengan baik, yaitu menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah, mengurangi volume limbah dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya, mengurangi polusi udara dan meningkatkan kesuburan tanah. Limbah ternak khususnya sapi potong mengandung bahan organik yang dapat menyediakan zat hara bagi tanaman melalui proses penguraian (dekomposisi) dan dampak penggunaan pupuk hasil olahan limbah ternak dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pengelolaan dan pemanfaatan limbah ternak secara baik dapat mewujudkan suatu konsep peternakan yang ramah lingkungan.
Potensi yang merugikan dari limbah ternak adalah dapat menimbulkan pencemaran udara maupun air sehingga dapat terjadi masalah sosial antara peternak dengan masyarakat di sekitar areal peternakan. Dengan demikian diperlukan suatu upaya pengelolaan limbah peternakan, baik limbah padat (feses) maupun limbah cair (urin), sehingga limbah tersebut tidak menimbulkan dampak seperti pencemaran udara maupun air.
Limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi akan selalu ada dalam suatu lokasi peternakan. Seekor ternak sapi akan menghasilkan limbah feses sebanyak 3,5 kg/hari/ekor.Jika dalam suatu peternakan terdapat 10 ekor sapi, maka ini akan menghasilkan 35 kg feses yang dapat mecemari lingkungan.  Namun sebenarnya, limbah peternakan seperti feses, urin beserta sisa pakan ternak sapi merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas dan pupuk kompos.
Salah satu ternak yang cukup berpotensi sebagai sumber pupuk organik adalah sapi. Seekor sapi mampu menghasilkan kotoran padat dan cair sebanyak 23,6 kg/hari dan 9,1 kg/hari. Berdasarkan hasil penelitian, setiap petani rata-rata memiliki 6 – 7 ekor. Rata-rata setiap ekor ternak memerlukan pakan hijau segar 5,35 kg/hari atau 33,3 kg/peternak. Berdasarkan hasil perhitungan, dari jumlah pakan yang dikonsumsi tersebut 4 kg akan dikeluarkan sebagai feses (berat kering feses 45%) per hari per 6 ekor sapi. Selain itu sisa pakan hijauan yang terbuang berkisar 40 – 50% atau sekitar 14,2 kg. Dengan demikian, feses dan sisa hijauan yang dapat dikumpulkan setiap hari sebagai bahan pupuk kandang mencapai 18,2 kg untuk 6 ekor sapi (Setiawan, 2002).
Usaha untuk mengurangi bahkan mengeliminasi dampak negatif dari kegiatan usaha peternakan sapi terhadap lingkungan bergantung pada beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah dan ketersediaan teknologi pengolahan limbah. Contoh teknologi yang bisa diterapkan yaitu teknologi biogas dan pembuatan pupuk cair. Biogas adalah gas methan yang terbentuk karena proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan atau Methanobacterium disebut juga bakteri anaerobik. Bakteri biogas seperti Methanobacillus, Methanococcus dan Methanosarcina (Price and Paul, 1981) mengurai sampah-sampah yang banyak mengandung bahan organik (biomassa),sehingga terbentuk gas methan (CH4) yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas. Energi panas yang dihasilkan merupakan energi terbarukan yang dapat dihasilkan dengan teknologi tepat guna yang relatif lebih sederhana dan sesuai untuk daerah pedesaan. Bakteri memproses limbah bio atau biomassa di dalam alat kedap udara yang disebut digester. Kotoran ternak yang sudah mengalami pemrosesan dengan pengeluaran gas bio adalah kompos kotoran ternak. Ginting (2007) mengemukakan bahwa kompos adalah hasil dari pelapukan bahan-bahan berupa kotoran ternak atau feses, sisa pertanian, sisa makanan ternak dan sebagainya.
Bentuk lain pengolahan limbah ternak adalah dengan pembuatan pupuk cair organik. Pupuk cair organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa -sisa tanaman, hewan dan manusia. Pupuk cair organik menyediakan nitrogen dan unsur mineral lainnya yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti halnya pupuk nitrogen kimia. Pupuk organik merupakan hasil akhir dan atau hasil antara dari perubahan atau penguraian bagian dan sisa-sisa tanaman dan hewan. Karena pupuk organik berasal dari bahan organik yang mengandung segala macam unsur, maka pupuk ini pun mengandung hampir semua unsur (baik makro maupun mikro). Hanya saja ketersediaan unsur-unsur tersebut biasanya dalam jumlah yang sedikit (Murbandono, 2000).
Oleh sebab itu, dengan adanya investasi instalasi biogas ini akan memberikan dampak positif pada peternakan sapi dari aspek ekonomi dan kebersihan lingkungan seperti bahan bakar gas, pupuk organik padat dan cair. Dua produk terakhir ini dapat menyediakan unsur hara nitrogen, fosfat, kalium(NPK) yang dibutuhkan tanaman. Selain itu, teknologi biogas memiliki keunggulan sangat praktis, bahan baku lokal cukup tersedia dan teknologinya mudah diaplikasikan.
1.2  Tujuan
Tujuan dari Farm Experience ini adalah untuk mengetahui bagaimana pemanfaatan limbah di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung        Timur.
1.3 Manfaat
Manfaat dari Farm Experience ini adalah mahasiswa akan memperoleh keterampilan dan pengalaman yang lebih mengenai pemanfaatan limbah dan membandingkan ilmu yang telah didapat secara teori saat kuliah.



BAB II
PROSEDUR KERJA
2.1. Waktu dan Tempat
Farm Experience ini dilaksanakan pada tanggal 21 Maret sampai dengan 18 April 2015 yang dilaksanakan di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
2.2. Prosedur Kerja
            Materi yang digunakan pada Farm Experience ini adalah sapi jenis Bali berjumlah 23 ekor yang terdiri dari 17 betina, 3 jantan dan 3 pedet. Anggota Koperasi Suka Maju beranggotakan 19 orang. Koperasi tersebut diberi bantuan alat biogas jenis fiber. Alat ini dibantu oleh Pemerintah Provinsi Jambi melalui dinas Peternakan Provinsi Jambi pada tahun 2014 .
         Alat yang digunakan selama kegiatan berlangsung yaitu skop, ember, cangkul, alat pengayaan, alat pengemasan.
         Metode yang digunakan dalam Farm Experience ini adalah pengamatan langsung terhadap keadaan sehari-hari di peternakan Pak Parli, anggota Koperasi Suka Maju. Wawancara langsung dengan Pak Parli yang merupakan pemilik peternakan dan pengelola peternakan juga dilakukan untuk memperoleh informasi yang akurat terhadap informasi-informasi yang dibutuhkan dalam laporan Farm Experience.
2.3. Analisis Data
         Data yang dihimpun selama kegiatan Farm Experience berasal dari data primer. Data primer didapatkan dari pengalaman farm experience yang meliputi kegiatan pembuatan biogas dan pembuatan kompos, Selain itu dilakukan tanya jawab pada Pak Parli sebagai ketua anggota koperasi Suka Maju. Setelah data diperoleh dilakukan penjumlahan, pengurangan dan persentase dari data-data tersebut sehingga data dianalisis dengan metode narasi menjadi laporan magang.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.Kondisi Umum Peternakan
Koperasi Suka Maju ini didirikan pada 17 Oktober 2013 yang beralamat di Jln Lintas Jambi – Muara Sabak, Dusun Jati Mulyo Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Luas area peternakan ±40 meter2. Bakalan sapi berasal dari pemberian  bantuan oleh PT. Petro China di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Jenis sapi yang dipelihara  di Koperasi Suka Maju ini adalah sapi Bali. Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia dan merupakan hasil domestikasi dari Banteng (Bibos banteng) (Hardjosubroto,1994).
Jumlah anggota Koperasi Suka Maju beranggotakan 19 Orang, yang memiliki pendidikan dari SD - S1 dan diberikan sebuah digester berupa fiber ukuran 1500 L pada tahun 2014 oleh Dinas Peternakan Provinsi Jambi. Di Koperasi Suka Maju saat ini berjumlah 23 ekor sapi.
Tabel 1.Jumlah Peternak Berdasarkan Pendidikan
NO
PENDIDIKAN
JUMLAH
1
SD
5 Orang
2
SMP
10 Orang
3
SMA
3 Orang
4
S1
1 Orang
Sumber : Koperasi Suka Maju 2015
            Sistem pemeliharan Sapi Bali di Koperasi Suka Maju dilakukan secara intensif. Ternak sapi dikandangkan secara terus-menerus dari pagi sampai sore. Hijauan diperoleh dengan cara cut and carry yaitu hijauan diambil dari Hutan dan diangkut ke lokasi peternakan. Sistem pemeliharaan dengan cara intensif atau dikandangkan sangat baik sehingga ternak sapi dapat terkontrol terus menerus. Menurut Sugeng (1994) bahwa pemeliharaan ternak sapi yang baik adalah dengan cara dikandangkan sehingga pengawasan ternak sapi lebih mudah dan ternak diberi makan dan minum didalam kandang.
Sistem pemeliharaan pada Koperasi Suka Maju merupakan sistem intensif dengan tipe kandang kelompok. Kandang kelompok atau koloni merupakan model kandang dalam satu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebas tanpa diikat (Abidin, 2002)
            Konstruksi kandang terbuat dari kayu dan papan. Lantai kandang dan tempat pakan terbuat dari semen dengan tempat penampungan urin di belakang kandang. Letak kandang dari rumah petani berjarak 10-20 meter dari rumah, Kandang sapi berada dibelakang. Hal ini sesuai dengan pendapat (Sumoprastowo, 1985) yang menyatakan bahwa letak kandang paling dekat 10 meter dari perumahan, tetapi tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk.

3.2. Pengalaman Farm Experience
         Farm Experience ini dilakukan di Koperasi Suka Maju di Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang dimulai pada tanggal 21 Maret sampai 18 April 2015. Kegiatan Farm Experience dilaksanakan 2 hari dalam seminggu, kegiatan yang dilakukan selama Farm Experience dimulai jam 08.00-10.00 WIB  dengan 16.00-18.00 WIB. Kegiatan yang dilakukan selama Farm Experience ini adalah membersihkan kandang sapi dengan cara mengumpulkan feses ke tempat penampungan menggunakan skop. Setelah itu dilanjutkan dengan pembersihan tempat pakan dan menyapu lantai kandang. Setelah pembersihan kandang dan tempat pakan dilanjutkan dengan pemberian pakan pada ternak sapi.
         Peternak biasanya memberikan pakan pada sapi 3 kali sehari yaitu pada waktu pagi, sore dan malam hari. Pakan yang diberikan yaitu berupa hijauan. Adapun hijauan yang diberikan antara lain Rumput Gajah, Rumput Kumpai, dan Alang-Alang. Air minum juga diberikan 2 kali sehari.






3.3. Pembuatan Biogas
Di bawah ini adalah alur dari proses pembuatan biogas:
Feses ke Biodigester
Sisa feses (kotoran dan urin)
Penampung gas
Pembangkit Daya
Daya listrik
Pengumpulan feses ke dalam tempat penampung
 




           







Gambar1. Skema Pembuatan Biogas dan aplikasinya

            Biogas adalah gas yang dapat dibakar atau sumber energi yang merupakan campuran berbagai gas, dengan gas methana dan gas karbon dioksida merupakan campuran yang dominan (Simamora dkk., 2006). Biogas berasal dari kata bios yang artinya hidup, sedangkan gas adalah sesuatu yang keluar dari tungku atau dari perapian atau lubang yang dihasilkan oleh makhluk hidup melalui proses tertentu. Proses yang dimaksud adalah proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob atau bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara. Biogas mempunyai sifat mudah terbakar, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah atau LPG untuk memasak dan untuk  penerangan.
Di Koperasi Suka Maju, feses sangat dimanfaatkan dalam pembuatan biogas. Hasil dari biogas ini akan ditampung di dalam plastik yang berdiameter 2 meter dan panjang 5 meter.
          Biogas di peternakan Koperasi Suka Maju di rumah pak parli sendiri menggunakan jenis fiber berisi 1500 Liter, penampung gasnya terbuat dari plastik tebal berdiameter 2 meter dan panjang 5 meter. Penyaluran gas melalui pipa berukuran 2 inch. Kompornya terbuat dari bahan besi dan seng berukuran kecil berbentuk seperti tabung berdiameter 20 cm.
Gambar 2. Kompor
Harahap dkk,(1978) menyatakan bahwa gasbio, merupakan bahan bakar berguna yang dapat diperoleh dengan memproses limbah di dalam alat yang dinamakan penghasil gasbio Dinyatakan pula bahwa gasbio memiliki nilai kalorinya cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 4.800-6.700 Kcal/m3, gas methana murni (100%) mempunyai nilai kalori 8.900 Kcal/m3.
Sapi Bali dewasa yang dikandangkan menghasilkan kotoran segar sebanyak 6- 8 kg/hari. Kotoran tersebut dapat langsung digunakan untuk menghasilkan gas bio dan kemudian limbah padatnya masih bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Untuk skala rumah tangga dengan jumlah ternak 2 – 4 ekor atau suplai kotoran sebanyak kurang lebih 25 kg/hari cukup menggunakan tabung reaktor berkapasitas 2500 – 5000 liter yang dapat menghasilkan biogas setara dengan 2 liter minyak tanah/hari dan mampu memenuhi kebutuhan energi memasak satu rumah tangga pedesaan dengan 6 orang anggota keluarga. Jika harga eceran minyak tanah Rp. 10.000,-/liter maka penggunaan biogas dapat mengurangi biaya rumah tangga sebesar Rp 2.500.000/tahun. Satu reaktor biogas kapasitas 2500 liter membutuhkan biaya Rp. 3.500.000 dengan umur penggunaan berkisar 10 tahun. Dengan demikian penggunaan biogas secara nyata menurunkan biaya rumah tangga tani untuk membeli minyak tanah (Kaharudin dan Sukmawati, 2010).

Kegiatan yang dilaksanakan dalam pembuatan Biogas pada Farm Experience adalah sebagai berikut:
1.Pengumpulan Feses
            Pengumpulan feses dari dalam kandang dilakukan pada pagi dan sore hari. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan skop yang telah disediakan. Cara untuk menggumpulkan feses yaitu dengan menggaruk feses yang tercecer pada semua sisi kandang dan menyatukan pada satu tempat pada bagian samping kandang. Dan memasukkan feses ke saluran biogas .

Gambar 3.Memasukkan feses yg tercampur urin ke penampungan
2.      Pengaliran Feses ke Biodigester
            Mengalirkan lumpur kedalam digester melalui lubang pemasukan. Pada pengisian pertama kran gas yang ada diatas digester dibuka agar pemasukan lebih mudah dan udara yang ada didalam digester terdesak keluar.
Gambar 4.Tempat Penampung feses
3.Penampungan Gas
            Setelah lumpur dialirkan ke biodigester, kemudian menghasilkan gas Metan (CH4) yang ditampung pada plastik penampungan. Apabila pada plastik penampungan telah penuh maka kran utama pada biodigester harus ditutup untuk menghentikan gas.

4.Pengolahan Slury (Limbah dari Biogas)
            Pengolahan limbah dari biogas ini hanya digunakan sendiri untuk pupuk kebun sendiri .
3.4. Kompos
           
Menurut Prihandini dan purwanto (2007), kompos merupakan pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan yang telah mengalami proses dekomposisi atau pelapukan. Selama ini sisa tanaman dan kotoran hewan tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai pengganti pupuk buatan. Kompos yang baik adalah yang sudah cukup mengalami pelapukan dan dicirikan oleh warna yang sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan sesuai suhu ruang. Proses dan pemanfaatan kompos dirasa masih perlu ditingkatkan agar dapat dimanfaatkan secara efektif, menambah pendapatan peternak dan mengatasi pencemaran lingkungan.
Gambar 5.Pengumpulan Feses
            Pembuatan kompos di Koperasi Suka Maju menggunakan feses sapi  yang telah di kumpulkan pada tempat penampungan pertama, setelah kira-kira feses terlihat kering kemudian di pindahkan ke penampungan kompos yang berikutnya dan di tambahkan serbuk gergaji 60 kg, dedak halus 20 kg, dan diaduk hingga homogen setelah homogen di tambahkan dengan Tricoderma 5 L  dan  di biarkan dalam posisi aerob. Pada setiap minggu dilakukan pengadukan kompos yang bertujuan untuk menambah suplay oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan.
Gambar 6. Pengadukan Kompos
            Hal ini sesuai dengan pendapat Indriani (2012), menyatakan bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposannya karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan bakteri. Oleh karena itu untuk mempercepat proses tersebut ukuran, bahan perlu diperkecil dengan cara dipotong atau dicacah. Pada dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan. Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimum seminggu sekali.
            Pendapat ini juga didukung oleh Murbandono (2000), kelembaban di dalam timbunan kompos harus dijaga, karena kelembaban yang tinggi (bahan dalam keadaan becek) akan mengakibatkan volume udara menjadi berkurang. Semakin basah timbunan bahan maka kegiatan mengaduk harus makin sering dilakukan. Dengan demikian, volume udara terjaga stabilitasnya dan pembiakan bakteri anaerob bisa dicegah. Menjaga kestabilan suhu pada suhu ideal 40 - 500C amat penting dalam pembuatan kompos. Suhu yang kurang akan menyebabkan bakteri pengurai tidak bisa berkembangbiak atau bekerja secara wajar. Suhu yang terlalu tinggi bisa membunuh bakteri pengurai. Adapun kondisi yang kekurangan udara dapat memacu perrumbuhan bakteri anaerob.
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
            Dari hasil Farm Experience yang dilaksanakan Di Koperasi Suka Maju Desa Kota Baru Kecamatan Geragai Kabupaten Tanjung Jabung Timur dapat diketahui yaitu pengelolaan limbah ternak sapi sudah baik namun belum termanfaatkan slury (limbah dari biogas) dengan maksimal. Pengelolaan limbah secara benar dan efisien membuat peternakan ini sehat dan dapat mengurangi polusi udara serta ekonomi sebagai peternak dalam penggunaan gas di dapur.
4.2. Saran
            Dalam mencapai keberhasilan suatu usaha peternakan maka kualitas dan kuantitas yang diberikan pada konsumen harus tetap dipertahankan atau harus ditingkat guna meningkatkan daya jual dari pupuk dan penghematan energi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar